Evelyn Noire terbangun di dalam novel thriller psikologis yang pernah ia baca. Bukan sebagai tokoh utama.
Bukan juga pemeran penting. Melainkan anggota keluarga yang ditakdirkan dibantai dengan sadis oleh seorang psikopat tak tersentuh.
Altair Varellion.
Mahasiswa sempurna di mata dunia. Tampan, cerdas, tenang.
Namun di balik senyumnya, tersembunyi monster yang mengendalikan pembunuhan berantai, perdagangan manusia, dan dendam berdarah yang diwariskan turun-temurun.
Dalam novel asli, Evelyn mati mengenaskan. Dan lebih buruknya lagi, Altair tidak pernah gagal memburu targetnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luxw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
...
Suasana restoran kembali tenang setelah obrolan mereka mengenai koper misterius itu. Evelyn akhirnya bisa menikmati makanannya dengan damai. Setidaknya... Sampai seseorang masuk ke dalam restoran.
Bunyi pintu kaca yang terbuka membuat Evelyn refleks menoleh. Awalnya ia tidak terlalu memperhatikan. Namun beberapa detik kemudian...
Sendok di tangannya berhenti bergerak.
"..."
Mata Evelyn berkedip sekali.
Dua kali. Lalu membesar.
"Oh."
Di saat yang sama, Celine yang mengikuti arah pandang sahabatnya juga ikut menoleh.
Dan langsung memahami situasinya.
"Oalah."
Di dekat pintu masuk, Kael baru saja berjalan masuk. Pria itu mengenakan kemeja hitam sederhana dengan lengan yang digulung santai. Seperti biasa, wajahnya tetap tenang dan sulit ditebak.
Namun bukan itu yang membuat Evelyn membeku. Di sampingnya... Ada seorang perempuan. Cantik. Anggun. Dan sangat familiar. Lexa.
Celine langsung menoleh ke Evelyn. Lalu menoleh ke Kael. Lalu kembali menoleh ke Evelyn. Lalu ke Kael lagi. Seperti penonton pertandingan tenis.
"Εν..."
"Apa?"
"Lo gapapa kan?"
Evelyn menghela napas panjang. Panjang sekali. Sampai dadanya naik turun.
"Gapapa." Jawabannya terlalu cepat.
Terlalu datar. Terlalu mencurigakan. Celine menahan senyum. Sedangkan di dalam kepala Evelyn... Sudah terjadi kerusuhan nasional.
Oke.
Oke.
Santai.
Kalem.
Tidak ada yang perlu dipermasalahkan.
Dia cuma jalan sama cewek.
Dia cuma datang ke restoran.
Dia cuma...
...jalan sama cewek.
Mata Evelyn menyipit. Tadi malam siapa yang bikin dirinya salting setengah mati? Siapa yang duduk sambil meluk dirinya di CCTV? Siapa yang membenarkan selimutnya?
Siapa yang membuatnya berguling-guling di kasur pagi tadi karena malu?
Kael. Dan sekarang? Jalan sama perempuan lain. Evelyn menggigit ayam gorengnya.
Krek.
Suara tulang yang patah terdengar cukup jelas. Celine sampai melirik makanannya dengan iba.
"Kasihan ayamnya."
"Diam."
"Evelyn."
"Diam."
"Lo cemburu."
"NGGAK."
Jawabannya terlalu keras. Beberapa pengunjung bahkan sempat menoleh. Evelyn langsung menutup mulutnya sendiri. Celine akhirnya tidak kuat lagi.
Ia tertawa sampai bahunya bergetar. "Astaga, gue kek kenal lo udah bertahun-tahun."
"Terus?"
"Kalau muka lo kayak gitu berarti lo lagi kesel."
"Gue nggak kesel."
"Terus?"
Evelyn menunjuk piringnya.
"Laper."
"Pembohong."
Evelyn mendecih. Ia kembali makan dengan ekspresi seolah makanan itu punya dosa turun-temurun terhadap keluarganya.
Sementara itu, di sisi lain restoran. Kael dan Lexa sudah duduk. Lexa tampak berbicara dengan antusias. Sesekali tersenyum. Bahkan beberapa kali terlihat menyentuh lengan Kael saat bercerita. Sedangkan Kael... Ya seperti biasa.
Wajahnya datar. Namun entah kenapa itu justru membuat Evelyn makin kesal.
