NovelToon NovelToon
Sepuluh Ribu Kematian Abadi

Sepuluh Ribu Kematian Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Mengubah Takdir / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Di Sekte Lembah Giok Hitam, menjadi "Murid Teladan" bukanlah kehormatan, melainkan vonis mati sebagai tumbal perpanjangan umur sang tetua.

Di malam sebelum darahnya dikuras habis di atas altar, Gu Yuan, seorang murid luar tanpa latar belakang, tak sengaja membangkitkan artefak peninggalan ayahnya: Kaca Kematian Awal (Yuan Sha Jing).

Setiap kali niat membunuh mengarah padanya, cermin kuno itu membekukan waktu dan memaksanya mati dalam ribuan cabang simulasi. Ia merasakan lehernya ditebas, meridiannya meledak, dan racun membakar jantungnya berulang kali, semua demi satu hal yakni menemukan satu-satunya jalan keluar hidup-hidup.

"Jika takdir menyuruhku mati sepuluh ribu kali, maka aku akan bangkit sepuluh ribu satu kali untuk memenggal takdir itu sendiri."

Bagi Gu Yuan, kematian bukan akhir, melainkan peta menuju keabadian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 025 - Sabotase Selesai di Dua Titik

Suara kejang tubuh Ular Sisik Lendir di parit barat akhirnya berangsur-angsur melemah hingga berhenti total. Monster raksasa itu terbaring kaku tak bergerak di atas genangan lendir hitam dan darah busuknya sendiri, dengan uap sisa racun Darah Korosi Tulang yang masih mengepul tipis dari sela-sela taringnya yang telah rapuh terbakar.

Gu Yuan bangkit berdiri dari depan tiang kedua belas. Napasnya terengah-engah di balik kain selendang basah penutup hidung dan mulut, namun sorot matanya tetap waspada dan terukur.

Ia melangkah perlahan mengelilingi bibir kolam darah, memeriksa kembali kedua tiang yang telah ia sabotase: tiang ketujuh di sisi timur laut dan tiang kedua belas di sisi barat. Dari luar, kedua pilar batu obsidian hitam legam itu tampak berdiri tegak tanpa cacat sedikit pun. Seluruh bekas kikisan pahat besi telah tertutup sempurna oleh lapisan pasta garam pemadam formasi yang telah mengeras dan berwarna abu-abu gelap menyerupai permukaan batu kapur purba. Permukaan batu itu bersih tanpa retakan mencolok, tanpa ceceran serpihan batu, dan sirkulasi Qi spiritual mengalir tenang tanpa kebocoran ke udara.

Namun, di balik penampakan fisik yang tampak utuh dan normal itu, struktur anatomi Formasi Penguras Darah telah berubah menjadi perangkap maut berskala besar.

Begitu Tetua Mo Cheng duduk di atas singgasana mimbar malam ini dan menyalurkan Qi Fondasi Sejatinya untuk menyedot darah sebelas bejana fana, saluran urat darah di tiang ketujuh yang telah digeser simpulnya akan menyempitkan tekanan darah secara mendadak hingga mencapai titik didih. Saat tekanan mencapai ambang kritis, seluruh arus balik tenaga spiritual yang bercampur racun Korosi Tulang tidak akan tertahan lagi, melainkan akan meledak liar dan berbalik arah menuju tiang kedua belas yang telah kehilangan pasak penyeimbang Yin-Yang miliknya.

Arus balik tenaga yang sangat dahsyat itu tidak akan tertampung oleh kolam, melainkan akan tersedot lurus kembali ke dalam Dantian Mo Cheng sendiri. Dalam hitungan tiga tarikan napas, racun yang selama sepuluh tahun ditahannya akan berbalik menghancurkan seluruh organ dalam dan meridian sang tetua dari dalam seperti ledakan tungku mesiu yang tersumbat rapat.

Gu Yuan menyambar ujung lengan jubah abu-abunya, menyapu seluruh sisa debu batu obsidian dan serbuk garam di lantai marmer hitam ke arah bibir kolam darah. Butiran-butiran debu hitam itu seketika tenggelam dan larut tanpa jejak di dalam cairan merah pekat yang terus berputar lambat. Seluruh bukti fisik pekerjaan tangannya telah dilenyapkan dengan sangat rapi tanpa meninggalkan celah bagi pemeriksaan sekilas.

Sekarang adalah waktunya meloloskan diri dari aula maut ini sebelum seseorang menyadari pintu air terjun telah terkunci dari dalam.

