NovelToon NovelToon
Buang Sopan Santunmu, Nikmati Hidup Tanpa Belas Kasihan

Buang Sopan Santunmu, Nikmati Hidup Tanpa Belas Kasihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:230
Nilai: 5
Nama Author: Galih Lestari

Bima Liem wakes in another's body—a young Chinese-Javanese man in Waringin, East Java, crushed by family pressure, insults, and silent injustice.

This time, he won't stay silent. A mysterious Golden Defiance System binds to him: every time he resists moral blackmail, social pressure, or unfairness, he earns points for extraordinary abilities—god-level legal skills, deadly combat, hacking, spy drones, and hidden wealth.

Armed with law and the system, he begins an unprecedented mission: send every wrongdoer to prison—one by one. Trolls, bullies, corrupt officials, fake doctors, campus thugs, cruel neighbors—none escape the People's Prosecutor.

Everyone sees a humble village youth, unaware behind that calm face lurks a hidden billionaire, national hero, and the most dangerous man in any courtroom. You can choose silence. But if you choose evil—don't expect me to choose good.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 022: Enam yang Mangkir

Panggilan kedua untuk enam orang yang mangkir jatuh pada hari Jumat.

Lima datang.

Satu tidak.

Yang tidak datang bernama Riko Prasetya, pemilik akun @suarawarga_88. Ia tidak hanya mengabaikan panggilan. Ia mengunggah video baru malam sebelumnya, duduk di depan dinding polos, berbicara dengan nada aktivis.

"Saya menolak kriminalisasi opini. Kalau saya dipenjara karena bertanya, berarti negeri ini sudah mati."

Bima menonton video itu di mobil menuju Polres. Ratna duduk di sebelahnya dan mendengus.

"Dia tidak bertanya. Dia nuduh kamu suap polisi."

"Makanya dia memilih kata bertanya sekarang. Kata menuduh terlalu mahal."

Di Polres, lima orang yang hadir duduk terpisah. Mereka datang sebagai orang lelah. Mereka orang lelah yang akhirnya mengerti panggilan kedua bukan undangan arisan. Satu dari mereka menangis sebelum masuk ruang pemeriksaan. Satu lagi membawa surat sakit yang ternyata dibuat sehari setelah panggilan pertama.

Aipda Raka mencatat semuanya.

"Riko?" tanya Bima.

Pak Wanto menunjukkan map. "Mangkir kedua. Video barunya sudah kami simpan. Ada unsur fitnah lanjutan terhadap kepolisian juga. Kami ajukan langkah berikutnya."

Pak Wisnu menambahkan, "Untuk perdata, Riko masuk gugatan prioritas. Kerugiannya mengenai Anda dan juga memperkeruh proses hukum yang sedang berjalan."

Bima mengangguk. Ia tidak marah. Riko sedang melakukan hal yang paling disukai sistem: menambah amunisi sendiri.

Pemeriksaan hari itu membuat lima orang mangkir pertama runtuh cepat.

Salah satu dari lima orang yang hadir adalah lelaki tua bernama Jamhari. Di akun anonimnya, ia menulis bahwa rumah Bima harus "diberi pelajaran". Di ruang pemeriksaan, suaranya gemetar.

"Saya pikir cuma komentar, Pak. Anak saya yang ajari pakai aplikasi itu. Saya tidak tahu bisa begini."

Bima tidak langsung menjawab. Ia meminta Pak Wanto membuka screenshot komentar Jamhari. Kalimatnya tidak terlihat seperti ketidaktahuan. Ada alamat gang, ada ajakan, ada kata "malam ini".

"Pak Jamhari," kata Bima, "usia Bapak membuat saya lebih sopan. Jangan salah baca sebagai lebih bodoh. Kalau Bapak bisa mengetik alamat rumah saya, Bapak juga bisa memahami itu bukan komentar biasa."

Jamhari menangis. Tangis itu tidak menghapus screenshot. Pak Wanto mencatat sikap kooperatifnya; proses tetap berjalan.

Ratna melihat adegan itu dari luar kaca. Setelah Jamhari keluar, ia bertanya kepada Bima, "Apa kamu tidak kasihan?"

"Kasihan," jawab Bima. "Tapi kasihan tidak boleh membuat alamat rumah kita jadi mainan." Mereka semua memakai alasan mirip: takut, tidak tahu, akun dipakai keluarga, tidak menyangka bisa dilacak. Namun satu orang bernama Fajar memberikan informasi penting. Ia mengaku masuk grup kecil bernama Gerakan Warga Sadar, tempat beberapa akun besar membagikan materi serangan terhadap Bima.

"Siapa adminnya?" tanya Pak Wanto.

Fajar ragu.

Bima tidak bicara. Ia hanya membuka cetakan screenshot tagar Jangan Bungkam Warga dan meletakkannya di meja. Di sana ada komentar Fajar sendiri, mengajak orang membagikan ulang.

