Dia adalah monster yang dibuang dunia. Tapi matanya menyimpan rahasia yang membuat Langit gemetar.
Liu Xuanyuan — yatim piatu, dijuluki "Monster Bermata Ganda", hidup diabaikan di gerbang Sekte Awan Langit. Tidak ada yang tahu bahwa Pupil Ganda di matanya bukan kutukan, melainkan jendela ke segala kemungkinan yang takdir sembunyikan. Hingga sebuah cincin kuno jatuh ke tangannya, dan kebenaran tentang orang tuanya, tentang langit, dan tentang dirinya mulai terungkap satu per satu.
Dia tidak lahir untuk dipimpin. Dia lahir untuk memburu takdir yang ditulis orang lain.
Perjalanan dari penjaga gerbang yang tidak diinginkan... hingga menjadi satu-satunya yang berani menatap Langit Abadi dan berkata: "Aku tidak menerima takdirmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RENDY Marcelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KOTA DI BAWAH BUKIT
Jalan menurun dari pegunungan membawa mereka ke hamparan hutan lebat yang berbau lumut dan tanah basah. Matahari jarang menembus kanopi pohon raksasa di sini, sehingga cahaya yang masuk selalu berwarna hijau pudar dan redup. Xuanyuan berjalan di depan, batu relik di dadanya terasa hangat bukan panas, tapi seperti jantung lain yang berdetak pelan, seakan menuntun arah.
"Ini bukan jalan biasa," gumam Lian Yue, matanya mengamati batang pohon yang tumbuh miring ke satu arah. "Semakin lama kita berjalan, semakin terasa... seakan kita sedang masuk ke dalam sesuatu, bukan sekadar melewatinya."
Xuanyuan berhenti. Ia menunduk, menyentuh tanah lembap dengan telapak tangan. Pupil Gandanya menangkap samar-samar di bawah lapisan tanah dan akar, ada sesuatu yang tertanam. Bukan batu. Bukan gua. Bangunan.
"Kita berdiri di atas atap," katanya pelan. "Seluruh hutan ini tumbuh di atas kota yang terkubur."
Mereka mencari celah di antara akar raksasa dan turun perlahan, membelah kegelapan. Saat kaki menyentuh permukaan batu yang rata, mereka menyalakan obor dari ranting kering. Cahaya api menari di dinding-dinding tinggi yang dipenuhi ukiran alur mengalir seperti sungai yang membeku di batu. Lorong itu lebar, cukup untuk sepuluh orang berjalan berdampingan. Di ujung jauh, cahaya redup berdenyut pelan.
"Ini Kota Aliran. Dibangun oleh Klan Gu ribuan tahun lalu. Mereka tidak membangun di atas tanah mereka membangun di dalamnya. Mengatakan bahwa langit terlalu penuh dengan mata-mata, jadi mereka menciptakan langit sendiri di bawah." suara Lang Wuyan bergema lembut.
"Klan Gu... salah satu dari empat keluarga besar," bisik Xuanyuan. "Musuh kita?"
"Musuh bukan berarti satu kubu. Klan Gu adalah yang paling aneh di antara semuanya. Mereka tidak mengejar kekuasaan. Mereka mengejar pengetahuan. Bahkan pengetahuan yang dilarang Langit. Dan karena itu... mereka adalah sekutu yang paling berbahaya sekaligus paling berharga."
Mereka berjalan menyusuri lorong yang panjang. Di sepanjang dinding, ada ceruk-ceruk kecil berisi benda-benda yang memancarkan cahaya biru samar bola kristal berisi kabut berputar, gulungan kertas yang tulisannya berubah-ubah, dan botol-botol berisi cairan yang mendidih meski dingin. Xuanyuan berhenti di depan salah satu ceruk yang retak. Di dalamnya, sebuah cermin kecil yang permukaannya tidak memantulkan wajah, melainkan pemandangan reruntuhan Kota Langit Terbalik yang baru saja mereka tinggalkan.
"Mereka mengawasi kita," katanya dingin.
"Selama ribuan tahun, Klan Gu mengawasi semua yang terjadi di dunia. Mereka tidak ikut campur. Hanya mencatat. Sampai sesuatu yang cukup penting terjadi."
Langkah kaki terdengar tidak dari depan, tapi dari dinding di samping mereka. Bagian batu berputar terbuka, dan lima sosok muncul. Mereka mengenakan jubah berwarna kabut abu-abu, tanpa hiasan apa pun. Wajah mereka tenang, hampir tanpa ekspresi. Yang di depan, seorang wanita dengan rambut panjang terurai, memegang kipas tulang yang terbentuk dari cahaya murni.
Liu Xuanyuan. Anak dari Liu Yi dan Su Ling. Kami telah menunggu.
Suaranya lembut, tapi menggema di seluruh lorong seakan dinding itu sendiri yang berbicara.
Xuanyuan mencengkeram gagang pedang patahnya. "Menunggu untuk apa? Menunggu untuk menyerahkanku kepada mereka yang memburuku?"
