Jingga Arletha Alinka punya segalanya—kecerdasan, karier gemilang, dan kehidupan glamor sebagai pewaris perusahaan besar. Sayangnya, satu hal yang tidak pernah masuk dalam daftar pencapaiannya adalah: pacar. Bukan karena tak ada yang mendekat, tapi karena ia terlalu sibuk dengan tumpukan pekerjaan dan target perusahaan.
Sampai akhirnya, orang tuanya melemparkan sebuah “kejutan”: perjodohan dengan Levin Artama Putra. Levin adalah pengusaha muda sukses, anak tunggal yang super manja dan Possessive. Tampan? Tentu saja. Menyebalkan? Jelas.
Pertanyaannya, bagaimana mungkin seorang wanita tegas seperti Jingga bisa cocok dengan pria yang bahkan tidak percaya pada cinta? Atau jangan-jangan, justru pertemuan konyol inilah yang akan mengubah hidup mereka berdua selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biqy fitri S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arin & Roy
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam ketika sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan rumah Arin. Dari balik jendela, Arin sudah mengintip sejak lima menit lalu, deg-degan setengah mati.
“Ya Tuhan… dia beneran jemput. Aduh, bajuku oke nggak ya? Jangan terlalu menor. Tapi jangan kayak anak SMP juga. Duh, kenapa aku jadi heboh sendiri?!” Arin mondar-mandir sebelum akhirnya memberanikan diri keluar.
Roy turun dari mobil, membukakan pintu untuknya. Dengan wajah cool seperti biasa, ia hanya berkata singkat, “Kamu cantik.”
Arin langsung terdiam.
“Eh? A-aku… makasih. Kamu juga… eh… maksudnya, kamu ganteng…” ucapnya belepotan, membuat Roy tersenyum samar.
Perjalanan menuju bioskop dipenuhi hening yang aneh. Arin sibuk memainkan ponselnya, padahal tidak ada notifikasi masuk.
Roy sesekali meliriknya, lalu berkata datar, “Kamu grogi ya?”
Arin terlonjak
“Siapa bilang? Aku biasa aja kok!”
Namun telinganya merah padam.
Sesampainya di bioskop, Arin dengan semangat memilih film romantis. Tapi begitu masuk, ternyata bioskop lumayan penuh, dan kursi mereka berada di pojok.
“Ya ampun… kursinya sempit banget,” gumam Arin, berusaha duduk dengan tenang. Namun sikunya justru menyenggol lengan Roy berkali-kali.
“Maaf, maaf… sumpah bukan sengaja.”
Roy menoleh pelan.
“Santai saja. Aku nggak keberatan.”
Arin makin salah tingkah. Matanya fokus ke layar, tapi otaknya sibuk mendengar detak jantungnya sendiri yang berdentum keras.
Di tengah film, ada adegan romantis yang bikin penonton cewek-cewek heboh. Arin spontan berbisik,
“Duh, kalau kayak gitu kan romantis banget ya…”
Roy meliriknya sekilas.
“Mau aku juga begitu?” katanya singkat, dengan ekspresi datar tapi jelas-jelas sedang menggoda.
Arin langsung tersedak popcorn.
“Haah?! Nggak usah… maksudnya… ya ampun Roy!”
Roy menahan tawa kecil, lalu kembali menatap layar. Tapi entah kenapa, sejak saat itu Arin jadi semakin salah tingkah sampai film selesai.
Keluar dari bioskop, Arin menghela napas lega.
“Akhirnya selesai juga. Aku kira aku bakal mati kaku di dalam.”
Roy menyelipkan kedua tangannya di saku. “Kenapa? Karena duduk di samping aku?”
Arin menoleh cepat, lalu menutupi wajahnya dengan tangan.
“Ya ampun, kamu tuh!”
Roy hanya tersenyum tipis.
“Aku senang, Arin. Makasih sudah ngajak aku nonton.”
