NovelToon NovelToon
Switch Body, Yuk Nikah!

Switch Body, Yuk Nikah!

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Nikahmuda / Komedi
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: LaQuin

Apa jadinya kalau dua orang yang bahkan tidak saling menyukai tiba-tiba terbangun dalam tubuh masing-masing?

Itulah yang dialami Daffa dan Dinda setelah sebuah kejadian aneh membuat roh mereka tertukar. Kekacauan pun dimulai. Daffa harus menjalani kehidupan sebagai perempuan, sementara Dinda terpaksa menghadapi dunia sebagai laki-laki.

Awalnya mereka berusaha menjalani situasi yang rumit itu. Namun semakin lama, mereka justru menemukan sisi lain satu sama lain yang selama ini tidak pernah terlihat.

Masalahnya, pertukaran roh itu ternyata memiliki satu syarat aneh untuk bisa berakhir. Mereka harus menikah!

Antara kekacauan, pertengkaran, dan perasaan yang perlahan tumbuh, mungkinkah pernikahan yang awalnya hanya sebuah solusi berubah menjadi kisah cinta sungguhan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tutorial Memakai Bra

BAB 4

Tutorial Memakai Bra

Dinda berubah kesal setelah menyadari dua bukitnya tergantung bebas tanpa pengaman di balik kaos oblong yang di kenakan Daffa di tubuhnya. Ia pun segera melepaskan hodie yang ia kenakan dan memakaikannya pada tubuh aslinya untuk menutupinya.

Ya... Tuhan, kalau dari tadi ada yang lihat mau taruh dimana muka gue?!

Ingin rasanya Dinda memukul Daffa karena tidak memakaikan bra pada tubuhnya saat keluar rumah. Tetapi ia urungkan karena jika ia lakukan maka itu berarti ia menyakiti dirinya sendiri.

"Maaf, gue nggak tahu cara gunain benda itu." Ungkap Daffa jujur.

Daffa tampak merasa bersalah. Dinda pun tak bisa menyalahkan Daffa sepenuhnya karena sudah pasti lelaki itu tak mengerti caranya.

Dinda tidak tega memarahi, akhirnya mencoba untuk berbesar hati. Ia mencoba untuk sabar dan tenang, meski sebenarnya malu setengah mati.

"Baiklah, ayo kita bertukar kebiasaan. Supaya hal seperti ini nggak terjadi lagi. Dan nih hape lu, Bang. Dari pagi banyak notif."

Dinda memberikan ponsel milik Daffa.

"Oh, punya lu di kamar. Gue nggak kepikiran mau bawa."

"Ehem..., cara memakai bra, lu bisa lihat di yutub Bang. Gue nggak mungkin contohin dirumah. Bisa di gebukin gue sama tante Mayang atau Ibu gue sendiri. Terus lu harus perhatikan jadwal gue apa aja. Kalau mau pakai baju apa, lu chat gue dulu Bang. Lalu tiap hari lu harus pakai lotion ke tubuh gue dan krim wajah. Awas ya wajah gue jerawatan dan timbul flek!"

Dinda pun berusaha menjelaskan apa saja yang harus di lakukan Daffa pada tubuhnya dan kesehariannya.

"Ribet ternyata." Gumam Daffa langsung mendapat lirikan maut dari Dinda. "Okey. Ada beberapa hal yang mesti lu tahu juga kebiasaan gue."

Sama halnya dengan Dinda, Daffa pun memberikan penjelasan kepada Dinda tentang kesehariannya.

"Terus, gimana dengan sekolah gue dan kampus lu Bang?"

Daffa tampak berpikir sejenak. Benar, bukan hanya soal kebiasaan mereka yang perlu mereka saling menjelaskan. Tetapi juga sisi kehidupan lainnya.

Daffa menghela napas berat sebelum memulai menceritakan kehidupan pribadinya. Cepat atau lambat, ia tetap harus melakukan karena mau tidak mau, Dinda yang sedang berada di tubuhnya akan mengalami kehidupan pribadinya.

"Jangan terlalu dekat dengan Tiwi, karena Evan suka sama dia. Gue nggak mau persahabatan gue rusak." Ujar Daffa mengakhiri penjelasannya.

"Oke, gue paham. Tapi lu awas kalau keluar tanpa bra lagi ya, Bang!" Ancam Dinda dengan menatap tajam ke arah Daffa.

