NovelToon NovelToon
Najin

Najin

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Misteri / Penyelamat
Popularitas:323
Nilai: 5
Nama Author: Van pen.

​Pada tahun 1940-an di Jayakarta, Bella Anastasya, seorang pemburu jejak (tracker) tangguh, bertaruh nyawa demi mencari ibunya yang hilang secara misterius selama sepuluh tahun.

​Demi melacak petunjuk, Bella terpaksa bekerja sama dengan Gilang Fahrezi, pengusaha kaya pemilik jaringan informan terbesar di kota. Penelusuran berdarah ini membawa mereka menyusup ke fasilitas militer rahasia, tempat eksperimen parasit ilegal yang mengubah manusia menjadi monster mengerikan. Di sana, Bella harus berjuang melawan ancaman monster sekaligus menghadapi kenyataan pahit tentang takdir sang ibu.

akankah Bella menemukan sang Ibu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Di salah satu sudut Kota Tua Jayakarta, berdiri megah sebuah rumah pegadaian terbesar bernama Griya Harta Emas. Setiap hari, orang-orang rela mengantre panjang demi mengadaikan barang berharga milik mereka.

Di balik loket, seorang penilai barang bernama Ujang bekerja dengan sangat cermat. Keahliannya mengukur nilai suatu barang tak perlu diragukan lagi, meski tak jarang ia menetapkan harga tawaran yang terbilang mencekik. Namun, orang-orang tak punya banyak pilihan selain pasrah.

Seorang pelanggan pria menyodorkan sebuah jam tangan ke hadapannya. "Ini jam tangan Waltham yang sangat terkenal."

"Dua belas ribu," tawar Ujang dingin.

Mata pria itu terbelalak. "Ayolah! Jam tangan Waltham ini diimpor langsung dari Amerika!"

"Tetap dua belas ribu," sahut Ujang datar seraya meletakkan lembaran uang di meja.

Pelanggan itu menoleh gelisah ke belakang, lalu kembali menatap Ujang dengan raut memohon. "Dengar, Pabrikku baru saja disita oleh pihak Jepang, rumahku juga disita. Aku harus menafkahi ibu dan empat anakku yang masih kecil," keluhnya getir. "Kau mau kami hidup menggelontor di jalanan? Tolonglah aku..."

Ujang mendesah pelan. "Sudah, sudah. Kuubah jadi empat belas ribu. Ambil uangnya atau bawa pulang lagi jam tanganmu," tegasnya seraya menambah beberapa lembar uang.

Sambil meringis menahan nestapa, pria itu akhirnya menyambar uang tersebut lalu pergi.

"Berikutnya!" teriak Ujang.

Seorang wanita paruh baya maju dan meletakkan sebaris aksesoris di atas meja. "Ini mas kawinku, Tolong dijaga baik-baik. Apapun yang terjadi, aku pasti akan datang menebusnya."

Ujang mengamati barang itu sejenak, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi. "Kubeli lima belas ribu. Lagi pula, ini cuma cincin plastik alias palsu."

Mulut wanita itu melongo lebar sebelum akhirnya melangkah pergi dengan kekecewaan mendalam.

Pelanggan berikutnya meletakkan sehelai gaun anggun berwarna ungu yang tampak sangat mahal. Namun seperti biasa, Ujang menawarnya dengan harga miring.

"Aku membelinya langsung dari Italia, dipesan khusus dari Lea!" protes sang pemilik.

"Dua ribu untuk pakaian bekas," sahut Ujang tanpa beban.

Tak lama kemudian, giliran seorang samurai berpakaian kimono dengan sebilah katana terikat di pinggangnya. Pria itu meletakkan sebuah wadah porselen mewah dengan bangga. "Tiga tahun lalu, aku membayar sangat mahal untuk porselen Gucci ini," gumamnya sambil mengangguk-angguk percaya diri.

Ujang membelalakkan mata. "Wah, benarkah?" Ujang kemudian menatap benda itu lebih dekat sebelum mendengus. "Bawa pulang sana pispotmu ini!"

Samurai itu mengedipkan matanya tak percaya. Wajahnya seketika merah padam menahan malu dan kesal. "Dasar bodoh!" makinya seraya menyambar pispot itu dan ngeloyor pergi.

Sementara itu di bagian dalam gedung, pintu lift terbuka. Seorang remaja laki-laki berumur lima belas tahun bernama Aska mendorong troli berisi barang-barang gadai. Ia melangkah menyusuri lorong megah berdekorasi mewah, berbelok ke arah kanan, lalu berhenti di depan sebuah ruangan. Pintu itu dibukakan oleh seorang wanita paruh baya.

