NovelToon NovelToon
Penjaga Hati Nona Shanum

Penjaga Hati Nona Shanum

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:362
Nilai: 5
Nama Author: julian rifai

Aran, seorang pembunuh bayaran yang hidup di balik bayang-bayang, diselamatkan setelah sebuah misi gagal hampir merenggut nyawanya. Takdir membawanya ke Pondok Pesantren Al-Ikhlas, tempat ia bertemu Shanum, seorang wanita kaya yang dingin, tenang, dan sulit didekati.

Ketika ancaman mulai mengincar Shanum, Aran menerima tugas untuk menjaganya. Namun, semakin dekat ia dengan wanita itu, semakin sulit baginya membedakan antara tugas dan perasaan.

Di balik senyum Shanum tersembunyi dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan kekuasaan. Sementara di belakang Aran masih menunggu masa lalu kelam yang belum selesai.

Ketika seorang pembunuh ditugaskan menjaga hati seorang wanita, mampukah ia melindunginya tanpa kehilangan hatinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kegagalan Misi Viper-1

Hujan gerimis membilas kaca tebal lantai dua bangunan tua yang terbengkalai di pinggiran perbatasan kota. Bau tanah basah bercampur aroma karat dan minyak senjata memenuhi udara dingin.

Di sudut ruangan yang gelap, Ardebaran—yang lebih dikenal di dunia hitam dengan kode Viper-1—duduk bersandar pada satu lututnya. Tubuhnya yang kokoh dan setinggi 183 sentimeter hampir menyatu sempurna dengan bayangan dinding beton yang lapuk.

Di hadapannya, senapan penembak jitu terpasang stabil di atas tripod pendek. Jari-jari tangan Aran yang terbungkus sarung tangan taktis hitam bergerak begitu luwes, melakukan penyesuaian akhir pada kenop kekop senapan.

"Jarak empat ratus lima puluh meter. Angin ke arah timur laut, empat knot. Kelembapan udara delapan puluh lima persen," gumam Aran pelan. Suaranya terdengar sangat tenang, sopan, dan teratur—tanpa ada sedikit pun getaran kecemasan.

Alat penerima sinyal terenkripsi di telinganya berbunyi bip dua kali sebelum sebuah suara berat dan penuh wibawa terdengar.

"Viper-1, posisi?" suara Lucas, pimpinan tertinggi organisasi sekaligus sosok yang membentuk Aran sejak kecil, mengisi frekuensi rahasia mereka.

Aran menyesuaikan posisi pandangannya pada lensa kekop. "Posisi aman, Pak Lucas. Target utama diprediksi melintasi titik penyergapan dalam dua menit."

"Ingat, Ardebaran. Jangan ada celah. Ini adalah operasi bersih," pesan Lucas. Nada suaranya menyimpan sedikit kecemasan terselubung—sebuah intuisi seorang veteran yang merasakan ada yang tidak beres dengan data intelijen lapangan malam ini.

"Baik, Pak. Semuanya berada di bawah kendali," sahut Aran tetap dengan bahasa yang sangat santai namun penuh penghormatan.

Bagi Aran, misi ini seharusnya menjadi prosedur standar. Tugasnya sederhana: mengeliminasi seorang informan pembelot yang membawa dokumen sensitif sebelum dokumen itu sampai ke tangan pihak kepolisian. Sebagai eksekutor terbaik Viper, Aran selalu mengeksekusi tugasnya dengan presisi matematis. Ia tidak melibatkan emosi, tidak pula membenci targetnya. Baginya, ini hanyalah urusan taktis.

Dari kejauhan, dua sorot lampu mobil membelah kegelapan jalanan sepi di bawah sana. Sebuah sedan hitam melaju dengan kecepatan sedang, dikawal oleh satu unit SUV di belakangnya.

"Target terlihat," bisik Aran. Jarinya perlahan menempel pada pelatuk senapan. Napasnya diatur sedemikian rupa, melambat hingga detak jantungnya berada di titik terendah demi menjaga kestabilan bidikan.

Kaca mobil sedan bagian belakang agak sedikit terbuka. Aran mengunci koordinat kepala target. Dalam hitungan detik, peluru 7.62mm akan menembus sasaran dan menyelesaikan operasi.

Tiga... dua...

Tiba-tiba, dari arah berlawanan di persimpangan jalan—titik yang seharusnya sudah dinyatakan bersih dan steril oleh tim intelijen lapangan—sebuah truk pengangkut alat berat melaju kencang tanpa lampu utama. Truk itu menghantam bagian depan sedan target dengan benturan keras yang menggema di tengah malam.

Brak!

Suara dentuman besi beradu membuat bidikan Aran terganggu seketika. Aran tidak terkejut oleh kecelakaan itu, melainkan oleh apa yang menyertainya.

Dua unit van tanpa tanda muncul dari semak-semak di pinggir jalan. Belasan orang bersenjata lengkap dengan pakaian serba hitam melompat keluar dan langsung memberondong sedan serta SUV pengawal dengan tembakan beruntun.

Aran membelalakkan mata di balik lensa kekop. Itu bukan pasukan keamanan target, bukan pula polisi.

"Pak Lucas," ujar Aran cepat melalui jaringan radio, suaranya tetap sopan namun intonasinya menajam. "Ada gangguan skala besar di lapangan. Pasukan tambahan bersenjata menyerbu target. Ini bukan skenario yang ada dalam laporan intelijen."

Hening sejenak di saluran radio sebelum suara Lucas terdengar menegang. "Apa maksudmu? Tim intelijen menyatakan jalur itu lima puluh persen aman dan bebas dari faksi luar!"

"Informasi intelijen itu salah total, Pak," sahut Aran dingin seraya mengamati kekacauan di bawah. "Atau lebih tepatnya... disabotase."

