NovelToon NovelToon
Pengawal Spiritual: Penakluk Loka Gaib

Pengawal Spiritual: Penakluk Loka Gaib

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan / Penyeberangan Dunia Lain / Fantasi Isekai
Popularitas:319
Nilai: 5
Nama Author: PLEMIK

Galih, seorang remaja SMA 17 tahun yang lugu dan penyendiri karena dianggap aneh memiliki kemampuan indigo, mendadak tersedot ke dalam lubang hitam misterius di tengah kelas bersama teman-temannya. Ia terbangun seorang diri di Hutan Wanasari, sebuah dunia fantasi berlatar era keemasan Majapahit yang dipenuhi ancaman sarang monster dimensi lain (Loka Gaib). Diselamatkan oleh Ki Wira, seorang pendekar sepuh, dan dibawa ke rumah panggungnya, Galih bertemu dengan Sekar, cucu angkat Ki Wira yang cantik, tegas, dan lincah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyelamatan di Menit Terakhir

Dentingan logam beradu nyaring memenuhi aula bawah tanah saat parang Sekar menahan hantaman gada batu Gandaruka yang berukuran sebesar tubuh manusia dewasa, getaran benturan itu menjalar hebat hingga ke kedua lengannya yang sudah mulai terasa kebas dan gemetar.

"Larasati, bawa dia menjauh!" teriak Sekar, matanya tidak pernah lepas dari sosok raksasa di hadapannya, mempertahankan posisi meski setiap ototnya berteriak protes menahan beban gada yang terus menekan turun ke arahnya.

Larasati bergegas menghampiri gadis kecil yang masih meringkuk ketakutan, menarik lembut lengannya untuk membantunya berdiri. "Ayo, kita harus pergi dari sini. Kau aman sekarang, aku janji tidak akan membiarkan apa pun terjadi padamu."

Gadis itu tersentak, matanya yang basah menatap Larasati sejenak sebelum akhirnya membiarkan dirinya ditarik menjauh dari medan pertarungan, langkahnya masih gemetar hebat menuju zona aman di dekat pintu masuk aula yang tadi mereka lewati.

Galih segera mengambil posisi di sisi kiri arena, kerisnya tergenggam siaga, matanya mengawasi setiap gerakan Gandaruka yang mulai menunjukkan kemarahan lebih besar setelah kehilangan mangsa awalnya. Ia tidak berani mendekat terlalu jauh, menyadari betapa jauh perbedaan kekuatan boss ini dibanding Gandaru biasa yang mereka hadapi sebelumnya. Sesekali ia melirik ke arah Larasati dan gadis kecil di sudut aman, memastikan keduanya tetap terlindungi sepenuhnya dari jangkauan gada raksasa yang terus mengamuk itu.

Sekar mendorong gada itu menjauh dengan sekuat tenaga, melompat mundur untuk mengambil jarak sebelum kembali menerjang maju, mengayunkan parangnya ke arah lengan Gandaruka yang terangkat. Bilah tajam itu berhasil menggores kulit kehijauan tebal makhluk itu, namun lukanya hanya dangkal, darah gelap yang menetes keluar terlihat lebih seperti cairan encer dibanding darah pekat yang seharusnya mengalir dari luka sedalam itu. Ia mencoba lagi dari sudut lain, menargetkan sendi lutut yang biasanya menjadi titik lemah makhluk berkaki empat, namun hasilnya tidak jauh berbeda, sama sekali tidak melumpuhkan pergerakan Gandaruka.

"Kulitnya terlalu keras," desis Sekar, mengulang tebasan dengan sudut yang berbeda, berharap menemukan celah yang lebih rentan di antara lapisan kulit tebal yang seolah tidak mempan diserang senjata tajam biasa.

Gandaruka meraung, membalas dengan ayunan gada yang lebih cepat dari sebelumnya, memaksa Sekar melompat menghindar berkali-kali, kakinya bergerak lincah menyusuri sisa-sisa reruntuhan yang berserakan di lantai arena. Setiap kali ia mendarat, debu tipis mengepul dari tanah yang sudah retak akibat berkali-kali menahan benturan gada raksasa itu.

Jam demi jam berlalu tanpa terasa di dalam ruangan tertutup tanpa jendela itu, waktu kehilangan maknanya di tengah pertarungan yang terus berlanjut tanpa jeda berarti. Setiap kali Sekar berhasil menggores kulit Gandaruka, luka itu tampak menutup kembali dalam hitungan menit, seolah tubuh raksasa itu memiliki kemampuan pemulihan yang jauh melampaui monster biasa. Sekar sudah kehilangan hitungan berapa kali ia berhasil melukai makhluk itu tanpa hasil yang berarti, setiap kemajuan kecil selalu dihapus begitu saja oleh regenerasi yang tampaknya tidak terbatas.

