NovelToon NovelToon
Pembalasan Dendam Mantan Istri Ceo

Pembalasan Dendam Mantan Istri Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Finus Ina

Lima tahun lalu, Adeline Wijaya dijebak oleh adik tirinya sendiri hingga keguguran dan diusir oleh suaminya, Bramantara, dalam kondisi sekarat. Semua orang mengira Adeline telah tewas di dasar jurang.Lima tahun kemudian, ia kembali ke Kota Jakarta dengan identitas baru sebagai Elena Vance, seorang desainer perhiasan kelas dunia yang genius dan kejam. Tujuannya hanya satu: menghancurkan mereka yang telah merebut kebahagiaannya.Demi melancarkan aksinya, Elena mendekati Nicholas Syailendra, CEO tertinggi di balik konglomerat nomor satu sekaligus musuh bebuyutan mantan suaminya.

Nicholas menawarkan kesepakatan: "Jadilah istriku, dan aku akan memberikan dunia untukmu membalas dendam." Namun, Elena tidak tahu bahwa di balik pernikahan kontrak itu, ada rahasia masa lalu yang jauh lebih besar yang siap menguji hatinya sekali lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 4

happy reading guys

------------------------------

BAB 4: Jebakan Pertama di Toilet

Suara riuh tepuk tangan dan denting gelas sampanye di ballroom berangsur-angsur menjauh saat Elena Vance melangkah masuk ke dalam area toilet VVIP yang sepi.

Begitu pintu kayu mahogani yang tebal itu tertutup rapat, Elena melepaskan genggaman tangannya dari gaun hitamnya.

Ia berjalan menuju wastafel marmer, menatap pantulan wajahnya sendiri di cermin besar berbingkai emas.

Kedua telapak tangan Elena sedikit gemetar.

Bukan karena takut, melainkan karena gejolak adrenalin yang meletup-letup di dalam dadanya setelah melihat kepanikan di wajah Bram dan Siska beberapa menit yang lalu.

Klik.

Elena merogoh tas pesta kecil bertabur kristal miliknya, mengeluarkan sebuah ponsel pintar tipis berlogo khusus milik Syailendra Group.

Dengan gerakan tenang, ia membuka aplikasi perekam suara bawaan, menyalakannya, lalu menyembunyikan ponsel tersebut di balik deretan kotak tisu mewah di dekat wastafel.

Keberadaan benda itu benar-benar tersamarkan dengan sempurna.

Tepat saat Elena selesai merapikan letak lipstik merahnya, pintu toilet didorong terbuka dengan sangat kasar hingga menghantam dinding.

Brak!

Siska Wijaya berdiri di ambang pintu dengan napas memburu.

Wajahnya yang semula dipoles riasan merah muda kini tampak sangat mengerikan karena balutan amarah dan rasa frustrasi.

Ia langsung mengunci pintu toilet dari dalam, lalu melangkah lebar mendekati Elena dengan mata yang melotot tajam.

"Hentikan sandiwara konyolmu ini, Adeline!"

bentak Siska, suaranya melengking tinggi di dalam ruangan yang sunyi itu.

"Kamu pikir dengan mengganti namamu menjadi Elena Vance dan memakai pakaian mahal buatan Prancis, kamu bisa membodohiku?! Aku tahu itu kamu, jalang sialan!"

Elena tidak langsung berbalik.

Ia sengaja mengeringkan tangannya menggunakan selembar tisu dengan gerakan yang sangat lambat dan tenang, membiarkan kemarahan Siska membakar dirinya sendiri terlebih dahulu.

Setelah membuang tisu itu ke tempat sampah, barulah Elena membalikkan tubuhnya dan bersandar santai pada pinggiran wastafel marmer.

"Nona Siska Wijaya, kan?"

Elena mengangkat sebelah alisnya dengan tatapan meremehkan.

"Saya rasa etika keluarga kaya di Jakarta sangat buruk. Apakah semua desainer utama di kota ini terbiasa mendobrak pintu toilet dan membentak tamu kehormatan dari Syailendra Group?"

"Jangan bawa-bawa Nicholas Syailendra di depanku! Di sini tidak ada orang lain, tidak ada kamera, dan tidak ada wartawan!"

Siska berteriak frustrasi, melangkah maju hingga jarak mereka hanya tersisa satu meter.

"Bagaimana bisa kamu masih hidup, hah?! Malam badai itu... kamu kehilangan banyak darah dan rahimmu hancur! Kamu seharusnya sudah mati membusuk di selokan!"

