Demi kabur dari kawin paksa—dijual ayahnya yang mabuk demi melunasi utang—Sekar, gadis desa yang selalu menahan lapar demi menyembunyikan tubuhnya yang "terlalu menonjol", nekat merantau ke Surabaya dan jadi pengasuh di rumah keluarga konglomerat Adiwijaya.
Di rumah megah itu ada Narendra—orang memanggilnya Nara. Putra bungsu yang dingin, sempurna, dan seolah tak tersentuh. Priyayi, direktur muda, es yang tak pernah mencair. Sekar cuma punya satu rencana: menunduk, jangan menonjol, kumpulkan uang, lalu pergi diam-diam.
Tapi malam itu, saat rahasia tubuhnya nyaris terbongkar, justru Nara yang menemukannya lebih dulu. Dan lelaki yang katanya tak pernah kehilangan kendali itu... malah berbisik pelan:
**"Mulai sekarang, kau hanya boleh kenyang di depanku."**
Sejak itu, semuanya berubah. Ipar yang memfitnahnya mencuri, preman yang terus mengganggu, keluarga sosialita yang memandang rendah "gadis desa yang tak tahu bibit-bebet-bobot"—satu per satu dihadapi. Nara membelanya di depan semua orang; dan Sekar sendiri belajar melawan, bangkit dari nol dengan tangannya sendiri.
Demi Sekar, Nara rela keluar dari perusahaan keluarga, memulai dari titik nol, membalik keadaan sampai jadi orang terkaya—hanya untuk menaruh semua hartanya atas nama perempuannya.
Dari pengasuh yang menahan lapar... jadi nyonya besar yang dimanja seumur hidup.
Waktu wartawan bertanya kenapa ia sekeras itu bekerja, sang konglomerat yang biasanya dingin cuma melirik istrinya, lalu tersenyum tipis:
**"Istriku manja. Ya, harus kumanjakan."**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 2
Bau Manis di Malam Hari
Angin menggerakkan ujung pakaian di tali jemuran, dan aroma manis itu semakin jelas di antara kami.
"Kau sedang apa di luar selarut ini?"
Suara Den Nara rendah, tetapi terasa seperti kawat yang ditarik terlalu kencang. Aku buru-buru meletakkan kain basah ke dalam ember.
"Menyelesaikan cucian, Den. Besok pagi banyak pekerjaan lain."
"Jam segini?"
Aku menelan ludah. "Saya tidak mau Bu Retno menyesal menerima saya."
Alisnya semakin rapat. Dia memandang jemuran penuh, lalu piring makan pekerja yang tadi lupa kubawa masuk. Setengah potong tahu masih tertinggal di sana.
"Kau belum makan?"
"Sudah."
Jawabanku terlalu cepat.
Dia melangkah mendekat. Aku mundur refleks, tumitku menginjak genangan sabun. Tanah seperti terlepas dari bawah kaki. Aku sempat melihat ember terguling sebelum tubuhku jatuh ke depan.
Sebuah lengan menahan pinggangku. Tangan lainnya mencengkeram pergelangan tanganku.
Dadaku membentur sesuatu yang keras dan hangat.
Aku membeku dalam pelukannya.
Aroma cologne Den Nara bercampur dengan aroma manis yang keluar dari kulitku. Wajah kami terlalu dekat. Napasnya tertahan. Jari di pergelangan tanganku mengencang, lalu cepat-cepat terlepas seolah sentuhan itu membakar kulitnya.
Aku mundur sampai punggungku menyentuh tali jemuran.
"Maaf, Den."
Dia memalingkan muka. "Lantainya licin."
"Iya."
"Masuk. Sisanya kerjakan besok."
"Tapi..."
"Itu perintah."
Aku tidak membantah lagi. Kuangkat ember yang terguling dengan tangan gemetar. Ketika melewatinya, aku bisa merasakan pandangannya mengikuti punggungku.
Aku berjalan cepat, lalu berlari begitu mencapai lorong belakang.
***
Pintu kamar kututup pelan agar tidak membangunkan siapa pun. Setelah kuncinya terpasang, kakiku langsung kehilangan tenaga. Aku merosot ke lantai dengan punggung menempel pada daun pintu.
Pergelangan tanganku masih menyimpan panas telapak tangannya.
Namun yang membuatku sulit bernapas bukanlah sentuhan itu. Den Nara sudah mencium aroma yang kusembunyikan.
Aku memejamkan mata dan kembali melihat dapur reyot Mbah Sari di ujung desa.
Waktu kecil, tubuhku kurus dan mudah demam. Ibu sudah meninggal, sementara Bapak hanya tahu marah jika aku tak sanggup membawa rumput untuk kambing. Mbah Sari kasihan melihatku pingsan di pematang. Dia meracik jamu dari akar, madu, bunga kenanga, dan bahan lain yang tak pernah diberitahukannya.
Ramuan itu menyelamatkanku. Aku jarang sakit lagi. Tubuhku tumbuh lebih sehat dan berisi.
Lalu datang akibat yang tidak pernah kami duga.
Setiap kali kenyang, tenang, atau merasa aman, kulitku mengeluarkan aroma manis. Tidak tajam, tetapi cukup untuk membuat orang menoleh. Tubuhku juga cepat melunak dan tampak penuh, seolah pakaian yang kemarin longgar mendadak mengecil.