Daffa tersenyum tipis. "Galak." Ucapnya nyaris tak terdengar.

"Apa, Bang?"

"Nggak. Bukan apa-apa."

"Awas ya lu, Bang! Ayo pulang, selanjutnya kita chatan aja kalau ada apa-apa. Dan ambilin dulu hape gue. " Ajak Dinda yang berada di tubuh Daffa.

"Wah... Kalian pacaran ya?"

Tiba-tiba seorang wanita paruh baya yang melintasi, menegur karena mengenali mereka.

Dinda yang berada dalam tubuh Daffa duduk kembali saat bersiap beranjak pergi.

"Oh Tante Marni, nggak kok... kita juga kebetulan ketemu aja.."

Dinda yang berada dalam tubuh Daffa, spontan menjawab dan membantah. Karena Dinda tahu siapa wanita yang ada di hadapannya itu.

"Haduuh, kenapa menyangkal begitu sih, Tante juga harap maklum kok..."

"Nggak kok Tante, beneran...?!"

"Tapi Daffa, tumben ya kamu banyak bicara, biasa kamu pendiam banget. Tapi Tante senang loh... Ternyata yang selama ini tante kira kamu pendiam itu rupanya nggak juga."

"Oh, itu....emm, iya Tante..."

Duh, gue lupa sedang dalam tubuh Bang Daffa. Batin Dinda.

"Maaf Tan, saya mau permisi dulu, takut di cariin ibu lama-lama." Ujar Daffa yang berada dalam tubuh Dinda.

Melihat Dinda yang berada dalam tubuhnya mulai merasa tidak nyaman, Daffa mulai berinisiatif untuk mengajak Dinda pulang mengambil hapenya di rumah.

"Oh, ya Dinda...,titip salam ya buat jeng Sarah dan jeng Kemala ya Daff..."

"Ya Tante ...."

Mereka berdua pun berlalu dari hadapan Marni, salah satu tetangga yang paling berbahaya di komplek karena suka menyebarkan gosip.

"Dih, titip salam doang amplop nggak?!" Dinda yang berada dalam tubuh Daffa ngedumel sendiri.

Hanya butuh 5 menit, mereka tiba di rumah depan Dinda. Lalu Dinda yang berada di tubuh Daffa dengan santainya masuk ke rumahnya sendiri. Daffa panik, lalu dengan cepat ia menahan lengan Dinda untuk mencegahnya masuk lebih dalam.

"Kenapa sih Bang?" Tanya Dinda sambil melihat Daffa, heran.

"Lu lupa, lagi dalam tubuh gue?"

Dinda menepuk jidat. "Oh, iya. Bahaya kalau sampai ibu lihat orang lain main masuk ke kamar anak perawannya."

"Gue aja." Ujar Daffa.

"Di tempat tidur ya, Bang. Kalau nggak ada, gue cas biasa di atas nakas." Ucap Dinda, pelan.

Daffa tak menjawab, lalu masuk ke rumah Dinda. Namun baru beberapa langkah, Dinda sudah mengikutinya di belakang.

Langkah Daffa terhenti dan berbalik, lalu menahan tangan Dinda. Cukup aneh rasanya, menahan tangannya sendiri.

"Mau ngapain? Mau cari masalah baru?"

"Gue baru ingat ini hari sabtu. Ibu pasti udah pergi ketempat temannya, arisan. Joanda pasti sibuk di kamar main game. Dan ayah besok baru pulang. Gue hafal kok." Ujar Dinda dengan santainya.

Daffa yang tadinya sedikit khawatir mulai mereda. Lalu mengikuti Dinda menuju kamarnya.

Langkah mereka pelan tanpa berusaha menimbulkan banyak suara. Setelah masuk ke dalam, Dinda lalu menutup pintu kamarnya dan menguncinya

Daffa hanya memperhatikan.

"Jangan macam-macam ya, Bang. Ini supaya aman aja, dari Joan."

Dinda yang berada dalam tubuh Daffa menyilangkan tangan di depan dada. Membuat Daffa mendesah berat, dan sedikit kesal.

"Please..., jangan buat tubuh gue jadi kemayu," ujar Daffa pelan, namun terdengar tegas. "Gue nggak serendah itu mau melakukan hal-hal bejat."

