NovelToon NovelToon
14 Days

14 Days

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:328
Nilai: 5
Nama Author: justjeha

Ara hanyalah seorang wanita biasa yang tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah meminum ramuan ajaib yang membawanya kembali ke masa lalu, tepat sebelum seseorang yang paling dicintainya meninggal dunia.

Bara. Lelaki yang dicintainya itu tengah berjuang melawan leukemia stadium akhir. Namun, kali ini Ara mendapatkan kesempatan untuk mengubah takdirnya.

Sayangnya, kesempatan itu hanya diberikan selama 14 hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon justjeha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Because I Love You

"Lo lama banget, sih, Ra! Untung gue belum selesai makan."

Ara hanya tersenyum kepada Sora. Ia kemudian memesan makanan kesukaannya, ayam geprek, sebelum duduk di hadapan sahabatnya itu dengan wajah yang jauh lebih cerah.

Entah kenapa, sejak kembali ke masa lalu, Ara tiba-tiba tidak terlalu memikirkan apa yang akan dilakukannya selama empat belas hari ke depan.

Untuk saat ini, satu hal saja sudah cukup membuatnya bahagia. Ia bisa bertemu Bara lagi.

"Lo kok malah senyum-senyum gitu, sih?" Sora menyipitkan mata. "Jangan-jangan lo dipelet sama si Bara."

"Sembarangan kalau ngomong. Dia bukan orang kayak gitu."

"Dih." Sora mengangkat alis. "Sejak kapan lo mulai ngebelain dia kayak gini? Lo tadi ngomong apaan sama dia? Jangan-jangan lo tadi nyatain perasaan lo lagi ke dia."

"Hah? Ya enggak, lah! Gila, lo?"

Ara menggeleng cepat.

"Gue itu cumaㅡ"

Ia terdiam sejenak.

"Hmm... kalau gue ceritain juga lo nggak akan percaya."

"Cuma apaan?" Sora semakin penasaran. "Lo malah bikin gue makin penasaran, sih, Ra. Apaan, emangnya? Ceritain ke gue, coba. Gue bakal percaya, kok."

Ara menggeleng pelan. Ia memilih tidak menjawab dan segera meraih makanan yang baru saja disajikan di atas meja.

Namun, bukannya menyerah, Sora justru semakin brutal memaksa Ara agar bercerita.

"Jahat lo, Ra."

Sora menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan wajah kecewa.

"Gue pikir kita sahabatan. Tapi lo malah main rahasia-rahasiaan kayak gini sama gue."

Ia berdiri.

"Ya udahlah. Gue udah nggak selera makan. Gue balik dulu."

Ara langsung panik. Ia buru-buru meraih tangan Sora yang hendak pergi meninggalkannya.

"Eh, jangan!"

Ara menghela napas kasar. Ia tahu Sora akan terus mengganggunya kalau tidak segera mengatakan yang sebenarnya.

"Gue emang suka sama Bara."

Sora membeku.

"Tapi tolong jangan cerita sama siapa pun. Termasuk Yuvin sama Yohan."

Ara menatap sahabatnya dengan serius.

"Cuma lo yang gue kasih tahu karena lo sahabat terdekat gue."

"Astaga!"

Sora langsung kembali duduk.

"Lo suka beneran sama dia?"

Ara mengangguk.

"Padahal gue cuma ngegodain lo, tapi lo beneran suka sama dia?"

"Iya."

"Serius?"

"Iya."

"Demi apa?"

Ara memutar bola matanya.

"Sejak kapan?"

"Sora..."

"Apa dia tahu kalau lo suka sama dia?"

"Nanya tuh satu-satu, Sora."

Ara terkekeh kecil.

"Ceritanya panjang banget. Mau gue ceritain?"

Sora langsung mengangguk antusias. Ia kembali duduk di hadapan Ara, melipat kedua tangannya di atas meja, lalu bersiap mendengarkan cerita sahabatnya dengan saksama.

Ara pun mulai menceritakan semuanya. Tentang kematian Bara. Tentang penyesalan yang selama ini menghantuinya.

Tentang wanita tua yang ditemuinya di toko buku. Tentang dua botol ramuan. Dan tentang bagaimana ramuan tersebut membawanya kembali ke masa lalu.

Sora hanya bisa mengernyitkan kening sepanjang mendengar cerita Ara. Semakin lama, wajahnya semakin sulit dipercaya.

"Gue tahu kedengarannya gila," ujar Ara setelah selesai bercerita. "Nggak masalah kalau lo nggak percaya."

