Lian Yue terbangun tanpa ingatan dan segera menyadari dirinya bukan manusia biasa. Di sisi lain, Shen Rui adalah pemburu siluman yang sejak kecil diajarkan untuk membunuh Ular Putih.
Namun saat mereka bertemu, keduanya justru merasa seolah pernah saling mengenal.
Sedikit demi sedikit, terungkap bahwa selama seribu tahun mereka selalu dipertemukan, jatuh cinta, lalu dipisahkan oleh kematian.
Kini Lian Yue dan Shen Rui harus memilih: tunduk pada kutukan lama, atau melawan takdir demi satu kehidupan bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: KAU SUDAH MEMBUNUHKU TIGA KALI
Tirai air terjun di mulut gua terbelah oleh aura dingin yang dibawa Shen Rui. Tetesan air gemericik jatuh dari ujung jubah basah sang pemburu, menciptakan bunyi teratur yang memecah keheningan di dalam gua. Matanya membeku pada lukisan kuno berusia delapan ratus tahun itu—menatap lurus pada sosok pria berwajah persis dirinya yang sedang menggenggam jemari perempuan berwajah Lian Yue.
Shen Rui melangkah mendekat. Setiap pijakannya di atas batu pualam terasa begitu berat, seolah-olah hukum alam semesta sedang menahan langkahnya untuk mendekati kebenaran.
"Bagaimana mungkin..." suara Shen Rui bergema rendah di dalam dinding gua. Tangannya yang terbungkus sarung kulit terangkat secara refleks, menyentuh pinggiran kertas jerami yang menguning. Getaran hangat—persis seperti denyutan yang dipancarkan Pedang Zhaoyang—merambat cepat dari lukisan itu masuk ke dalam alir darahnya.
Lian Yue berdiri mematung di samping lukisan. Mata peraknya yang basah oleh air mata menatap Shen Rui dengan perpaduan rasa takut, kebingungan, dan kerinduan yang mendalam. "Kau... kau melacak kami sampai ke sini, Shen Rui?"
"Aku menyusuri jejak qi yang tertinggal di Hutan Bambu Hitam," jawab Shen Rui tanpa melepaskan pandangannya dari lukisan itu. "Aku ingin memastikan kalian aman... tapi aku tidak menyangka akan menemukan ini."
"Aman?"
Sebuah tawa dingin dan pahit mendadak meledak dari bibir Qing Luo. Siluman ular hijau itu melangkah keluar dari bayang-bayang pilar batu, berdiri tepat di antara Lian Yue dan Shen Rui. Manik zamrudnya menatap Shen Rui dengan kebencian yang meletup-letup.
"Tidakkah kau merasa ironis, Pemburu?" sindir Qing Luo seraya menunjuk lukisan kuno di dinding batu. "Kau berdiri di sini dengan pedang pembasmi iblis di pinggangmu, berpura-pura menjadi pahlawan yang melindungi Lian Yue, sementara sepanjang sejarah... tanganmulah yang paling banyak menumpahkan darahnya!"
Shen Rui menegang. Matanya menyempit menatap Qing Luo. "Apa maksudmu?"
"Qing Luo, cukup..." bisik Lian Yue, merasa dadanya mendadak sangat sesak oleh aura kepedihan yang menyelimuti ruangan.
"Tidak, Lian Yue! Dia harus tahu! Kau harus tahu kebenarannya!" bentak Qing Luo seraya berbalik menatap Lian Yue dengan mata berkaca-kaca. Suaranya bergetar penuh kemarahan yang ditahan selama ratusan tahun.
"Kau selalu bingung mengapa ingatanmu hilang sewaktu terbangun di bawah pohon plum Gunung Wuyin," lanjut Qing Luo. "Kau mengira ingatanmu terhapus oleh waktu. Tapi kenyataannya, jiwamu sengaja menghancurkan ingatan itu sendiri karena tidak sanggup lagi menahan kepedihan dari pengkhianatan yang berulang!"
Qing Luo menunjuk lurus ke arah dada Shen Rui.
"Ini bukan pertama kalinya kau jatuh cinta pada Shen Rui, Lian Yue!" seru Qing Luo dengan gaung suara yang menggetarkan batu-batu gua. "Dalam seribu tahun terakhir, kalian telah bertemu dalam tiga kehidupan berbeda. Setiap kali kau lahir kembali sebagai siluman ular putih dan dia terlahir sebagai murid Paviliun Tianjian, kalian akan saling tertarik oleh benang takdir yang dikutuk ini!"
Shen Rui merasakan jantungnya seperti dihantam godam besi. Napasnya tertahan. "Tiga kehidupan...?"
Qing Luo mengambil satu langkah melingkar, menatap Shen Rui dengan tatapan menuduh yang teramat tajam.
"Kehidupan pertama, delapan ratus tahun lalu di Kota Yanging. Kau menancapkan pedang perunggumui tepat di jantungnya saat seluruh perguruanmu mengedarkan perintah pembantaian," bisik Qing Luo, suaranya naik menjadi jeritan memilu. "Kehidupan kedua, lima ratus tahun lalu di Danau Qinghe. Kau menjebaknya dalam array segel suci hingga tubuhnya hancur membeku di dasar air! Dan kehidupan ketiga, tiga ratus tahun lalu... kau memotong inti jiwanya di Puncak Yunfeng!"
Setiap kata yang meluncur dari mulut Qing Luo jatuh bagaikan sambaran petir di dalam dada Lian Yue dan Shen Rui.
Lian Yue memegangi kepalanya yang dihantam rasa sakit yang luar biasa. Kilasan ingatan hitam-putih mendadak berhamburan di balik pelipisnya: rasa dingin bilah baja yang menembus dadanya, suara gemerincing rantai segel di dasar danau, serta wajah Shen Rui—dalam berbagai balutan pakaian zaman yang berbeda—selalu menatapnya dengan mata penuh air mata sebelum kegelapan menelannya.
"Tidak..." bisik Lian Yue seraya tubuhnya limbung. Air mata mengalir deras membasahi pipi pucatnya. "Tidak mungkin..."
Shen Rui mundur satu langkah. Tangannya yang menggenggam sarung Pedang Zhaoyang bergetar hebat. Rahasia keji yang diungkapkan oleh Qing Luo menghantam seluruh pondasi hidupnya sebagai pemburu. Doktrin Paviliun Tianjian yang selama ini ia agungkan terasa seperti kebohongan besar yang dibangun di atas genangan darah Lian Yue.
Qing Luo menatap Shen Rui dengan mata zamrud yang menyala-nyala, mengucapkan kata-kata pamungkas yang menyegel takdir bab ini:
"Ini bukan pertama kali kau jatuh cinta kepada Shen Rui, Lian Yue. Dan bukan pertama kali dia membunuhmu."