Malam pembantaian Keluarga Ma menyisakan darah, puing, dan dendam mendalam di dada Ma Huang. Sebagai satu-satunya yang masih bertahan, ia mengambil keputusan gila: menempuh Jalur Darah Pemakan Bencana, sebuah kultivasi terlarang yang menggerogoti organ fisiknya demi menggenggam kekuatan membunuh tiada tanding.
Berbekal Pedang Tulang Hitam dan tubuh yang dialiri racun pekat, Ma Huang melangkah menembus lautan darah untuk membantai satu per satu siapaun yang telibat dalam tragedi tersebut. Dari pelataran tempa Kota Yunjiang hingga kegelapan Lembah Tengkorak yang dipenuhi racun alam, ia bertaruh nyawa demi merebut kembali Segel Besi Hitam, pusaka komando tiga ribu prajurit Serigala Hitam, serta kunci rahasia Makam Leluhur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 - Penyusupan ke Lembah Angin Hitam
Angin malam melolong nyaring dari celah-celah tebing terjal Lembah Angin Hitam, membawa bau tembakau murah dan minyak obor yang terbakar di kejauhan. Di balik semak berduri yang menyelimuti bibir jurang, Ma Huang merayap kaku.
Sepasang matanya menyempit tajam, memperhatikan dua penjaga bertopeng besi yang berdiri bersandar pada pilar kayu gerbang di bawahnya. Obor di tangan penjaga meliuk-liuk diterpa angin, menciptakan bayangan panjang yang bergoyang di atas tanah berlumpur.
Ma Huang tidak terburu-buru. Cengkeramannya pada gagang Pedang Tulang Hitam begitu kencang hingga tangannya gemetar kaku. Aliran Qi beracun dari dalam meridiannya merembes pelan melalui pori-pori kulit, menyerap ke dalam bilah pedang tanpa menimbulkan getaran cahaya sedikit pun.
Ia melompat turun tanpa suara. Tubuhnya meluncur miring, mendarat persis di balik punggung penjaga sebelah kiri. Sebelum riak angin sempat disadari, ujung Pedang Tulang Hitam sudah meluncur merobek jakun pria itu dari belakang.
Darah hitam menyembur tipis, membeku seketika akibat racun pekat yang merayap cepat. Penjaga kedua memutar tubuhnya kaget, tetapi cengkeraman tangan kiri Ma Huang sudah mendahului. Jemarinya mengunci rapat tenggorokan pria itu, mematahkan tulang lehernya dengan satu hentakan kencang.
Dua jasad itu ambruk bersamaan ke dalam lumpur basah. Ma Huang melangkah melewati gerbang kayu tanpa berpaling sedikit pun, menyusup lebih dalam ke kedalaman lembah yang diselimuti kabut tipis.
Di bagian paling dalam lembah, sebuah aula batu berdiri megah membelakangi dinding tebing. Cahaya lentera emas memancar terang dari celah jendela, mengalirkan suara tawa renyah yang membahana ke udara malam.
"Empat puluh pundi batu Qi tingkat tinggi ini baru uang muka!" suara serak seorang pria tua terdengar nyaring dari dalam aula. "Setelah sisa aset tanah milik Keluarga Ma berhasil dijual seluruhnya, kalian akan menerima lima puluh pundi lagi!"
Ma Huang berhenti di samping pilar batu aula. Rahangnya mengatup rapat hingga garis otot di lehernya menegang. Suara itu adalah milik Jian Gang, Tetua Ketiga Keluarga Jian yang secara pribadi memimpin pembakaran gudang pusaka dan pembantaian para murid muda keluarganya.
Ma Huang menyelisip masuk melalui celah atap batu yang terbuka. Di bawah sana, di atas meja batu bundar yang dipenuhi daging panggang dan kendi-kendi tuak, Jian Gang duduk mengangkang. Pria berusia lima puluh tahun itu mengenakan jubah besi berlapis emas, dengan sebilah parang lebar bersandar di samping kursinya.
Aura kuat Alam Inti Emas memancar samar dari dada Jian Gang, membentengi tubuhnya dengan lapisan energi spiritual tipis yang membuat hawa dingin di sekitarnya menguap seketika.
Di seberang meja, dua pengawal pribadi Jian Gang berdiri tegap dengan tangan bersiap di atas gagang pedang.
"An Sha dan kelompoknya belum kembali dari Kuil Tujuh Bintang," ujar salah satu pengawal dengan dahi berkerut kaku. "Harusnya mereka sudah menyerahkan surat tanda terima dari Kota Hitam sejam yang lalu."
Jian Gang mengibaskan tangannya meremehkan, lalu meneguk tuak langsung dari kendi tanah liat. "An Sha pria yang teliti. Mungkin dia sedang bersenang-senang menghabiskan sisa uang tuak di sana. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, sisa-sisa cacing Keluarga Ma sudah musnah total tiga hari yang lalu."
"Sisa cacing yang kau maksud, ada di atas kepalamu."
Suara serak dingin itu memotong tawa Jian Gang seketika.
Sebelum para pengawal sempat mendongak, bayangan hitam menghantam lantai batu tepat di tengah meja.
Brak!
Meja batu setebal lima inci hancur berantakan. Serpihan batu berselimut racun hitam meluncur deras ke segala arah, menancap di dada kedua pengawal pribadi Jian Gang. Kedua pengawal itu meliuk kesakitan, kulit dada mereka meleleh dan menghitam dalam kurun waktu kurang dari tiga hembusan napas sebelum roboh tak bernyawa.
