Setelah kehilangan ayah dan melihat ibunya terbaring koma, Karissa justru dikhianati oleh Louis, kekasihnya sendiri, yang berselingkuh dengan sahabatnya.
Dalam amarah dan rasa kecewa, Karissa mengambil keputusan nekat—menikahi ayah Louis.
Kini Karissa bukan lagi kekasih Louis, melainkan ibu tirinya.
Namun tinggal serumah dengan pria yang pernah dicintainya ternyata jauh lebih sulit dari yang ia bayangkan. Louis membencinya, tetapi di saat yang sama, ia juga tidak rela kehilangan Karissa.
Karissa ingin membalas dendam. Tapi tanpa sadar, ia justru terjebak dalam permainan cinta yang ia mulai sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tusya Ryma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Pembohong Kecil
Di ruang ICU rumah sakit, Karissa terdiam sambil menatap ibunya yang terkulai lemas di atas tempat tidur.
Kondisinya masih sangat memprihatinkan. Ada gumpalan darah di otaknya yang membuat sang ibu belum sadarkan diri.
“Bu! Apa yang harus aku lakukan?”Suaranya bergetar.
“Rumah kita belum laku juga. Sedangkan biaya perawatan semakin besar setiap harinya. Tabungan kita sudah menipis!”
Air matanya mulai mengalir.
“Aku takut ... takut tidak bisa—”
Kalimat itu terputus.
Karissa tidak sanggup lagi berbicara. Isak tangisnya terdengar pelan. Rasa sedih yang selama ini ia tahan akhirnya tidak terbendung lagi.
Karissa benar-benar bingung harus bagaimana.
Walaupun ia memiliki kartu bank tanpa batas penggunaan yang diberikan Tuan Lee, tapi ia enggan menggunakannya.nIa tidak ingin bergantung pada uang Tuan Lee.
Sejak awal, pernikahannya dengan Tuan Lee hanyalah sebuah kesepakatan. Karissa melakukan semua itu karena ingin membuat Louis marah.
Namun, sekarang semuanya justru menjadi semakin rumit.
“Buuuu ... maaf!”
Karissa menundukkan kepala. Ia memegang tangan yang semakin hari semakin kecil.
“Aku anak yang tidak berguna ... maafkan aku ....”
Tangisnya semakin pecah.
Dunia terasa sangat gelap dan sepi. Dirinya kedinginan dan merasa sangat kesepian. Tidak ada lagi dekapan hangat dari orang-orang yang selama ini ia cintai.
Kekasih, ibu, ayah, bahkan saudara sendiri yang semestinya bisa menjadi tempat bersandar, semuanya terasa lenyap dalam sekejap mata.
‘Aku harus bagaimana?’
Beberapa menit kemudian, ponsel di dalam sakunya bergetar.
Karissa segera menyeka air mata di wajahnya, kemudian mengambil ponsel itu.
Begitu melihat nama yang tertera di layar, wajahnya langsung berubah. Yang awalnya sedang sedih, sekarang menjadi marah.
“Orang Gila!”
Itulah nama yang tersimpan di ponselnya.
"Untuk apa dia menghubungiku?"
Selama satu minggu ini, Tuan Lee selalu datang menjenguk ibunya dan membawakan beberapa makanan untuk Karissa. Komunikasi mereka juga cukup lancar setiap harinya. Tapi sekarang, anaknya menelepon.
'Untuk apa?'
Walau enggan, Karissa akhirnya mengangkat telepon tersebut.
Ia menempelkan ponsel ke telinga tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Setelah beberapa detik hening, suara Louis terdengar.
“Halo! Kariss, apa kau mendengarku?”
“Ya. Ada apa?” Suara Karissa terdengar sangat berbeda.
Louis langsung menyadarinya.
“Apa kau menangis?”
“Bukan urusanmu!”
“Aha, ya ... kau benar! Ini sama sekali tidak ada urusannya denganku!”
Louis berusaha terdengar santai. “Aku menghubungimu karena ada sesuatu yang ingin aku tanyakan!”
“Apa?”
Jawaban Karissa tetap datar.
Jelas sekali ia tidak ingin berurusan lagi dengan Louis.
“Kita bertemu sekarang! Tidak enak berbicara di telepon.”
“Tidak bisa!”
“Kenapa tidak bisa?”
“Aku sibuk!”
Lebih tepatnya, Karissa tidak ingin bertemu atau bahkan berbicara dengan pria itu.
