Gibran Dirgantara, seorang pemuda desa yang berniat mengadu nasib di ibu kota, harus menelan kenyataan pahit saat dicampakkan dan dihina habis-habisan oleh mantan pacarnya, Siska, bersama kekasih konglomeratnya yang arogan. Namun, saat harga dirinya diinjak-injak di tengah kerasnya persaingan pusat pelelangan batu giok, Gibran secara ajaib membangkitkan entitas misterius bernama "Sistem Mata Sakti Raja Giok" yang menyatu langsung dengan saraf penglihatannya. Berbekal mata dewa yang kini mampu menembus lapisan batu kotor untuk melihat energi murni di dalamnya, Gibran memulai jalan balas dendam yang elegan untuk meremukkan kesombongan mereka yang meremehkannya, memborong batu-batu bernilai triliunan dari tumpukan sampah, dan merangsek naik menjadi master giok nomor satu yang paling ditakuti di dunia modern.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Aura orang kaya, jas sutra mahal, jam tangan seratus juta, dan gaya rambut rapi itu membuat Rio sama sekali tidak mengenali bahwa pria di depannya adalah mantan pacar miskin Siska.
Rio mengira pria tampan ini adalah seorang tuan muda dari ibu kota provinsi atau anak konglomerat luar kota.
"Maaf Tuan, tapi saya dan Master saya yang menemukan batu kuning ini lebih dulu," ucap Rio mencoba bersikap sopan namun menekan.
"Saya Rio Mahendra dari Keluarga Mahendra. Bolehkah saya tahu dengan Tuan Muda siapa saya berbicara?" tanya Rio menjulurkan tangannya.
Gibran tidak membalas jabatan tangan itu. Ia hanya menatap mata Rio dengan pandangan merendahkan dari atas ke bawah.
"Namaku tidak penting untukmu. Di pasar pelelangan, siapa yang menawar paling tinggi, dialah yang berhak membawa pulang barangnya," jawab Gibran dingin.
Penolakan jabatan tangan itu membuat wajah Rio sedikit memerah menahan malu, namun ia tidak berani marah.
"Bos, aku berani menawar satu koma dua miliar untuk batu kuning itu!" teriak Rio lantang tidak mau kalah dari Gibran.
Para pengunjung VIP mulai berkerumun membentuk lingkaran melihat adu harga yang panas antara dua pria kaya tersebut.
Master Wong menepuk bahu Rio dan membisikkan sesuatu ke telinganya.
"Jangan mau mengalah Tuan Muda. Batu kuning itu nilainya pasti tembus lima miliar, tawar terus sampai dapat!" hasut pria tua bangka itu.
Gibran mengelus dagunya berpura-pura sedang berpikir keras dan menimbang-nimbang nilai batu tersebut.
"Batu ini memang sangat menggiurkan. Bos, aku pasang harga satu setengah miliar secara tunai," ucap Gibran menaikkan harga tanpa berkedip.
Napas Rio mulai memburu. Dana yang diberikan ayahnya hanya bersisa dua miliar rupiah di dalam rekening.
Jika ia gagal membawa pulang giok berharga hari ini, ayahnya pasti akan mengusirnya dari rumah malam ini juga.
"Dua miliar! Aku bayar dua miliar secara penuh sekarang juga! Kau tidak akan bisa melampaui harga itu, Tuan!" teriak Rio dengan wajah memerah penuh keringat.
Gibran menatap Rio dalam-dalam selama lima detik. Suasana di dalam ruangan lelang VIP itu menjadi sangat sunyi dan tegang.
Tiba-tiba, Gibran mengangkat kedua tangannya ke udara sambil tersenyum sangat lebar dan ramah.
"Dua miliar untuk batu itu? Tuan Muda Rio benar-benar sangat kaya dan pemberani."
"Aku menyerah. Silakan bawa batu kuning itu, sepertinya Anda lebih membutuhkannya daripada saya," ucap Gibran sambil melangkah mundur memberikan jalan.
Rio langsung membusungkan dadanya dengan sangat sombong. Ia merasa baru saja memenangkan pertarungan gengsi kelas atas.
"Hmph, kau memang harus tahu batasanmu saat berhadapan dengan Keluarga Mahendra di kota ini," sombong Rio sambil menggesek kartu debitnya ke mesin kasir bos pameran.
Tring.
Transaksi dua miliar rupiah berhasil diselesaikan, membuat bos meja pameran itu tersenyum lebar hingga matanya menyipit hilang.
"Luar biasa! Apakah Tuan Rio ingin memotong batunya sekarang juga di mesin VIP kami?" tawar bos pameran itu antusias.
"Tentu saja! Potong tepat di tengah agar semua orang di ruangan ini bisa melihat giok kuning madu milikku!" perintah Rio dengan angkuh.
Saat semua orang sedang fokus pada batu kuning raksasa itu, Gibran menunjuk santai ke arah batu hitam kecil bersisik lumut di sudut meja.
"Bos, mumpung aku masih ada di sini, aku beli batu hitam jelek itu seharga lima puluh juta," ucap Gibran santai.
Bos pameran yang sedang bahagia karena untung dua miliar itu bahkan tidak repot-repot menawar lagi.
"Ambil saja Tuan! Lima puluh juta untuk batu sisik lumut itu, anggap saja sebagai pelipur lara karena Anda kalah lelang hari ini!" kekeh bos pameran itu mengejek tipis.