Jian Gang melompat mundur sejauh dua tombak. Parang lebarnya sudah melolos keluar dari sarungnya, memancarkan cahaya keemasan yang silau dan tebal.
Napas Jian Gang tertahan di ujung tenggorokan, membuat dadanya naik-turun secara kaku. Matanya melotot lebar menatap sosok di balik kepulan debu batu.
"Kau... Ma Huang?!" jerit Jian Gang dengan suara melengking. "Bagaimana mungkin kau masih hidup?! Dantianmu sudah hancur oleh racun Ular Hijau!"
Ma Huang berdiri di tengah reruntuhan batu. Jubah hitam kusamnya terangkat pelan oleh hembusan Qi hitam yang membumbung pekat dari selubung kulitnya. Pedang Tulang Hitam di tangan kanannya bergetar kencang, mengeluarkan desisan halus seperti puluhan ular berbisa yang haus darah.
"Dantianku memang hancur, Jian Gang," sahut Ma Huang pelan. Setiap patah katanya diiringi oleh kepulan asap hitam tipis yang keluar dari celah bibirnya. "Namun seluruh darah dan tulangku telah menjadi tempat peristirahatan baru bagi racun keluargamu."
"Bicara omong kosong!" Jian Gang meraung, mencoba menutupi getaran ketakutan di dadanya.
Aura keemasan di sekujur tubuh Jian Gang meledak hebat. Sebagai praktisi Alam Inti Emas, tekanan spiritualnya sanggup meretakkan ubin batu di bawah pijakannya. Ia tidak percaya seorang pemuda yang kultivasinya telah musnah bisa menjadi ancaman nyata.
"Bahkan jika kau mendapat ilmu hitam untuk bertahan hidup, perbedaan antara Alam Pembukaan Meridian dan Alam Inti Emas adalah perbedaan antara cacing dan naga!"
Jian Gang menghentakkan kakinya. Parang lebarnya menyambar lurus, membawakan gelombang tebasan emas setinggi dua meter yang membelah udara aula batu secara ganas.
Ma Huang tidak menyambut tebasan keemasan itu secara langsung. Ia sadar secara kekuatan murni, lapisan Qi Inti Emas masih berada di atas kapasitas fisiknya saat ini.
Gigi-giginya bergemeletuk halus dari balik bibir yang terkatup rapat. Ma Huang memiringkan tubuhnya sejauh beberapa inci, membiarkan tebasan emas itu menyayat lantai di sampingnya hingga hancur berkeping-keping.
Di saat yang bersamaan, ia meluncur maju menembus badai debu. Pedang Tulang Hitam menyambar miring dari bawah, mengincar celah di bawah ketiak jubah besi Jian Gang.
Trang!
Parang lebar Jian Gang bergerak cepat memblokir tebasan tersebut. Percikan api membumbung tinggi, beradu dengan jelaga hitam beracun yang langsung merayap melilit bilah parang emasnya.
Sensasi dingin yang sangat asing menerobos masuk melalui gagang parangnya, membuat lengan kanan Jian Gang mendadak kaku dan mati rasa.
"Apa-apaan racun ini?!" pekik Jian Gang panik saat melihat warna emas di parangnya mendadak pudar dan membusuk menjadi kehitaman.
Ma Huang tidak memberikan ruang untuk bernapas. Ia menggunakan bahunya untuk menghantam dada Jian Gang dari jarak dekat.
Brak!
Jian Gang terdorong mundur tiga langkah, tetapi perlindungan energi Inti Emas di dadanya berhasil menahan dampak hantaman fisik tersebut. Pria tua itu tertawa keras, rasa percaya dirinya kembali membumbung.
"Racunmu tidak akan sanggup menembus Pertahanan Inti Emas milikku, keparat!"
Namun, senyum di wajah Jian Gang membeku dalam sekejap.
Ia merasakan sesuatu yang kental meluncur turun dari lehernya. Saat jemari tangannya menyentuh bagian bawah telinganya, kulit di sana telah terkelupas, meninggalkan luka robek tipis bekas sabetan bilah pedang Ma Huang yang tak terdengar.
Racun pekat telah masuk ke dalam pembuluh darah lehernya, menjalar cepat menuju jantung.
"Kau... kau memotong leherku dari sela gesekan parang?!" bisik Jian Gang dengan mata membelalak penuh kejutan.
Ma Huang tegak berdiri, mengusap bercak darah hitam di ujung pedangnya. "Aku tidak perlu menembus pertahanan dada jubah besimu. Cukup satu goresan tipis di lehermu, dan darahmu sendiri yang akan menghancurkan Inti Emasmu dari dalam."
Jian Gang meliuk kesakitan, memegangi lehernya yang kini membengkak kehitaman. Seluruh pembuluh darah di leher dan wajahnya menonjol kaku, memancarkan bau busuk racun yang menusuk hidung.
Dengan sisa-sisa kekuatan Inti Emasnya yang kian meredup, Jian Gang meraung gila. Ia melempar parangnya yang telah menghitam, lalu menarik sebuah bola besi berukir dari balik jubahnya.
"Jika aku harus mati di sini, kau juga akan terkubur bersama seluruh lembah ini!" jerit Jian Gang histeris, bersiap mengaktifkan bola besi peledak di genggamannya.
Ma Huang melompat maju dengan mata merah berkilat dingin, mengangkat Pedang Tulang Hitam lurus ke arah tenggorokan Jian Gang sebelum bola peledak itu sempat dinyalakan.