Ara menggenggam gelas minumannya.

"Tapi janji jangan cerita ke siapa pun."

Sora mengangguk.

"Gue mau gunain kesempatan ini sebaik mungkin buat memperbaiki hubungan gue sama Bara."

Tatapan Ara berubah serius.

"Gue juga pengin ngasih dia kebahagiaan, meskipun gue sendiri belum tahu harus gimana."

Ia menarik napas panjang.

"Pokoknya, mulai besok gue mau ngikutin ke mana pun dia pergi."

"Lo mau ngikutin dia secara terang-terangan?"

Sora menatap Ara tidak percaya.

"Kalau yang lo omongin emang bener, gue nggak yakin sikap dia bakal tetap sama setelah dia tahu kalau lo udah tahu tentang penyakitnya."

Sora mengingat kembali kejadian tadi.

"Apalagi dengan sikap lo yang tiba-tiba sok akuㅡkamu kayak tadi. Lo lihat sendiri, kan? Sikap dia malah jadi kayak risih."

"Gue paham."

Ara mengangguk.

"Makanya gue mau ngikutin dia diam-diam. Sikap gue juga nggak bakal gue ubah."

Ia tersenyum tipis.

"Gue bakal tetap jadi Ara yang biasanya."

Sora hanya mengangguk.

Entahlah. Ia masih sedikit sulit mempercayai cerita sahabatnya tersebut. Namun, melihat bagaimana seriusnya Ara sejak tadi, Sora akhirnya memilih untuk percaya.

Jika memang benar Ara mendapatkan kesempatan untuk kembali ke masa lalu, ia akan membantu sahabatnya itu sebisa mungkin.

"Tapi kalau misalnya nanti lo balik ke masa depan dan Bara tetap ninggalin lo, lo nggak apa-apa?"

Sora menatap Ara penuh kekhawatiran.

"Lo nggak akan terpuruk lagi seperti yang lo ceritain tadi?"

Ara terdiam.

"Semoga."

Ia tersenyum kecil.

"Hati gue sebenarnya masih sakit."

Ara menunduk.

"Cuma sekarang udah agak mendingan karena gue bisa ketemu dia lagi."

Ia mengusap ujung jarinya.

"Gue bahkan bisa nyentuh dia lagi."

Ara tertawa kecil.

"Kalaupun ternyata ini cuma mimpi, gue juga tetap senang. Setidaknya selama empat belas hari, gue bisa melihat dia lagi."

Sora memasang wajah sedih. Ia kemudian berpindah duduk ke samping kanan Ara dan memeluk sahabatnya itu dengan erat.

"Gue bakal bantu lo sebisa mungkin, Ra."

Sora menepuk punggung Ara.

"Kalau lo butuh bantuan, bilang aja. Gue siap bantu dan bakal selalu ada buat lo."

"Lo butuh bantuan apa, Ra?"

Suara seorang lelaki tiba-tiba terdengar dari samping mereka.

"Mau gue bantuin juga, nggak?"

Ara dan Sora langsung membeku.

Bara dengan seenaknya duduk di sebelah kiri Ara. Tanpa merasa bersalah, ia mengambil ayam geprek milik Ara yang belum habis dan langsung memakannya.

Ara dan Sora otomatis menatap Bara dengan tatapan heran. Sora mendekatkan wajahnya ke telinga Ara.

"Ra, kok gue jadi nggak yakin sama cerita lo, ya?"

Ia berbisik.

"Padahal tadi gue udah hampir percaya."

Ara menahan napas. Sepertinya Bara mendengar bisikan Sora. Meskipun Sora merasa sudah berbicara dengan suara sangat pelan, pendengaran Bara ternyata cukup tajam.

"Gue denger suara bisikan lo."

Bara masih sibuk mengunyah.

"Lo berdua tadi habis ngomongin gue?"

Ia menoleh kepada Ara.

"Kenapa? Si Ara capek karena gue jahilin terus atau gimana?"

Sora langsung menatap Bara.

"Lo ngapain di sini? Bukannya tadi bilang ada janji?" tanya Ara.

"Oh, tadi gue cuma ketemu teman sebentar di depan kampus."

Bara mengambil satu potong ayam lagi.

"Terus gue tiba-tiba laper. Eh, gue malah ketemu lo sama si bebek ini di kantin."

Ia menunjuk Sora dengan dagunya.

"Ya udah, gue samperin aja."

Sora langsung berdiri.

"Sialan! Gue nggak terima dikatain bebek!"

