NovelToon NovelToon
Lahir Nya Penyihir Terkuat

Lahir Nya Penyihir Terkuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Ammoera(_)

Seorang penyihir terkuat nomor satu Lucien yang tidak tertandingi, memasuki raga seorang pria lemah yang ternyata adalah pelayan setia dari Putri Aurelia. Aurelia adalah anak haram dari pimpinan klan Es yang selalu diremehkan oleh Ayahnya.

Apa lagi Aurel terlahir tanpa memiliki inti roh murni.

Namun segalanya berubah saat Lucien memasuki raga Arthur. Rahasia nya terungkap saat nyawa Aurel dalam bahaya. Aurel memohon padanya. Dan sejak saat itu--- Lucien sang penyihir terkuat menjadi guru dari Aurel.

Tujuan Aurel satu--- membalaskan setiap hinaan yang dia Terima dan merampas kepemimpinan klan Es dari Ayah dan Kakak tiri nya. Tentu saja, itu semua hanya bisa terjadi jika Lucien berdiri di sampingnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedatangan Lucien

Kegelapan Erabus telah mencapai puncaknya, bergulung-gulung bagai ombak lautan hitam yang menelan seluruh sisa harapan.

Di atas puing-puing ibu kota Solaria yang hancur, Kerajaan dan kelima klan bersujud di atas tanah yang bersimbah darah. Malam itu, di bawah langit yang mati, mereka semua tahu bahwa akhir dari dunia telah tiba.

Tawa Erabus menggelegar, mengguncang fondasi bumi dengan keangkuhan nyata atas kemenangan yang sudah di depan mata.

Saat keputusasaan memuncak, semua pasang mata terpejam, pasrah menerima takdir kematian yang akan menghancurkan segalanya.

Erabus kembali membuka rahangnya lebar-lebar. Dari rongga kegelapannya, seberkas cahaya hitam pekat menguar hebat, berdenyut-denyut membawa energi kehancuran total yang siap meratakan Solaria beserta seluruh isinya ke dalam kegelapan abadi.

BRUMMMM!

Dentuman maha dahsyat memekakkan telinga. Pasukan klan dan prajurit kerajaan yang tergeletak di tanah semakin erat memejamkan mata, bersiap menghadapi rasa sakit dari tubuh yang hancur berkeping-keping.

Satu detik. Dua detik. Keheningan yang ganjil justru merayap. Tidak ada rasa sakit. Tidak ada jeritan kematian.

Perlahan, kelopak mata mereka terbuka. Meski tubuh mereka masih berselimut debu dan dipenuhi luka yang dalam, mereka sadar bahwa mereka belum mati.

Tubuh mereka tidak hancur. Sesaat, seluruh medan perang tertegun dalam kebisuan. Seberkas dinding cahaya keemasan tiba-tiba muncul dari ketiadaan, membentang kokoh membentuk kubah raksasa—menjadi perisai pelindung terakhir mereka dari kepunahan.

Mata merah menyala milik Erabus melotot sempurna. Tubuh raksasanya yang tadi bergerak bebas kini menegang kaku di udara, terkejut oleh perlawanan yang tidak masuk akal.

"Cahaya apa itu?!" tanya Erabus, suaranya parau menahan amarah yang mendidih. "Kenapa cahaya itu tiba-tiba muncul?!"

"Di sana—! Lihat ke arah sana!" Brown berteriak parau, jemarinya yang gemetar menunjuk lurus ke atas langit.

Semua orang yang berada di tanah Solaria serentak menoleh ke arah yang sama. Dari puncak langit terdalam, sebuah pusaran cahaya yang teramat menyilaukan muncul, membelah kepekatan malam bagai fajar yang dipaksa terbit.

CCREENGGGG!

Cahaya yang seperti sebuah harapan terakhir.

Mukjizat terjadi dalam sekejap mata. Cahaya yang turun dari langit itu mengalir menyapu tanah, secara ajaib memperbaiki bangunan-bangunan kota yang tadinya hancur lebur menjadi seperti sediakala.

Tak hanya itu, kehangatan yang luar biasa tiba-tiba menyusup masuk ke dalam dada Pangeran Edwin, mengalir deras ke seluruh pembuluh darah pasukan Kerajaan dan kelima klan yang tadinya tak berdaya.

Luka-luka menganga yang tadinya meneteskan darah segar seketika menutup tanpa bekas. Sensasi hangat dan dingin yang seimbang bersatu di dalam inti energi mereka.

Detik itu juga, mereka bisa merasakan aliran mana dan energi tempur mereka yang sempat terkuras habis kini kembali bergejolak penuh, bahkan jauh lebih kuat dari sebelumnya.

"APA YANG SEBENARNYA TERJADI?! SIAPA YANG BERANI MENGUSIK KEMENANGANKU?!" jerit Erabus histeris, menyaksikan semua kemenangannya menguap begitu saja dalam hitungan detik.

"Kegelapan tidak akan pernah bisa menelan cahaya sejati, Erabus."

Suara itu terdengar sangat pelan, namun getarannya menggelegar dahsyat membelah suasana, terdengar begitu jernih dan berwibawa di telinga setiap makhluk yang bernyawa.

Bersamaan dengan ucapan itu, langit yang tadinya sehitam jelaga sepenuhnya berubah menjadi benderang dipenuhi pendaran cahaya suci.

