Tiga tahun mendekam di penjara, Annabella tak menyangka kebebasannya justru menjadi awal penderitaan baru.
Lucian Winston, CEO Wins IT yang menyimpan dendam atas penculikan adiknya, membebaskan Annabella demi satu tujuan: menjadikannya istri dan menghukumnya dengan caranya sendiri.
Annabella menolak, hingga Lucian mengancam keselamatan Aditya, pamannya yang sedang koma dan terancam kehilangan perawatan akibat kebangkrutan.
Demi menyelamatkan satu-satunya keluarga yang tersisa, Annabella terpaksa menerima pernikahan tanpa cinta dengan pria yang membencinya.
Namun, sampai kapan Annabella mampu bertahan di tengah dendam Lucian? Dan bagaimana jika di balik kebencian itu, ada rahasia yang mampu mengubah segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Tidak Gila!
Seorang wanita berpenampilan tomboy mendekati Yumna. Rambut pendek, pakaian serba longgar, dan tatapan mata yang waspada.
“Hei, Nak. Kenapa kamu menangis? Orang tuamu mana?”
Yumna menghapus air matanya cepat-cepat.
“Mama dibawa pelgi....”
Kening wanita itu mengernyit.
“Dibawa pergi? Siapa yang membawanya?”
“Dua om botak....”
“Kalau begitu, siapa nama mamamu?” tanya wanita itu berjongkok di hadapan Yumna.
Bocah menggemaskan itu menjawab di sela isakannya.
“Annabella Alumi.”
“Siapa, Cantik?” tanyanya kurang jelas.
“Annabella Alumi....”
Annabella Arumi?
Nama itu sangat dikenalnya. Perempuan yang disebut bocah kecil itu adalah teman yang pernah bersamanya di penjara. Namun, sejak kapan Annabella punya anak?
Setahunya, Annabella tidak pernah cerita tentang anak selama mereka di penjara. Wanita itu segera memegang kedua bahu Yumna dengan hati-hati.
“Kamu yakin nama mamamu Annabella Arumi?”
“Iya. Onty Annabella.... Tolong celamatkan Mama. Jangan campai Mama meninggal," mohon Yumna.
Panggilan itu membuat wanita tersebut makin bingung, tapi ia tak punya waktu untuk memikirkan itu sekarang. Ia harus mencari tahu ke mana Annabella dibawa.
“Baiklah. Tenang dulu, ya. Aku akan membantumu mencari mamamu.”
Yumna meraih tangannya, seolah takut wanita itu juga akan meninggalkannya. Wanita itu mengusap kepala Yumna dengan lembut.
“Sekarang, jawab satu pertanyaan lagi. Papamu di mana?”
Mendengar pertanyaan itu, Yumna menundukkan kepala. Wajah kecilnya mendadak murung.
“Papa benci Mama.”
Yumna menggenggam tangannya semakin erat.
“Yumna ndak mau ketemu Papa.”
Melihat kejujuran di mata Yumna, wanita itu merasa campur aduk. Ia baru bebas beberapa hari lalu dan belum tahu apa yang dialami Annabella selama mereka berpisah. Tapi satu hal kini jelas.
Temannya sedang dalam masalah besar. Dan ia tidak akan membiarkan Annabella menghadapinya sendirian.
Namanya Maya. Mantan napi yang baru kembali ke dunia luar itu kini punya alasan untuk kembali terlibat. Ia harus menemukan Annabella, sebelum semuanya terlambat.
"Bella, aku tak sangka kau seorang Ibu dari anak cantik ini," gumam Maya membawa Yumna mencari Annabella.
.
.
Annabella perlahan membuka matanya. Cahaya lampu yang sangat terang menyilaukan pandangannya hingga ia harus menyipitkan mata.
Saat mencoba bergerak, ia terkejut mendapati kedua tangannya terikat di sisi tempat tidur.
“Apa ini? Di mana aku?” tanyanya panik.
Dua orang dokter berdiri tidak jauh darinya. Mereka berbicara satu sama lain tanpa melihat Annabella.
“Pasien ini tampaknya mengalami gangguan mental yang cukup serius. Kita perlu memberinya obat penenang sebelum memindahkannya ke ruang isolasi.”
“Baik. Siapkan suntikannya.”
“Apa maksud kalian? Aku tidak gila!” teriaknya sambil meronta-ronta. “Lepaskan aku! Aku tidak sakit jiwa!”
Namun, kedua dokter itu sama sekali tak peduli. Salah seorang dari mereka mendekat, lalu menyuntikkan obat ke tubuh Annabella.
