Tidak semua cinta pertama berakhir dengan kebahagiaan. Bagi aruna, gadis yatim piatu yang hidup dari beasiswa dan kerja keras, jatuh cinta pada siswa paling populer di sekolah adalahawal dari mimpi buruk yang selama ini tak ingin dia miliki..dia bahagia, namun kebahagaan itu ternyata di bangun diatas sebuah taruhan konyol para anak orang kaya itu. Saat kebenaran terungkap, aruna kehilangan lebih dari sekedar cinta..penghianatan, perundungan, dan kehilangan yang tak tergantikan menghancurkan hidupnya hingga dia memilih menghilang dari masa lalu. Bertahun-tahun kemudia, takdir mempertemukan mereka kembali. Kini, pria yang dulu menghancurkan dunianya telah menjadi seorang pria yang rela melakukan apapun untuk mendapatkan kesempatan kedua. Sayangnya, tidak semua luka dapat di sembuhkan dengan kata maaf… Penasaran?…yuk kepoin ceritanya….
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon simnuna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
“Dia gadis waktu itu..”batin liam saat telah mengingat wajah aruna yang tadi siang baru di bully oleh olla.
Setelah selesai aruna langsung memberikan belanjaan mereka tanpa berkata apa-apa lagi.
_____________
Pagi ini, Suara deru mesin mobil sport bergema di halaman Cortner International Schoo seperti biasa, sekolah paling bergengsi sekaligus paling mahal di negara itu..Satu per satu mobil mewah memasuki area parkir VIP yang hanya diperuntukkan bagi keluarga pemilik yayasan dan para donatur utama sekolah.
Sedangkan di sisi aruna masih seperti biasa, dia menuntun kereta tuanya menuju sudut terpencil parkiran sekolah..dan lagi-lagi kehadiran gadis itu dihiasi dengan bisik-bisik kecil penuh hinaan..dan lagi-lagi aruna hanya bisa menulikan telingan berpura-pura tak mendengar semua ejekan itu.
Namun perhatian seluruh siswa langsung tertuju pada sebuah Rolls-Royce Phantom hitam yang baru saja memasuki halaman sekolah..mobil itu berjalan dengan mulus keparkiran khusus yang seolah memang di ciptakan untuknya..mobil itu terparkir gagah disana seolah menjadi pemeran utamanya.
Pintu mobil itu mulai terbuka..bak slomotion, Seorang pria tampan bertubuh tinggi sekitar seratus delapan puluh lima sentimeter turun dari sana dengan langkah tenang..sikap tenangnya sangat tak kontras dengan kehebohan para siswi karna kedatanganya.
Rambut hitam legamnya tertata rapi dengan potongan two-block..Kulitnya putih bersih, hidungnya mancung, rahangnya tegas, serta sepasang mata abu-abu kebiruan yang menjadi ciri khas darah blasteran yang mengalir dalam dirinya..Alisnya tebal, bibirnya tipis, dan tubuh atletis hasil latihan basket bertahun-tahun membuat seragam sekolah tampak begitu pas membungkus tubuhnya.
Ketampanannya nyaris sempurna..Begitu sempurna hingga sering kali membuat orang lupa bernapas saat menatapnya.
Sayangnya...Tak ada senyum di wajah pria itu..Ekspresinya selalu datar, dingin dan sulit ditebak..Tak ada yang pernah melihatnya berbicara lebih dari seperlunya kepada orang lain kecuali para sahabatnya.
Dialah...
Liam Alexander Cortner
Putra tunggal keluarga Cortner..Keluarga konglomerat terkaya di negara itu..Pemilik puluhan perusahaan multinasional..Sekaligus pemilik yayasan pendidikan Cortner International School..Secara tidak langsung, Sekolah itu adalah milik nya yang dikemudian hari akan diwariskan padanya..Tak heran jika semua guru maupun siswa mengenalnya dengan sangat baik.
“Liam datang!..”
“Astaga... ganteng banget..”
“Dia lihat ke arah sini enggak?..”
“Gue rela nilai matematika gue nol asal Liam mau senyum sekali saja..”
“Jangan mimpi..Dia bahkan enggak pernah melirik perempuan..”
Bisikan-bisikan para siswi terdengar hampir setiap pagi..Bahkan beberapa siswi diam-diam mengangkat ponsel mereka hanya untuk mengambil foto Liam dari kejauhan..Fenomena itu sudah menjadi pemandangan biasa..Bukan hanya di sekolah, Nama Liam Alexander Cortner telah beberapa kali muncul di majalah remaja, media sosial, hingga berbagai acara amal keluarga Cortner..tak sedikit gadis di seluruh negeri yang menjadikannya tipe pria idaman..Namun sayangnya, Tak seorang pun berhasil menaklukkan hati pria itu.
Liam melewati kerumunan tanpa sedikit pun memedulikan tatapan kagum yang mengikutinya..Wajahnya tetap dingin, Tatapannya lurus ke depan, Seolah tak ada seorang pun yang cukup menarik untuk mendapat perhatiannya.
Sedangkan di sisi aruna hanya mengabaikan kehebohan itu..hidupnya terlalu sibuk untuk menonton kehebohan yang tak berarti itu..dia langsung berjalan ke kelasnya tampa tertarik sedikitpun.
.
.
“Liam!..”
Sebuah suara memanggil dari lapangan basket..empat pria dengan visual yang sama-sama mencolok melangkah menghampirinya..Mereka adalah sahabat Liam sejak kecil..Empat orang yang berasal dari keluarga konglomerat papan atas dan memiliki pengaruh besar di berbagai bidang.
Nathan Wijaya, pewaris kerajaan properti terbesar di negara itu..Berwajah oriental dengan senyum jahil yang tak pernah lepas dari bibirnya.
Aiden Hartono, putra keluarga pemilik jaringan rumah sakit terbesar..Berkulit sawo matang, bertubuh tegap, dan terkenal sebagai playboy nomor satu di sekolah.
Ethan Sebastian, anak pengusaha teknologi dan pertambangan ternama..Berambut cokelat gelap, berkacamata tipis, tenang, dan dikenal sebagai siswa paling cerdas setelah Liam.
Dan yang terakhir…Kai Adrian, pewaris bisnis otomotif dan pembalap muda nasional yang selalu tampil santai dengan senyum usilnya.
Jika Liam dijuluki Most Wanted Boy Number One, maka keempat sahabatnya berada tepat di bawahnya..Kemanapun mereka pergi selalu menjadi pusat perhatian.
“Liam, latihan basket sore ini jangan telat..”Nathan menepuk bahu sahabatnya..Liam hanya mengangguk singkat.
"Rapat OSIS jam sepuluh juga jangan lupa," sambung Ethan.
“Udah ada di jadwal gue..”Jawaban Liam selalu pendek, tak lebih dari beberapa kata.
“Astaga...dingin banget sih hidup lu..”Kai menggeleng pelan.
“Gimana enggak dingin? Bahkan kulkas di rumah gue kalah sama dia..”timpal Aiden yang langsung membuat ketiganya tertawa.
Hanya Liam yang tetap memasang wajah datar..ekspresinya nyaris tak berubah sedikit pun..keempat sahabatnya sudah terbiasa..mereka tahu, Liam memang seperti itu sejak kecil..sulit tersenyum, sulit marah dan sulit menunjukkan perasaan..namun justru sikap dingin itulah yang membuat semakin banyak perempuan penasaran dan tergila-gila padanya.
“Cabut..”ucap lian singkat.
Lima pria itu akhirnya pergi dari sana menuju kelas mereka saat mendengar bel masuk sudah berbunyi.
.
.
.
TO BE CONTINUE……