"Cih."
Tanpa sadar suara itu lolos dari bibirnya. Celine langsung menangkapnya.
"Cih katanya."
"Refleks."
"Cemburu katanya."
"Refleks."
Celine tertawa lagi.
Kemudian matanya menyipit saat memperhatikan pasangan itu.
"Tapi serius deh."
"Apa?"
"Bukannya itu Lexa?"
Evelyn melirik sekilas.
"Kayaknya."
"Kayaknya?"
"Ya muka dia sama persis waktu gue ketemu pas balikin hoodie Cowok itu."
Celine bersandar di kursinya. Wajahnya menunjukkan kebingungan tingkat tinggi.
"Gue bingung."
"Kenapa?"
"Si Lexa ini."
"Kenapa lagi?"
"Dia deket sama Adrian."
"Iya."
"Sekarang sama Kael."
"Iya."
"Kemarin gue juga lihat dia ngobrol sama beberapa senior lain."
Evelyn mengangkat alis.
"Nah terus?"
"Gue penasaran."
"Penasaran apa?"
"Pelet macam apa yang dia pakai?"
Evelyn hampir tersedak minumannya. "Celine!"
"Apa?"
"Itu jahat."
"Tapi gue serius."
Evelyn menggeleng sambil tertawa kecil. Namun tak lama kemudian tatapannya kembali tanpa sadar mengarah ke meja Kael. Dan tepat saat itu... Lexa tertawa manja sambil sedikit mendekatkan tubuhnya ke arah pria tersebut.
Urat di pelipis Evelyn berkedut.n"Cowok emang sama aja."
"Hah?"
"Gapapa."
"Evelyn."
"Apalagi?"
"Muka lo lagi.' 11
"Gue kenapa sih?"
Celine menyeringai lebar.
"Lo kepanasan."
"Gue enggak."
"Lo iya."
"Enggak."
"Iya."
"Enggak."
"Iya."
Akhirnya Evelyn menghela napas panjang. Lalu menunjuk ke arah sisi restoran yang lain.
"Pindah tempat yuk."
Nah. Itu dia. Kalimat yang ditunggu Celine. Senyumnya langsung melebar.
"Kenapa?"
"Pengen aja."
"Atau..."
"Diam."
"Atau karena meja sana kelihatan jelas dari sini?"
"Celine."
"Atau karena ada Kael?"
"Celine."
"Oke oke."
Celine mengangkat kedua tangan tanda menyerah. Meski begitu senyum jahilnya tidak hilang sedikit pun. Karena jauh di lubuk hatinya... Ia tahu satu hal.
Sahabatnya yang selama ini paling santai soal urusan cinta... Sedang mengalami sesuatu yang sangat berbahaya.
Namanya:
Cemburu tahap awal.
_________________
Pukul menunjukkan pukul dua siang.
Matahari bersinar cukup terik di atas kota, namun suasana di dalam mobil justru terasa jauh lebih dingin. Bukan karena AC. Melainkan karena seseorang sedang ngambek.
Dan seseorang itu bernama Evelyn Adreena Danesha.
Celine yang duduk di balik kemudi melirik sahabatnya sekilas. Evelyn sedang bersandar di kursi penumpang sambil menatap keluar jendela dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
Kalau dibilang marah, tidak juga. Kalau dibilang sedih, juga tidak. Lebih tepatnya... Kesal tanpa alasan yang mau diakui.
Celine menahan senyum. "Lo kenapa sih?"
"Gak kenapa-napa."
"Bohong."
"Gak."
"Boong banget."
Evelyn langsung melirik tajam. "Fokus nyetir."
"Ih galak." Celine terkekeh pelan.
Mobil mereka perlahan meninggalkan area restoran. Di luar, lalu lintas siang hari masih cukup ramai. Kendaraan berlalu lalang, sementara deretan gedung tinggi menjulang di sepanjang jalan.
Beberapa detik berlalu.
Kemudian Celine kembali membuka suara.
"Oke."
"Hm?"
"Kita sekarang mau ke mana?"
Evelyn menjawab tanpa semangat. "Terserah."
"Terserah itu nama tempat?"
"Terserah."
"Alamatnya?"
"Terserah."
Celine menghela napas panjang."Ya Tuhan, korban patah hati memang susah diajak ngobrol."
Evelyn langsung menoleh.