Aska punya tabiat buruk: ia sangat suka mengutil barang. Namun sepandai-pandainya ia mencuri, aksinya selalu tertangkap basah oleh Bibi Sinta, sang bendahara Griya Harta Emas.

Bibi Sinta menatap Aska tajam sambil mengulurkan telapak tangannya. Aska berpura-pura polos, mencoba menyembunyikan jam tangan yang baru saja ia tilap dari atas troli. Meski tahu Aska gemar mencuri dan tak segan menghajarnya, Bibi Sinta paham betul bahwa pada dasarnya Aska adalah anak yang baik.

"Apa?" tanya Aska dengan memasang raut wajah paling lugu.

"Kau ini..." gumam Bibi Sinta gemas.

Aska hanya terkekeh pelan sembari merogoh jam tangan dari sakunya. Belum sempat ia menjelaskan, Bibi Sinta sudah merampasnya cepat.

"Jangan sampai aku tahu kamu mencuri lagi, ya! Kalau sampai ketahuan, kupotong sepuluh jarimu itu!" ancam Bibi Sinta dengan nada sangat serius.

Aska tertawa kecil. "Ayolah, Bibi, aku cuma bercanda. Jangan terlalu serius begitu."

Bibi Sinta mengembalikan jam tangan itu ke troli, lalu mendorongnya masuk ke dalam sebuah ruangan mewah bergaya Eropa klasik. Di sudut ruangan, berdiri sebuah brankas besi raksasa berwarna hitam pekat. Bibi Sinta membuka pintu brankas dan melangkah masuk ke tempat penyimpanan seluruh kekayaan Griya Harta Emas.

Saat Bibi Sinta sedang menyusun barang-barang baru, mendadak sebuah tangan merampas jam tangan Waltham dari genggamannya.

Sosok itu adalah Gilang Fahrezi, pemilik Griya Harta Emas. Pemuda yang bahkan belum genap berusia tiga puluh tahun itu sudah menjelma menjadi sosok yang sangat sukses, kaya raya, dan berparas tampan.

"Hmm? Jarang sekali kita mendapatkan koleksi Waltham," gumam Gilang seraya langsung mengenakan jam tangan itu di pergelangan tangannya.

"Dua belas ribu sebenarnya sudah cukup, tapi Ujang malah memberinya empat belas ribu. Dasar Ujang, gampang sekali mengobral uang yang bukan miliknya," keluh Bibi Sinta.

"Tali kulitnya berkualitas tinggi, harganya sangat sepadan," balas Gilang santai sambil berjalan mengitari ruangan.

"Aska juga sama saja, tidak bisa diandalkan! Bocah itu selalu mencuri tiap ada kesempatan," lanjut Bibi Sinta bersungut-sungut.

Gilang mengamati deretan barang mewah di sekelilingnya. "Apakah kau sudah menyiapkan piring dan cangkir teh terbaik untuk Nyonya Maera?"

Maera adalah istri dari Komisaris Jepang bernama Ichikawa, sekaligus putri dari penguasa Jayakarta.

Bibi Sinta menghentikan aktivitasnya. "Orang-orang bilang, kita tidak boleh terlalu dekat dengan sarang penjahat."

"Suaminya adalah Ichikawa dan ayahnya Jenderal Maeda. Dia wanita dari keluarga paling berkuasa di Jayakarta, jadi wajar saja kalau aku menjalin hubungan baik dengannya," ujar Gilang tenang.

Bibi Sinta berbalik menatap Gilang. "Berhati-hati itu jauh lebih baik, bukan?" Peringatan itu ia sampaikan agar Gilang tak terlalu dalam terlibat dengan bangsawan Jepang yang kini mencengkeram Jayakarta.

Namun, Gilang hanya tersenyum tipis, seolah angin berlalu menanggapi kekhawatiran itu. "Jangan cemas, aku ini Gilang."

Ya, dia adalah Gilang Fahrezi,ikon kesuksesan mandiri sekaligus pria paling berpengaruh di Kota Tua. Para wanita mengantre demi mendapat perhatiannya, ia dihormati di mana-mana, dan sanggup mendapatkan apa pun yang ia inginkan.

Namun, Gilang tidak pernah menduga bahwa hari itu akan menjadi awal dari mimpi buruknya: sebuah pasukan tentara Jepang datang menyerbu dan menangkapnya tanpa ampun.

1
Tri Rahayu Amoorea
jos
Coco: Terima kasih kakak 🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!