Marco Maverick membenci wanita cantik. Trauma masa lalu membuat CEO jenius yang hobi bertingkah kocak ini lebih memilih melajang, menyawer live TikTok, dan mengasuh anak sahabatnya. Bahkan saat menyelamatkan wanita mempesona di klub malam, Marco menolaknya mentah-mentah.
Penasaran dengan satu-satunya pria yang berani mencampakkannya, Isabel nekat menyusup ke hidup Marco. Putri konglomerat yang sedang buron itu menanggalkan kemewahannya dan menjelma menjadi 'Lia', sekretaris berpenampilan cupu dan kusam.
Ironisnya, Marco justru menolak pesona Isabel dalam wujud aslinya, dan perlahan jatuh hati pada kesederhanaan Lia. Namun, tak ada kebohongan yang abadi. Ketika topeng sang sekretaris terbongkar, luka lama Marco kembali menganga, menghancurkan semua rasa percaya yang baru tumbuh.
"Apakah seru mempermainkan hatiku, Lia?"
Saat bahaya masa lalu kembali mengincar nyawa Isabel, sanggupkah ia meyakinkan pria itu bahwa cinta tak selamanya pahit, Marco!?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Lantai basement yang dingin dan keras menghantam punggung Lia tanpa ampun. Gadis itu menggeram tertahan, merasakan nyeri yang menjalar di tulang belikatnya akibat menahan beban tubuh raksasa Marco.
"Aduh, punggungku..." rintih Lia, memejamkan mata sesaat.
"Sudah kubilang, kan?!" Suara melengking Alana kembali bergema, penuh nada kemenangan dan penghinaan. "Dasar perempuan genit! Berhenti berpura-pura jatuh hanya untuk mencari kesempatan memeluknya! Bangun, Gadis Jelek!"
Mendengar hinaan itu, urat kesabaran Isabel benar-benar terputus sepenuhnya. Gengsi dan rasa sakitnya menguap, digantikan oleh amarah yang meledak-ledak.
Dengan sisa tenaga, Lia menggeser tubuh Marco dari atasnya, memapah pria yang masih setengah sadar itu, dan menyandarkan punggung Marco di badan mobil Aston Martin yang terparkir tepat di samping mereka.
Lia mengembuskan napas kasar. Ia menoleh perlahan, menatap Alana dengan mata yang berkilat buas di balik kacamata tebalnya.
"Perempuan genit?" ulang Lia dengan nada rendah yang berbahaya.
Sebelum Alana sempat menjawab, Lia menerjang maju bak macan tutul. Kedua tangan mungil namun bertenaga itu langsung mencengkeram rambut panjang Alana yang tertata rapi, lalu menjambaknya kuat-kuat ke bawah.
"Aaaarrgh! Lepaskan! Sakit, Gila!" jerit Alana histeris, tubuhnya terpaksa membungkuk mengikuti tarikan tangan Lia.
"Dengar baik-baik, Nona Sok Suci!" desis Lia tepat di depan wajah Alana yang meringis kesakitan. "Aku tidak ada waktu untuk meladeni kegilaan dan rasa cemburumu yang tidak berdasar ini! Tuan Maverick sedang sakit parah!"
"Aw! Lepaskan rambutku, Kampungan!"
Lia justru menariknya sedikit lebih kuat, membuat Alana memekik. "Lebih baik kau pergi dari sini sekarang juga, atau aku bersumpah akan membuat semua rambut di kepalamu ini rontok tak tersisa sampai kau botak licin! Kau mengerti?!"
Dari jarak sedekat itu, dengan kepala yang tertunduk paksa, mata Alana akhirnya menangkap sesuatu yang sedari tadi luput dari perhatiannya. Ia melihat tubuh Marco yang bersandar di mobil. Wajah pria itu luar biasa pucat, keringat membanjiri pelipisnya, dan dadanya naik turun dengan napas yang memburu tak beraturan.
Seketika, nyali Alana menciut. Keterkejutannya mengalahkan rasa sakit di kulit kepalanya.
"Marco... d-dia kenapa?" tanya Alana terbata, matanya membelalak. "Apa dia benar-benar sakit?"
Lia melepaskan jambakannya dengan kasar, mendorong tubuh Alana hingga wanita itu terhuyung ke belakang.
Lia merapikan blazernya, lalu tersenyum miring. Senyum sinis yang sangat tidak cocok dengan wajah kusamnya. "Bukan urusanmu."
"T-tentu saja itu urusanku!" bantah Alana, berusaha mendapatkan kembali harga dirinya. Ia melangkah maju, berniat meraih lengan Marco. "Minggir kau! Biar aku yang membawanya. Marco pasti lebih butuh aku daripada sekretaris jelek sepertimu—"
"Berhenti di sana!" bentak Lia nyaring, merentangkan kedua tangannya menghalangi tubuh Marco.
Lia menatap Alana dengan sorot mata yang menyala-nyala, benar-benar persis seperti anjing penjaga yang sedang menyalak ganas melindungi majikannya.
"Maju satu langkah lagi, dan kucungkil bola matamu dengan hak sepatumu sendiri!" ancam Lia dengan suara menggelegar yang menggema di seluruh area basement. "Pergi dari sini sebelum aku memanggil pihak keamanan gedung! Pergi!!"
Alana tersentak mundur. Ia menelan ludah, ketakutan melihat sorot mata pembunuh dari sekretaris cupu itu.
