Laluna Roselyn memiliki karier yang sempurna sebagai aktris terkenal, sampai sebuah pengkhianatan menghancurkan hidupnya. Ia memergoki kekasihnya berselingkuh dengan asistennya sendiri. Dalam amarah yang tak terkendali, Laluna menyerang keduanya hingga kejadian itu terekam dan tersebar luas.
Dalam sekejap, citranya hancur. Dunia hiburan berbalik meninggalkannya, dan karier yang ia bangun bertahun-tahun berada di ujung kehancuran karena skandal tersebut.
Saat tidak memiliki pilihan lain, Laluna menerima perjodohan dari ibunya dengan Nathan Adikara, seorang pengusaha kaya yang terkenal dingin, kejam, dan sulit didekati.
Pernikahan mereka seharusnya hanya menjadi kesepakatan untuk menyelamatkan nama Laluna. Namun, hidup bersama Nathan membuatnya menemukan sisi lain dari pria itu. Di balik sikap dinginnya, Nathan ternyata adalah satu-satunya orang yang berdiri di sisinya ketika seluruh dunia menentangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Kencan
"Syarat?" ulang Laluna.
Sang ibu mengangguk,ia menyesap tehnya sebelum kembali menatap ke arah putrinya.
"Masalah ini mama ga bisa bantu, tapi ada seseorang yang bisa selalu membantumu. Mama mau kamu temani mama bertemu dengan seseorang."
Mendengar itu Laluna terdiam, ia menatap ibunya dengan tatapan penasaran. Laluna yakin pasti ibunya akan melakukan sesuatu yang mempersusah hidupnya.
" Mama mau jodohin aku?"tanyanya, to the point.
Sang ibu terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis melihat putrinya yang langsung menebak maksudnya.
"Kamu ini selalu berpikir yang aneh-aneh," ujar sang ibu sambil menggeleng pelan.
Laluna menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tatapannya masih penuh curiga.
"Jadi benar atau tidak?" tanyanya lagi.
"Belum tentu," jawab ibunya santai.
Jawaban itu justru membuat Laluna semakin menyipitkan matanya. "Belum tentu itu artinya iya, kan?"
Sang ibu tertawa kecil. "Mama hanya ingin kamu bertemu dengannya dulu. Soal jodoh atau bukan, itu urusan nanti. Tapi mama harap sih kamu mau ya jadi jodohnya," ujarnya, sambil bercanda.
Laluna menghela napas panjang. Setelah kejadian yang menimpanya beberapa waktu lalu, ia sudah tidak ingin berurusan dengan pria mana pun. Apalagi jika ibunya tiba-tiba ingin mengenalkannya dengan seseorang. Yang bahkan ia tidak kenal dengan pria itu.
"Mama tahu aku baru saja kehilangan kepercayaan pada laki-laki, kan?Aku baru aja dikhianati pria brengsek itu," ucap Laluna pelan.
Senyuman di wajah ibunya perlahan menghilang. Ia tahu luka yang dirasakan putrinya masih belum sepenuhnya sembuh. Tetapi membuat putrinya bisa menerima pria yang sudah ia pilih adalah pilihan yang bagus untuk hidup sang putri.
"Mama tahu. Justru karena itu mama ingin kamu bertemu dengannya. Ayolah turuti mama untuk ikut kencan yang sudah mama siapkan," bujuk sang ibu.
Laluna terdiam sejenak, mencoba memikirkan jawaban atas permintaan ibunya. Tetapi di antara pilihan hidupnya mungkin ini terbaik, dari pada ia harus keluar dari dunia hiburan akibat skandal yang terus beredar untuk merusak nama baiknya.
"Baiklah, aku setuju. Tapi mama harus bantu aku bersihin nama baik aku," ujarnya, akhirnya.
Mata sang ibu langsung berbinar mendengar jawaban putrinya. Ia tahu Laluna bukan orang yang mudah menyerah, tetapi luka yang ditinggalkan oleh pengkhianatan itu membuat putrinya menutup pintu hatinya.
"Benarkah? Kamu mau bertemu dengannya?Kamu tidak terpaksa kan? " tanya sang ibu memastikan.
Laluna mengangguk pelan. "Iya. Tapi jangan salah paham, Ma. Aku melakukan ini bukan karena aku tertarik dengan pria itu."
Sang ibu tersenyum kecil. "Mama tahu."
"Aku hanya ingin menyelesaikan masalahku," lanjut Laluna tegas. "Kalau pria itu memang bisa membantu membersihkan namaku, aku akan mendengarkan apa yang dia punya."
Sang ibu menghela napas lega. Setidaknya putrinya mau membuka sedikit pintu untuk orang baru.
"Iya.. Iyaa mama paham, kalau kamu sudah setuju. Besok pak Joko akan mengantarkanmu ke kafe tempat dimana kalian bertemu."
....
Laluna menatap cafe bergaya Eropa dari kaca mobil, setelah mobil benar benar terparkir ia segera melangkah turun. Namun, belum sempat ia melangkah ke arah Cafe dari arah belakang pak Joko memanggil namanya.
