Berawal dari ketidaksengajaan darahnya mengenai gagang pintu berukir naga di tumpukan rongsokan, Raka Mahesa mendadak memiliki akses gerbang penembus dua dunia. Berbekal barang murah modern yang menjadi pusaka di dunia kuno dan herbal purba yang bernilai miliaran di Jakarta, pemulung melarat ini mulai membangun kerajaan bisnisnya untuk merajai kedua dunia tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Matahari pagi bersinar terik menyinari gedung pencakar langit berlogo Grup Farmasi Bintang.
Gedung berlapis kaca mewah itu berdiri kokoh di kawasan pusat bisnis paling elit di Jakarta.
Tap tap tap.
Langkah kaki Raka menyusuri trotoar bersih di depan gedung tersebut dengan santai.
Ia memakai jaket kulit hitam kesayangannya dan sebuah kacamata hitam murah yang ia beli di pinggir jalan.
Sebelum masuk ke area lobi utama, Raka berbelok ke sebuah gang kecil yang sepi diapit dua gedung tinggi.
Ia memastikan tidak ada kamera pengawas atau orang yang lewat di sekitarnya.
"Keluarkan karung goni ginseng."
Sring.
Layar biru transparan muncul berkedip sejenak di depan matanya.
[Barang berhasil dikeluarkan dari Penyimpanan Sistem]
Bruk!
Sebuah karung goni berukuran besar jatuh ke aspal tepat di dekat kaki Raka.
Karung itu terlihat sangat kotor, berdebu, dan berbau tanah basah yang menyengat.
Raka tersenyum puas lalu memanggul karung seberat puluhan kilogram itu di pundak kanannya.
Ia berjalan keluar dari gang dan melangkah dengan sangat percaya diri memasuki lobi utama Grup Farmasi Bintang.
Suasana lobi yang wangi dan dipenuhi pegawai berjas rapi mendadak hening melihat kedatangan Raka.
Penampilan Raka yang menenteng karung goni kotor sangat kontras dengan kemewahan lantai marmer yang ia injak.
Dua orang satpam bertubuh besar langsung berlari menghampiri Raka dengan wajah garang.
"Maaf Mas, kurir barang kasar tolong lewat pintu belakang dekat area bongkar muat," tegur satpam pertama sambil merentangkan tangan menahan Raka.
"Saya bukan kurir, saya ada janji bertemu dengan direktur utama kalian hari ini," jawab Raka santai tanpa menurunkan karungnya.
Kedua satpam itu saling berpandangan lalu tertawa meremehkan.
"Jangan bercanda Mas, Nona Sasa tidak mungkin punya jadwal bertemu dengan tukang panggul," ejek satpam kedua bersiap mengusir Raka.
"Biarkan dia masuk, dia adalah tamu kehormatan Nona Sasa hari ini."
Sebuah suara berat dan dingin memotong perdebatan mereka dari arah lift VIP.
Bima si bodyguard berbadan kekar berjalan mendekat dengan setelan jas hitamnya yang rapi.
Kedua satpam itu langsung memucat dan menundukkan kepala mereka dalam-dalam.
"M-maaf Pak Bima, kami benar-benar tidak tahu," gagap satpam pertama melangkah mundur dengan cepat.
"Ayo ikut saya Tuan Raka, Nona Sasa sudah menunggu Anda di ruangannya sejak pagi," ajak Bima mengabaikan kedua satpam tersebut.
Raka tersenyum mengejek ke arah satpam itu lalu berjalan mengikuti Bima masuk ke dalam lift khusus.
Lift itu bergerak sangat cepat dan mulus menuju lantai paling atas tanpa berhenti di lantai lain.
Ting.
Pintu lift terbuka menampilkan sebuah ruangan luas yang sangat mewah dengan pemandangan kota Jakarta dari ketinggian.
Sasa sedang duduk menyilangkan kaki di sofa kulit warna putih sambil menyesap kopi paginya.
Wanita cantik itu memakai setelan blazer merah marun yang membuatnya terlihat sangat mengintimidasi sekaligus anggun.
Raka berjalan santai menghampiri meja kaca di depan Sasa dan langsung menurunkan karung goninya.
Brak!
Suara debu dan tanah berjatuhan mengotori meja kaca mahal seharga puluhan juta tersebut.
Sasa mengerutkan dahinya melihat karung kotor yang baunya membuat hidungnya sedikit gatal.
"Kau benar-benar membawa sampah ke kantorku Raka?" keluh Sasa meletakkan cangkir kopinya.
"Anda sendiri yang bilang siap menyambut kedatangan saya hari ini Nona Sasa."
