Aku terbangun dan menyadari dirinya telah berpindah menjadi Freya, tokoh antagonis yang kejam, sombong, dan ditakdirkan berakhir tragis — dibenci semua orang, diceraikan dengan hina, dan mati muda. Yang lebih menyulitkan: aku memiliki suami, pria tampan namun dingin yang dalam cerita aslinya tak pernah menyayangi Freya dan justru ikut menghancurkannya.
Aku bertekad mengubah takdir. Aku tak ingin berakhir mati. Namun setiap kali aku mencoba bersikap jahat sesuai watak asli Freya demi tidak dicurigai, sang suami justru bersikap sebaliknya.
Orang lain mencela aku? Ia langsung membela dengan tajam.
Aku hanya sedikit terluka? Ia panik seolah nyawaku terancam.
Aku mencoba menjauh? Ia justru menarikku masuk ke dalam pelukannya dan melarang pergi.
"Siapa pun yang berani menyakiti isteriku, harus siap menghadapi aku," ucapnya dengan sorot mata tajam yang tak pernah kulihat dalam cerita aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Malam Kedua & Kekuatan yang Terbangun
Malam kedua turun dengan langit kelabu, tanpa bintang, tanpa bulan. Angin berhembus kencang, mengguncang dahan pohon besar di halaman hingga bayangannya bergerak seperti jari-jari raksasa yang meraih ke arah jendela rumah. Suasana tebal dan menyesakkan, seakan udara sendiri berhenti bergerak.
Kami bertiga — Arga, Ibu Arga, dan aku — duduk di ruang tengah, lampu menyala terang namun tak sanggup menghapus bayang gelap di sudut-sudut ruangan. Pengawal berjaga di setiap pintu dan jendela, siap siaga. Tapi entah kenapa, hatiku berbisik: pengamanan fisik takkan mampu menahannya.
"Dia takkan datang lewat pintu," gumamku pelan, seakan membaca pikiran Arga. "Dia datang lewat tempat yang tak bisa dikunci."
Arga menggenggam tanganku erat, jari-jarinya saling mengait dengan jemariku. "Apa pun yang terjadi, jangan lepaskan tanganku. Ikatan kita bukan sekadar janji — itu perlindungan terkuat yang kita miliki."
Tepat pukul dua belas malam, lampu berkedip tiga kali — lalu padam total. Ruangan itu tenggelam dalam kegelapan pekat. Angin menderu kencang, jendela-jendela bergetar hebat seakan ada sesuatu yang menabraknya dari luar. Dan di tengah kegelapan itu, suara Damar terdengar — bukan dari pintu, bukan dari jendela, melainkan bergema di seluruh ruangan, seakan ia ada di mana-mana sekaligus.
"Kalian berpikir bisa melawan takdir yang ditulis ratusan tahun lalu? Bodoh..."
Cahaya lilin tiba-tiba menyala satu per satu di sepanjang ruangan, seakan ditiup oleh tangan tak kasat mata. Dan di ambang pintu, berdiri Damar — namun bukan seperti yang kami lihat sebelumnya. Jas hitamnya masih sama, tapi di sekelilingnya kabut tipis berputar perlahan, matanya bersinar redup berwarna perak. Di tangannya, ia memegang sebuah benda — lonjong, berwarna hitam pekat, berdenyut pelan seakan bernyawa.
"Itu... apa itu?" bisik Ibu Arga, mundur perlahan.
"Batu Pembelah Jiwa," jawab Damar dingin, melangkah masuk tanpa diundang. "Dibuat khusus untuk memisahkan apa pun yang menyatukan dua dunia. Termasuk ikatan kalian berdua."
Arga berdiri di hadapanku, melindungiku dengan tubuhnya sendiri. "Kau takkan menyentuhnya. Lewati mayatku dulu."
Damar tertawa rendah — tawa yang tanpa kegembiraan, penuh kepastian. "Itu yang kuharapkan. Semakin kuat pertahanan kalian, semakin besar energi yang terserap saat kubelahnya. Dan itu justru yang kubutuhkan."
Ia mengangkat batu itu ke udara. Seketika, rasa sakit tajam menusuk dadaku — seakan ada tangan tak kasat mata yang mencengkeram jantungku. Arga mengerang pelan, tubuhnya terhuyung, wajahnya semakin pucat. Batu itu menarik kekuatan dari ikatan kami — setiap detik, rasanya semakin berat, semakin menyakitkan.
