Di usia pernikahan yang baru dua bulan seharusnya pasangan suami sedang hangat-hangatnya memadu kasih. Namun tidak begitu dengan pernikahan Rana dan Jax. Meskipun mereka adalah pengantin baru, tapi tidak ada api cinta diantara keduanya, dingin, kaku, tanpa suara. Apakah ada cinta diantara mereka? atau mungkin semua hanyalah rumah tangga kosong?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ginevra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Muak Melihatmu
Suasana pagi hari di Universitas Nusa Bangsa sudah ramai dengan langkah kaki para mahasiswa yang bergegas menuju kelas. Ada juga yang masih santai di beberapa spot seperti kantin, taman, dan parkiran. Sayup-sayup terdengar gelak tawa segerombolan mahasiswi yang saling bertukar candaan atau sekedar bergosip tentang selebritis yang sedang hit.
Rasanya, sudah lama sekali Dania tidak menghirup udara yang dipenuhi oleh para pencari ilmu. Dia sudah tidak tahan lagi menyambut tumpukan makalah, tugas, dan jurnal karya anak didiknya.
"Hmmm.... Akhirnya aku bisa kembali ngajar lagi!!"
Dania menghirup udara dalam-dalam untuk merasakan euforia di dadanya. Semangatnya sangat menggebu hingga ia hampir menyapa semua orang yang ada disana, membuat beberapa mahasiswa merasa canggung.
Hampir setengah tahun Dania resign dari Universitas sebelumnya. Alasan formalnya adalah kelelahan dan stress karena pekerjaan. Namun sebenarnya ada hal lain yang menyita perhatiannya hingga ia harus menganggur.
"Fokus! Ini hari pertamaku di Kampus ini. Aku harus fokus!" Dia bergumam sendirian ketika tidak ada orang di sekitarnya, tanpa ia sadari ada seseorang yang tengah mengamatinya dari kejauhan.
Sesampainya Dania di Ruang Dosen, ia langsung disambut oleh rekannya.
"Halo Bu Dania! Selamat datang..." Ucap salah satu dosen yang bernama Bu Endang. Beliau salah satu senior yang terlihat mengenakan setelan batik anggun, cocok dengan aura yang terpancar darinya.
"Wah, kita kedatangan dosen cantik nih. Awas Pak Bowo, matanya jangan jelalatan!"
Gelak tawa mewarnai ucapan selamat datang. Sepertinya semua rekan kerjanya terlihat normal dan cukup ramah. Tapi siapa tahu, dibalik senyum sapa dan salam itu ada secercah kedengkian yang menjelma menjadi sesuatu yang menyeramkan.
.
.
.
Hari pertama mengajar tidak afdol kalau hanya leha-leha saja di meja dosen. Tentu saja Dania sudah tidak sabar bertemu dengan para mahasiswa yang haus ilmu dan wawasan.
Dengan senyum yang tidak pernah pudar tulus menawan tanpa lelah, ia melangkah ke kelas pertamanya. Riuh sorai mahasiswa yang antusias menyambut dosen baru, menambah kobaran semangat yang membara demi memberikan setumpuk tugas untuk murid tercintanya.
Akhirnya sejenak ia bisa terbebas dari beban pikiran tentang suaminya yang sedang melakukan aksi mogok sarapan pagi. Ia masih terheran dengan keputusan sepihak untuk cerai padahal Jax sendiri tak punya apa-apa untuk hidupnya.
Tidak...
Ini bukan saatnya memikirkan Jax si pembuat masalah. Dirinya harus fokus agar bisa menuntun mahasiswanya untuk meraih masa depan gemilang.
"Ehem, perkenalkan saya Rana Dania. Saya akan mengajar mata kuliah Keterampilan Dasar Seni Pertunjukan."
Puluhan mata memandang sedikit membuatnya gugup. Mungkin karena dirinya sudah lama tidak berbicara di depan orang banyak setelah menikah. Satu-satunya orang yang bisa diajak bicara hanya suami moody-nya. Itu-pun tidak banyak kosa kata yang ia lontarkan, sampai membuatnya sedikit lupa caranya berinteraksi dengan orang lain.
Lagi-lagi malah memikirkan suami yang suka pundung itu.
'Kamu harus fokus Dania,' batinnya.
"Baiklah, saya akan membacakan kontrak kuliah kita. Mohon untuk dicatat."
Dengan antusias yang tidak pernah surut, Dania melihat satu-per satu mahasiswanya.
Wajah muda penuh kepolosan dan keceriaan membuatnya merasa beberapa tahun lebih muda. Ini juga yang menjadi faktor pendorong dirinya mengajar.
'Aku akan menyerap semua energi muda ini hahahahaha!' batinnya tertawa ala penjahat di film-film.
Namun, kegembiraannya seketika pupus saat matanya menangkap sosok yang membuat moodnya buruk dari pagi.
Seperti melihat hantu gentayangan di sumur tua, Dania terkejut sampai tubuhnya hampir terjungkal. Untungnya dia bisa mengantisipasinya dengan kakinya yang kuat. Kalau tidak, pasti dia sudah menjadi bahan olok-olok di hari pertamanya mengajar.