Fajar memucat. "Riko salah satunya. Ada akun lain, namanya MerdekaNet. Saya tidak tahu nama aslinya. Mereka bilang Bima harus ditekan sebelum semua orang takut komentar."

Aipda Raka menulis cepat.

Pak Wisnu menatap Bima. "Sekarang kita punya penghubung antara narasi balik dan target somasi."

"Bagus," kata Bima. "Mereka naik kelas dari fitnah spontan menjadi koordinasi."

Sore hari, polisi mengeluarkan panggilan lanjutan untuk Riko dan permintaan data terhadap grup kecil itu. Media mencium perkembangan. Wartawan menunggu di depan Polres, tetapi Bima hanya memberi satu kalimat.

"Orang yang menyebut fitnah sebagai opini biasanya takut opini itu diperiksa sebagai bukti."

Kalimat itu naik ke berita malam.

Riko membalas dengan video marah. Kali ini wajahnya tidak setenang sebelumnya. Ia menyebut Bima pengecut, menyebut Pak Wisnu pengacara bayaran, dan menyebut polisi tunduk pada orang kaya.

Kesalahan terakhir itu membuat Pak Wanto tertawa tanpa humor ketika menonton.

"Dia menyeret institusi."

Aipda Raka mengangguk. "Dan dia mengunggah dari perangkat yang sama. Metadata publiknya cukup untuk permintaan awal."

Pak Wisnu juga mengirim somasi tambahan kepada dua akun yang membela Riko dengan menuduh Ratna memalsukan pesan kampus. Kali ini Ratna sendiri yang meminta. "Namaku sudah terlalu sering dipakai orang lain," katanya. "Kalau mereka mau bicara tentang aku, biar mereka belajar menulis namaku di surat resmi."

Bima tidak menyembunyikan senyumnya. Adiknya tidak lagi hanya bertahan. Ia mulai mengerti cara memegang garis.

Malamnya, Bima duduk di kantor Wisnu bersama tim. Dela menempel peta hubungan di papan: Riko, MerdekaNet, Fajar, tiga akun penguat awal, dua dompet digital, satu nomor admin.

Ratna menatap papan itu. "Mereka ingin terlihat seperti rakyat banyak, padahal adminnya sedikit."

"Kerumunan palsu tetap bisa membuat luka asli," kata Pak Wisnu. "Tapi kalau adminnya ketemu, lukanya punya alamat."

Bima menerima notifikasi SBE.

[Koordinasi serangan lanjutan terdeteksi.]

[Status Riko: prioritas tinggi]

[Poin +1.000]

[Objektif tambahan: ungkap aktor penggerak narasi Jangan Bungkam Warga]

Bima menatap nama Riko di papan.

Sebelum Fajar memberi nama Riko, ia sempat meminta jaminan. "Kalau saya sebut, saya aman?"

Pak Wanto menjawab datar, "Tidak ada jaminan bebas dari perbuatan sendiri. Tapi keterangan kooperatif dicatat. Kalau Saudara bohong, itu juga dicatat."

Fajar menatap Bima, mungkin berharap korban memberi belas kasihan. Bima tidak memberinya pelampung murah.

"Saya tidak minta kamu mengarang untuk menyenangkan saya," kata Bima. "Saya minta kamu berhenti melindungi orang yang membuatmu duduk di sini."

Kalimat itu mematahkan sisa kesetiaan Fajar. Ia mulai menjelaskan jam grup dibuat, siapa yang membagikan materi, siapa yang menyuruh memakai tagar, dan siapa yang menghapus chat setelah panggilan polisi keluar. Sebagian nama masih kabur. Polanya cukup terlihat.

Di luar, lima orang yang hadir menunggu hasil dengan wajah pucat. Salah satu dari mereka bertanya kepada Ratna apakah Bima benar-benar akan menuntut semua. Ratna menatapnya dan berkata, "Kakak saya menuntut yang menulis. Kalau Anda merasa tidak menulis, buktikan di dalam, jangan ke saya."

Ketika pemeriksaan selesai, Pak Wanto memberi Bima salinan tanda terima tambahan. "Simpan ini. Untuk perkara sebesar ini, kertas kecil sering menyelamatkan dari omongan besar."

Bima menerima kertas itu dengan dua tangan. Ia mulai menyukai polisi yang minim gaya dan paham nilai administrasi.

Di luar ruangan, Fajar duduk dengan wajah kosong. Ia baru memahami bahwa grup kecil yang dulu terasa ramai sekarang hanya menyisakan dirinya, ponsel yang disita, dan nama-nama yang harus ia jelaskan.

Ratna memotret tanda terima itu untuk arsip keluarga. Dulu ia memotret makanan dan catatan kuliah. Sekarang ia memotret bukti, dan anehnya, tangannya tidak lagi gemetar.

"Dia ingin panggung," katanya. "Beri dia pintu ruang pemeriksaan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!