Raisa Adiratna akhirnya menyerah akan pernikahannya, karena selalu mendapatkan KDRT dari sang suami---Dion Raharja. Dion seorang Pengacara kondang terkenal, di jodohkan atas desakan orangtuanya. Ada satu alasan kuat kenapa Dion membenci istrinya, sampai Dion mengancam jika sampai Raisa hamil maka tak segan Dion akan mengaborsi kandungan itu. Raisa yang mendengar itu ketakutan, wanita yang sudah menjadi yatim piatu itu terpaksa meminta cerai dari Dion karena dirinya hanya memiliki anak di kandungannya, tanpa di ketahui oleh Dion jika Raisa sedang hamil muda. Setelah bertahan di bawah hinaan Dion dan teman-temannya termasuk gundik suaminya---Chelsea. Chelsea seorang wanita yang bekerja sebagai LC di sebuah club. Setelah berhasil menceraikan Raisa, Pria itu menikahi gundiknya. Namun Karma dibayar konstan Dion mengalami kecelakaan yang membuatnya mandul hingga Chelsea meninggalkannya. Dion berusaha mencari mantan istrinya demi mendapatkan maaf, lalu apakah Dion sadar sudah punya anak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Pagi ini matahari menyelinap masuk melalui jendela-jendela besar di kediaman keluarga Raharja.
Di ruang tamu yang megah, susana nampak penuh dengan air mata---Raisa sudah banyak mengeluarkan air mata sejak kemarin.
Wanita yang yang mengenakan gaun berwarna merah pastel dengan lengan mengembang sebatas lutut, harus menerima kenyataan pahit---harus menjadi janda muda.
Hari ini, adalah hari dirinya harus menandatangi surat cerai karena sudah menyerah akan pernikahannya.
Pernikahan yang hanya membawa derita untuknya, tubuhnya sudah lebam di tambah batin juga tersiksa.
Dion pagi ini dengan aura dominasinya mengenakan kemeja berwarna Burgundy dan celana cokelat tua, wajahnya terlihat bahagia pagi ini.
Senyum kemenangan yang kejam, tanpa rasa ragu menyodorkan selembar kertas putih ke hadapan istrinya.
"Tanda tangan itu! Sesuai keinginan kamu kemarin, saya akan ceraikan kamu hari ini," ucap Dion tanpa punya perasaan.
Raisa duduk di sofa beludru itu, matanya menatap surat cerai yang tergeletak di meja dengan pandangan kabur karena penuh dengan air mata.
Suara Dion bergema di ruangan ini, setiap kata terasa seperti sebilah pisau yang menyayat hati Raisa.
Raisa meraih pena, tangannya gemetar saat menandatangi surat cerai itu, di atas kertas secara resmi mengakhiri statusnya sebagai istri Dion Raharja.
Setelah menorehkan tanda tangan di kertas putih itu, dengan gerakan pelan segera menarik cincin pernikahan dari jari manisnya.
"Aku minta maaf karena udah bully kamu dulu, Mas. Ini cincin pernikahan kita...Mbak Chelsea lebih berhak memakainya," ucap Raisa menaruh cincin itu di atas kertas putih yang sudah di tanda tanganinya.
"Halah...maaf kamu nggak berguna sekarang! Trauma yang dulu kamu bully saya, udah saya rasakan!" bentaknya segera meraih surat cerai itu dan tersenyum
"Aku udah minta maaf ama kamu, Mas. Aku akan pergi dan akan aku tunggu surat pemanggilan dari pengadilan. Aku harap secepatnya kita bisa resmi bercerai," tutur Raisa dengan nada gemetar.
Raisa menghapus air mata yang membasahi pipi menggunakan punggung tangannya, lalu berdiri dengan tangan menahan perutnya.
Di dalam rahimnya sebuah nyawa yang berusia tiga minggu tengah bersemayam, ini akan menjadi rahasia yang di simpan rapat.
Raisa ingin sekali membatalkan perceraian ini dengan berteriak, berusaha memberitahu Dion bahwa dirinya tengah mengandung buah cintanya.
Namun di urungkan, karena jika memberitahu Dion hanya akan membawa bahaya bagi janinnya.
Pria ini mungkin akan memaksanya menggugurkan kandungan, atau menggunakan anak ini sebagai alat penyiksaan baru.
"Oh tentu saja, saya juga nggak sudi punya istri perempuan sampah kaya kamu!" tunjuk Dion dengan kasar ke arah Raisa.
Dion mendengus sinis, berdiri di hadapan Raisa dengan tangan di sakunya.
"Aku akan pergi, Mas. Aku akan pergi dari rumah ini," ucapnya.
Tanpa menunggu balasan, Raisa segera berjalan cepat menuju lantai atas---ke kamar utama untuk mengambil barang-barangnya.