Wanita itu menggeleng pelan.
Kami bisa saja membiarkan pintu masuk tertutup selamanya. Kau tidak akan pernah menemukan tempat ini jika kami tidak mengizinkan. Namaku Gu Qingzhu. Penjaga Catatan Pertengahan. Kami tidak memburumu. Kami menilai.
Menilai apa?
Apakah benih yang dibawa orang tuamu layak tumbuh. Atau akan hancur bersama dunia yang kau coba selamatkan. Ia melangkah maju, kipasnya terbuka sebentar, menampakkan peta yang terus berubah di permukaannya. Tian Jue tidak hanya mengincar darahmu. Ia mengincar apa yang ada di dalam darahmu. Kekuatan yang bahkan dia tidak ciptakan. Dan jika kau jatuh ke tangannya... tidak ada lagi yang bisa menghentikannya. Bukan kami. Bukan Xiao Kun. Bukan siapa pun.
Xuanyuan menatapnya lama. Ia tidak merasakan niat membunuh dari wanita itu. Tapi ia juga tidak merasakan kebaikan murni. Di matanya, ada perhitungan yang dalam seperti seseorang yang menimbang harga sebuah nyawa di atas timbangan emas.
"Kalau begitu bantu aku. Beri aku kekuatan untuk melawannya."
Gu Qingzhu tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke mata.
Klan Gu tidak memberikan apa-apa tanpa imbalan. Kau datang ke rumah kami, melihat rahasia kami, dan meminta bantuan? Lakukan sesuatu untuk kami dulu. Di kedalaman kota ini, ada Gudang Peninggalan Terlarang. Di sana tersimpan sebuah kotak besi tua yang terkunci dengan segel darah. Bawakan kotak itu kepadaku. Bukan isinya kotaknya saja. Jika kau berhasil kembali... mungkin kami akan berbicara tentang bantuan.
Dan jika aku menolak?
Maka kau akan keluar dari sini dengan cara yang sama sulitnya saat masuk. Dan setiap langkahmu di luar sana akan diketahui oleh semua yang memburumu. Pilihan di tanganmu, Liu Xuanyuan.
Lian Yue menarik lengan Xuanyuan pelan, berbisik di telinganya. "Ini jebakan. Dia tidak bilang apa yang ada di dalam kotak itu. Dia tidak bilang apa yang akan terjadi padamu di bawah sana."
Xuanyuan tahu itu. Tapi ia juga tahu di luar sana, ia sendirian. Lemah. Dikejar. Jika ada satu kesempatan sekecil apa pun untuk mendapatkan sekutu yang kuat... ia tidak bisa membiarkannya lewat.
Ia menatap Gu Qingzhu. "Aku akan pergi. Tapi jika aku kembali dan kau menipuku..."
Kau bebas menulis namaku di bukumu yang berbau darah itu. Aku tidak akan lari.
Xuanyuan mengangguk. Ia melangkah melewati wanita itu, menuju pintu besi tua di ujung lorong yang terbuka perlahan, menampakkan tangga batu yang menurun gelap ke perut bumi.
"Kau tunggu di sini," katanya pada Lian Yue.
"Tidak. Ke mana pun kau pergi, aku ikut. Kau tidak tahu apa yang ada di bawah sana. Dan aku... aku juga punya sesuatu yang tersembunyi di dalam diriku. Sesuatu yang mungkin bisa berguna." Gadis itu memegang separuh Cermin Retak di balik jubahnya, cahaya putih samar menyelinap keluar dari sela-sela jarinya.
Xuanyuan menatapnya, lalu mengangguk pelan. Bersama-sama, mereka melangkah turun. Pintu di belakang mereka menutup perlahan, dan cahaya dari atas perlahan lenyap, digantikan oleh kegelapan yang hanya diterangi oleh cahaya biru dingin dari dinding batu.
Di kedalaman yang jauh di bawah, di ruangan yang tertutup debu ribuan tahun, sebuah kotak besi tua bergetar pelan. Di permukaannya terukir satu simbol yang membuat siapa pun yang melihatnya merasa dingin sampai ke tulang sebuah lingkaran yang terbelah dua, masing-masing bagian berisi mata yang tertutup.
"Kau membawa mereka ke sana, Qingzhu? Itu terlalu cepat." suara laki-laki tua terdengar dari bayang-bayang di belakang wanita itu.
Waktu tidak lagi berpihak pada kita, Tetua. Jika dia tidak cukup kuat untuk mengambil kotak itu... maka dia tidak akan pernah cukup kuat untuk menghadapi apa yang akan datang. Lebih baik dia mati di bawah sana daripada hidup cukup lama untuk dijadikan senjata oleh Tian Jue.
Gu Qingzhu menutup kipasnya. Matanya menatap ke bawah, ke arah kegelapan yang menelan kedua anak muda itu.
Semoga kau tidak mengecewakan kami, Liu Xuanyuan. Dunia ini sudah terlalu banyak kecewa.