Ini bukan sekadar cerita tentang cinta beda kasta. Ini adalah perjalanan tentang sebuah nama besar...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tak sesuai
Harapan tidak selalu sejalan dengan kenyataan. Baru beberapa minggu menikmati posisinya di dapur, sebuah keputusan sepihak kembali menghempaskan Bayu ke bawah. Bukannya naik tingkat menjadi koki, Bayu malah dipindahkan ke bagian pelayan di area depan restoran.
Tentu saja, masalah gaji kembali ke asal. Upah harian yang baru saja merangkak naik kini harus dipangkas lagi menjadi seratus ribu rupiah per hari.
Perubahan ini terasa sangat menyesakkan dada, padahal Bayu tidak pernah membuat kesalahan sedikit pun selama bekerja di dapur. Dia selalu datang paling awal, pulang paling akhir, dan memotong bahan makanan dengan presisi. Namun di dunia kerja kelas bawah, adakalanya kepatuhan justru dimanfaatkan secara semena-mena.
Bayu memang mau protes ke pemilik restoran. Namun, dia khawatir kalau terlalu banyak menuntut, dia justru akan dipecat. Jika dia kehilangan pekerjaan ini, dia tidak akan punya uang sama sekali untuk makan dan membayar kontrakan sempitnya. Terpaksa, dia hanya pasrah mengerjakannya dengan lapang dada.
Malam itu, restoran cukup ramai oleh pengunjung dari berbagai kalangan. Bayu yang mengenakan seragam pelayan sederhana berjalan tegap, mengabaikan rasa lelah di kakinya yang kembali dipaksa berdiri berjam-jam.
"Mas... apa saja menunya di sini?" tanya sebuah suara manja dari salah satu meja di sudut VIP.
Bayu menoleh dan mendapati seorang wanita yang berpakaian modis namun terlihat seksi sedang duduk sendirian. Dari penampilannya, wanita itu jelas berasal dari kalangan atas yang salah masuk ke restoran kelas menengah ini.
"Maaf, Nona. Ini menunya," kata Bayu sambil menyodorkan buku menu dengan gerakan tangan yang sangat sopan dan elegan. Gestur tubuh Bayu secara alami memancarkan tata krama kelas atas yang dulu dia pelajari sejak kecil.
Wanita itu membuka lembaran menu dengan jemarinya yang dihiasi cat kuku mahal.
"Wah, banyak juga ya..." gumamnya.Bayu hanya tersenyum ramah menanggapinya, tetap berdiri dalam posisi tegap yang sempurna.
"Apa menu favorit di sini?" tanya wanita itu lagi, menatap Bayu dengan pandangan menilai. Dia sedikit terkejut melihat seorang pelayan restoran biasa memiliki aura yang begitu tenang dan karismatik.
"Untuk hidangan utama, kami memiliki Prime Sirloin Steak. Dan jika Nona ingin menyempurnakannya, menu tersebut sangat cocok disandingkan dengan Red Wine koleksi kami," kata Bayu dengan lancar. Dia sangat hafal tentang menu kalangan elit, mulai dari kombinasi rasa hingga cara penyajiannya. Pengetahuannya sebagai mantan Tuan Muda kini keluar secara spontan.
Wanita modis itu tampak terkesan dengan penjelasan Bayu yang sangat berkelas, berbeda jauh dari pelayan lainnya. "Hm... boleh deh. Aku mau coba yang itu," ucapnya sambil tersenyum manis.
"Baik, Nona. Mohon tunggu sebentar," jawab Bayu sopan.
Bayu pun berbalik dan menyerahkan pesanan tersebut ke bagian dapur.
Setelah itu dia tidak memiliki waktu untuk bersantai.
Meja per meja silih berganti dia datangi dengan senyuman yang dipaksakan. Dia mencatat pesanan, mengantar makanan panas, dan membersihkan meja yang kotor.
Di sela-sela kesibukannya, Bayu melirik ke arah meja wanita seksi tadi yang mulai menikmati hidangannya. Bayu mengembuskan napas perlahan. Menjadi pelayan memang terasa melelahkan dan tidak adil bagi gajinya. Namun malam ini, Bayu menyadari satu hal penting: posisinya di area depan ini justru membuka celah besar baginya untuk membaca peluang bisnis, mempelajari karakter konsumen kaya, dan melatih kembali mental bisnisnya yang sempat terkubur.