Sebuah novel fantasi mitologi Nusantara (Batak). Berikut salah satu petikannya:
"Sebelum matahari mengenal pagi, langit telah lebih dahulu mengenal doa. Di Banua Ginjang, doa tidak diucapkan melalui bibir, melainkan tumbuh menjadi bunga-bunga cahaya yang bermekaran di antara akar bintang. Setiap kelopaknya membawa harapan, dan setiap harapan akan jatuh ke dunia bawah sebagai embun kehidupan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3. Putri yang Berbicara kepada Angin (Bagian I)
...Nyanyian yang Hanya Didengar Satu Anak...
"Angin tidak pernah membawa suara. Ia membawa ingatan." —Hikmat Tua Banua Ginjang.
...****************...
Tahun-tahun pertama kehidupan Si Boru Deak Parujar berlalu tanpa pernah dihitung oleh matahari. Di Banua Ginjang, waktu tidak berjalan seperti aliran sungai. Ia berputar seperti helaian ulos yang sedang ditenun. Setiap putaran membawa warna baru, namun benangnya tetap sama.
Karena itu, para penghuni dunia atas tidak pernah bertanya berapa usia seseorang. Mereka lebih suka bertanya, "Sudah berapa musim bunga cahaya mengenal namamu?"
Bagi Deak Parujar, bunga-bunga telah mengenalnya selama tujuh musim.
Ia kini tumbuh menjadi seorang anak perempuan dengan rambut hitam yang menjuntai hingga pinggang, mata sebening embun fajar dan senyum yang selalu membuat burung-burung berhenti bernyanyi sesaat, seolah ingin menikmati keheningan sebelum ikut tersenyum bersamanya.
Namun, bukan kecantikannya yang membuat seluruh Banua Ginjang membicarakannya.
Melainkan sebuah keajaiban yang bahkan tidak dimiliki para dewa.
Ia dapat mendengar suara angin.
...****************...
Angin di Banua Ginjang bukanlah udara yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Ia adalah makhluk tua. Jauh lebih tua daripada gunung pertama. Lebih tua daripada bintang-bintang. Lebih tua bahkan daripada para penjaga langit.
Para tetua menyebut mereka Siboru Angin, roh-roh halus yang bertugas membawa keseimbangan dari satu banua ke banua lainnya.
Mereka tidak memiliki tubuh yang dapat disentuh atau terlihat oleh mata. Mereka hanya dapat dirasakan melalui hembusan yang lembut, harum bunga yang datang tanpa sebab, atau desir dedaunan yang bergerak meski tak seekor burung pun sedang melintas.
Tidak ada seorang pun yang dapat memahami bahasa mereka. Tidak Mulajadi Nabolon. Tidak para penenun cahaya. Tidak pula para penjaga empat penjuru langit. Mereka hanya bisa merasakan kehadirannya.
Tetapi, Deak Parujar ternyata dapat mendengarnya berbicara.
...****************...
Semuanya bermula pada suatu pagi. Embun baru saja turun dari pucuk Hariara Bolon.
Langit Banua Ginjang berwarna biru muda yang dihiasi garis-garis emas seperti benang berwarna emas pada ulos yang disulam dengan hati-hati.
Deak Parujar berlari kecil menyusuri padang bunga cahaya. Kakinya yang mungil tidak pernah menginjak kelopak bunga. Aneh memang, karena setiap kali telapak kakinya hampir menyentuh tanah, bunga-bunga itu justru merunduk dengan sukarela, memberi jalan bagi sang putri.
Di belakangnya berlarian belasan makhluk kecil bercahaya. Mereka sebesar telapak tangan manusia. Tubuh mereka bening seperti tetesan embun. Sayapnya tipis menyerupai daun muda.
Merekalah Partondion, roh-roh penjaga kehidupan yang bertugas membangunkan bunga setiap pagi.
"Putri!" seru salah satu dari mereka sambil tertawa, "Tunggu kami!"
Deak Parujar menoleh dan sambil tersenyum ia berujar: "Kalian terlalu lambat."
"Kami tidak lambat." jawab Partondion, dan menambahkan: "Kamu yang terlalu cepat."
Anak perempuan kecil itu tertawa lepas. Tawanya membuat kupu-kupu emas beterbangan keluar dari rumpun bunga.
Hariara Bolon terlihat menggugurkan beberapa helai daun keemasan. Bagi penghuni Banua Ginjang, gugurnya daun Hariara bukan pertanda kematian. Justru sebaliknya. Itu adalah cara Hariara mengucapkan syukur.
Kelak, ketika manusia mulai mengenal pohon hayat, mereka akan mewarisi keyakinan bahwa alam selalu berbicara kepada mereka yang mau mendengar.
