Saldo rekening Rp 350000
Pacar selingkuh
Harga diri nol
Lalu dunia berubah
Seluruh harga turun 1000000 kali Rumah mewah jadi Rp 50000 Mobil sport Rp 5000 Tapi uang Raka Tidak berubah
Rp 350000 Rp 350 MILIAR
Dari pemuda yang diludahi dunia menjadi pria yang membeli kotanya sendiri
Sistem Ilahi sudah aktif
Misi pertama beli rumah paling mahal di kota ini tunai
Misi kedua hancurkan semua yang pernah menghinamu
Harga Turun Sejuta Kali update setiap hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10: Lahirnya PT Langit Sembilan
"Mau bikin PT? Sudah siap modal berapa, Dek?"
Staf notaris di kantor pusat Surabaya itu tersenyum tanpa berdiri. Ia melihat Raka, lalu Fajar di belakangnya, lalu Hendra Salim yang sengaja datang sedikit terlambat karena urusan telepon. Tanpa Hendra di sisi Raka, penilaian lama langsung keluar dari mulut orang-orang.
Raka duduk di depan meja. "Cukup untuk membuat Anda berhenti memanggil saya Dek."
Senyum staf itu kaku. Namanya Luki, tertulis di name tag. Ia menumpuk berkas di depannya dengan gerakan malas.
"Proses pendirian PT bukan cuma isi formulir. Harus ada modal, alamat, KBLI, pemegang saham, direktur, komisaris, NPWP. Kalau belum paham, konsultasi dulu saja. Biaya konsultasi kami tidak murah."
Fajar menatap jam.
Raka mengeluarkan map tebal dari tas. Salinan KTP, NPWP, bukti alamat vila, rancangan struktur, daftar aset tiga puluh satu vila Bukit Amerta sebagai aset awal, dan surat keterangan bank tersusun rapi.
Luki membuka halaman pertama, lalu kedua. Matanya berubah.
"Ini... asetnya sudah atas nama Bapak?"
"Sedang proses balik nama, dengan bukti transaksi dan escrow. PT akan menerima penyertaan bertahap sesuai legalisasi."
"Tiga puluh satu vila?"
"Anda bisa menghitung."
Pintu ruang rapat terbuka. Hendra masuk sambil menutup telepon.
"Maaf terlambat, Pak Raka. Bank sudah konfirmasi dana investasi tahap pertama."
Luki langsung berdiri. "Pak Hendra. Saya tidak tahu tamu Bapak..."
"Dia bukan tamu saya," kata Hendra. "Saya yang mengikuti beliau."
Kalimat itu jatuh seperti palu kecil di meja.
Raka tidak membuang waktu menikmati wajah Luki. Orang kecil yang sombong bukan target utama. Ia butuh struktur.
"Kita mulai."
Notaris utama, Bu Ratih, akhirnya turun langsung. Ia membaca dokumen dengan cepat dan profesional. Tidak ada basa-basi berlebihan setelah melihat daftar aset.
"Nama perusahaan PT Langit Sembilan. Bidang awal: investasi properti, manajemen aset, perdagangan umum terbatas untuk kebutuhan holding, konsultasi bisnis. Pemilik mayoritas Pak Raka Surya Pratama. Apakah Bapak menunjuk direktur operasional?"
"Untuk sementara saya. Struktur profesional menyusul."
Hendra menambahkan, "Saya membantu sebagai penasihat eksternal sampai tim Pak Raka lengkap."
Bu Ratih mengangguk. "Untuk legal tetap, Bapak sudah punya kuasa hukum?"
Saat itulah pintu dibuka tanpa ketukan.
Seorang pria masuk dengan kemeja tidak dimasukkan rapi, rambut seperti baru berdebat dengan bantal, dan tas kulit tua. Ia melihat semua orang, lalu menaruh kartu nama di meja.
"Bayu Santoso, S.H. Siapa yang mau bayar saya untuk tidak membuang waktu?"
Luki hampir tersedak. Bu Ratih menahan senyum. Hendra memijat pelipis.
Raka menatap pria itu. "Anda Bayu."
"Sayangnya iya. Anda Raka? Terlalu muda. Biasanya klien muda kaya punya dua masalah: tidak baca kontrak dan suka merasa kebal hukum. Anda termasuk yang mana?"
Fajar mengangkat alis.
Raka justru menyukai pembukaan itu.
"Saya baca kontrak. Saya belum tahu hukum cukup banyak untuk merasa kebal."
Bayu duduk tanpa diminta dan menarik draf akta. Ia membaca lima halaman dalam diam, lalu mencoret satu klausul.
"Ini bodoh. Kalau aset vila dimasukkan tanpa jadwal valuasi dan perlindungan sengketa, nanti ada orang menggugat dari celah pajak. Siapa yang buat?"
