Bagi Parrie Rose, dunia adalah medan pertempuran tanpa henti. Setelah kematian ibunya, gadis berusia 20 tahun itu terpaksa tinggal di kediaman keluarga Ford, menghadapi kebencian sang ibu tiri, serta perlakuan dingin keluarga barunya. Label ‘anak haram’ melekat erat di dadanya, menjadikannya sasaran hinaan yang seolah tak pernah usai.
Setitik harapan muncul saat Parrie berhasil masuk ke universitas paling bergengsi di New York melalui jalur beasiswa. Namun, takdir kembali mempermainkannya.
Hari pertamanya di universitas langsung berubah menjadi mimpi buruk saat sosok dari masa lalunya hadir kembali: Dimitriou Kaetos Ashford, putra konglomerat dengan kekuasaan besar, kembali hadir di kehidupannya.
Di antara tekanan keluarga tiri, hierarki kampus elit, dan jeratan obsesi Kaetos,
Akankah Parrie mampu melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalunya, atau justru tenggelam dalam jerat permainan Kaetos?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Suasana kamar berukuran king-size milik Kaetos Ashford dipeluk oleh keheningan malam yang pekat.
Hanya pendar redup lampu tidur berbentuk oval di sudut ruangan yang menyinari dua sosok manusia di atas ranjang.
Udara dingin New York merayap halus melalui celah tirai beludru yang tak tertutup rapat, namun di balik selimut tebal bernuansa abu-abu gelap, hangat tubuh yang saling bertautan menciptakan dunia tersendiri.
Parrie Rose tertidur lelap dengan kepala bersandar nyaman di atas dada bidang Kaetos. Detak jantung pria itu yang teratur dan tenang sebelumnya menjadi lagu pengantar tidur paling merdu setelah gejolak emosi dan kepanikan yang menguras tenaganya sepanjang hari.
Jemari lentik Parrie masih tersangkut erat di antara sela-sela jari kokoh milik Kaetos, seolah-olah mengikat takdir mereka dalam keheningan malam.
Namun, menginjak pukul dua dini hari, keteraturan itu mendadak runtuh.
Dada bidang di bawah kepala Parrie mulai naik-turun dengan frekuensi yang tidak wajar. Otot-otot lengan Kaetos yang melingkari pinggang Parrie tiba-tiba menegang keras, mencengkeram kain gaun tidur Parrie hingga meremukkannya.
Hah... hah...
Napas Kaetos memburu pendek dan berat. Bulir-bulir keringat dingin mulai bermunculan di sepanjang garis rahangnya yang tegas, membasahi dahi serta helai rambut hitamnya yang berantakan.
Wajah tampan yang biasanya memancarkan dominasi mutlak itu kini berkerut hebat, menyiratkan siksaan batin yang teramat sangat di dalam alam bawah sadarnya.
"Nngghh... tidak..." rintih Kaetos. Suaranya serak, gemetar, dan sarat akan keputusasaan yang memilukan.
Parrie terbangun seketika.
Manik mata teduhnya terbuka lebar, disambut oleh guncangan kecil dari tubuh Kaetos yang gemetar hebat. Gadis itu mengangkat kepalanya dengan cepat, mendapati raut wajah kekasihnya yang dipenuhi ketakutan luar biasa.
"Kae...?" bisik Parrie cemas, mengusap pipi Kaetos yang terasa dingin oleh keringat.
"Ah... Parrie... tidak... Parrie jangan pergi!!!!"
Perkataan lirih itu meluncur dari bibir Kaetos yang bergetar.
Tangannya mencengkeram sprei dengan sangat kuat, seolah-olah ia sedang tenggelam di lautan gelap dan kehilangan pegangan hidupnya.
Suara itu begitu pecah, membawa kepedihan mendalam dari seorang pria yang ketakutan setengah mati akan kehilangan wanita yang menjadi poros dunianya.
Seruan lirih itu sama sekali tidak membangunkan Kaetos dari tidur lelapnya. Pria itu masih terjebak rapat di dalam labirin mimpi buruk yang menyiksa.
Melihat kondisi pria yang begitu ia cintai tampak sangat rapuh, air mata Parrie mendadak menetes tanpa bisa ditahan. Ia tahu persis apa yang memicu ketakutan Kaetos.