...****************...
Setelah lelah bermain, Deak Parujar merebahkan tubuh di atas hamparan lumut hijau yang terasa lebih lembut daripada kapas.
Ia memandangi langit. Awan-awan putih melayang perlahan. Sebagian menyerupai rusa. Sebagian lagi menyerupai kerbau bertanduk emas.
Di Banua Ginjang, awan selalu memilih bentuk sesuai cerita yang ingin disampaikan kepada anak-anak.
Tiba-tiba... terdengar sebuah bisikan lembut. Sangat lembut, "...Deak..."
Anak itu bangkit. Ia menoleh ke kanan. Tidak ada siapa-siapa.
"...Deak..." Suara itu datang lagi. Kali ini dari arah pohon.
"Siapa?" tanya anak kecil itu.
Tidak ada jawaban. Yang terdengar hanyalah desir angin, "...ikutlah..."
Deak Parujar berdiri. Partondion yang sedari tadi bermain di sekitarnya mendadak saling berpandangan.
"Putri?" panggil salah satu Partindion bingung.
"Mengapa kalian tidak mendengarnya?" jawab sang Putri juga tampak bingung.
"Mendengar apa?" tanya Partindion lagi.
"Itu..." Deak menunjuk ke arah udara, "Angin memanggilku."
Para Partondion saling memandang kebingungan. Bagi mereka, angin hanyalah angin. Tak pernah sekali pun mereka mendengar suara apa pun. "Putri sedang bercanda." ujar mereka lagi.
"Tidak." sergah sang Putri dan lanjut berkata: "Angin itu berbicara."
Mereka tertawa. Namun Deak Parujar tidak ikut tertawa. Ia melangkah perlahan mengikuti arah datangnya bisikan.
Semakin jauh ia berjalan, taman-taman Banua Ginjang mulai berubah. Pepohonan menjadi semakin tinggi. Daunnya memantulkan warna pelangi. Air mengalir di udara seperti pita-pita bening. Burung-burung bernyanyi dengan bahasa yang belum pernah ia dengar.
Tak lama kemudian, ia tiba di sebuah lembah yang belum pernah ia kunjungi. Lembah itu sunyi. Di tengahnya berdiri sebuah batu putih berbentuk bundar. Tidak besar. Namun memancarkan cahaya lembut.
Saat Deak Parujar mendekat, angin kembali berbisik: "Sentuhlah..."
Ia mengulurkan tangan kecilnya. Begitu telapak tangannya menyentuh batu itu, pemandangan seluruh lembah berubah. Udara bergetar. Cahaya berputar mengelilinginya.
Daun-daun Hariara yang berada sangat jauh tiba-tiba berguguran serempak.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Deak Parujar tidak melihat Banua Ginjang. Ia melihat lautan. Laut yang begitu luas hingga langit dan air seolah menyatu menjadi satu warna.
Tidak ada daratan.
Tidak ada pohon.
Tidak ada kehidupan.
Hanya ombak yang bergulung tanpa henti. Kabut putih menyelimuti semuanya. Di balik kabut itu, sesuatu bergerak. Panjang. Sangat panjang. Seperti seekor ular raksasa yang sedang tertidur di dasar samudra.
Anak kecil itu menahan napas. "Siapa... dia?"
Angin menjawab, "Ia adalah Penunggu Kesunyian... Ia tidur... Tetapi suatu hari... Ia akan membuka matanya..."
Tiba-tiba bayangan raksasa itu bergerak. Sepasang mata hijau menyala menatap lurus ke arah Deak Parujar.
Meski dipisahkan oleh dua dunia. Meski dipisahkan oleh ruang yang tak terhingga. Anak kecil itu dapat merasakan, bahwa makhluk itu benar-benar melihatnya. Ia menjerit kecil. Seketika penglihatan itu menghilang.
Lembah kembali sunyi. Angin berhenti berbisik. Namun jantung Deak Parujar masih berdegup dengan kencang.
Ia belum mengetahui siapa makhluk itu. Ia belum mengetahui mengapa angin memperlihatkan dunia yang belum pernah dilihat penghuni Banua Ginjang.
Dan ia sama sekali belum mengetahui, bahwa pada saat yang sama, di dasar Banua Toru, Naga Padoha perlahan membuka mata untuk kedua kalinya sejak nama Deak Parujar pertama kali bergema di langit.
...****************...
Horas! 🌿
Mauliate godang.. 🤎
📖 Bersambung ke Bab 3 – Bagian II: Rahasia Batu Ingatan dan Pertanyaan kepada Sang Pencipta.
😏/CoolGuy//Casual//Shhh/
/Grin//Tongue//Facepalm//Joyful/