" Nona Luna, "panggil pria setengah baya itu.
Laluna segera membalikkan badannya menatap ke arah pak Joko.
" Ada apa pak? "tanyanya.
Pak Joko tersenyum tipis ke arah Laluna," Saya lupa non. Tadi Nyonya pesan suruh cari pria tinggi terus pakek jas hitam sama apa ya. " Pak Joko terdiam sejenak mencoba mengingat pesan dari bosnya." Sama namanya Nathan Wijaya, orangnya tampan katanya, non."
Laluna mengernyitkan kening mendengar ucapan Pak Joko. Ia menatap pria paruh baya itu dengan tatapan tenang. Nama itu tidak asing di telinganya.
Nathan Wijaya.
Seorang pengusaha muda yang sering muncul di berita bisnis. Pria yang terkenal dingin, sulit didekati, dan memiliki reputasi sebagai seseorang yang tidak pernah memberi kesempatan kedua kepada orang yang mengkhianatinya.
"Aku tidak percaya mama menjodohkanku dengan orang seperti itu," gumam Laluna pelan.
Pak Joko hanya tersenyum kecil. "Tapi kata Nyonya, Pak Nathan orang baik, non. Hanya saja memang agak sulit tersenyum."
Laluna mendengus pelan. "Semua orang selalu bilang begitu tentang pria kaya. Tapi sudahlah aku akan menemuinya demi karirku."
Tanpa menunggu jawaban Pak Joko, Laluna segera berjalan masuk ke dalam kafe. Aroma kopi dan wangi bunga segar langsung menyambutnya. Suasana kafe itu cukup tenang, hanya beberapa orang yang terlihat sedang menikmati waktu mereka.
Matanya menyapu seluruh sudut ruangan, mencari seseorang yang sesuai dengan deskripsi ibunya.
Pria tinggi. Jas hitam. Tampan. Deskripsi yang terlalu umum.
"Bagaimana aku bisa menemukan orangnya hanya dengan tiga ciri itu?" gumamnya kesal.
Laluna berjalan menuju meja kosong dekat jendela sambil menunggu. Ia duduk dan memainkan ponselnya, berusaha terlihat santai meskipun sebenarnya sedikit gugup.
Beberapa menit kemudian, seorang pria tinggi dengan setelan jas hitam memasuki kafe. Langkahnya tenang dan penuh percaya diri. Beberapa pelanggan wanita bahkan sempat melirik ke arahnya, tetapi pria itu sama sekali tidak peduli.
Tatapan tajamnya menyapu ruangan hingga berhenti pada sosok wanita yang duduk sendirian dekat jendela. Pria itu melangkah mendekat ke arah Laluna yang tengah memainkan ponselnya.
"Laluna?" tanya pria itu.
Laluna segera mendongakkan kepalanya, saat melihat wajah pria itu ia tertegun. Bagaimana bisa ada pria dengan hidung mancung, kulit putih pucat dan rahang tegas. Bahkan jauh lebih tampan dari lawan mainnya di film film.
"Kamu Laluna?" Pria itu melambaikan tangannya di hadapan Laluna yang membuat gadis itu buru buru tersadar.
"Ah, iyaa. Kamu Nathan Wijaya?" ujar Luna, sedikit gugup.
Nathan tidak menjawab. Ia kemudian menarik kursi di hadapan Laluna dan duduk dengan tenang. Berbeda dengan Laluna yang masih mencoba menyembunyikan rasa gugupnya, Nathan terlihat sama sekali tidak terpengaruh dengan pertemuan pertama mereka.
Laluna memperhatikan pria di depannya diam-diam. Selama ini ia sering melihat Nathan di berbagai berita, tetapi melihatnya secara langsung ternyata jauh berbeda.
Aura pria itu jauh lebih kuat. Dingin, tenang, dan sulit ditebak.
"Maaf kalau saya terlambat," ujar Nathan singkat.
Laluna segera menggeleng. "Tidak, aku juga baru sampai."
Pelayan datang memberikan beberapa menu. Nathan hanya menatap pelayan itu datar.
"Americano tanpa gula," ucapnya.
Pelayan itu kemudian beralih menatap Laluna.
"Aku pesan latte saja," jawab Laluna cepat.
Setelah pelayan pergi, suasana di antara mereka menjadi sedikit hening. Laluna yang biasanya tidak pernah kehabisan kata-kata saat berada di depan kamera, justru merasa canggung berhadapan dengan pria ini.
Namun, ia mengingat alasan dirinya datang ke tempat ini. Kariernya. Namanya dan yang terpenting adalah Masa depannya.
"Aku dengar dari mama, kamu ingin membantuku membersihkan namaku," ujar Laluna membuka pembicaraan.
Nathan menatapnya datar. "Benar."
"Kenapa?" tanya Laluna tanpa basa-basi. "Maksudku, kita bahkan belum pernah bertemu sebelumnya. Kenapa kamu mau ikut campur dengan masalahku?"