Awan-awan hitam terbelah paksa, dan sesosok pria dengan jubah putih keperakan yang berkibar anggun muncul dari balik tirai langit.

Seketika itu juga, seluruh medan perang menahan napas. Atmosfer di sekitar mereka dipenuhi oleh tekanan sihir tingkat tinggi yang sangat murni dan menenangkan.

"Dia..." Pangeran Edwin terbelalak, suaranya tercekat di tenggorokan sebelum akhirnya berteriak histeris, "Dia adalah Penyihir Agung Lucien!"

Teriakan sang pangeran laksana petir di siang bolong, membuat seluruh sisa pasukan dan para tetua klan tersentak hebat dengan mata terbelalak tidak percaya.

"Lucien?! Penyihir nomor satu di dunia ini yang keberadaannya tidak tertandingi itu?!" Frost berteriak dengan mata berbinar-binar penuh air mata haru. "Dia yang telah mencapai tingkat 10 keabadian?! Kita selamat! Dewa tidak meninggalkan kita, dia benar-benar datang untuk menolong dunia ini!"

Seketika itu juga, gemuruh sorak-sorai kemenangan bergaung dari para prajurit yang kembali bangkit berdiri dengan senjata terangkat ke udara.

Sementara itu, Erabus yang beberapa saat lalu merayakan puncak kemenangannya, kini menggeram marah di udara. Aura hitamnya bergejolak kacau saat ia menatap musuh bebuyutan yang paling tidak ingin ia temui kini berdiri tepat di hadapannya.

Sosok Lucien terbang semakin mendekat, turun dengan perlahan hingga setiap detail jubah putihnya terlihat jelas.

Ia berdiri tegak di udara, menapak pada sebuah lingkaran sihir pemancar cahaya yang membentuk lambang kuno rumit—sebuah aksara yang tidak dimengerti oleh siapa pun di dunia ini, kecuali oleh dirinya sendiri.

Lucien berhenti tepat beberapa meter di hadapan Erabus. Mulut monster iblis itu menggeram kencang, meneteskan cairan yang menghanguskan tanah di bawahnya.

Tanpa peringatan, monster itu membuka rahangnya lebar-lebar, mengonsentrasikan seluruh energi malapetaka untuk menyemburkan gelombang aura kegelapan yang pekat dan mematikan murni ke arah Lucien.

Namun, Lucien bergeming. Wajahnya setenang air di telaga mati. Ia hanya mengangkat tangan kanannya secara kasual dan menjentikkan jarinya sekali.

Ting!

Seketika itu juga, sebuah dinding pelindung transparan sekokoh berlian bangkit. Serangan kegelapan raksasa yang diarahkan kepadanya hancur berantakan saat membentur dinding tersebut, memantul dengan kecepatan dua kali lipat, dan berbalik menghantam tepat di mata kanan Erabus.

"ARRRGGGGGG!" Erabus mengerang dahsyat, memegangi kepalanya yang berguncang akibat serangannya sendiri.

"Cukup, Douglas! Kegelapanmu sudah hancur," kata Lucien, suaranya dingin tak tersentuh emosi.

Matanya yang sewarna perak menembus lapisan monster tersebut, menatap tajam langsung pada jiwa seseorang yang tenggelam di dalam raga Erabus.

Tiba-tiba, Erabus tertawa. Suara tawa yang berat, serak, dan penuh keputusasaan. Bukan, itu bukan tawa sang monster iblis, melainkan jiwa Douglas yang sedang tertawa dari balik kesadarannya.

"Teman lama... kau selalu saja datang terlambat," kata sosok itu dengan tatapan penuh dendam yang menyala.

Perlahan tapi pasti, tubuh raksasa Erabus yang mengerikan mulai menyusut, bertransformasi, hingga berubah wujud menjadi seorang pria tampan berambut legam yang diselimuti oleh aura kegelapan yang pekat dan elegan.

"Cahaya tidak pernah terlambat untuk datang, Douglas," sahut Lucien tenang, menatap lurus mantan sahabatnya itu. "Kau pikir, dengan membangkitkan kekuatan kegelapan kuno Erabus, kau bisa menguasai dunia ini di bawah kakimu? Kau keliru. Selama aku masih bernapas di dunia ini, semua ambisimu itu hanya akan tetap menjadi impian kosong yang takkan pernah terwujud."

Douglas menggeram marah, urat-urat di lehernya menegang saat tatapan tenang Lucien justru membakar egonya. "Kau! Kau yang membuatku menjadi monster seperti ini, Lucien! Dulu kita berdua merangkak dari bawah, belajar bersama-sama, menumpahkan darah dan air mata yang sama untuk menjadi Penyihir hebat yang diakui dunia! Tapi kenapa?! Kenapa takdir begitu tidak adil?! Kenapa kekuatan dan bakatku hanya bisa mentok dan membusuk di Tingkat 7 menengah, sementara kau dengan mudahnya melenggang ke puncak keabadian?!" teriak Douglas histeris, menyuarakan kecemburuan yang telah membusuk di dalam hatinya selama ratusan tahun.

1
utina lee
Jatuhnya aurelia sama emaknya sama² beban ga sih, saling membebani dan memberatkan.... semangat othor 💪
BAITI SYAIRUROH
ceritanya menarik thor..semangat💪
utina lee
semangat thor💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!