“Baiklah! Kalau kau sibuk, aku saja yang datang ke tempatmu!”
Karissa langsung terdiam.
Louis sudah mengetahui keberadaannya.
Kalau wanita itu tidak mau menemuinya, maka Louis yang akan datang.
“Untuk apa datang ke tempatku?” tanya Karissa dingin. “Bukankah kita sudah tidak memiliki hubungan lagi? Itu artinya, sudah tidak ada yang perlu kita bicarakan!”
Mendengar penolakan itu, Louis jelas tidak suka.
Ia kemudian berkata dengan nada mengejek.
“Hmm ... tidak ada hubungan?”
Louis tertawa kecil. “Bukankah sekarang kita adalah ibu dan anak?”
Karissa mengepalkan tangannya.
“Kau sendiri yang bilang aku harus memanggilmu ‘Mama’, kan?”
Nada suaranya semakin menyebalkan.
“Itu artinya hubungan kita sangat dekat!”
“Louis!”
Karissa tiba-tiba membentak.
“Mana ada anak yang tega memperlakukan istri ayahnya seperti yang kau lakukan malam itu!”
Louis terdiam sesaat.
Namun, bukannya merasa bersalah, ia justru menjawab dengan nada sinis.
“Anggap saja itu hukuman karena ibu tiriku seorang pembohong kecil!”
Meski ucapannya terdengar mengejek, ada sedikit kebahagiaan yang diam-diam muncul di hati Louis.
Karissa masih memanggil namanya.
Namun, setelah diingat-ingat lagi, dulu wanita itu memanggilnya dengan panggilan kesayangan.
“Owi!”
Panggilan itu masih terngiang di kepalanya.
“Siapa pembohong kecil?” tanya Karissa.
“Kau ...”jawaban Louis tegas.
“Kau berbohong dengan bilang kalau kau dan Ayah menikah di rumahmu, disaksikan oleh kedua orang tuamu!”
Louis menarik napas.“Nyatanya, rumahmu akan dijual, dan orang tuamu—”
Ucapannya terhenti.
“....”
Tidak terdengar suara apapun dari seberang telepon.
Louis menyadari bahwa perkataannya mungkin sudah menyentuh luka yang paling dalam.
Nada suaranya berubah lebih pelan.
“Kariss ... ayo kita bicara!”
Ia berhenti sejenak.
“Aku tunggu di restoran samping rumah sakit!”
Klik!
Sambungan telepon ditutup.
Karissa masih memegang ponsel di telinganya.
Tatapannya kosong. Dadanya terasa sesak.
Ia tidak tahu apakah harus membenci Louis atau justru menghadapi pria itu dan menjelaskan semuanya.
***
Jam delapan malam, Karissa masih berada di rumah sakit dan menunggu ibunya. Ia duduk di bangku luar sambil menikmati udara malam yang terasa sejuk.
Setiap malam, ia bergelut dengan kesepian karena tidak ada seorangpun yang menemaninya.
Karina tidak pernah kembali setelah menerima uang darinya. Karissa pun terlalu malas untuk menelepon sekadar menanyakan keberadaan kakaknya itu.
Ia sudah lelah dengan sikap dan perilaku Karina yang tidak jelas. Kakaknya selalu pergi dan datang sesuka hati tanpa pernah memikirkan bagaimana kondisi ibu mereka.
Ketika Karissa masih duduk sambil menatap langit malam yang dipenuhi bintang, tiba-tiba ponselnya bergetar.
Ia segera melihat layar.
Ada panggilan video dari teman baiknya.
Karissa segera menggeser tombol hijau.
“Halo!” sapa Karissa dengan senyum manis. Ia melambaikan tangan sambil menatap layar ponsel.
Karissa sama sekali tidak menunjukkan kesedihan yang sedang dirasakannya.
Dari seberang, Davi membalas sapaan itu, lalu bertanya, “Kariss, kau sedang apa? Lihat, siapa yang sekarang bersamaku?”
Davi menggeser kamera ponselnya hingga menyoroti seorang wanita yang duduk di sampingnya.
“Karisssss!” seru wanita itu dengan keras.
Karissa langsung mengenal suara tersebut.
Mona!
“Kami di klub Nightfly. Ayo, kemarilah!”
“Iya, Kariss! Cepat datang!” sambung Davi. “Aku juga baru sampai, kok!”