Ia menggulung kedua lengan bajunya.

"Ra, gue nggak terima, nih. Lo mau baku hantam di sini nggak? Ayo, gue ladenin sekarang!"

Ara menghela napas panjang. Ia buru-buru menarik tangan Sora dan memaksanya kembali duduk.

Sementara itu, Bara hanya tertawa sambil menghabiskan suapan terakhir ayam geprek milik Ara.

"Duh, sorry, Ra."

Bara menunjukkan piring yang sudah kosong.

"Makanan lo malah gue habisin."

Ia tersenyum santai.

"Tapi lo jangan sampai lupa bayar makanannya, ya. Peran gue di sini cuma bantu lo ngabisin makanan biar nggak mubazir."

"Nyebelin banget, sih, lo jadi orang!"

Ara menatap piring kosongnya dengan kesal.

"Kan gue belum selesai makan!"

"Ya pesan lagi, lah."

Bara mengangkat bahu.

"Ribet amat lo jadi orang."

"Kok lo makin ngeselin, sih?!"

"Bukannya dari dulu gue emang udah ngeselin?"

Bara terkekeh.

"Baru sadar? Ke mana aja lo selama ini?"

Bara tertawa lepas. Deretan giginya yang rapi terlihat jelas. Kedua matanya bahkan sampai menyipit setiap kali ia tertawa.

Ara hanya bisa terdiam. Entah kenapa, melihat Bara seperti itu membuat hatinya terasa hangat.

Bara terlihat begitu hidup. Begitu nyata. Dan begitu menggemaskan.

Kenapa kamu lucu banget, sih, Bara? Aku pengin banget nyubit sambil nguyel-nguyel pipimu.

Ara menahan senyum.

Tapi aku sadar... aku bukan siapa-siapa kamu.

Tawa Bara perlahan mereda. Kini ia menatap Ara dengan senyum tipis yang memperlihatkan lesung pipinya.

Jantung Ara kembali berdetak tidak karuan. Ia buru-buru mengalihkan pandangan.

Jangan sampai Bara tahu. Jangan sampai lelaki itu menyadari bagaimana perasaannya.

"Udah nggak nafsu makan gue."

Ara berdiri dan meraih tasnya.

"Mending gue balik aja."

Sora ikut berdiri.

Namun, baru beberapa langkah Ara berjalan, Bara tiba-tiba meraih tangannya. Ara menghentikan langkah.

"Ara?"

Bara menatapnya.

"Lo marah?"

"Mau gue marah atau enggak, emang urusannya sama lo apa?"

Ara berusaha menarik tangannya.

"Lo mau minta maaf, gitu?"

Bara terdiam.

"Enggak, kan?"

Ara mendengus.

"Ya udah. Lepasin gue!"

"Ra?"

"Hmm."

"Ara?"

"Apaan?"

Bara tersenyum.

"Ara Moana?"

"Apaan, sih!"

"Gue cuma mau ngingetin kalau besok ada kuliah."

Bara akhirnya melepaskan tangan Ara.

"Sampai ketemu besok, Ara."

Senyum khas jahilnya kembali muncul. Bara kemudian mengusak rambut Ara dengan santai sebelum berjalan pergi.

Ara hanya bisa berdiri mematung. Ia menatap punggung Bara yang semakin menjauh. Tidak tahu saja kalau saat ini jantung Ara rasanya ingin meledak.

"Astaga!"

Ara menekan dadanya.

"Jantung gue mau copot rasanya!"

Sora hanya terkekeh.

"Dia itu suka juga sama lo, tahu, Ra."

Ara menoleh.

"Gue bahkan udah tahu sejak lama."

"Tapi kenapa sikapnya harus nyebelin banget, sih?"

"Namanya juga Bara."

Sora mengangkat bahu.

"Tapi lo juga suka, kan?"

Ara terdiam.

"Udahlah."

Sora merangkul bahunya.

"Mending sekarang pikirin lo mau gimana selama empat belas hari ke depan."

Ia menatap Ara serius.

"Jangan sampai lo nyesel untuk yang kedua kalinya."

Ara kembali menatap ke arah Bara yang sudah menghilang dari pandangannya.

Empat belas hari. Hanya empat belas hari.

Dan untuk pertama kalinya, Ara memiliki kesempatan untuk melakukan sesuatu yang selama ini hanya bisa ia bayangkan. Kali ini, ia tidak ingin menyia-nyiakannya.

1
Justjeha
Kisah fantasi yg pokoknya tidak akan mengecewakan
Justjeha
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!