Luki pucat.
Bu Ratih berkata tenang, "Draf awal staf. Silakan beri masukan."
Bayu mencoret lagi. "Ini juga. Ini membuat Pak Raka bisa dikunci kalau ada direksi profesional nakal. Tambahkan veto pemilik untuk pelepasan aset, utang, dan perubahan KBLI."
Hendra berbisik kepada Raka, "Mulutnya memang begitu. Tapi dia benar."
Raka mencondongkan badan.
"Pak Bayu, Anda mau bekerja untuk saya?"
Bayu tidak mengangkat kepala. "Sebagai apa?"
"Kepala hukum PT Langit Sembilan. Gaji lima puluh juta sebulan, bonus perkara, anggaran tim, dan kebebasan mengatakan kontrak saya bodoh kalau memang bodoh."
Bayu akhirnya menatapnya.
"Lima puluh juta untuk mendengar saya memaki orang?"
"Untuk menang. Maki hanya efek samping."
"Kalau saya bilang keputusan Anda tolol?"
"Jelaskan alasannya. Kalau benar, saya ubah. Kalau salah, saya suruh Anda bayar kopi."
Bayu tertawa. Keras, pendek, tidak sopan, tetapi hidup.
"Anda mau pengacara penjilat atau pengacara yang menang?"
"Yang menang."
"Kalau begitu saya masuk. Tapi semua perintah ilegal saya tolak. Semua transaksi besar harus lewat due diligence. Dan kalau Anda menyuruh saya menutupi pelecehan, penggelapan, atau darah, saya sendiri yang lapor polisi."
"Setuju."
[Mimpi mencatat: Bayu Santoso bergabung sebagai kepala hukum. Loyalitas awal 68. Risiko konflik verbal tinggi, nilai strategis tinggi.]
Dalam tiga jam berikutnya, ruang rapat berubah menjadi bengkel kekuasaan. Bu Ratih menyusun akta, Bayu mengunci pasal, Hendra memberi peta aset, Fajar mencatat protokol keamanan, Raka menandatangani setiap halaman setelah membaca ringkasannya.
Luki tidak lagi memanggilnya Dek. Ia memanggil Pak Raka dengan suara lebih kecil setiap kali membawa berkas.
Menjelang sore, Bu Ratih menutup map akta.
"Secara dokumen, PT Langit Sembilan resmi berjalan setelah pengesahan sistem masuk. Rekening perusahaan bisa diproses. Selamat, Pak Raka."
Raka menerima map itu.
[Misi baru aktif: Bangun Kerajaan.]
[Fase 1: miliki gedung kantor yang layak menjadi pusat PT Langit Sembilan.]
[Hadiah fase: 5.000 poin sistem, Ramuan Karisma Dasar, akses peluang aset kota.]
Mimpi menampilkan gambar gedung kaca empat puluh dua lantai di pusat kota.
[Target disarankan: Menara Langit. Harga pasar Rp2.500.000.000.000. Harga sistem: Rp25.000.]
Raka berdiri.
Bayu menatap layar ponsel Raka yang menyala, tidak melihat sistem tetapi melihat ekspresi klien barunya.
"Ada apa?"
Raka memasukkan akta PT Langit Sembilan ke tas.
Sebelum meninggalkan kantor notaris, Bayu meminta satu hal lagi: semua dokumen fisik harus punya salinan digital, semua salinan digital harus punya checksum dan backup, dan semua transaksi perusahaan harus keluar dari rekening resmi. Ia berkata itu sambil menatap Luki, seolah staf itu contoh hidup dari risiko manusia yang merasa bisa meremehkan prosedur.
Raka menyetujui tanpa debat. Ia baru memahami bahwa uang besar tidak hanya membutuhkan brankas, tetapi jejak. Jejak yang rapi bisa menjadi tameng. Jejak yang kotor bisa menjadi borgol.
Di lift turun, Hendra berkata pelan, "Pak Raka, hari ini Bapak tidak hanya membuat perusahaan. Bapak membuat orang-orang di ruangan tadi sadar bahwa usia bukan ukuran ancaman."
"Bagus," jawab Raka. "Mulai sekarang mereka hitung dulu sebelum tertawa."
Bu Ratih pun berubah lebih serius setelah Bayu masuk. Ia meminta staf menyiapkan minuta cadangan dan memastikan semua tanda tangan tidak boleh dipindai sembarangan. Raka memperhatikan bagaimana satu pengacara kasar bisa memaksa satu kantor bekerja lebih rapi. Dari sana ia belajar: orang yang tepat kadang datang dengan suara keras, selama sistem berhenti malas setelah ia bicara.
"Besok kita belanja gedung."