"Gue gak patah hati."
"Iya." Celine.
"Gue serius." Evelyn.
"Iya." Celine.
"Muka lo kenapa kayak gitu?" Evelyn.
"Soalnya gue gak percaya." Celine.
Evelyn mendecakkan lidah kesal. Kalau bukan karena Celine sedang menyetir, mungkin sudah dilempar botol minum.
Melihat sahabatnya mulai kesal, Celine akhirnya memutuskan berhenti menggoda. Untuk sementara. "Gimana kalau malam ini kita nginep di villa nyokap gue?"
Evelyn yang tadi masih kesal langsung menoleh. "Villa?"
"Iya."
"Yang di mana?"
"Di perbukitan sebelah utara."
"Oh."
"Pemandangannya bagus banget."
"Oh."
"Udara dingin."
"Oh."
"Banyak pohon."
"Oh."
"Bisa hiking besok pagi."
"Oh."
"Dan gak ada Kael."
"..."
Celine hampir tertawa melihat reaksi spontan sahabatnya.
Evelyn langsung duduk tegak. "Oke."
"Hah?"
"Gue setuju."
"Cepet amat?"
"Gue suka alam."
"Yakin?"
"Iya."
"Bukan karena alasan lain?"
"Bukan."
"Serius?"
"Serius."
"Yakin?"
"Celine."
"Iya?"
"Kalau lo masih ngomong, gue lompat dari mobil."
Celine akhirnya tertawa keras. "Oke oke, damai."
Evelyn kembali
menyandarkan kepalanya ke kursi. Jujur saja. Ide itu terdengar menyenangkan. Sudah beberapa minggu hidupnya terasa seperti roller coaster tanpa rem. Kuliah. Perusahaan. Rapat. Kontrak. Aurelius. Loren Holdings. Kael. Kasus pembunuhan.nMayat
dalam koper.
Dan entah apalagi yang akan muncul minggu depan. Dia benar-benar butuh istirahat.
"Eh tapi..."
Celine melirik. "Apa?"
"Gue gak bawa baju ganti."
"Gampang."
"Gampang gimana?"
"Nanti beli."
"Males."
"Yaudah suruh orang villa nyiapin."
Evelyn berkedip. "Orang villa?"
"Iya."
"Ada orangnya?"
"Ya ada lah."
"Villa atau hotel sih?"
Celine tertawa kecil. "Villa keluarga gue."
"Oh."
"Tenang aja. Semua kebutuhan lo bisa disiapin."
Kadang Evelyn lupa kalau keluarga Celine bukan sekadar kaya. Mereka ada di level yang membuat kata kaya terdengar sederhana.
"Oke deh."
"Nah."
"Gass."
"Gass."
Celine langsung membelokkan mobil menuju jalan tol. Perjalanan perlahan meninggalkan pusat kota. Gedung-gedung tinggi mulai tergantikan oleh hamparan pepohonan hijau. Langit biru terlihat jauh lebih luas.
Udara pun terasa lebih segar. Untuk pertama kalinya hari itu, wajah Evelyn terlihat lebih santai. Ia membuka sedikit jendela mobil. Angin sejuk menerpa wajahnya. Rasanya nyaman. Damai. Tenang.
Sangat berbeda dari beberapa hari terakhir. Melihat perubahan itu, Celine tersenyum tipis. "Udah mendingan?"
Evelyn
mengangguk.n"Sedikit."
"Nah gitu."
"Makasih."
"Hah?"
"Makasih udah ngajak."
Celine tampak terkejut beberapa detik. Lalu tersenyum lebar. "Sama-sama, bocah stres."
"Anjir."
"Tapi serius."
"Hm?"
"Gue khawatir sama lo akhir-akhir ini."
Evelyn terdiam. Celine melanjutkan dengan nada lebih pelan. "Lo terlalu banyak mikir soalnya."
"..."
"Lo masih kuliah."
"Tau."
"Lo juga ngurus perusahaan."
"Tau."
"Lo juga nyangkut kasus pembunuhan."
"Itu bukan salah gue."
"Dan lo juga lagi bingung sama cowok."
Evelyn langsung menunjuk wajah Celine. "Yang terakhir gue bantah."
Celine tertawa puas. Mobil terus melaju membelah jalanan menuju kawasan perbukitan.
curang tauuu😒😒