Arin terdiam, lalu tersenyum malu.
“Aku juga… senang banget.”
Malam itu, meski sederhana, menjadi awal yang manis untuk kisah baru mereka.
Setelah film selesai, Roy melirik Arin yang masih tampak salah tingkah.
“Mau langsung pulang atau… makan dulu?” tanyanya sambil menyelipkan tangan ke saku celana.
Arin langsung menoleh.
“Makan boleh! Hmm… aku lagi pengen banget makanan Chinese.”
Roy mengangguk singkat.
“Oke. Aku tahu tempatnya. Yuk.”
Tak lama, mereka sudah duduk di sebuah restoran Chinese dengan lampion merah menggantung indah. Aroma masakan membuat Arin langsung semangat.
“Wah, suasananya cozy banget ya,” ujar Arin sambil membuka buku menu.
Roy hanya tersenyum tipis.
“Katanya kamu suka makanan Chinese, jadi aku pilih yang paling enak.”
Arin menatapnya sejenak, lalu tertawa kecil.
“Aku baru tahu, ternyata Roy perhatian juga ya. Kukira kamu orangnya cuma… singkat-singkat doang kalau bicara.”
Roy menoleh, matanya serius tapi hangat.
“Kalau sama kamu, entah kenapa aku jadi banyak kata.”
Arin langsung menutup wajahnya dengan menu.
“Astaga… Roy, jangan ngomong gitu dong. Aku bisa meleleh, tahu!”
Mereka pun memesan beberapa hidangan. Sepanjang makan, Arin banyak bercerita tentang dirinya—tentang masa kecilnya bersama Jingga dan Mozza, tentang pekerjaannya, bahkan kisah konyol ketika ia salah kirim pesan ke bosnya. Roy mendengarkan dengan penuh perhatian, bahkan sesekali tertawa.
“Eh… kamu ketawa?” Arin menatapnya tak percaya.
“Ya ampun, Roy! Baru kali ini aku lihat kamu ketawa lepas kayak gitu.”
Roy berdehem cepat, sedikit canggung.
“Memangnya kenapa kalau aku ketawa?”
Arin menyandarkan dagunya di tangan, menatapnya serius.
“Aku suka. Aku suka Roy yang ini—yang jadi dirinya sendiri di depanku.”
Roy terdiam sebentar. Ada kilatan hangat di matanya sebelum ia kembali menunduk, pura-pura fokus dengan makanannya. Namun senyum kecil tetap tertinggal di bibirnya.
Setelah selesai makan, mereka berjalan santai menyusuri mall. Arin tiba-tiba berhenti di depan sebuah foto box.
“Ayo! Kita foto di sini!” seru Arin sambil menarik lengan Roy.
Roy mengerutkan kening.
“Foto box? Itu kan buat anak sekolah…”
“Tapi seru! Ayo sekali aja, pleaseee.”
Arin merengek sambil menariknya masuk.
Akhirnya mereka duduk berdempetan di bilik foto box. Arin memasang berbagai gaya konyol: lidah menjulur, tangan membentuk hati, bahkan gaya peace menutupi wajah Roy. Roy awalnya kaku, tapi lama-lama ikut tersenyum, bahkan tertawa saat Arin salah timing pose.
Klik! Klik! Klik! Foto-foto tercetak dengan wajah mereka yang penuh ekspresi kocak.
Arin menatap lembaran foto itu dengan mata berbinar.
“Ya ampun… priceless banget ini. Dan—hei! Kamu ketawa lagi!”
Roy tersenyum, lebih lepas kali ini.
“Entahlah, bersamamu ari menjadi berbeda”
Arin menahan napas sesaat, lalu tersenyum manis.
“Kalau gitu, jangan berubah ya. Aku suka Roy yang ini, Roy yang menunjukan ekspresinya. Aku mau kamu selalu tersenyum ketika bareng aku .”
