Gibran Dirgantara, seorang pemuda desa yang berniat mengadu nasib di ibu kota, harus menelan kenyataan pahit saat dicampakkan dan dihina habis-habisan oleh mantan pacarnya, Siska, bersama kekasih konglomeratnya yang arogan. Namun, saat harga dirinya diinjak-injak di tengah kerasnya persaingan pusat pelelangan batu giok, Gibran secara ajaib membangkitkan entitas misterius bernama "Sistem Mata Sakti Raja Giok" yang menyatu langsung dengan saraf penglihatannya. Berbekal mata dewa yang kini mampu menembus lapisan batu kotor untuk melihat energi murni di dalamnya, Gibran memulai jalan balas dendam yang elegan untuk meremukkan kesombongan mereka yang meremehkannya, memborong batu-batu bernilai triliunan dari tumpukan sampah, dan merangsek naik menjadi master giok nomor satu yang paling ditakuti di dunia modern.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Para penonton yang tadinya berkerumun langsung mundur ketakutan melihat premanisme terang-terangan itu.
Beberapa penonton mulai menggedor pintu besi dari luar, namun tidak ada yang berani benar-benar mendobrak masuk.
Rio berjalan memutari Gibran seperti seekor hyena yang sedang mengepung mangsanya.
"Kau terlalu sombong untuk ukuran orang miskin, Gibran."
"Di kota ini, uang dan kekuasaan adalah segalanya. Batu bernilai tiga miliar di tangan gembel sepertimu hanyalah tiket menuju liang kubur," ancam Rio sambil menyalakan sebatang rokok.
Siska berdiri berlindung di belakang punggung Rio dengan napas terengah-engah.
Walaupun ia terkejut dengan tindakan ekstrem Rio, rasa rakusnya akan uang miliaran mengalahkan rasa kasihan yang tersisa untuk Gibran.
"Habisi saja dia, Rio. Dia hanya anak desa sebatang kara, tidak akan ada yang mencarinya kalau dia hilang," hasut Siska dengan nada suara bergetar namun kejam.
Mendengar ucapan wanita yang pernah ia cintai sepenuh hati itu, tatapan Gibran berubah menjadi sedingin es di kutub utara.
Sisa-sisa perasaan dan masa lalu indahnya bersama Siska hancur menjadi debu saat itu juga.
"Jadi ini sifat aslimu yang sebenarnya, Siska? Wanita murahan yang rela membunuh demi uang?" desis Gibran dengan senyum sinis yang mengerikan.
Dua penjaga bertubuh kekar mulai mendekati Gibran dari sisi kiri dan kanan sambil meretakkan buku-buku jari mereka.
Krak krak krak.
"Serahkan batu itu sekarang dengan baik-baik, anak muda. Kami janji tidak akan mematahkan kedua kakimu," ancam salah satu penjaga yang berkepala plontos.
Bos toko buncit mengambil sebuah tongkat bisbol dari balik meja kasirnya dan ikut mengepung Gibran.
"Batu itu milikku! Gara-gara kau reputasiku hampir hancur di pasar ini!" teriak si bos toko histeris.
[Peringatan. Deteksi ancaman fisik tingkat rendah.]
[Analisis otot dan struktur kerangka musuh selesai. Saran tindakan: Serang titik vital di area leher dan lutut untuk melumpuhkan dalam satu serangan.]
Suara sistem kembali berdengung memberikan instruksi pertarungan yang sangat presisi di dalam kepala Gibran.
Gibran tidak memiliki ilmu bela diri yang hebat, namun petunjuk sistem ini membuatnya bisa melihat kelemahan semua orang di ruangan itu dengan mata telanjang.
Ia memasukkan batu giok seukuran kepalan tangan itu ke dalam saku jaket lusuhnya dalam satu gerakan mulus.
"Kalian pikir empat anjing pesek ini bisa merebut sesuatu dari tanganku?" ejek Gibran merentangkan kedua tangannya santai.
Rio membuang puntung rokoknya ke lantai dan menginjaknya dengan kasar.
"Hajar dia sampai mati! Ambil batu itu dan aku akan memberi kalian masing-masing seratus juta!" teriak Rio memberikan komando mutlak.
Mendengar imbalan uang yang sangat besar, dua penjaga kekar itu langsung menerjang maju ke arah Gibran seperti banteng liar.