"Cih! Dasar sekretaris gila!" umpat Alana, mendengkus kesal dan memegang kepalanya yang masih berdenyut.
Sadar bahwa ia tidak akan bisa menembus pertahanan gadis nekat ini, Alana akhirnya memutar tubuhnya dengan kasar dan berlari menjauh dengan suara hak tinggi yang berdentang panik. Terpaksa mengalah.
Begitu wanita itu menghilang dari pandangan, Lia langsung menggedor kaca mobil. Sopir pribadi Marco yang rupanya ketiduran di dalam langsung terperanjat dan bergegas keluar.
"Astaga! Tuan Maverick!" seru sopir itu panik.
"Bantu aku memasukkannya ke dalam! Kita ke rumah sakit sekarang! Cepat!" perintah Lia tanpa basa-basi.
Tiga puluh menit kemudian, di ruang rawat VIP Rumah Sakit Medika Pusat.
Marco akhirnya terbaring tenang di atas ranjang rumah sakit dengan selang infus yang menancap di punggung tangannya. Dokter yang menanganinya baru saja keluar dari ruangan.
"Beliau demam tinggi akibat kelelahan yang luar biasa ekstrem dan stres pikiran," ujar sang dokter tadi. "Kami sudah memberikan obat penurun panas dan vitamin. Beliau hanya butuh istirahat total."
Kini, Lia duduk sendirian di sofa kamar rawat, memandangi wajah bosnya yang mulai terlihat lebih rileks meski masih memucat.
Tangan Lia menggenggam ponsel pintar milik Marco. Ia mengerucutkan bibirnya bingung.
"Aku harus menghubungi siapa?" gerutu Lia bermonolog. "Orangtuanya? Sahabatnya? Sepupunya? Sialan, bagaimana aku bisa menghubungi mereka kalau ponselnya saja dikunci begini?"
Lia mencoba menekan layar ponsel itu. Muncul kolom untuk memasukkan enam digit angka sandi.
"Sandi apa ini? Tanggal lahirnya? Satu, dua, tiga, empat, lima, enam?" Lia terus mencoba berbagai kombinasi, namun layar itu terus menampilkan tulisan 'Sandi Salah'.
"Astaga, pelit sekali. Setidaknya biarkan nomor darurat yang bisa diakses tanpa sandi!" keluh Lia frustrasi. Ia melempar ponsel itu pelan ke atas nakas.
Malam semakin larut. Keheningan ruangan yang hanya diisi oleh suara detak jarum jam dan hembusan napas teratur Marco perlahan membuat mata Lia memberat. Rasa lelah memapah tubuh raksasa itu mulai menagih haknya.
Lia menarik kursi ke samping ranjang Marco. Ia menumpukan kedua lengannya di tepian kasur, lalu menyandarkan kepalanya di sana.
"Tidur sepuluh menit tidak apa-apa, kan..." gumam Lia parau, sebelum akhirnya kesadarannya benar-benar menghilang, ditarik ke alam mimpi.
Beberapa jam kemudian.
Cahaya lampu ruang rawat yang temaram menyambut Marco saat pria itu perlahan membuka kelopak matanya. Kepalanya masih terasa sedikit berat, namun rasa panas yang memanggang tubuhnya sudah jauh berkurang.
Marco mengerjap, menyesuaikan pandangannya. Hal pertama yang ia rasakan adalah beban ringan di sisi kasurnya.
Ia memutar kepalanya ke kanan. Di sana, tertidur pulas dengan wajah menghadap ke arahnya, adalah Magnolia. Kacamata tebal gadis itu miring tak karuan, blazernya kusut, dan yang paling parah... mulut gadis itu sedikit menganga saat ia bernapas teratur.
Melihat pemandangan konyol itu, sudut bibir Marco tak kuasa untuk tidak tertarik ke atas. Sebuah tawa kecil yang serak keluar dari tenggorokannya.
Sekretaris ceroboh, batin Marco, matanya melembut menatap wajah kusam itu. Kau yang bersikeras memapahku padahal tubuhmu sekurus ini.
Entah dorongan dari mana, mungkin sisa-sisa demam yang masih mengacaukan logikanya, Marco perlahan mengangkat tangan kanannya yang bebas dari infus. Ia mengulurkan jari telunjuknya, berniat menyentuh ujung hidung Lia dan iseng ingin menutup mulut gadis yang terbuka itu.
Jari Marco semakin dekat. Lima sentimeter... tiga sentimeter... dua sentimeter...
Tepat saat ujung telunjuk Marco nyaris menyentuh kulit hidung Lia, kelopak mata gadis itu tiba-tiba terbuka lebar.
Seketika, gerakan Marco terhenti kaku di udara.
Waktu di dalam ruangan itu seolah membeku.
Marco terjebak dalam posisi mencondongkan tubuh dengan jari telunjuk terulur ke wajah Lia. Sementara itu, Lia yang baru saja terbangun, menatap telunjuk raksasa di depan hidungnya, lalu menatap lurus ke arah mata biru Marco tanpa berkedip sedikit pun.
Keheningan yang luar biasa canggung dan aneh menyergap mereka berdua.
"Tuan Maverick..." suara serak Lia memecah keheningan, matanya masih menatap lurus ke mata Marco. "...apa yang sedang Anda coba lakukan pada hidung saya?"