Pada umur empat belas tahun, beberapa ibu di warung membicarakanku tanpa merasa perlu mengecilkan suara.
"Anak Sukir itu baru besar sudah cari perhatian."
"Lihat bentuk badannya. Bau pula, seperti pakai minyak pemikat."
Aku pulang sambil menutupi dada dengan karung beras kosong. Sejak hari itu, aku belajar bahwa tubuh perempuan miskin bisa dituduh hanya karena terlihat.
Aku mulai mengurangi makan. Kupilih baju kusam dan terlalu besar bila punya pilihan. Jika aroma itu muncul, aku mengguyur tubuh dengan air dingin sampai menggigil.
Semua itu berhasil, sampai malam ini.
Aku membuka tas kanvas dan mengeluarkan baju terlonggar yang kupunya. Jahitan di sisi kirinya sudah dua kali kutambal. Di dasar tas tersimpan sapu tangan Ibu yang membungkus tiga keping obat ramuan kering dari Mbah Sari. Persediaan itu harus cukup sampai aku berani menghubunginya lagi.
Di desa, Mbah Sari pernah menyuruhku berhenti menyiksa diri dengan lapar. Katanya, aroma itu bukan dosa dan tubuhku bukan aib. Aku ingin mempercayainya. Namun nasihat seorang nenek tua kalah keras dari tawa lelaki di warung, bisik-bisik ibu tetangga, dan tangan Bapak yang pernah mencengkeram rambutku sambil menuduhku sengaja memancing perhatian calon suami orang.
Karena itu, ketika Bu Retno menawarkan pekerjaan menjaga bayi, yang kupikirkan bukan hanya gaji. Rumah dengan gerbang tinggi ini bisa menjadi tempat persembunyian. Tidak seorang pun di Desa Sukorejo akan menduga aku berada di antara mobil mewah dan lantai marmer.
Sekarang tempat persembunyian itu terancam oleh satu tarikan napas Den Nara.
Aku menekan kedua telapak tangan ke pipi. Kehangatan Den Nara tadi masih ada. Anehnya, di balik ketakutanku, ada satu rasa lain yang tidak ingin kuakui. Untuk sepersekian detik ketika dia menahanku, tubuhku merasa aman.
Perasaan aman justru membuat aroma itu makin kuat.
"Bodoh," bisikku kepada diri sendiri.
Aku bangkit, mengambil kain panjang dari lemari plastik, lalu mengikatnya di balik blus agar bentuk tubuhku lebih tersamarkan. Simpulnya menekan tulang rusuk sampai sakit. Biarlah. Rasa sakit akan mengingatkanku agar tidak lengah.
Mulai besok aku harus makan lebih sedikit. Aku tidak boleh beristirahat terlalu lama. Dan sebisa mungkin, aku harus menjauh dari Den Nara.
Terutama dari matanya yang tadi tampak seperti sedang menahan sesuatu.
***
Aku tidak bisa tidur. Menjelang pukul tiga, aku kembali keluar dan menyelesaikan sisa pekerjaan dengan gerakan seringan mungkin. Lantai sudah kukeringkan. Piring kubawa ke dapur. Pakaian terakhir kujepit di tali.
Ketika melewati tangga utama, lampu di lantai atas masih menyala.
***
Nara
Aku berbaring dengan satu lengan menutupi mata. Aku sudah mengganti baju, sudah mandi, bahkan membuka jendela lebar-lebar. Tetap saja aroma manis itu seakan menempel di hidungku.
Aku membalikkan tubuh untuk kesekian kali.
Gadis itu ketakutan. Bukan menggoda. Bukan mencari perhatian.
Namun ingatan tentang tubuhnya yang nyaris jatuh ke pelukanku membuat rahangku mengeras lagi.
"Tidak masuk akal," gumamku kepada kamar kosong.
Aku mencoba mengingat wajahnya sebelum jatuh. Bukan wajah perempuan yang sedang mengatur siasat, melainkan wajah seseorang yang siap dihukum karena sekadar berada di tempat yang salah. Pergelangan tangannya juga terlalu ringan. Piring dengan sisa tahu di dekat jemuran kembali terbayang.
Mengapa dia sengaja membuat dirinya lapar?
Pertanyaan itu seharusnya tidak menjadi urusanku. Ada proyek di Sidoarjo yang harus kutinjau pagi nanti, dua kontrak menunggu tanda tangan, dan Bapak sudah mengingatkan rapat direksi pukul delapan. Aku biasanya mampu menutup semua gangguan begitu pintu kamar tertutup.
Malam ini, untuk pertama kalinya, pikiranku menolak diperintah.
Aku menarik selimut sampai dada, lalu membuangnya beberapa detik kemudian. Di luar, bunyi jepitan pakaian beradu ditiup angin. Aku menoleh ke jendela, sadar bahwa Sekar mungkin kembali bekerja meski sudah kuperintah masuk.
Keesokan pagi kami akan bertemu lagi. Dia akan berdiri di dekat meja makan, sedangkan aku akan duduk sebagai putra keluarga yang menggajinya.
Jarak itu seharusnya cukup lebar untuk membuat malam ini tidak berarti apa-apa.
Namun menjelang azan Subuh, aku masih belum berhasil memejamkan mata.