Raka duduk di sofa seberang Sasa lalu menyandarkan punggungnya dengan sangat santai.
"Buka saja ikatan karungnya kalau Anda berani melihat isinya," tantang Raka melipat kedua tangan di dada.
Sasa mendengus pelan merasa harga dirinya sedikit ditantang oleh pemuda jalanan ini.
Ia memberi isyarat dengan matanya dan Bima langsung maju untuk membuka ikatan tali karung goni tersebut.
Srek.
Bima menarik karung itu hingga terbuka lebar dan menyingkap isinya ke atas meja kaca.
Aroma tanah pegunungan tua yang sangat pekat dan wangi herbal langka langsung memenuhi seluruh ruangan tersebut.
Mata Sasa yang awalnya meremehkan kini membelalak sangat lebar hingga kacamata yang ia pakai hampir jatuh.
Nafas wanita arogan itu tertahan di tenggorokan saat melihat tumpukan akar keriput di depannya.
"Ini... ini tidak mungkin," gumam Sasa dengan suara bergetar sangat hebat.
Sasa langsung melupakan gengsinya dan berjongkok di dekat meja kaca tersebut tanpa mempedulikan blazernya yang rapi.
Tangannya yang gemetar meraih salah satu akar ginseng berukuran paling besar dari tumpukan itu.
Ia meraba tekstur kulit sisik naganya dan menghitung cincin urat di bagian kepala akar tersebut.
"Sempurna, ukurannya bahkan dua kali lipat lebih besar dari tiga batang yang kau bawa kemarin," bisik Sasa seolah sedang bermimpi.
Bima yang biasanya berwajah datar seperti robot juga ikut melongo melihat tumpukan harta karun alam tersebut.
"Hitung jumlahnya Bima, pastikan tidak ada satu pun akar yang patah rambutnya," perintah Sasa dengan nada panik.
Bima segera mengambil sarung tangan khusus dari laci dan mulai memisahkan ginseng itu satu per satu dengan sangat hati-hati.
Ruangan itu hanya diisi oleh suara nafas Sasa yang memburu dan suara Bima yang sedang menghitung.
Raka hanya diam menonton pertunjukan itu sambil tersenyum penuh kemenangan di dalam hatinya.
"Tepat seratus batang Nona Sasa, dan semuanya dalam kondisi hidup yang luar biasa sempurna," lapor Bima menelan ludah.
Sasa perlahan berdiri dan menatap Raka dengan pandangan yang sama sekali berbeda dari sebelumnya.
Itu bukan lagi tatapan seorang bos pada bawahan, melainkan tatapan seseorang yang melihat tambang emas hidup.
"Raka Mahesa, kau tahu berapa nilai semua barang yang kau tumpuk sembarangan di meja ini?" tanya Sasa dengan suara serak.
"Saya cuma orang miskin yang baru melek huruf Nona Sasa, mana saya tahu harga pasarannya," jawab Raka berpura-pura bodoh dengan wajah polos.
"Satu batang ginseng liar berumur seribu tahun dengan kualitas sesempurna ini bisa terjual satu miliar rupiah di pasar lelang."
Sasa berjalan mengitari meja kaca itu sambil terus menatap tumpukan ginseng tersebut dengan rakus.
"Kau membawa seratus batang kemari, itu artinya ada uang seratus miliar rupiah di atas meja ini."
Raka menaikkan sebelah alisnya merasa sedikit terkejut karena harganya jauh lebih besar dari tebakannya.
Ginseng yang ia beli dari Karta dengan modal bumbu dapur kini bernilai seratus miliar di dunia ini.
Bisnis lintas dunia ini benar-benar tidak masuk akal tapi sangat memabukkan.
"Jadi bagaimana cara Anda membayarnya Nona Sasa? Mau transfer langsung ke rekening bank saya lagi?" goda Raka tersenyum miring.
Sasa memijat pelipisnya yang mendadak pusing menghadapi pertanyaan polos namun mematikan dari Raka.
"Kau pikir sistem perbankan negara ini main-main Raka? Kalau aku mentransfer seratus miliar ke rekening pribadimu hari ini juga, besok pagi kau sudah dijemput polisi."
"Pusat pelaporan transaksi keuangan pasti akan mencurigai kita melakukan pencucian uang hasil kejahatan terorisme atau narkoba," jelas Sasa dengan nada serius.
"Wah repot juga ya jadi orang kaya, punya banyak uang tapi tidak bisa dipamerkan," kekeh Raka menggaruk kepalanya.
"Lalu apa solusi dari bos besar seperti Anda? Saya tidak mau pulang bawa cek kosong."