Cattleya tak menduga pesta kemenangan saat timnya menjuarai kejuaraan akan membuatnya meninggalkan dunianya. Ia terbangun di tubuh seorang antagonis dalam sebuah novel yang dibacanya.
Cattleya yang diketahui mengandung anak kaisar diangkat menjadi selir. Dia tak bisa menjadi permaisuri karena sudah ada Adelle seorang putri Duke yang memang digadangkan jadi calon permaisuri.
Namun bisikan-bisikan yang datang ke telinganya yang mengatakan bahwa dirinya lebih pantas menjadi permaisuri membuat gadis pemalu itu menjadi berambisi. Terlebih Kaisar juga tak pernah mengacuhkan dirinya. Hingga pada akhirnya Cattleya meracuni Adelle dan dirinya dieksekusi mati.
Mengetahui hal tersebut, Cattleya pun memilih jalur aman, dia kabur dan bersembunyi. Namun plot novel tersebut tetap saja membuat dirinya ditemukan.
"Plot novel sialaaaan!!!"
Akankah Cattleya bisa mengubah plot novel tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyarui, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
One Night 04
"Perkembangan?"
Tiga bulan berlalu. Beberapa kereta kuda dengan lambang keluarga dari para bangsawan memasuki Istana Mawar. Ternyata Duke Ramos Mortain benar-benar melakukan idenya.
Lucien hanya melihat sekilas, dia lalu kembali ke meja kerjanya dengan tumpukan kertas yang menggunung.
"Perkembangan yang mana, Yang Mulia? Soal putri-putri bangsawan itu? Atau~"
"Erson, aku tidak harus bicara dua kali kan?"
"Maaf Yang Mulia. Masih belum ada. Wanita iti seperti di telan bumi."
Erson bicara fakta. Dia tidak mengarang karena laporan yang diterimanya juga demikian.
Di sisi Lucien, Bird yang merupakan pasukan rahasia bentukannya pun belum memberi laporan yang diinginkannya.
Lucien terdiam, ia menyandarkan tubuhnya pada kursi. Matanya menatap ke arah langit-langit. Suara wanita itu kembali terngiang di telinganya. Wajah wanita yang penuh dengan air mata itu juga menari di pelupuk mata.
"Sial, kenapa dia sangat menggangguku. Sebenranya siapa wanita itu?"
Lucien bergumam pelan. Hembusan nafas kasar yang keluar dari hidung dan mulutnya terdengar begitu jelas.
"Apa agenda ku?"
Lucian menegakkan tubuhnya. Ia meluruskan punggung yang sempat terasa tidak nyaman.
"Menemui para putri, dengan makan malam bersama, Yang Mulia," jawab Erson sambil memeriksa catatannya.
Lucian bergeming, namun dari bola matanya yang berputar membuat Erson paham bahwa sang tuan enggan.
Tok tok tok
"Norman Brington, menghadap Yang Mulia."
Lucien mengibaskan tangannya, sebagai isyarat bagi Erson untuk keluar. Ia lalu meminta Norman untuk masuk.
Pria dengan otot kekarnya itu menghadap Lucien. Setelah membungkuk untuk memberi hormat, Norman berduri dengan sikap tegap.
"Hamba menghadap Yang Mulia Matahari Kallistar."
"Ck, sudahlah Norman. Jangan seperti ini. Aku sudah bilang kan, jangan menyapa ku seperti itu. Jangan memanggilku secara resmi saat kita hanya berdua. Aku lelah selalu dipanggil demikian oleh orang-orang yang hanya ingin menjilat."
Nprman menghembuskan nafasnya panjang. Dia lalu tersenyum. Norman tahu mengapa Lucien berkata demikian. Wajah sang teman tampak lelah.
Meski di depan orang-orang Lucien tampaj kejam dan juga menakutkan, namun disebaliknya dia juga hanya pria biasa yang bisa merasa lelah dan penat dengan pekerjaan.
"Jadi, apa benar kamu mau mengambil permaisuri dari para putri itu?"
Norman mengambil teh yang sudah setengah dingin di meja lain. Lucien agaknya belum menyentuhnya sejak disajikan tadi. Ia lalu menyodorkan kepada Lucien.
"Tidak, aku tidak akan melakukan apapun kepada mereka. Aaah ya ... ."
Degh!
Norman langsung bersikap waspada saat Lucien melihat lurus ke arahnya sambil menyeringai. Karena jika seperti itu, pasti ia akan melakukan sesuatu yang akan membuat keributan.
"Ayo pergi," ucap Lucian lagi.
Aaah
Norman membuang nafasnya kasar dan memutar bola matanya malas. Dia sudah menduga akan seperti ini.
"Bukannya kamu ada jadwal buat bertemu para putri?" tanya Norman. Dia tahu jadwal Lucien malam nanti.