"Ini tidak masuk akal," gumam Larasati, yang sudah kembali dari mengamankan gadis kecil itu, kini berdiri di posisi amannya sambil terus memantau kondisi Sekar dengan mata sihirnya. "Lukanya menutup lagi. Dia meregenerasi stamina dan lukanya sendiri, jauh lebih cepat dari monster boss mana pun yang pernah kudengar ceritanya."

Penemuan itu membuat perut Galih bergejolak cemas. Jika benar Gandaruka memiliki kemampuan regenerasi seperti itu, pertarungan ini bisa berlangsung jauh lebih lama dari yang mereka duga, menguras habis stamina mereka bertiga sebelum mereka sempat menemukan cara mengalahkannya. Ia mencoba memikirkan cara lain untuk membantu, namun setiap kali ia melangkah mendekat, Sekar selalu memberi isyarat agar ia tetap menjaga jarak dan melindungi Larasati serta Kirana di belakangnya.

Larasati mulai mengalirkan buff pemulihan tambahan pada Sekar setiap kali ada jeda sekecil apa pun, mencoba mengimbangi tenaga yang terus terkuras oleh pertarungan tanpa henti itu. Namun setiap buff yang ia berikan terasa semakin lemah efeknya, energinya sendiri mulai menipis setelah dipakai tanpa jeda sejak awal memasuki dungeon. Kirana, yang duduk di sampingnya, sesekali menawarkan diri membantu meski Larasati selalu menggeleng lembut, tidak ingin melibatkan gadis kecil itu lebih jauh dalam bahaya yang sudah cukup mengerikan baginya seorang diri.

Keringat bercucuran deras membasahi sekujur tubuh Sekar, pakaiannya sudah basah kuyup menempel di kulitnya, napasnya memburu tidak beraturan setiap kali ia melompat menghindar atau melancarkan serangan balasan. Namun tidak sekali pun ia menunjukkan tanda ingin mundur, matanya tetap menyala dengan tekad yang sama seperti saat pertama kali ia melompat menyelamatkan gadis kecil itu. Rambutnya yang biasa terikat rapi kini berantakan menempel di dahinya yang basah, beberapa helai jatuh menutupi pandangannya namun ia tidak sempat merapikannya sedikit pun di tengah pertarungan yang menuntut fokus penuh.

"Sekar, istirahat sebentar," seru Galih, khawatir melihat kondisi rekannya yang semakin memburuk, suaranya penuh kecemasan yang tidak bisa ia sembunyikan lagi.

"Tidak bisa," balas Sekar cepat, suaranya serak menahan lelah. "Kalau aku berhenti sekarang, dia akan mengejar Kirana lagi. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."

Nama itu, yang baru saja terucap dari mulut Sekar, membuat Galih menoleh sekilas ke arah gadis kecil yang kini duduk gemetar di sudut aman, memeluk lututnya sendiri erat-erat sambil menyaksikan pertarungan dengan mata yang penuh rasa bersalah dan ketakutan. Kirana, pikirnya, akhirnya ia tahu nama gadis yang sedari tadi mereka pertaruhkan nyawa demi melindunginya dari amukan boss raksasa ini.

Gandaruka kembali menerjang, kali ini dengan kecepatan yang seolah tidak berkurang sedikit pun meski pertarungan sudah berlangsung berjam-jam lamanya. Sekar menahan hantaman itu dengan parangnya, namun kali ini kekuatan benturan cukup besar untuk membuatnya terhuyung beberapa langkah ke belakang, lututnya nyaris menyentuh tanah sebelum ia berhasil menstabilkan diri kembali. Napasnya tersengal hebat, dadanya naik turun cepat berusaha memasok oksigen yang terasa tidak pernah cukup lagi baginya sekarang.

Waktu terus berjalan, siang berganti malam yang tidak bisa mereka lihat dari dalam dungeon tertutup itu, hanya bisa dirasakan melalui rasa lelah yang semakin menumpuk di sekujur tubuh mereka bertiga. Perut mereka mulai keroncongan, persediaan air minum menipis, namun tidak ada satu pun dari mereka yang berani mengusulkan untuk berhenti dan mencari makanan, khawatir Gandaruka akan mengejar mereka begitu punggung berbalik sedikit saja. Pertarungan yang seharusnya selesai dalam hitungan menit kini memasuki hari kedua tanpa henti, membawa kelima orang di arena tersebut, Sekar, Galih, Larasati, Gandaruka, dan gadis kecil bernama Kirana, ke ambang batas kelelahan total yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.

1
quancyberx studio
untuk novel nya lumayan dan perlu peningkatan dari segi kata paragraf dan lain nya
quancyberx studio
semangat ya
PLEMIK: Kamu juga semangat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!