NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Dari Timur

Pendekar Pedang Dari Timur

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ginza

Di dunia Murim yang dikuasai oleh sekte-sekte besar dan tipu daya, Mu Jin hanyalah seorang tukang kayu dari desa terpencil. Hidupnya berubah total ketika desanya dibantai dalam satu malam oleh pasukan yang tak dikenal.

Tanpa tenaga dalam dan tanpa latar belakang beladiri, Mu Jin memulai perjalanan panjang ke utara. Di tengah perjalanan, dia berhadapan dengan kenyataan kejam dunia Murim: orang kuat menindas yang lemah, keadilan hanyalah topeng, dan dendam adalah satu-satunya hal yang membuatnya terus melangkah.

Sementara itu, di Puncak Awan Putih, Lu Chen, sosok yang dipuja sebagai pelindung keadilan, menggerakkan pengaruhnya di balik layar. Di utara, pemberontakan perlahan menguat di bawah pimpinan Lin Yu, anak haram yang ditolak oleh dunianya sendiri.

Di antara salju, darah, dan konspirasi, seorang tukang kayu biasa terus berjalan. Tanpa mengetahui apakah dia akan menjadi pahlawan, monster, atau hanya satu lagi mayat di jalanan Murim.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 08 ILALANG

Langkah kaki pria berjubah abu-abu itu menapak tanpa suara di atas lantai marmer hitam Paviliun Burung Putih, sebuah aula rahasia di bawah kaki Puncak Awan Putih. Bau dupa cendana yang berat mengendap di udara, mencoba menyamarkan bau amis darah yang belum sepenuhnya hilang dari area tersebut.

Di balik tirai sutra tipis bertorehkan tinta emas, Lu Chen berdiri membelakangi ruangan. Sang Pendekar Pedang Suci sedang membersihkan lukisan gantung bermotif pegunungan dengan bulu unggas. Gerakannya begitu halus, anggun, dan tanpa cela.

Pria berjubah abu-abu itu berlutut dengan satu kaki. “Hamba melapor, Ketua.”

“Kau terlambat dua hari, Guan Feng,” ujar Lu Chen tanpa menoleh. Suaranya tenang, mengayun lembut seperti simfoni pagi. “Bagaimana dengan sisa-sisa Sekte Burung Hong di perbatasan timur?”

“Sekte Burung Hong telah sepenuhnya runtuh,” jawab Guan Feng, menundukkan kepalanya lebih dalam. “Namun, murid wanita bernama Lu Xian berhasil melarikan diri ke Hutan Taring Hitam. Hamba mengikutinya hingga ke garis batas rawa.”

Lu Chen menghentikan usapan bulunya sekilas. “Satu benih membusuk yang tersisa bisa merusak panen, Guan Feng. Kenapa kau tidak membawakan kepalanya padaku?”

“Hamba menemukan sesuatu yang lebih menarik saat melacaknya,” potong Guan Feng datar. “Di Hutan Taring Hitam, hamba mendapati pedang milik Guan Ting—murid luar kita yang tewas di rawa-rawa dua bulan lalu—berada di tangan seorang pria.”

Lu Chen berbalik perlahan. Matanya yang jernih menatap Guan Feng menembus tirai sutra. “Penyusup dari Sekte Bulan Merah? Atau suruhan dari utara?”

“Bukan keduanya,” balas Guan Feng. “Dia bukan seorang pendekar. Tidak punya qi, tidak tahu teknik meringankan tubuh, dan otot-ototnya dibentuk dari pekerjaan kasar. Dia hanyalah seorang tukang kayu dari Lembah Nian.”

Lembah Nian.

Untuk pertama kalinya dalam sekian lama, alis Lu Chen bertaut tipis. Sebuah riak kecil muncul di permukaan matanya yang biasanya sedingin dan sehening telaga.

“Lembah Nian...” gumam Lu Chen pelan. “Desa yang kita ratakan tiga tahun lalu untuk mengubur Kitab Racun Terlarang?”

“Benar, Ketua,” lanjut Guan Feng. “Pria itu bernama Mu Jin. Dia selamat dari pembantaian malam itu karena terjebak longsor. Tiga tahun ini dia berjalan menyeret pedang besi hitam milik Guan Ting, mencari alasan mengapa desanya dimusnahkan. Dia bertarung seperti orang gila, mengayunkan pedang tebal itu persis seperti mengayunkan kapak pembelah kayu.”

Lu Chen berjalan melintasi tirai sutra, menyibakkannya perlahan. Senyum tipis, lembut namun membekukan darah, kembali terukir di wajahnya yang rupawan.

“Seikatan ilalang yang lolos dari api...” kata Lu Chen pelan sambil menatap telapak tangannya sendiri. “Menarik. Seorang cacing tanah yang mencoba merayap menaiki gunung untuk menuntut balasan pada langit.”

“Apakah hamba perlu kembali dan memotong lehernya?” tanya Guan Feng dingin.

“Tidak perlu,” Lu Chen mengibaskan tangannya, berbalik memunggungi Guan Feng. “Seorang tukang kayu yang tidak memiliki qi hanya akan mati digilas oleh hukum Murim. Lagipula, biarkan dia berjalan bersama Lu Xian. Biarkan rasa benci mereka membimbing mereka menuju utara.”

Lu Chen berjalan mendekati peta kulit harimau yang terbentang di atas meja batu. Matanya tertuju pada garis batas wilayah utara yang dikuasai oleh Lin Yu.

“Anak haram dari utara itu sedang mengumpulkan orang-orang buangan dan jiwa-jiwa berdendam untuk meruntuhkan kekuasaanku,” bisik Lu Chen, matanya berkilat penuh perhitungan yang kejam. “Mu Jin dan Lu Xian hanyalah serangga kecil. Tapi jika serangga-serangga berdendam ini berkumpul di bawah naungan Lin Yu, itu akan memberi kita alasan yang sempurna untuk membumihanguskan seluruh wilayah utara tanpa diprotes oleh sekte-sekte lain.”

Guan Feng menunduk makin dalam. Dia paham betul jalan pikiran pimpinannya. Lu Chen tidak pernah melihat manusia sebagai nyawa, melainkan hanya sebagai kepingan catur yang bisa ditumbalkan kapan saja demi menjaga tahta sucinya.

“Tinggalkan mereka,” perintah Lu Chen. “Awasi dari jauh. Pastikan tukang kayu itu tidak mati terlalu cepat sebelum sampai ke tangan Lin Yu.”

“Baik, Ketua.” Guan Feng berdiri, melangkah mundur perlahan, lalu lenyap ke dalam bayangan pilar aula rahasia.

Lu Chen menuangkan arak ke dalam cangkir perak. Dia menatap pantulan wajahnya sendiri di atas permukaan cairan bening itu, lalu tersenyum dingin.

“Dunia ini memang penuh dengan orang-orang bodoh yang mencari keadilan,” gumam sang Pendekar Pedang Suci sebelum meneguk araknya hingga kandas. “Mereka tidak pernah paham, bahwa keadilan hanyalah nama lain dari kehendak pemenang.”

1
Ginza
bantu retting teman-teman
SilentNovels
saling support tor👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!