Elena merasakan hatinya seperti ditusuk belati tak kasat mata saat mendengar kata 'rahimmu hancur'.

Mengingat janinnya yang gugur secara paksa malam itu membuat rasa benci di dadanya kembali berkobar laksana api neraka.

Namun, Elena berhasil mengendalikan ekspresi wajahnya.

Ia justru mengulas senyum miring yang tampak begitu dingin dan kejam.

"Oh... jadi malam itu Anda melihat saya bersimbah darah di jalanan?"

Elena memiringkan kepalanya, memancing Siska lebih dalam ke dalam lubang jebakannya.

"Menarik sekali. Bukankah di berita online tertulis bahwa Adeline Wijaya hilang terseret arus banjir bandang? Bagaimana seorang adik ipar yang baik bisa tahu secara detail tentang kondisi fisik kakaknya yang sedang keguguran di pinggir aspal, jika Anda sendiri tidak berada di sana untuk menyaksikannya—atau mungkin... merencanakannya?"

Wajah Siska seketika menegang.

Ia menyadari bahwa ia telah membeberkan terlalu banyak informasi karena dikuasai rasa panik.

Namun, egonya yang tinggi dan rasa bencinya yang mendalam pada Adeline sejak masa kecil membuat Siska menolak untuk mundur.

Siska tertawa sinis, melipat kedua tangannya di dada dengan angkuh.

"Kalaupun iya aku yang merencanakannya, lalu kamu mau apa, Adeline?! Hah?! Siapa yang akan percaya padamu? Foto-foto telanjangmu di hotel itu sudah sukses bikin nama kamu busuk di seluruh jaringan media bisnis satu bulan lalu! Nggak ada orang yang bakal percaya sama omongan wanita murahan kayak kamu!"

"Jadi, foto-foto itu juga hasil karyamu?"

Elena melangkah satu tapak maju, mengintimidasi Siska dengan tinggi badannya yang lebih unggul berkat sepatu hak tinggi berlapis kristal milik Prancis.

Tatapan mata Elena mengunci manik mata Siska tanpa ampun.

"Ya! Aku yang menaruh obat tidur di minumanmu malam itu!"

desis Siska dengan nada penuh kemenangan yang berapi-api.

------------------------------

[KILAS BALIK: Satu Bulan yang Lalu]

Malam itu, di sebuah restoran privat bernuansa remang-remang, Adeline duduk menanti Siska dengan senyuman hangat.

Saat itu, Adeline baru saja mengumumkan kehamilannya yang menginjak usia empat bulan kepada sang adik tiri. Ia mengira Siska akan ikut bahagia untuknya.

Namun, saat Adeline berpamitan pergi ke kamar mandi sebentar, senyuman manis di wajah Siska langsung menguap.

Siska merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah botol kaca kecil berisi cairan bening tanpa aroma—sejenis obat tidur dosis tinggi yang biasa digunakan untuk membius hewan laboratorium.

Dengan tangan yang dingin dan senyuman penuh kedengkian, Siska meneteskan seluruh isi cairan itu ke dalam gelas jus jeruk milik Adeline.

"Minum ini, Kak. Dan bersiaplah kehilangan semua yang kamu miliki,"

gumam Siska lirih sembari mengaduk jus tersebut menggunakan sedotan hingga larut sempurna.

Ketika Adeline kembali dan meminum jus tersebut hingga habis tanpa curiga, efeknya bekerja sangat cepat.

Kurang dari lima belas menit, kesadaran Adeline mulai kabur.

Siska yang berpura-pura panik segera memapah tubuh Adeline keluar dari restoran lewat pintu belakang, langsung memasukkannya ke dalam mobil hitam yang sudah disewa.

Di sebuah kamar hotel kelas melati yang sudah dipersiapkan, Siska melucuti pakaian Adeline yang sudah tak sadarkan diri hingga setengah telanjang.

Ia kemudian menyuruh seorang pria asing bertato—yang telah ia bayar mahal—untuk berbaring di samping Adeline.

Siska mengambil ponselnya, membidik beberapa foto dengan sudut kamera yang sangat intim, memperlihatkan seolah-olah Adeline sedang memeluk pria asing tersebut di atas ranjang.