Roy tak menjawab, hanya menatap Arin lebih lama dari biasanya, lalu tersenyum lagi. Ada sesuatu yang berbeda dalam hatinya malam itu—sesuatu yang ia tahu tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Setelah keluar dari mall, Roy mengantar Arin pulang. Mobil melaju pelan menembus suasana malam yang tenang. Sepanjang perjalanan, mereka tak banyak bicara—hanya ditemani musik lembut dari radio. Tapi keheningan itu tidak canggung, justru terasa nyaman.
Sampai akhirnya mobil berhenti di depan rumah Arin.
“Sudah sampai,” kata Roy pelan.
Arin menoleh, tersenyum cerah.
“Makasih ya, Roy. Hari ini… bener-bener menyenangkan banget. Filmnya oke, makanannya enak, dan—” ia mengangkat lembaran foto box dengan girang, “ini yang paling epic!”
Roy melirik foto itu sebentar, lalu tersenyum tipis. “Senang kalau kamu bahagia.”
Arin menunduk, hatinya berdebar. Lalu dengan keberanian kecil, ia berkata lirih,
“Aku nggak nyangka… ternyata kamu bisa bikin aku nyaman kayak gini.”
Roy menatapnya serius, ada sesuatu di sorot matanya.
“Arin… kamu juga bikin aku merasa… berbeda.”
Hening sejenak. Angin malam berhembus pelan. Arin merasakan pipinya panas, ia buru-buru membuka pintu mobil.
“Oke deh, aku masuk dulu. Makasih sekali lagi, Roy.”
Saat ia hendak keluar, Roy tiba-tiba menahan sebentar dengan suaranya yang tenang.
“Arin…”
Arin menoleh, jantungnya serasa berhenti sepersekian detik.
Roy menundukkan sedikit wajahnya, suaranya dalam tapi tulus.
“Kalau kamu nggak keberatan… aku ingin mengenalmu lebih jauh. Lebih dekat.”
Arin membeku di tempatnya, lalu perlahan tersenyum dengan wajah yang memerah.
“Aku juga… nggak keberatan.”
Roy menahan senyumnya, lalu berdehem canggung. “Selamat malam, Arin.”
“Selamat malam, Roy.”
Arin pun masuk ke rumahnya dengan langkah ringan, sementara Roy masih duduk di mobilnya, menatap setir dengan senyum samar yang tak bisa ia hilangkan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, hatinya benar-benar dibuat bergetar oleh seseorang.
---
Begitu pintu kamar tertutup, Arin langsung menjatuhkan diri ke atas ranjang. Ia menutup wajah dengan bantal, lalu menjerit kecil.
“AAAAAAAAAAA!!”
Ia bangkit lagi, mengambil lembaran foto box dari tasnya. Melihat pose konyol mereka—Arin yang menjulurkan lidah, Roy yang tetap cool tapi akhirnya ikut tersenyum—membuatnya kembali terguling di ranjang.
“Gila… gila… gila… dia beneran senyum, bahkan ketawa. Roy yang super dingin itu bisa ketawa gara-gara aku!”
Arin memeluk foto itu erat-erat, wajahnya merona.
Ponselnya bergetar. Notifikasi masuk. Deg-degan, ia langsung meraih ponsel.
Dari Roy.
“Sudah sampai kamar?”
Arin buru-buru mengetik jawaban.
“Udah. Kamu juga hati-hati ya pulangnya.”
Tak lama, balasan datang lagi.
“Baik. Tidurlah yang nyenyak. Terima kasih untuk malam ini.”
Arin menggigit bibir, senyum bodoh tak bisa ia sembunyikan.
“Roy… bisa nggak sih kamu jangan bikin aku klepek-klepek gini?” gumamnya lirih.
Ia menaruh ponsel di dada, menatap langit-langit kamar. Malam itu, Arin tertidur sambil memeluk foto box mereka, senyumnya tak pernah lepas bahkan sampai matanya terpejam.