“Jangan! Tolong, jangan lakukan ini!” mohon Annabella berusaha melepas diri, tetapi ikatan di tangannya terlalu kuat.
Beberapa menit kemudian, tubuhnya mulai lemas. Pandangannya pun berkunang-kunang, sementara kesadarannya perlahan memudar.
Ketika kembali tersadar, Annabella sudah di dalam ruangan jeruji besi. Suara teriakan, tawa aneh, dan tangisan terdengar bersahutan dari berbagai sudut.
Ia menatap orang-orang di sekitarnya dengan ketakutan. Ada yang bicara sendiri, ada yang tertawa tanpa alasan, dan ada pula yang terus memukul-mukul dinding.
“Tidak ... ini di mana?”
Seorang petugas mendorong tubuhnya masuk ke dalam sel, lalu menutup pintunya dengan keras.
Brak!
Annabella segera berlari mendekati jeruji besi.
“Tolong, keluarkan aku! Aku bukan orang gila!” serunya sambil mengguncang pintu. “Aku masih harus mencari keponakanku. Yumna pasti sedang mencariku!”
Annabella terus memohon hingga tiba-tiba terdengar suara tendangan keras dari luar sel.
Brak!
Seorang pria berdiri di balik jeruji dengan senyum mengejek di wajahnya.
Annabella terperanjat.
“Lu—Lucky?”
Lucky, adik Lucian, menatapnya penuh kebencian.
“Bagaimana rasanya berada di tempat yang memang pantas untukmu? Kau seharusnya tak pernah kembali ke rumah keluarga Winston. Tempatmu memang di sini!” ejeknya.
Annabella segera berpegangan pada jeruji besi.
“Lucky, kumohon, lepaskan aku! Aku tidak gila. Aku tidak seharusnya berada di sini!”
Lucky tertawa meremehkan membuat Annabella menelan ludah lalu kembali berbicara.
“Aku tahu aku pernah melakukan kesalahan. Aku juga tahu kau membenciku karena apa yang terjadi pada adikmu dulu. Aku minta maaf karena telah menculiknya. Aku benar-benar menyesal.”
Air matanya mulai mengalir, berharap Lucky luluh.
“Tolong, beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Aku tidak akan melarikan diri. Aku hanya ingin kembali kepada Yumna.”
Sayangnya, wajah Lucky sama sekali tidak melunak.
“Menyesal? Cih!” Ia meludah ke sisi kanan. “Kau pikir kata maaf bisa menghapus semua kesalahanmu?”
“Kak Lucky, kumohon ....”
“Tebus dosamu di tempat ini. Aku akan memaafkanmu setelah kau membusuk di sini! Dan jangan panggil aku "Kakak", kau bukan adikku!”
Setelah melontarkan kalimat itu, Lucky berbalik dan pergi tanpa sedikit pun menoleh.
“Kak Lucky! Jangan tinggalkan aku! Kumohon!”
Annabella terus memanggilnya sampai sosok pria itu menghilang dari pandangan.
Perlahan, ia merosot ke lantai sambil memeluk kedua lututnya. Ia sedang sakit. Pamannya koma. Sementara Yumna, anak kecil yang bergantung kepadanya, entah berada di mana.
Apakah Yumna sudah menemukan seseorang yang bisa menjaganya?
Apakah anak itu menangis karena dirinya tidak kunjung kembali?
Annabella menutup wajahnya dengan kedua tangan. Satu-satunya orang yang masih mungkin mencarinya hanyalah Lucian.
Meskipun pria itu membencinya, Lucian tetaplah suaminya. Ia harap pria itu setidaknya akan mencari tahu keberadaannya.
Kak Lucian, apakah kau akan mencariku?
Sayangnya, harapan itu terasa begitu rapuh. Lucian telah mengatakan dirinya hanyalah mainan. Pria itu tak akan pernah menganggapnya sebagai istri. Bagaimana jika Lucian sama sekali tak peduli dan malah mengharapkan kematiannya secepat ini?
Dia pasti lagi berduaan dengan kekasihnya.
Kepalanya mendadak terasa sangat sakit. Annabella memegangi pelipisnya sambil mengerang pelan.
“Aduh ... sakit ....”
Pandangan matanya mulai menggelap. Ia kembali pingsan tanpa seorang pun menyadari keadaannya.
ketika mantan napi menjadi istri CEO Hero Lucian Heroin Annabella.
dtggu kelanjutan ny mom ,,
dn apa bnr Erwin tu kk ny anabella???