Dinda menurunkan ke dua tangan. Kemudian ia mencari letak ponselnya berada.

Setelah ketemu, Dinda langsung memberikan pada Daffa.

"Nomor mu Bang, masukin."

Daffa meraih, lalu memasukan nomornya pada ponsel Dinda. Setelah itu, memberikannya kembali pada gadis itu.

Dinda menerima, lalu memasukan ponselnya ke dalam saku celana. Setelah itu, ia menatap tubuhnya sendiri di hadapannya.

"Sini lu, Bang!"

Dinda menarik Daffa untuk mendekat.

"Ngapain?"

"Ck, ya pakein bra tubuh gue lah, mau ngapain lagi?!"

Jawab Dinda sambil berkacak pinggang.

Daffa lalu melihat dada yang menyembul di balik kaos oblong itu.

"Yaaaa! Abang ih, jangan di lihat terus dong...!"

Dinda berteriak dengan suara berbisik takut terdengar keluar. Ia kesal dengan wajah memerah menahan malu setengah mati. Daffa kemudian refleks menutup mata dan mengalihkan pandangan.

Dengan cepat Dinda mengambil bra dari laci dan meraih lengan Daffa untuk mendekat padanya.

"Ini namanya bra. Abang tinggal ambil di deretan laci nomer 2. Cara pakainya begini..."

Dinda mempraktekkan cara memakai bra pada Daffa yang berada dalam tubuhnya sendiri.

"Abang iiihh...! Perhatiin dong kalau gue lagi jelasin! Lihat caranya bagaimana."

Sungguh situasi yang benar-benar tidak nyaman.

"Jadi, gue buka mata aja?"

Dinda baru sadar.

"Eh, ih... Jangan! Ish!! Jangan lihat pokoknya. Ntar Abang belajar sendiri aja deh, lihat di yutub pokoknya."

"Tunggu."

Daffa menghentikan Dinda yang masih berusaha menyelesaikan misinya untuk memasang bra di tubuhnya. Pemuda itu membuka matanya, memegang tangan Dinda dan menahannya.

"Ngapain sih?!" Tanya Dinda, heran.

"Lu mau sentuh bukit-bukit ini dengan tangan gue?"

"Eh...!"

Dinda mendadak syok. Lalu segera melepaskan bra di tangannya. Ia terdiam di tempatnya, kebingungan. Tidak di pakaikan, ia malu dada di tubuh aslinya bergelantungan begitu saja. Namun bila di pakaikan, sama saja ia dengan sengaja menyentuh dadanya sendiri dengan tangan Daffa. Ia serba salah jadinya.

"Terus gue biarin Abang lihat-lihat tubuh gue gitu dan seenaknya pegang-pegang gitu?!"

Daffa mendesah pelan. Mencoba bersabar menghadapi ini semua.

"Din, dengerin gue." Ucap Daffa pelan, kemudian menjeda, dan memperhatikan Dinda. "Tadi gue di taman udah janji kan menjaga rahasia? Jadi tolong, percaya sama gue."

Dinda hanya diam mendengar. Wajahnya tertunduk, antara malu dan kesal.

"Gue nggak mau munafik, gue emang dah lihat semuanya. Tapi, gue cuma lihat. Dan yang nyentuh masih anggota tubuh asli lu sendiri. Dan bukan nggak mungkin, lu juga sama kayak gue. Jadi please..."

Hening.

Keduanya terdiam. Kemudian teringat saat di kamar mandi. Wajah keduanya pun akhirnya memerah dan menjadi canggung.

"Ya... Udah. Coba pakein."

Dinda mengalah dan meminta Daffa memakaikan dengan menggunakan tangan di tubuhnya. Gadis itu kemudian mencari tutorial pemakaian bra dari ponselnya untuk di perlihatkan kepada Daffa.

"Coba pake. Dari luar aja dulu." Ujar Dinda lagi.

Kesabaran Daffa di uji kembali. Meski terkesan konyol, mau tidak mau ia mengikuti permintaan Dinda sambil belajar menggunakan bra tersebut.

"Begini?" Tanya Daffa santai, yang sebenarnya malu di dalam hati.

Dinda pun malu-malu menoleh, kemudian menganggukkan kepala.

Berdebar-debar keduanya tampak berusaha tenang meski mereka tegang.