"Haah, maka dari itu aku malas. Aku tidak ada niat untuk menemui mereka atau pun beramah tamah dengan mereka. Waktu aku menyetujui pria tua sialan itu untuk melakukan usulannya, aku tak pernah berkata akan mengikuti. Aku hanya membiarkan dia melakukannya saja."
Lucien menyeringai lebar. Memang begitu lah isi kepalanya waktu itu. Pada dasarnya Lucien memang tidak pernah setuju dengan usulan pemilihan permaisuri ini. Dia hanya enggan saja ada keributan lebih lanjut.
"Baiklah, terserah padamu."
"Bagus, jadi mari pergi."
Lucien melompat dari jendela ruang kerjanya. Dia sengaja tidak melalui pintu gerbang dan memilih untuk menyusup karena malas mendengar ocehan Erson. Ajudannya itu pastii akan mengoceh tiada henti, dan membayangkannya saja sudah membuat Lucien lelah.
Dengan menggunakan jubah dan tudung kepala, Lucien keluar dari istana. Sebuah kuda sudah ada di luar gerbang dan siap untuk digunakan.
Norman yang melihat hanya tersenyum tipis. Anak muda tetap lah anak mudah, jika Lucien tetap selayaknya pemuda lainnya yang suka membangkang dan keluar dari aturan. Usia 25 tahun jelas masih muda untuk ukuran seorang kaisar.
tak tuk tak tuk
Suara sepatu kuda beradu dengan jalanan tanah. Lucien memang tidak tersenyum, namun matanya yang menatap bebas jelas mengisayaratkan bahwa dia sangat menikmati hal ini.
"Mau kemana kita, Cien?" tanya Norman. Saat di luar Norman memang tidak menyebutkan gelar Lucien.
"Entahlah, keliling saja. Tapi mungkin aku akan mencoba mencari wanita itu," jawab Lucien.
Norman hanya mengangguk. Wanita itu, pasti wanita yang dicari oleh Lucien. Sudah setahun lebih tapi jejaknya sama sekali tak ditemukan. Bird yang merupakan pasukan khusus yang elit pun sampai sekarang juga tak bisa menemukannya.
Dan sampai sekarang Norman masih tidak mengerti mengapa Lucien begitu berambisi untuk menemukan wanita itu. Lucien tak pernah memberikan alasannya.
Ada sisi dari diri Lucien yang memang tak diketahui oleh siapapun, termasuk Norman yang merupakan orang terdekat Lucien.
Tempat paling ramai di pusat kota yakni alun-alun dan pasar didatangi oleh mereka. Lucien dan Norman menyimpan kuda mereka sedikit lebih jauh. Lalu keduanya berjalan menuju ke pasar bersama.
Mata Lucien memindai setiap wanita yang ia temui. Ia benar-benar seperti seorang petugas kemanan yang tengah mencari buronan.
"Kendalikan wajahmu, Cien. Kamu bisa membuat orang curiga. Memang wajah Kaisar tak diketahui rakyat kecil, tapi mereka bisa menganggapmu penjahat jika cara melihatmu seperti itu. Dan ini, bukan medan perang."
Ucapan Norman membuat Lucien mengeri. Dia pun melemaskan wajahnya yang kaku, juga menurunkan tatapan tajamnya.
Meski tak diucapkan, Lucien menikmati apa yang dilakukannya ini. Sejak terakhir kali dia keluar yakni saat kepulangannya dari medan perang dan membawa kemenangan, Lucien baru menikmati udara luar istana yang ternyata cukup menyegarkan.
Acara jalan-jalan yang menyenangkan bagi Lucien, tapi tidak bagi Erson. Ajudan sang kaisar itu sekarang tengah pusing tujuh keliling mencari keberadaan Lucien. Semua orang yang ditemunya tak ada yang tahu dimana keberadaan sang tuan.
"Sebenarnya kemana Baginda pergi!!!" pekik Erson kuat.
"Tuan Ajudan."
Mata Erson membulat sempurna saat namanya dipanggil. Seorang wanita yang berdiri dengan tegap namun keanggunannya tak bisa diragukan.
"Countess Elia. Haah kamu mengagetkanku," ucap Erson sambil mengusap dadanya yang berdebar hebat.
"Diamana Baginda, beliau harus bersiap untuk jamuan makan malam bersama para putri."
Wajah Erson langsung memelas, bahkan ia hampir menangis sekarang. Dan yang bisa dilakukan hanya menggelengkan kepalanya.
Countess Elia menghembuskan nafasnya panjang. Dia sudah tahu jawaban Erson tanpa pria itu menjawabnya. Hanya dari wajah saja sudah terlihat.
"Baiklah, saya akan mengendalikan para gadis itu."
"Terimakasih Countess, Anda memang luar biasa."
Erson mengangkat kedua ibu jarinya ke arah Countess Elia lalu melenggang pergi kembali mengerjakan pekerjaannya yang sudah banyak tertunda.
Sedangkan Countess Elia, dia juga pergi menuju Istana Mawar.
"Baginda jelas tidak mau dipaksa."
TBC