NovelToon NovelToon
Setelah Mati, Aku Hidup Kembali Untuk Balas Dendam

Setelah Mati, Aku Hidup Kembali Untuk Balas Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Dia meninggal dalam kesengsaraan, dikhianati oleh suami dan sahabatnya sendiri. Tapi takdir memberinya tiket pulang ke masa lalu. Siren terbangun kembali di tubuh mudanya, lima tahun sebelum tragedi itu menghancurkan hidupnya. Kali ini, dia bukan lagi istri penurut yang naif. Dengan ingatan utuh tentang setiap kebohongan Fadli dan setiap rencana jahat Nia, Siren bersiap memainkan skenario baru. "Kalian pikir aku lemah? Tunggu saja sampai kalian melihat siapa yang sebenarnya memegang kendali." Di kehidupan barunya, Siren tidak hanya fokus menghancurkan karir dan rumah tangga Fadli, tetapi juga membangun imperiumnya sendiri. Di tengah permainan kucing-kucingan yang penuh sarkasme dan ketegangan ini, hadir Arya Wijaya—konglomerat dingin yang di kehidupan sebelumnya ia abaikan. Arya bukan sekadar pelarian. Dia adalah sekutu cerdas yang menyadari perubahan drastis pada Siren. Bersama Arya, Siren mengubah air mata menjadi senjata, dan rasa sakit menjadi bahan bakar untuk bangkit. Siap-siap m

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEHIDUPAN BARU

Pintu apartemenku tertutup dengan suara klik yang pelan, mengunci dunia luar yang bising dan penuh intrik di balik dinding tebal. Aku menyandarkan punggung pada pintu, menghela napas panjang yang terasa seperti melepaskan beban terakhir dari paru-paruku.

Arya berdiri di tengah ruang tamu, tidak menyalakan lampu utama. Hanya cahaya bulan dari jendela besar yang menerangi siluetnya yang tegap. Ia tidak langsung berbicara, memberiku ruang untuk bernapas, untuk memproses apa yang baru saja terjadi di restoran tadi.

"Kamu gemetar," ucapnya akhirnya. Suaranya rendah, memecah keheningan tanpa mengejutkan.

Aku menatap tanganku. Benar, jari-jariku masih bergetar halus. Bukan karena takut pada Fadli. Tapi karena adrenalin yang belum sepenuhnya surut setelah konfrontasi itu.

"Aku baik-baik saja," jawabku, meski suaraku terdengar sedikit serak.

"Hanya... Lelah berpura-pura bahwa kata-katanya tidak menyakitkan sama sekali."

Arya melangkah mendekat, langkahnya sunyi di atas karpet tebal. Ia berhenti tepat di hadapanku, jarak kami hanya selebar napas.

"Kata-katanya memang menyakitkan jika kamu masih peduli," kata Arya lembut.

"Tapi kamu sudah tidak peduli, kan? Itu yang membuat gemetarmu bukan karena luka, tapi karena pelepasan."

Aku mendongak, menatap matanya yang gelap dan dalam di bawah cahaya remang-remang.

"Bagaimana kamu bisa selalu tahu? Seolah kamu bisa membaca isi kepalaku."

"Saya tidak membaca pikiranmu, Siren," jawabnya, mengangkat tangan perlahan untuk menyentuh pipiku. Sentuhan jemarinya dingin namun menenangkan.

"Saya hanya mengamati bahasa tubuhmu. Dan saya mengenalimu lebih baik daripada kamu mengenali dirimu sendiri saat ini."

Jantungku berdegup kencang di bawah sentuhannya.

"kenapa kamu melakukan semua ini, Arya? Sungguh. Jangan beri aku jawaban bisnis. Jangan beri aku alasan strategi. Beri aku alasan manusiawi."

Arya menarik tangannya sedikit, lalu berjalan menuju sofa, duduk dengan posisi santai namun tetap berwibawa. Ia menatapku, mengajakku untuk duduk di sebelahnya.

"Duduklah," perintahnya halus.

Aku menurut, duduk di ujung sofa, menjaga jarak sopan meski hati ingin mendekat.

"Alya..." mulainya, menggunakan nama panggilanku yang jarang ia gunakan.

"Lima tahun lalu, sebelum kita bertemu secara resmi di kasus merger PT Surya, saya melihat laporan investigasi internal tentang keluarga Pratama. Saat itu, nama Anda hanya sekadar catatan kaki. 'Istri korban kekerasan domestik yang diam'."

Aku mengerutkan kening. "Kamu sudah tahu soal pemukulanku sejak lima tahun lalu?"

"Tidak detailnya," koreksi Arya. "Tapi polanya terlihat. Transaksi keuangan aneh, perubahan perilaku Fadli yang tiba-tiba agresif di rapat publik, dan hilangnya aset pribadi Anda secara sistematis. Saya menyimpan data itu. Bukan untuk digunakan saat itu. Tapi karena insting saya berkata: wanita itu akan meledak suatu hari nanti. Dan ketika dia meledak, dia akan membutuhkan sekutu yang kuat."