"Arga!" seruku panik, memeluknya yang nyaris jatuh. "Jangan menyerah!"
"Dia... dia mengambil separuh sisa kekuatanku..." bisik Arga, keringat dingin membasahi wajahnya. "Freya... lepaskan. Lari."
"Tidak!" Aku mencengkeram tangannya semakin erat. "Kita berjanji — bersama sampai akhir. Takkan pernah aku lepaskan!"
Saat itu, sesuatu terjadi. Di mana aku berharap pertahanan kami runtuh, justru sebaliknya — dari tempat jari-jemari kami saling mengait, cahaya keemasan tiba-tiba memancar keluar. Bukan lemah, bukan tipis — melainkan menyilaukan, hangat, dan begitu kuat hingga membuat Damar mundur terhuyung, matanya menyipit menahan cahaya itu.
"Impossibel..." desisnya, wajahnya penuh takjub sekaligus marah. "Ikatan itu justru semakin kuat?!"
"Bukan ikatan yang lemah," suaraku keluar lebih tegas dari biasanya, cahaya itu menyelimuti kami berdua. "Ikatan yang dibangun di atas pengorbanan sejati takkan pernah bisa kau belah, Damar. Justru saat kau mencoba merobeknya — ia menyatu lebih erat dari sebelumnya."
Cahaya itu melesat ke arah batu hitam di tangan Damar. Batu itu bergetar hebat, retakan muncul di permukaannya, lalu — DARR! — pecah berkeping-keping di udara. Damar berteriak kesakitan saat gelombang kejut menghantamnya, melemparnya hingga menabrak dinding jauh di ujung ruangan. Ia jatuh berlutut, napasnya memburu, tatapannya penuh kemarahan yang membara.
"Kalian baru saja memulai perang yang takkan bisa kalian menangkan!" bentaknya, suaranya bergetar karena amarah. "Ini belum selesai! Aku takkan berhenti sampai aku mendapatkan apa yang menjadi milikku!"
Ia meraba luka di lengannya, lalu berdiri dengan susah payah. Sebelum kami sempat bereaksi, ia menghilang — kabut hitam menyelimuti tubuhnya, dan dalam sekejap, tak ada siapa-siapa di sana. Hanya sisa udara dingin dan bau belerang yang tertinggal di ruangan itu.
Lampu kembali menyala, terang dan hangat. Ruangan itu kembali seperti semula — seakan apa yang baru saja terjadi hanyalah mimpi buruk. Tapi kepingan batu hitam di lantai, luka di lengan Arga, dan napas kami yang masih memburu — itu semua nyata.
Kami bertiga saling berpandangan. Ibu Arga berjalan mendekat, wajahnya campur antara lega dan cemas. "Kalian... kalian mengalahkannya. Dengan kekuatan kalian sendiri."
"Tapi dia takkan menyerah begitu saja," ucap Arga pelan, meski matanya kembali tegas. "Dia terluka, dan itu membuatnya semakin berbahaya. Malam ketiga — malam terakhir — dia akan datang dengan segala yang ia miliki."
Ia berbalik ke arahku, mengusap pipiku dengan lembut. "Kau luar biasa, Freya. Kau yang memicu kekuatan itu. Bukan aku — kita bersama."
Aku menunduk, menyentuh dadaku sendiri. Rasanya berbeda sekarang — lebih utuh, lebih kuat. Ada sesuatu di dalam diriku yang terbangun malam itu, sesuatu yang selama ini tersembunyi, menunggu saat yang tepat untuk muncul.
"Besok malam," bisikku, menatap keduanya. "Malam ketiga — bulan purnama kembali. Dan di situlah semuanya berakhir. Entah kemenangan... atau kehancuran. Tapi apa pun yang terjadi, kita hadapi bersama."
Di luar, angin mulai mereda. Namun di kejauhan, langit tampak semakin gelap, seakan awan sedang berkumpul untuk menyambut malam terakhir pertempuran kami. Dan di dalam diriku, aku tahu — Damar bukan sekadar orang yang menginginkan harta. Dia menginginkan sesuatu yang jauh lebih besar. Dan aku mulai menyadari... sesuatu tentang diriku sendiri yang bahkan belum kuketahui.