Gibran memberikan kartu hitam VIP-nya, membayar lima puluh juta, dan mengambil batu itu dengan santai.
Di saat yang sama, dua petugas mulai mengangkat batu kuning raksasa milik Rio ke atas mesin pemotong berlian yang sangat besar.
Ngiiiiing!
Mesin dinyalakan. Pisau berlian berputar dengan kecepatan sangat tinggi membelah udara ruangan ber-AC tersebut.
Bzzzt! Crak! Crak!
Debu batu beterbangan dengan lebat saat pisau itu membelah batu raksasa tersebut perlahan-lahan dari bagian tengah.
Rio dan Master Wong berdiri paling depan dengan senyum lebar yang nyaris merobek bibir mereka.
Brak!
Batu raksasa itu akhirnya terbelah menjadi dua bagian dan jatuh menghantam alas karet meja mesin potong.
Seorang petugas menyiramkan seember air bersih ke atas permukaan belahan batu tersebut.
Byur.
Suasana ruangan VIP yang tadinya riuh mendadak berubah menjadi sunyi senyap seperti di dalam area pemakaman.
Tidak ada cahaya kuning madu. Tidak ada kilauan giok. Tidak ada energi apa pun yang memancar.
Di balik kulit batu yang diwarnai itu, hanya ada tumpukan pasir keras berwarna abu-abu kusam bercampur adukan semen murahan.
"A-apa ini... Kosong? Kenapa isinya cuma pasir batu kapur?!" teriak Master Wong histeris dengan wajah sepucat mayat.
Mata Rio melotot sempurna hingga nyaris melompat keluar dari rongganya. Kakinya langsung kehilangan tenaga seketika.
Bruk!
Rio jatuh berlutut di lantai VIP dengan napas tersengal-sengal dan dada yang terasa mau meledak.
"Dua miliar... Uang dua miliar milik ayahku lenyap menjadi abu dalam sepuluh detik?" gumam Rio dengan tatapan kosong seperti orang gila.
Para pengunjung VIP mulai berbisik-bisik dan menertawakan kebodohan Rio secara terang-terangan.
"Tuan Muda yang malang. Dia ditipu mentah-mentah membeli batu semen palsu seharga dua miliar," bisik seorang pria berjas rapi.
Gibran terkekeh pelan. Ia berjalan mendekati meja mesin potong dan meletakkan batu hitam kecilnya di sana.
"Petugas, tolong kupas batu kecilku ini dengan hati-hati dari sisi kirinya," perintah Gibran dengan santai.
Petugas yang masih syok melihat batu palsu Rio itu mengangguk kaku dan mulai menyalakan mesin potong kecil.
Bzzzt. Crak.
Hanya butuh tiga detik untuk mengupas kulit luar batu hitam tersebut.
Byur.
Begitu air disiramkan, sebuah pendaran cahaya merah darah yang sangat pekat dan membara langsung meledak memenuhi sudut ruangan VIP.
"Giok Darah Merah! Ya Tuhan, warnanya sepekat darah naga!" teriak pengunjung VIP yang berdiri paling depan.
"Ukurannya sekepalan tangan dan kejernihannya sempurna! Ini nilainya pasti di atas dua miliar rupiah!" sahut pakar lain dengan heboh.
Rio yang sedang berlutut lemas di lantai perlahan mendongakkan kepalanya.
Ia menatap cahaya merah darah itu dengan perasaan hancur yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Pria yang baru saja mengalah dalam lelang melawannya ternyata mendapatkan harta karun dua miliar hanya dengan modal lima puluh juta.
Gibran mengambil Giok Darah Merah itu, memasukkannya ke dalam saku, lalu berjalan pelan menghampiri Rio yang masih berlutut di lantai.
Gibran berjongkok di depan wajah Rio. Ia mencondongkan tubuhnya dan tersenyum sangat dingin ke arah mata pria yang sedang hancur itu.
"Bagaimana rasanya tertipu dua kali dalam sehari, Tuan Muda Rio?" bisik Gibran dengan nada suaranya yang asli dan belum dibuat-buat.
Mendengar nada suara dan logat bicara khas itu, mata Rio perlahan melebar memancarkan kengerian yang absolut.
Rio menatap lekat-lekat lekuk wajah pria tampan di depannya ini menembus tatanan rambut mahalnya.
"K-kau... Suara itu... Gibran?!" teriak Rio histeris dengan suara melengking serak.
Gibran menepuk pelan pipi Rio dengan tangan kanannya dua kali dengan gerakan sangat merendahkan.
Plak plak.
"Terima kasih atas sumbangan dua miliarnya hari ini. Ayahmu pasti akan sangat bangga padamu malam ini," ucap Gibran sambil berdiri dan berbalik pergi.
Rio mengulurkan tangannya mencoba menggapai kaki Gibran, namun dadanya terasa sesak yang luar biasa.
Rasa malu, syok, dan kerugian miliaran rupiah menghantam mental dan fisiknya secara bersamaan dengan telak.
Uhuk!
Rio memuntahkan seteguk darah segar ke atas lantai keramik VIP, lalu matanya berputar ke atas dan ia jatuh pingsan tak sadarkan diri di tengah kerumunan.
Gibran melangkah keluar dari ruangan VIP tanpa menoleh ke belakang sedikit pun. Puncak dari dendam pertamanya hari ini telah tuntas dengan sangat elegan.