6 mahasiswa KKN datang ke desa terpencil untuk pengabdian. Di gapura desa, mereka disambut warga yang ramah. Tapi aneh, semua rumahnya lapuk, tidak ada listrik, dan kuburan ada di setiap halaman rumah. Maya, yang indigo, berbisik, "Sel, kaki mereka nggak napak tanah..." Malam pertama, Riko iseng memotret gapura desa. Saat foto dilihat, yang berdiri di foto bukanlah 6 mahasiswa... tapi 6 pocong dengan wajah mereka sendiri! Ternyata desa itu sudah mati 20 tahun lalu karena wabah. Dan setiap 20 tahun, mereka butuh 6 tumbal baru untuk menggantikan mereka. Dan tahun ini... giliran kami. Jangan pernah KKN di desa ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Melda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19. KAMPUS GHOIB
Aku tidak tahu bagaimana caranya aku bisa keluar dari Desa Penenun itu.
Yang aku ingat, aku lari. Aku lari sekencang-kencangnya dari rumah Mbok Darmi yang terbakar. Aku memeluk kain kafan itu erat-erat di dadaku. Kain yang ada 5 nama teman-temanku dan 1 nama MAYA yang baru ditulis pakai darah.
Di belakangku, suara jeritan Maya yang bukan Maya dan Pak Lurah Karjo yang gosong itu semakin jauh. Suara alat tenun KRETEK KRETEK itu juga hilang ditelan hutan larangan.
Aku lari terus sampai kakiku berdarah, sampai napasku habis. Aku tidak berani menoleh ke belakang.
Tiba-tiba, aku melihat jalan aspal.
Jalan aspal!
Aku sudah di jalan raya. Jalan yang dua minggu lalu kami lewati dengan motor untuk menuju Desa Penenun. Jalan yang kata warga sudah tidak ada.
Aku jatuh terduduk di tengah jalan aspal itu dan menangis. Aku selamat. Aku benar-benar selamat.
Tinggal aku yang tersisa.
Aku lihat ke belakang. Hutan larangan itu sudah tidak ada. Yang ada hanya kebun sawit kosong yang luas. Tidak ada Desa Penenun. Tidak ada balai desa tanpa bayangan. Tidak ada sumur. Semua hilang seperti tidak pernah ada.
Aku berdiri dengan kaki gemetar. Aku harus pulang. Aku harus pulang ke kampus. Aku harus lapor ke dosen pembimbing KKN kalau teman-temanku... teman-temanku semua hilang.
Aku berjalan kaki di jalan aspal itu hampir 2 jam sampai akhirnya aku menemukan ojek pangkalan.
"Bang, ke kampus Universitas Mawar bang," kataku dengan suara serak.
Tukang ojek itu melihatku aneh. Bajuku robek, penuh lumpur dan darah. "Mbak habis dari mana? Kok berantakan begini?"
Aku tidak menjawab. Aku hanya naik.
Sepanjang perjalanan, aku memeluk kain kafan itu. Aku tidak berani membuka lipatannya lagi.
Sampai di gerbang kampus, aku turun. Aku bayar ojek itu dengan uang lecek yang masih ada di saku celanaku.
Gerbang kampusku. Universitas Mawar. Tempat aku kuliah selama 3 tahun. Tempat yang paling aman di dunia.
Tapi ada yang aneh.
Kampus sepi sekali. Padahal ini hari Selasa jam 10 pagi. Biasanya jam segini ramai mahasiswa berlalu-lalang, ada yang jualan, ada UKM yang latihan.
Ini kosong. Sepi total. Gerbangnya terbuka, tapi tidak ada satpam.
"Selvi?"
Aku menoleh. Ada yang memanggil namaku.
Itu SINTA. Teman KKN ku. Dia berdiri di dekat parkiran, melambaikan tangan ke arahku. Pakai baju yang sama saat dia ditarik ke dalam balai desa di BAB 8.
"SINTA!" Aku teriak dan lari ke arahnya sambil menangis. "Sinta! Kamu selamat? Kamu gimana bisa di sini?"
Aku memeluknya. Tubuhnya dingin. Dingin sekali seperti es.
Sinta tidak memelukku balik. Dia hanya diam.
Aku melepaskan pelukan. Wajah Sinta pucat. Matanya hitam. Dia tersenyum.
"Selvi, kamu lama banget. Kami nungguin kamu di sini. Ayo masuk, kelas mau mulai."
Aku mundur. Jantungku berdegup kencang.
"Sinta... kamu..."
"Selvi!"
Aku menoleh lagi. Dari arah gedung rektorat, RIKO, BIMA, dan FARHAN berjalan ke arahku. Lengkap. Berempat. Mereka melambaikan tangan. Wajah mereka pucat semua.
"Vi, ayo cepet, dosen udah nungguin laporan KKN kita," kata Riko.