Pintu depan gua yang tertutup dinding batu cadas setebal dua zhang sama sekali tidak bisa ia gunakan lagi; di luar sana, puluhan prajurit penegak hukum bersenjata tombak dan busur silang sedang berjaga mengepung bibir tebing air terjun. Melangkah keluar melewati pintu utama sama saja dengan menyerahkan diri ke dalam jaring penangkapan massal sekte.

Satu-satunya jalan keluar yang rasional adalah rute sirkulasi udara alami gua.

Gu Yuan melangkah cepat menuju mimbar batu di ujung utara aula—sebuah panggung marmer hitam berundak setinggi lima anak tangga tempat singgasana kayu cendana merah Mo Cheng diletakkan. Di dinding tebing cadas tepat di belakang singgasana tersebut, terdapat celah kisi-kisi hawa alami yang terbentuk dari retakan gempa bumi ratusan tahun lalu. Dari celah sempit setinggi dua jengkal itu, berhembus aliran angin dingin segar yang membawa aroma getah lumut hutan luar dan suara deburan air dari lereng tebing samping.

Celah itu sangat sempit dan bergerigi tajam, hanya cukup untuk dilewati oleh tubuh seorang pemuda kurus yang merayap menempel ke lantai batu.

Gu Yuan melepas celemek kulit dan topi jerami bambu Luo Biao yang terlalu lebar, melipatnya rapi dan menyelipkannya ke balik sabuk pinggang bersama seluruh barang bawaan dan senjatanya. Tubuhnya merendah di atas lantai marmer di belakang mimbar, lalu ia mulai merayap masuk ke dalam celah sempit dinding tebing cadas tersebut.

Batu cadas di dalam celah retakan terasa sangat kasar, lembap, dan dingin, menggores kain jubah abu-abu dan kulit pundaknya setiap kali ia bergerak. Gu Yuan merayap maju sejengkal demi sejengkal menggunakan tumpuan siku dan ujung jari-jari kakinya, menahan perih pada luka bakar kaki kirinya yang bergesekan dengan tonjolan batu kapur yang tajam.

Aliran udara segar dari dunia luar terasa semakin dekat di keningnya, meniup helai rambutnya yang basah oleh keringat dingin. Jaraknya menuju bibir tebing luar di balik retakan batu sempit itu tinggal sekitar lima belas langkah lagi.

DUMMM!

Mendadak, sebuah suara dentuman dahsyat yang menggetarkan seluruh rongga perut tebing meledak keras dari arah pintu depan gua air terjun.

Suara gemuruh roda gigi batu purba berderak kasar dan berat, disusul oleh suara desing gelombang energi spiritual yang membelah keheningan aula gua. Dinding batu setebal dua zhang yang menutup mulut gua sedang dibuka secara paksa dari arah luar menggunakan kekuatan tenaga Qi yang sangat besar dan menekan dari seorang kultivator tingkat tinggi.

Gu Yuan seketika membekukan gerakannya di dalam celah sempit dinding tebing. Dadanya menekan lantai batu cadas yang dingin, menahan napasnya serendah mungkin sambil memasang indra pendengarannya dengan kewaspadaan penuh.

Dari arah mulut gua depan yang baru saja terbuka lebar, terdengar suara derap langkah kaki tergesa-gesa yang disertai suara makian kasar, desing sarung pedang yang dicabut, dan gema teriakan penuh amarah yang membakar udara di dalam aula altar.

1
Shiro Hoshinova
jir jadi kiko
Shiro Hoshinova
Apalagi ini woy
Helios
Hahaha lolos gara-gara botol arak
Ryo Hamada
Misah jalan sendirian mungkin pilihan paling cerdas buat hindarin kejaran sekte
Ryo Hamada
Mo Cheng kuat bgt ya berarti, udh turun ranah tapi masih bisa ancurin lantai
Ryo Hamada
Gas mumpung ada kesempatan
Ryo Hamada
Beneran dingin banget sikap MC kalau udh masalah keselamatannya. Realistis & gak naif, suka aku model MC yg kaya gini
Ryo Hamada
Xiao Wu mungkin ceroboh micu bel alarm, tapi kekacauan sekte justru nutupin langkah Gu Yuan menuju gua air terjun. Momentum pas jir
Ryo Hamada
Mungkin langsung masuk ke aula Mo Cheng itu langkah bunuh diri, tapi jalan mundur udah ketutup total. Harus main peran sampe tuntas.
Helios
Woy tahanan di bilik jangan teriak napa
Shiro Hoshinova: Fix inimah
total 1 replies
Shiro Hoshinova
Hawanya horor kerasa banget, keren thor!
Helios
Hoki seumur hidup kepake tuh pas kuncinya jatuh deket sepatu wkwkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!