Pria ini pasti meratap karena mengingat malam perpisahan kelam itu—malam di mana Parrie melangkah pergi menembus hujan deras tanpa kata setelah melihat ratusan rekaman video mengerikan tentang masa lalu keluarga mereka.
Parrie memajukan tubuhnya. Jemari halusnya dengan lembut mengusap dahi Kaetos yang basah oleh keringat dingin. Ia menundukkan kepala, mendaratkan ciuman-ciuman lembut yang penuh kasih di seluruh bagian wajah Kaetos—di dahi, kedua pelipis, pipi yang kasar oleh tunggul janggut tipis, hingga ke ujung hidungnya.
"Aku di sini, Kaetos..." bisik Parrie lembut di depan telinga Kaetos, mendekap kepala pria itu erat-erat ke dadanya.
"Aku di sini, Sayang... Aku tidak kemana-mana. Aku ada di sisimu..."
Hati Parrie terasa diremas oleh jemari tak berwujud. Rasa sesak merayap naik menjejali tenggorokannya. Ia tidak pernah menyangka bahwa perpisahan sementara mereka meninggalkan trauma teramat dalam di jiwa Kaetos yang biasanya sekeras batu karang.
Pria anggun ini ternyata menyimpan ketakutan yang begitu menganga di balik jubah kekuasaannya.
Namun, belum sempat napas Kaetos mereda akibat sentuhan hangat Parrie, rintihan pria itu mendadak berubah.
Suasana hangat di dalam kamar seketika tersapu oleh aura kelam yang mencekam.
Raut ketakutan di wajah Kaetos berubah menjadi kepanikan liar yang disusul oleh dendam membara. Rahangnya mengatup rapat hingga urat-urat di lehernya menonjol tebal.
"Ah... tidak! Jangan sentuh aku, sialan!" erang Kaetos dengan nada suara yang amat dalam dan berbahaya. Napasnya semakin liar.
"Tidak! Jangan mendekat, brengsek!! Aku akan membunuhmu... bajingan!"
DEG.
Parrie tertegun kaku. Tangannya yang mengusap rambut Kaetos membeku di udara.
Darah di dalam tubuh Parrie seolah berhenti mengalir seketika. Ini bukan lagi mimpi buruk tentang perpisahan mereka. Kalimat amarah yang sarat akan rasa jijik dan dendam kesumat itu adalah bayangan hitam dari tragedi masa lalu—sebuah peristiwa kelam lima tahun lalu yang merenggut harga diri, dan merusak jiwa Kaetos hingga hancur berkeping-keping.
Selama lima bulan penuh Parrie tinggal bersamanya dulu, tidak pernah sekalipun ia menyaksikan Kaetos mengigau soal trauma mengerikan itu.
Kaetos selalu menyembunyikan sisi tergelapnya rapat-rapat di balik tembok keangkuhan.
Dan malam ini, untuk pertama kalinya, Parrie melihat sendiri bagaimana jeritan luka masa lalu itu mencabik-cabik jiwa kekasihnya di tengah malam yang sunyi.
"Kae... bangun..." panggil Parrie panik. Ia menepuk-nepuk pipi Kaetos dengan gemetar. "Kaetos... sayang, bangun, Kae... Aku di sini! Bangun!"
Bukannya terbangun, gerakan tangan Parrie justru memicu respons pertahanan diri impulsif dari tubuh Kaetos yang masih terperangkap dalam simulasi pertempuran alam bawah sadarnya.
Dalam ilusi mimpinya, tangan halus Parrie dianggap sebagai jangkauan musuh yang hendak menyakitinya.
"Aku akan MEMBUNUHMU?!!!!!" jerit Kaetos melengking, meluapkan amarah yang membakar.
Secara membabi buta, kedua mata Kaetos terbuka lebar—merah, liar, dan sepenuhnya tidak bernyawa.
Sebelum kesadarannya pulih, tangan kokohnya melayang dengan kecepatan mematikan, mencengkeram erat leher halus Parrie dan membanting tubuh mungil itu ke atas kasur!
CENGKERAM!
"Uhuk! Uhug... uhuk... K-Kae...!" Parrie tersedak hebat. Udara di tenggorokannya terputus seketika.