Belum sempat Lucas membalas, jaringan komunikasi radio Aran mendadak mengalami gangguan frekuensi yang sangat kuat. Suara noise keras menggantikan vokal Lucas, sebelum akhirnya mati total.

Aran segera menyadari situasi sebenarnya. Ini bukanlah kegagalan perhitungan taktis di pihak target, melainkan sebuah jebakan matang yang dirancang dari dalam organisasinya sendiri. Faksi internal Viper yang berniat menggulingkan pengaruh Lucas telah sengaja memberikan data intelijen palsu kepada Aran.

Tujuannya jelas: membuat Aran terjepit di lokasi eksekusi, mengkambinghitamkan dirinya atas kegagalan misi, sekaligus menghabisi Viper-1 secara permanen di lapangan.

Suara langkah kaki yang tergesa-gesa namun berusaha ditahan terdengar naik dari tangga beton di belakang ruangan terbengkalai tempat Aran berada.

Aran tidak panik. Dengan gerakan yang luar biasa tenang dan taktis, ia melepas kuncian senapan jitu, membiarkan senjata berat itu tergeletak, lalu menarik dua pucuk pistol berperedam suara dari sarung di pinggangnya.

"Permisi..." gumam Aran pelan pada kegelapan di belakangnya.

Pintu papan ruangan mendadak didobrak. Tiga orang eksekutor bertopeng—menggunakan seragam taktis tanpa logo organisasi—masuk seraya mengarahkan senapan serbu ke arah sudut ruangan. Mereka tidak datang untuk menyelamatkan Aran; mereka datang untuk memastikan Aran tidak keluar dari bangunan ini hidup-hidup.

Pft! Pft!

Sebelum ketiga penyusup itu sempat menekan pelatuk, Aran telah bergerak. Ia menggeser tubuhnya ke samping dengan kelincahan yang mengerikan. Dua tembakan presisi dilepaskan Aran dari jarak dekat. Dua peluru menembus tepat di celah pelindung leher dua eksekutor pertama. Keduanya roboh seketika ke lantai beton tanpa sempat mengerang.

Namun, eksekutor ketiga yang berdiri di belakang menyapu ruangan dengan tembakan beruntun.

Trrrtt!

Aran berguling di balik pilar beton pendukung. Beberapa butir peluru meretakkan struktur semen di atas kepalanya, menyemburkan serpihan batu tajam. Satu tembakan meluncur liar, menyambar bahu kiri Aran dan menembus rusuk sampingnya.

Rasa panas yang membakar menjalar seketika di tubuh Aran. Darah segar berwarna merah pekat mulai membasahi kemeja hitam taktisnya. Aran meringis pelan, tetapi matanya tetap sekering es. Tidak ada rasa takut, tidak ada emosi berlebihan. Hanya kalkulasi bertahan hidup yang tersisa di otak dinginnya.

Aran melirik ke belakang. Ruangan tempatnya terjepit tidak memiliki jalan keluar lain. Tangga utama telah dikuasai oleh sisa tim sabotase yang mulai terdengar merangsek naik, sementara di belakang Aran hanya ada jendela beton tanpa kaca yang mengarah langsung ke jurang di tepi sungai deras.

Tembakan dari eksekutor ketiga terus memberondong dinding pilar, menahan Aran agar tidak bisa membalas.

Aran menarik napas panjang, menahan rasa sakit yang menusuk di rusuk kirinya. Ia memeriksa sisa amunisi di magazine pistolnya dengan ketenangan yang tak tergoyahkan.

"Taktik yang cukup rapi," bisik Aran pada dirinya sendiri dengan nada sopan yang getir. "Sayangnya, saya belum berniat mati malam ini."

Aran mendadak keluar dari balik pilar, melepaskan satu tembakan balasan yang mengunci dahi eksekutor ketiga sebelum pria itu sempat mengarahkan moncong senjatanya kembali. Eksekutor itu tumbang seketika.

Namun dari balik pintu tangga, empat penyerang tambahan muncul dengan senjata terangkat.

Aran tahu ia kalah jumlah dan tidak memiliki posisi berlindung yang menguntungkan lagi. Senjata mereka terkunci pada tubuhnya. Dalam hitungan detik, tubuhnya akan dilubangi oleh puluhan peluru.

Tanpa ragu sedikit pun, Aran berbalik menghadapi jendela besar yang menganga menuju kegelapan malam. Di bawah sana, sekitar tiga puluh meter melayang di bawah jurang, arus Sungai Al-Ikhlas mengalir sangat deras akibat guyuran hujan deras di hulu.

Sebelum menyeberangi batas ambang jendela, Aran sempat menoleh sedikit ke arah para penyerangnya. Wajahnya yang berdarah tetap menampilkan ketenangan yang sopan.

"Terima kasih atas kerja samanya, Tuan-tuan," ujar Aran datar.

Aran mendorong tubuhnya kuat-kuat ke udara, melemparkan dirinya menembus kegelapan malam.

Suara tembakan membabi buta dari dalam gedung pecah mengudara, namun peluru-peluru itu hanya menyambar angin malam yang dingin. Tubuh Ardebaran melayang jatuh bebas sebelum akhirnya dihantam oleh pekat dan dinginnya air sungai yang menggelegar di dasar jurang.

Air sungai yang dingin langsung menelan tubuh Aran yang terluka parah. Kegelapan merayap cepat menyelimuti kesadarannya saat arus air membawa tubuhnya hanyut jauh melintasi batas kota, menuju takdir baru yang tak pernah ia perhitungkan sebelumnya.

1
Alia Chans
keren😉/Smile/
saling support sabi kali thor🤭
Alnilam Mintaka: bisa banget bang .. makasih udah mampir yakk🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!