Aku tertegun. "Jadi... ini semua sudah direncanakan? Kamu menunggu aku hancur dulu baru datang menyelamatkan?"

"Bukan menunggu kehancuran," bantah Arya tegas, matanya menatapku intens. "Tapi menunggu kesiapan. Saya tidak bisa menyelamatkan wanita yang masih percaya pada ilusi cinta palsu. Saya harus menunggu sampai ilusi itu pecah dengan sendirinya, sampai Anda siap menerima kenyataan bahwa Anda layak mendapatkan lebih. Dan malam di lantai kamar mandi itu... itu adalah titik baliknya. Saat Anda memutuskan untuk hidup kembali."

Air mata menggenang di pelupuk mataku. Mendengar bahwa ada seseorang yang memperhatikan penderitaanku bahkan sebelum aku menyadari kekuatan diriku sendiri, rasanya sangat mengharukan.

"Kamu... kamu benar-benar orang yang paling aneh yang pernah kutemui, Arya," bisikku, tawa kecil lolos dari bibirku bercampur isak.

"Dingin di luar, tapi perhitungannya begitu hangat di dalam."

Arya tersenyum tipis, senyum yang jarang ia tunjukkan.

"Dunia bisnis mengajarkan saya untuk menjadi dingin agar tidak terluka. Tapi Anda... Anda mengajarkan saya bahwa kehangatan adalah kekuatan, bukan kelemahan. Saat saya melihat Anda bangkit, saat saya melihat Anda menghadapi Ibu Ratna dan Pak Dedi dengan kepala tegak... saya sadar bahwa saya tidak ingin hanya menjadi pengamat. Saya ingin menjadi bagian dari kebangkitan itu."

Ia mengulurkan tangannya lagi, kali ini menggenggam kedua tanganku yang dingin.

"Siren," ucapnya serius, suaranya berat dan penuh makna.

"Kontrak bisnis kita sudah selesai. Fadli hancur. Nia di penjara. Aset aman. Secara teknis, kemitraan kita bisa dibubarkan besok pagi."

Jantungku seolah berhenti berdetak. "Apakah... apakah kamu ingin membubarkannya?" tanya aku, suara bergetar ketakutan.

Arya menggeleng pelan. "Tidak. Saya ingin memperbaruinya. Dengan syarat yang berbeda."

"Syarat apa?" tanyaku, napasku tertahan.

"Syarat seumur hidup," jawab Arya. Matanya terkunci pada mataku, tidak ada keraguan di sana.

"Bukan sebagai mitra bisnis. Tapi sebagai pasangan hidup. Saya ingin bangun setiap pagi dan melihat wajah Anda. Saya ingin menghadapi badai berikutnya bersama Anda. Bukan karena kewajiban kontrak. Tapi karena keinginan hati."

Dunia di sekelilingku seolah berhenti berputar. Kata-kata itu sederhana, tapi dampaknya luar biasa. Ini bukan lamaran formal dengan cincin berlian. Ini adalah penawaran jiwa.

"Aku..." kataku, suaraku pecah. "Aku takut, Arya. Aku takut berharap terlalu tinggi. Apa jaminannya kamu tidak akan berubah? Apa jaminannya kamu tidak akan bosan?"

"Tidak ada jaminan di dunia ini, Siren," jawab Arya jujur.

"Satu-satunya jaminan adalah komitmen saya untuk terus memilih Anda. Setiap hari. Dalam keadaan senang maupun susah. Dalam keadaan kaya maupun miskin. Dalam keadaan sehat maupun sakit. Itu janji saya. Bukan di atas kertas. Tapi di depan Tuhan dan hati saya sendiri."

Aku menatapnya, mencari kebohongan di matanya. Tapi yang kutemukan hanyalah ketulusan yang murni, bersih, dan tak tergoyahkan. Perlahan, aku mengangguk. Air mata jatuh menetes ke atas tangan kami yang saling bergandengan.

"Aku menerima," bisikku. "Bukan karena aku butuh perlindungan. Tapi karena aku ingin mencintaimu balik. Dengan seluruh sisa hidupku yang baru ini."

Arya menarik aku ke dalam pelukannya. Pelukan yang erat, hangat, dan aman. Aku membenamkan wajah di dadanya, mendengar detak jantungnya yang stabil dan tenang. Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku merasa pulang. Bukan ke rumah fisik. Tapi ke dalam diri seseorang yang menerima aku sepenuhnya.

"Selamat datang di kehidupan baru, Siren," bisik Arya di telingaku.

"Bab selanjutnya akan kita tulis bersama. Tanpa rasa takut. Tanpa masa lalu. Hanya kita."

Di luar, hujan masih turun deras. Tapi di dalam pelukan Arya, badai telah berlalu. Yang tersisa hanyalah kedamaian, cinta, dan janji masa depan yang cerah.

Permainan catur kehidupan mungkin belum sepenuhnya selesai—masih ada musuh-musuh kecil, tantangan bisnis, dan dinamika sosial yang harus dihadapi. Tapi kini, aku tidak lagi bermain sendirian. Aku memiliki raja di sisiku. Dan bersama-sama, kami tak terkalahkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!