Malam itu juga, Siska mengirimkan foto-foto menjijikkan tersebut langsung ke nomor pribadi Bramantara, memicu kemarahan besar yang berujung pada malam pengusiran berdarah di bawah guyuran hujan badai.

------------------------------

[KEMBALI KE MASA SEKARANG]

"Aku yang menyewa pria asing itu untuk berfoto bersamamu di ranjang hotel!"

Siska melanjutkan kalimatnya dengan tawa kemenangan yang melengking egois, tidak menyadari bahwa Elena sedang merekam setiap jengkal bicaranya.

"Dan aku juga yang memastikan Bram melihat foto-foto itu tepat di saat kamu sedang mengandung anaknya! Asal kamu tahu ya, Bram tidak pernah benar-benar mencintaimu! Dia hanya memanfaatkan kekayaan mendiang ayahmu untuk memperbesar Bram Corp! Dan sekarang, seluruh harta, perusahaan, dan posisi nyonya muda Bram Corp sudah menjadi milikku!"

Siska mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Elena dengan pandangan penuh kemenangan yang menjijikkan.

"Kamu sudah kalah sejak awal, Adeline. Jadi, lebih baik kamu segera angkat kaki dari Jakarta dan kembali ke lubang persembunyianmu di Prancis sebelum aku membuat hidupmu jauh lebih menderita daripada malam badai itu!"

Mendengar seluruh pengakuan jujur yang keluar dari mulut busuk adik tirinya, Elena tidak menangis seperti Adeline yang dulu.

Ia justru tertawa kecil—sebuah tawa renyah yang terdengar sangat merdu namun menyimpan kengerian yang sanggup membuat bulu kuduk berdiri.

"Terima kasih banyak atas penjelasannya yang sangat detail, Nona Siska,"

ucap Elena dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi sangat santai.

Elena berjalan melewati Siska menuju ke arah deretan kotak tisu mewah di dekat wastafel.

Ia mengulurkan tangannya, mengambil ponsel pintar milik Syailendra Group yang sejak tadi tersembunyi di sana, lalu menekan tombol berhenti pada aplikasi perekaman.

Klik.

Elena memutar kembali rekaman suara tersebut selama beberapa detik.

Suara lengkingan Siska yang mengakui semua kejahatannya—mulai dari obat tidur, foto jebakan hotel, hingga konspirasi pengusiran malam badai—terdengar dengan sangat jelas dan jernih di dalam toilet VVIP tersebut.

Wajah Siska yang semula merah padam karena amarah, seketika berubah menjadi seputih kertas semen.

Matanya membelalak horor menatap ponsel di tangan Elena.

Seluruh tubuhnya mendadak gemetar hebat karena rasa takut yang teramat sangat.

"Kamu... kamu merekamnya?!"

jerit Siska, suaranya mendadak parau dan kehilangan kekuatannya.

Ia langsung menerjang maju, mencoba merebut ponsel tersebut dari tangan Elena.

"Berikan ponsel itu padaku, jalang! Hapus rekamannya!"

Dengan gerakan yang sangat gesit dan anggun, Elena menghindar, membuat Siska kehilangan keseimbangan dan hampir tersungkur menghantam lantai wastafel yang keras.

Elena memasukkan ponsel itu kembali ke dalam tas pesta kecilnya dengan tenang, lalu menatap Siska yang kini terduduk lemas di lantai dengan tatapan merendehkan.

"Rekaman ini terhubung langsung dengan server penyimpanan utama Syailendra Group secara otomatis," kata Elena, suaranya terdengar magis dan penuh dominasi mutlak.

"Jika dalam waktu lima menit aku tidak keluar dari toilet ini, atau jika terjadi sesuatu pada ponsel ini, Nicholas Syailendra akan langsung mengirimkan salinan rekaman ini ke seluruh stasiun televisi dan kantor kepolisian di Indonesia."

Elena berjalan mendekati pintu keluar toilet, lalu menghentikan langkahnya sejenak tanpa menoleh ke belakang.

"Selamat menikmati sisa malam pameranmu, Nona Siska. Bersiaplah, karena besok pagi... badai yang sesungguhnya akan mulai meruntuhkan istana pasir yang kamu rebut dariku," bisik Elena dingin.

Elena membuka kunci pintu, lalu melangkah keluar dengan keanggunan seorang ratu, meninggalkan Siska yang menjerit histeris sendirian di dalam toilet yang sunyi.

------------------------------

Bersambung........

Jangan lupa tinggalin jejak dulu yaa

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!