Sesampainya di kamar yang menjadi saksi bisu penderitaannya, Raisa menatap sejenak mengedarkan pandangannya ke kamar ini.
Di dalam kamar ini, Dion mengurungnya dan setiap malam melakukan hubungan badan yang menyiksa batinnya.
Raisa segera menarik koper besar dari bawah ranjang, berlutut di lantai marmer yang dingin itu.
Tangannya mulai mengemas baju-bajunya dengan gerakan terburu-buru, seolah takut Dion berubah pikiran dan mengurungnya lagi.
Sampai tangannya meraih sebuah bingkai foto kayu, itu adalah foto mendiang kedua orang tuanya.
"Mama...Papa, maafin Raisa yang nggak bisa mempertahankan pernikahan ini. Raisa menyerah akan siksaan yang di kasih suami Raisa," ucapnya.
Tangannya mengusap bingkai foto itu dengan gemetar, air mata kembali luruh di wajahnya.
Lalu secara refleks mengelus perutnya yang masih rata, seolah kekuatan yang di milikinya adalah janin di kandungan ini.
"Nak...kita akan pergi dari sini. Hanya kita berdua sekarang, mama janji akan jaga kamu dari dunia yang kejam ini," bisik Raisa pada calon anaknya.
Setelah memastikan semua barang berharganya masuk ke dalam koper, sebuah tas selempang kecil berwarna cokelat muda tersampir di lengannya.
Raisa menutup resleting koper itu dengan tegas, menarik napas panjang lalu berdiri.
Kakinya segera melangkah keluar kamar ini, kamar yang selayaknya penjara mewah baginya---dimana berbagai penyiksaan dirinya rasakan.
"Mama...Raisa pamit. Maaf Raisa udah nggak bisa lagi mendampingi Mas Dion," ucap Raisa sambil menarik kopernya.
Raisa menuruni anak tangga sambil menyeret koper besarnya yang berbunyi gedubrak-gedubrak di atas tangga lantai marmer itu.
Raisa melihat Dion di ruang tamu, pria yang akan menjadi mantan suaminya itu menatapnya lalu tersenyum sinis.
Namun untuk sesaat, mata Dion terlihat aneh.
Tiba-tiba, hati Dion merasa ada yang mengganjal setiap melihat langkah Raisa yang mau pergi.
"Kok gua kaya ada rasa nggak rela ya," ucapnya menatap Raisa.
Raisa yang rapuh bersiap meninggalkan Dion selamanya.
Langkah kaki Raisa terhenti tepat di depan pintu kayu jati besar, dengan ukiran mewah itu.
Di sana, tiga wanita yang selama ini menjadi duri dalam pernikahannya tengah berdiri dengan menang.
Chelsea dengan kedua temannya, sudah menunggu---siap merayakan kepergian Raisa dengan gelas-gelas berisi wine di tangan mereka.
"Yahh... ditalak sama lakinya? Makannya kalau punya laki itu diservis yang bener!" ucap Cora dengan nada mengejek.
"Mana bisa dia service yang bener, lakinya aja jijik ama dia," lanjut Luna yang mulutnya kaya bebek.
Ketiganya tertawa di atas penderitaan Raisa yang mengeret koper meninggalkan kediaman rumah keluarga Raharja.
Raisa yang sudah muak malas meladeni mereka, memilih pergi ke depan rumah lalu menunggu grab.
Raisa terus menyeret kopernya melewati mereka, melangkah keluar dari gerbang kediaman Raharja tanpa sekali pun menoleh ke belakang.
Kemana Raisa akan pergi.
Tentu Raisa akan pergi ke rumah keluarga Adiratna, rumah peninggalan kedua orangtuanya.
Lalu Raisa mendapatkan pesan dari pamannya, jika akan bertukar rumah yang ada di Bandung.
"Raisa, Om dengar kamu mau bercerai dari Dion. Sini ke Bandung biar Om menempati rumah di Jakarta, kebetulan Om lagi ada tugas disana."
Om Hardi adalah seorang PNS yang akan bertugas di Jakarta.
Tentu tanpa menunggu lebih lama, Raisa segera menyetujuinya.
"Raisa akan pindah ke Bandung, tapi dengan syarat. Om jangan kasih tahu keberadaan Raisa jika Dion cari Raisa," ucapnya.
Om Hardi pun setuju, dan akan segera ke Jakarta setelah Raisa bercerai.
*
*
*
Sukses selalu Raisa,semoga baby membawa hoky setiap langkah usamu
Di tempat kita kalau menghadiri persidangan nikah cerai di pejabat agama pakaian mesti sopan menutup aurat,bertudung .Ah lain negara lain peraturannya.