"Tadi itu, gue minta maaf. Nggak seharusnya kita berdebat seperti ini terus karena kita nggak tahu berapa lama kita terjebak dalam keadaan seperti ini." Ujar Dinda. 

Daffa diam mendengarkan.

"Terserah Abang deh mau lihat apa nggak. Toh nanti-nanti nggak ada gue disini, Abang tetap ngelihatin lagi semuanya." Ujar Dinda yang terdengar pasrah dengan wajah memerah.

Mau bagaimana pun ia mencegah, semua itu pasti sia-sia selama tubuh mereka masih saling bertukar.

Dinda kemudian duduk di pinggir tempat tidurnya dan matanya mulai mengembun. Ia bingung dan sedih bagaimana kelak hari-hari yang akan ia jalani berikutnya dengan berada dalam tubuh Daffa.

Tidak berbeda dengan Daffa. Sekalipun ia tampak biasa saja namun dalam dirinya juga khawatir untuk menghadapi hari-hari kedepannya yang pasti bakal rumit nantinya.

Daffa yang melihat dirinya sendiri menangis tampak melengos. Namun kali ini, ia tak kuasa menahan dan membiarkan Dinda menumpahkan luapan emosinya. Karena Daffa tahu, ini semua memang tidak mudah untuk di jalani.

"Nggak cocok banget gue nangis."

Celetuk Daffa tiba-tiba. Karena sungguh, melihat dirinya sendiri menangis, ia tidak suka.

"Hiks..., terus harus gimana?"

"Ya mau gimana lagi? Kita jalani aja dulu."

"Kalau nanti semua makin kacau gimana?"

"Nanti baru di pikirin. Gue juga bingung. Tapi kita jalani aja dulu."

"Ceklek! Ceklek! Ceklek!"

Tangis Dinda terhenti tiba-tiba. Keduanya karena gagang pintu tiba-tiba bergerak-gerak seperti hendak di buka.

"Joanda!" Kata Dinda berbisik panik dan melihat ke arah Daffa.

"Oii... Dindoy lu di dalam kan? Bukain pintunya, tangan gue pegel nih! Paket Lu berat banget."

Teriak Joanda adik Dinda yang hanya berbeda 5 menit lahirnya darinya. Ya, mereka berdua adalah anak kembar.

-

-

-

Bersambung...

Jangan lupa dukung Author dengan like dan komen ya, terima kasih 🙏😊

1
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
awalnya pacaran nih ye wkwkwk
✰͜͡v᭄W⃠ᵐᵃᵘˡ🍾 𝔰𝔩⃟🦖
pasti Lo bakalan diterima
✰͜͡v᭄W⃠ᵐᵃᵘˡ🍾 𝔰𝔩⃟🦖
Alhamdulillah akhirnya tubuh mereka kembali lagi sprti semula
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
ciee mangat bgt dapp
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
bayangin juga gada yg tegang 😂
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
bu mayang ternyata udah suka sama dinda jadi mantunya ya 🤣
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
ngebet amat bang
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
harusnya kamu percaya anakmu dulu sii
✰͜͡v᭄W⃠ᵐᵃᵘˡ🍾 𝔰𝔩⃟🦖
jangan lupa undangan nya 🤣
✰͜͡v᭄W⃠ᵐᵃᵘˡ🍾 𝔰𝔩⃟🦖
berawal dari kesalahan pahaman Maslaah nya jadi rumit.
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
lah salah paham ternyata 🤣🤣🤣
salahin nggak pake kacamata itu
✰͜͡v᭄W⃠ᵐᵃᵘˡ🍾 𝔰𝔩⃟🦖
ribet kan jadinya
✰͜͡v᭄W⃠ᵐᵃᵘˡ🍾 𝔰𝔩⃟🦖
jadi gak lamaran nya
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
ketawa Aja dulu
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
lama yg pasti Kamu
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
yg Bayarin km dap
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
meluk meluk segala, tau tau ada rasa eakkk wkwkwk
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
tiwi otw patah hati
✰͜͡v᭄W⃠ᵐᵃᵘˡ🍾 𝔰𝔩⃟🦖
udh deh kalian jadian aja
.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_☪︎⃟⃝𝐇𝐅࿐
dih dr dulu juga dibully luh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!