Dania kembali menyipitkan matanya untuk memastikan kevalidan obyek yang tertangkap di lensa matanya. Tidak puas disitu, Dania sampai memakai kaca mata bacanya untuk memeriksanya sekali lagi.
Tapi itu benar dia, Jax Sang suami kecilnya.
'Loh? Kok ada dia? Sial!!!!' umpatnya ke dirinya yang tidak tahu menahu tentang kampus dimana Jax kuliah. Kalau tahu dari awal, pasti Dania tidak akan melamar di Universitas ini.
Sementara itu, Jax malah tersenyum jahil dengan dagu yang terangkat seolah mengatakan ' tamatlah sudah riwayatmu.'
'Sial!!! Sial sial sial sial!!!!'
Dania melengoskan pandangannya dan menggigit bibirnya sampai membuat mahasiswa yang duduk di bangku paling depan terheran.
Namun Dania tak ingin kalah di depan bocah semester akhir yang masih belajar Mata Kuliah dasar itu. Tentu saja ia tetap menjaga profesionalnya sampai kuliah berakhir.
Dan yah, perkuliahan siang itu berjalan lancar.
Segera Dania merapikan buku dan tas bawaannya untuk keluar dari kelas. Kakinya sudah tidak tahan untuk kabur dari situasi memuakkan. Seolah dua bulan penuh melihat wajah yang itu-itu saja masih kurang, sampai ia juga harus melihatnya di tempat kerja.
"Permisi Bu Dania, saya perwakilan rombel 10. Anda ada jad--"
Dania langsung menyahut agar bisa secepatnya keluar dari ruangan itu.
"Ya, terimakasih sudah diingatkan," sambarnya.
Lalu Dania berjalan cepat dengan dibuntuti oleh ketua rombel yang cengar-cengir setelah tahu kalau dosen yang akan mengajar itu sangat cantik bak bidadari yang terperangkap di bumi yang panas.
Sedangkan Jax hanya duduk diam menyilangkan tangannya seolah telah menonton pertunjukan yang paling menarik sepanjang hidupnya.
.
.
.
.
Setelah menyelesaikan perkuliahan sampai sore, Dania menyenderkan punggung lelahnya di kursi semi empuk. Dia meletakkan kacamatanya sedikit kasar di atas meja kerja. Kepalanya mendadak pening seperti kelebihan muatan.
Tapi nyatanya, bukan karena pekerjaan yang menyita energinya, toh ia bisa menyerap energi muda dari para mahasiswa. Tapi, berkali-kali papasan dengan laki-laki yang ia sebut suami itu cukup membuatnya kuwalahan.
"Apa dosaku ya Tuhan...."
"Ada apa, Bu?"
Dania terlonjak dari kursinya.
"Ah, saya kira siapa. Pak Bowo ini membuat terkejut saja," ucap Dania pada Pak Bowo yang entah darimana munculnya padahal Dania ingat betul sebelumnya tidak ada seorang pun yang berada di ruang dosen.
"Apakah ada masalah, Bu? Ya ... Namanya baru mengajar, wajarlah agak sedikit.... Menyesuaikan." Dari kalimatnya memang menggambarkan orang yang sedang khawatir. Tapi raut wajahnya sangat menakutkan, lebih ke mesum. Atau itu cuma pikiran Dania saja?
"Hahaha, tidak apa-apa. Bukan suatu yang penting." Dania berusaha menjawab meski dirinya merasa tidak nyaman.
Bukannya menyerah, Pak Bowo mesum itu malah memindahkan kursinya ke belakang mendekati posisi Dania duduk. Perlahan ia condongkan tubuhnya hingga membuat Dania spontan memiringkan badannya menjauh.
"Kalau ada masalah sama mahasiswa, kamu boleh minta tolong aku...." Bowo semakin mendekatkan tubuhnya sampai Dania harus menahannya dengan kedua tangannya.
Tok tok tok!!!
Atmosfer menegangkan langsung terpecah ketika ada seseorang yang mengetuk pintu. Dan Dania akhirnya bisa melepaskan diri dari pelecehan yang hampir menimpanya.
"Permisi, Bu Inggit ada tidak ya Pak? Saya mau bimbingan judul skripsi," ucap orang itu yang ternyata Jax, suami Dania.
"Kamu bisa lihat tidak? Apa disini ada Bu Inggit?? He!!!" Bowo naik pitam karena niat buruknya tidak berhasil.
Dania mengambil kesempatan itu untuk melarikan diri. Tanpa berbicara, ia langsung berjalan hampir berlari keluar ruangan. Jax bisa melihat sosok Dania yang melewatinya dengan ujung matanya. Sudah dipastikan, istrinya sekarang sudah aman dari serigala berbulu domba yang siap menyergap. Jadi, sudah saatnya ia undur diri.
"Oh, tidak ada ya. Maaf ya Pak, saya tidak melihatnya. Permisi...." Jax menutup kembali pintu, meninggalkan serigala itu dengan segala amarahnya yang siap meledak.
.
.
.
Visual Dania
.
wkwkwk... jax minggir dulu yess...