Tangan Kaetos mencengkeram lehernya dengan kekuatan luar biasa, seolah-olah sedang mencekik seorang pembunuh di medan perang.
Parrie tidak memukul atau mencakar tangan Kaetos.
Di tengah pasokan oksigen yang menipis dan rasa sakit yang membakar lehernya, matanya hanya menatap lurus ke dalam manik mata Kaetos dengan pendar kasih sayang dan kepasrahan yang teramat sangat. Air matanya mengalir deras membasahi pipi.
Pandangan mata Kaetos yang liar dan gelap perlahan-lahan mulai memfokuskan pendar cahaya.
Dalam hitungan detik, ilusi monster di dalam pikirannya memudar, digantikan oleh bayangan nyata dari wanita yang paling ia cintai di dunia ini—sedang terengah-engah di bawah cengkeraman tangannya sendiri dengan leher yang memerah.
Kesadaran menghantam Kaetos bagaikan petir di siang bolong.
"P-Parrie...?!"
Kaetos menarik tangannya seketika seperti baru saja menyentuh bara api yang membakar. Tubuhnya mundur memburu ke belakang hingga punggungnya menghantam kepala ranjang.
Pria itu menatap kedua telapak tangannya sendiri yang gemetar hebat dengan raut wajah horor yang tak terlukiskan.
"Uhuk! Uhuk... hah... hah..." Parrie terbatuk-batuk memegang lehernya yang sakit, menghirup udara malam sebanyak-banyaknya untuk mengisi paru-parunya yang sempat hampa.
"Parrie... Honey, maafkan aku! Demi Tuhan, maafkan aku!" suara Kaetos pecah sepenuhnya. Pria gagah yang tidak pernah tunduk pada siapapun itu kini berlutut di atas ranjang, memegang kakinya sendiri dengan wajah tertutup kedua telapak tangan.
Tubuhnya berguncang hebat oleh isakan tanpa suara.
"Maafkan aku, Honey... aku tidak sengaja... aku tidak bermaksud menyakitimu... Tuhan, apa yang sudah kulakukan?!" jerit Kaetos frustrasi, meremas rambut hitamnya hingga berantakan.
Parrie menyeka air matanya, abaikan rasa perih di lehernya. Ia bergeser mendekati Kaetos yang sedang dilalap oleh rasa bersalah dan ketakutan akan dirinya sendiri.
Namun, saat jemari Parrie hendak menyentuh bahunya, Kaetos justru memundurkan tubuhnya menghindari sentuhan itu.
"Jangan menyentuhku, Parrie! Jangan mendekat!" bentak Kaetos pada dirinya sendiri, matanya merah padam digenangi air mata yang jarang sekali terlihat.
"Aku berbahaya untukmu... Aku ini pria gila! Aku monster!"
"Kae, tidak... dengarkan aku—"
"Aku yang rusak, Parrie!" potong Kaetos dengan suara lirih yang begitu pecah, merobek keheningan malam dengan kejujuran pahit yang teramat mengiris hati.
Pria itu menatap Parrie dengan pandangan yang amat hampa dan penuh kehancuran.
"Aku yang cacat... Jiwaku sudah kotor dan hancur sejak malam itu! Tubuhku... pikiranku... semuanya sudah tercemar. Rasanya aku tidak pernah pantas untukmu, Parrie. Kau begitu suci, begitu lembut... sementara aku hanya pria cacat yang membawa kehancuran bagi siapapun yang ada di dekatku!"
Setiap kata yang keluar dari mulut Kaetos bagaikan sembilu yang menyayat dada Parrie hingga berdarah-darah. Parrie tidak sanggup lagi mendengar bagaimana pria yang sangat ia kagumi dan cintai itu merendahkan dirinya sendiri akibat luka tragis yang bukan kesalahannya.
Tanpa memedulikan dorongan atau penolakan Kaetos, Parrie maju dan merengkuh wajah tampan pria itu dengan kedua telapak tangannya. Ia memaksa Kaetos untuk menatap lurus ke dalam matanya.
"Jangan pernah bicara seperti itu lagi, Kaetos Ashford!" bisik Parrie tegas namun bergetar oleh tangis. "Kau tidak rusak! Kau tidak cacat! Kau adalah pria paling berani, paling sempurna, dan paling berharga di dalam hidupku!"