Penjaga plontos mengayunkan tinjunya yang besar langsung ke arah wajah Gibran dengan tenaga penuh.
Wusss!
Tinju itu membelah udara dengan suara angin yang kencang, namun di mata Gibran, gerakan itu terlihat sangat lambat.
Gibran hanya memiringkan kepalanya sedikit ke kiri.
Tap.
Tinju penjaga itu hanya melewati telinganya tanpa menyentuh sehelai rambut pun.
Tanpa menunggu musuhnya menarik kembali tangannya, Gibran mengangkat kaki kanannya dan menendang keras tepat di bagian tempurung lutut si penjaga plontos sesuai instruksi sistem.
Brak! Krek!
Suara tulang retak terdengar mengerikan memecah ketegangan di dalam toko.
"Arggghhh! Kakiku!"
Teriak penjaga plontos itu histeris sambil jatuh berlutut memegangi kakinya yang patah.
Penjaga kedua yang melihat rekannya tumbang dalam satu detik langsung membeku di tempat karena terkejut.
Gibran tidak membuang waktu. Ia melesat maju dan mendaratkan sikunya tepat di pangkal leher penjaga kedua itu.
Bruk!
Penjaga kedua langsung jatuh pingsan tak sadarkan diri dengan mulut berbusa menghantam lantai ubin.
Hanya dalam waktu kurang dari lima detik, dua preman kekar itu sudah tergeletak tak berdaya di bawah sepatu kanvas Gibran yang kotor.
Napas bos toko buncit langsung tercekat di tenggorokan. Tongkat bisbol di tangannya terlepas jatuh ke lantai dengan suara berdenting keras.
Tring.
Wajah Rio kini berubah seputih kertas HVS melihat gembel yang ia remehkan ternyata memiliki kemampuan bertarung seperti monster.
Siska mundur beberapa langkah hingga punggungnya menabrak tembok. Seluruh tubuhnya bergetar hebat menahan ketakutan yang menjalar.
"K-kau... Ilmu hitam apa yang kau pakai, Gibran?!" teriak Siska dengan suara melengking panik.
Gibran melangkah pelan mendekati Rio dengan tatapan mata pembunuh yang membuat bulu kuduk pria sombong itu berdiri.
Tap tap tap.
Setiap langkah Gibran terdengar seperti hitungan mundur menuju kematian di telinga Rio.
"Sekarang, mari kita bicarakan lagi soal penawaran seratus jutamu tadi, Tuan Muda Rio yang terhormat," ucap Gibran dengan nada suara sangat tenang namun mematikan.
Rio menelan ludah dengan susah payah. Kakinya tanpa sadar mundur perlahan menghindari tatapan mengerikan Gibran.
"A-aku peringatkan kau! Keluarga Mahendra adalah keluarga terpandang di kota ini!" ancam Rio dengan suara bergetar menahan panik.
"Kalau kau berani menyentuh sehelai rambutku, keluargaku akan memburumu sampai ke ujung dunia!"
Gibran mengangkat tangan kanannya bersiap mendaratkan tamparan keras ke wajah pria arogan itu untuk membungkam mulut besarnya.
Namun sebelum tangan Gibran sempat menyentuh pipi Rio, suara mesin mobil yang sangat keras terdengar dari luar toko.
Brummm! Ciiiittt!
Brak! Brak! Brak!
Seseorang dari luar menggedor pintu rolling door besi dengan sangat brutal menggunakan palu baja berukuran besar.
"Buka pintunya sekarang juga atas nama Keluarga Larasati! Atau kami akan merobohkan seluruh bangunan kotor ini beserta isinya!" teriak sebuah suara wanita yang sangat tajam dan berwibawa dari luar pintu besi.
Mendengar nama Keluarga Larasati disebut, wajah bos toko dan Rio mendadak membeku kaku seperti patung es.
Itu adalah nama dari konglomerat perhiasan giok penguasa pasar ini, entitas raksasa yang tidak berani disinggung oleh siapa pun di seluruh provinsi.
Gibran menurunkan tangannya perlahan. Matanya menatap tajam ke arah pintu besi yang sedang digedor dari luar itu.
"Sepertinya tamu sungguhan baru saja tiba," gumam Gibran di dalam hati dengan penuh minat.