Tidak. Ini tidak mungkin. Mereka sudah mati. Mereka sudah jadi tumbal sumur. Aku lihat sendiri mereka ditarik.
Aku mundur lagi sampai punggungku menabrak dinding.
Ini bukan kampusku. Ini kampus ghoib.
Aku lihat ke sekeliling. Gedung kampusku yang biasanya berwarna putih bersih, kini warnanya abu-abu kusam. Jendela-jendelanya hitam semua, tidak ada kaca. Dari dalam jendela-jendela itu, aku melihat puluhan mahasiswa lain menatapku. Wajah mereka semua pucat. Semua tanpa bayangan.
Aku ingat balai desa tanpa bayangan. Sama persis.
"Gak... gak mau... kalian bukan teman-temanku! Teman-temanku sudah mati!" teriakku sambil menutup telinga.
Sinta yang ada di depanku tiba-tiba kepalanya miring 90 derajat. Kretek. Tulangnya patah.
"Selvi... kita kan janji KKN bareng sampai tamat... kok kamu pulang sendiri? Gak ajak kami?" suara Sinta berubah jadi suara dari dalam sumur.
Mereka berempat mendekatiku pelan-pelan. Langkahnya diseret-seret.
Aku lihat kain kafan di tanganku bergerak sendiri. Kain itu terbuka. Nama-nama di dalamnya menyala merah.
SINTA
RIKO
BIMA
FARHAN
MAYA
Dan satu nama terakhir yang belum ada... SELVI.
Namanya muncul pelan-pelan, ditulis oleh benang yang keluar dari tanah kampus itu.
Aku harus lari lagi. Aku harus keluar dari kampus ghoib ini.
Aku lari menuju gerbang. Tapi setiap aku lari ke gerbang, aku kembali lagi ke tengah lapangan. Jalan itu muter terus. Sama seperti jalan di Desa Penenun yang kata warga tidak akan pernah bisa keluar.
Aku jatuh terduduk di tengah lapangan kampus. Aku menangis. Aku memeluk lututku.
"Selvi..."
Kali ini suara itu lembut. Bukan suara Sinta atau Maya palsu.
Aku mengangkat kepala.
Di depanku berdiri MAYA. Maya yang asli. Bukan yang matanya hitam. Maya yang wajahnya bersih, pakai almamater kampus, tersenyum ke arahku. Maya yang aku kenal.
"May?" bisikku.
"Vi, kamu harus pergi dari sini. Ini bukan kampus kita. Ini kampus mereka. Mereka bangun kampus ini pakai kain kafan kita," kata Maya. Tubuhnya transparan. "Aku tahan mereka sebentar, kamu lari lewat perpustakaan belakang. Di sana ada pintu keluar. Cepat Vi, sebelum Mbok Darmi datang."
Maya yang asli itu berbalik dan menghadapi Sinta, Riko, Bima, Farhan yang palsu itu. Dia berteriak.
"PERGI! JANGAN GANGGU DIA!"
Sinta dan yang lain menjerit kesakitan saat melihat Maya yang asli.
Aku tidak membuang waktu. Aku lari ke arah perpustakaan belakang. Aku lari sekuat tenaga. Di belakangku, aku dengar Maya berteriak kesakitan.
Aku sampai di perpustakaan. Ada pintu kayu kecil di belakangnya. Pintu yang tidak pernah ada sebelumnya. Aku buka.
Cahaya putih menyilaukan mata.
Aku melompat masuk ke dalam cahaya itu sambil masih memeluk kain kafan berisi nama teman-temanku.
Dan aku pingsan.
Saat aku membuka mata lagi, aku sudah ada di depan gerbang kampus yang asli. Yang ramai. Yang ada satpamnya. Yang ada suara mahasiswa.
Aku selamat lagi. Untuk kedua kalinya.
Tapi di tanganku, kain kafan itu masih ada. Dan namaku, SELVI, sudah tertulis setengah di kain itu.
Tinggal aku yang tersisa. Dan mereka masih menungguku di kampus ghoib itu.
komen dong gais gimana perasaan kalian setelah baca ini🥰❤️
Jawabannya adalah...
Salah satu dari seluruh anggota KKN, "sukma jiwa"nya sudah dibawa...
Aku yang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu belakang, hanya tersenyum saat melihat semua obor-obor itu. Namun, senyumanku terlihat datar oleh seluruh teman-teman KKN ku.
Aku (saya maksudnya, hehehe...) akhirnya berjalan santai menuju ke pintu balai desa yang terkunci. Lalu, kupejamkan kedua mataku. Dan mulai bicara dengan mereka semua yang ada di luar...
🤭🤭🤭
jadi selvi itu bukan tokoh utama? si selpi siapa? kenapa tiba-tiba muncul?
terus, bukannya sinta sama bima udah meninggal di sumur ya?
terus selvi itu KKN 98??😐