"Tapi aku hampir membunuhmu tadi—"
"Tapi kau tidak melakukannya!" potong Parrie cepat. "Kau menyadarinya karena cintamu padaku jauh lebih besar daripada mimpi burukmu!"
Parrie menyatukan kening mereka, membiarkan air matanya menetes dan menyatu dengan air mata Kaetos yang membasahi pipi.
Didekapnya leher kokoh pria itu rapat-rapat, menyalurkan seluruh kehangatan dan rasa cinta yang ia miliki tanpa tersisa sedikit pun.
"Aku tidak takut padamu, Kae... Aku tidak akan pernah takut padamu. Luka masa lalumu adalah bagian dari dirimu, dan aku mencintai seluruh bagian dari dirimu tanpa terkecuali," bisik Parrie tulus di balik isakannya.
Kaetos mematung. Kata-kata Parrie bagaikan embun penyejuk yang menyiram gumpalan api neraka di dalam dadanya.
Perlahan, kedua lengan kokoh Kaetos terangkat, melingkari pinggang Parrie dengan sangat erat, menenggelamkan wajahnya di celak leher Parrie yang hangat.
Pria itu menangis sesenggukan dalam dekapannya, meluapkan seluruh rasa sakit, kehampaan, dan beban berat yang ia tanggung sendirian selama bertahun-tahun.
Parrie mengusap punggung lebar Kaetos yang berguncang, menciumi puncak kepala pria itu berulang kali dengan rasa kasih yang tak terbatas.
Setelah beberapa saat yang panjang, tangis Kaetos perlahan mereda. Pria itu menguraikan pelukannya sedikit, mengangkat kepalanya untuk menatap wanita yang baru saja menyelamatkan jiwanya dari kegelapan.
Manik mata Kaetos yang basah memancarkan pendar kerinduan, rasa syukur, dan hasrat kepemilikan yang teramat dalam.
Ibu jari Kaetos mengusap lembut bekas kemerahan di leher Parrie, menatapnya dengan pandangan penuh penyesalan yang mendalam sebelum menundukkan kepala.
Kaetos mendaratkan bibirnya di atas bibir Parrie.
Ciuman itu tidak seperti ciuman mereka sebelumnya.
Ciuman kali ini terasa begitu mendalam, lambat, dan sarat akan emosi yang menguras jiwa.
Ada rasa sakit, kerinduan yang membakar, dan kepasrahan mutlak yang terpancar dari setiap pagutan bibir Kaetos. Pria itu menyesap bibir Parrie dengan kelembutan yang teramat sangat, seolah-olah meminta pengampunan sekaligus mengunci janji setia yang tak akan pernah terputus.
Parrie membalas ciuman itu dengan pasrah, membiarkan jemarinya menyusup di antara rambut hitam Kaetos, menarik pria itu semakin rapat padanya.
Desahan halus terlepas dari tenggorokan Parrie saat Kaetos memperdalam pagutannya, membawa mereka berdua dalam pendar rasa hangat yang memabukkan.
Ketika Kaetos melepaskan tautan bibirnya perlahan, napas mereka berdua memburu hangat di udara dingin. Pria itu menatap manik mata teduh Parrie dengan pendar pencerahan yang begitu pekat.
"Parrie..." panggil Kaetos dengan suara parau yang amat seksi dan dalam. Tangannya menangkup pipi hangat Parrie dengan lembut.
"Apa boleh aku menyentuhmu malam ini?" tanya Kaetos lirih, sebuah permintaan tulus yang sarat akan rasa hormat dan hasrat yang tak lagi terbendung.
"Aku begitu merindukanmu, Parrie... Aku membutuhkanmu untuk tenang malam ini."
Parrie menatap lurus ke dalam manik mata tajam milik Kaetos. Tidak ada lagi rasa ragu, tidak ada lagi ketakutan akan status sosial atau masa lalu yang kelam.
Di dalam mata pria ini, Parrie menemukan rumah tempatnya pulang.
Parrie mengukir senyuman paling manis dan teduh di bibirnya, lalu mengangguk pelan.
"Sentuh aku, Kae... Aku milikmu," bisik Parrie pasrah.