"Kecantikan tak bisa memakan racun kiamat, dan jabatan tak bisa membendung gigitan mayat."
Bereinkarnasi satu tahun sebelum bencana wabah The Them pecah, Thomas—seorang pria asal Indonesia—memilih jalan kelam demi bertahan hidup. Bergabung dengan sindikat perdagangan manusia, ia membiarkan tangannya berlumuran darah, memburu wanita-wanita Jepang untuk dijual kepada para pejabat demi satu tujuan: mengumpulkan modal tanpa batas.
Seluruh uang haram itu ia sulap menjadi sebuah Fortress Mansion bernilai miliaran yen di puncak pegunungan dekat SMA Fujimi—benteng pertahanan baja mandiri yang dilengkapi teknologi tinggi, stok logistik melimpah, dan persenjataan lengkap yang dapat dioperasikan seorang diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamang to get her...., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 Tahta Diatas Reruntuhan
Reruntuhan Pusat Kota Fujimi yang dulunya dipenuhi histeria kini diliputi kesunyi ganjil. Kabut racun yang tadinya mengepul dari bangkai Katak Raksasa Tier 3 perlahan memudar, terserap habis ke dalam sirkulasi darah dan organ dalam Saeko.
Saeko perlahan bangkit dari sujudnya. Gerakannya kini jauh lebih anggun, namun memancarkan aura membunuh yang terselubung rapat. Ketika ia mengepalkan jemarinya, tidak ada penyebaran asap racun atau aroma kimia menyengat yang terpancar—semua racun korosif itu tersimpan sempurna di dalam jaringan organ dalamnya, tak terdeteksi bahkan oleh insting predator monster mana pun.
Namun, di balik kekuatan fisik dan ketajaman refleksnya yang meroket tajam, Saeko bisa merasakan dengan sangat jernih getaran lembut di pusat dadanya. Inti racun di dalam tubuhnya secara konstan menyelaraskan frekuensi dengan gelombang bio-energi milik Thomas.
Satu pikiran dingin dari Thomas, dan organ-organ dalamnya akan meleleh menjadi racun cair dalam hitungan detik. Bagi Saeko, ikatan nyawa ini bukanlah kutukan, melainkan bentuk kepercayaan tertinggi dan bukti keterikatannya sebagai pelayan abadi sang Penguasa.
"Bagaimana rasanya, Busujima?" tanya Thomas datar tanpa menoleh.
"Tubuh hamba terasa jauh lebih ringan dan tajam, Tuan," jawab Saeko sembari menunduk hormat. "Dan rasa hangat dari ikatan Tuan di dalam dada hamba tepatnya di jantung... membuat hamba sadar bahwa keberadaan hamba sepenuhnya adalah milik Tuan." kata Saeko sambil memegang bagian tengah dada yang tersembunyi diantara dua daging yang tebal dengan kedua tangan.
Thomas tersenyum tipis. Kombinasi yang sempurna: pelayan dengan kepatuhan mutlak yang memiliki daya bunuh tersembunyi beracun, bertindak sebagai bayangan pengeksekusi di bawah kendalinya.
Thomas melangkah menuju puncak gedung pencakar langit tertinggi di distrik bisnis Fujimi—Gedung Menara Fujimi Financial Center.
Sisa-sisa zombie di dalam gedung penthouse itu dengan mudah diratakan oleh tebasan kilat Katana beracun milik Saeko. Dalam hitungan menit, lantai teratas gedung mewah berdinding kaca tebal itu telah dibersihkan sepenuhnya.
Dari dinding kaca floor-to-ceiling di ruang utama penthouse, Thomas menatap pemandangan panorama seluruh Kota Fujimi yang telah hancur.
Di bawah sana, ribuan zombie dan mutan melata di jalanan bagaikan serangga. Di kejauhan, laut biru yang membentang kini menjadi sarang biota mutan abadi, sementara benteng pegunungannya berdiri megah sebagai benteng pertahanan yang tak tertembus.
Thomas duduk di kursi kulit eksekutif di tengah ruangan, menyilangkan kakinya dengan santai. Saeko berdiri di samping kanannya dengan tangan bersedekap di atas gagang Meito: Muramasa, bertindak sebagai pengawal pribadi yang dingin.
Dunia lama yang dipenuhi aturan морал bodoh, hukum manusia yang lemah, dan tatanan sosial yang mengekang telah musnah sepenuhnya. Di atas puing-puing peradaban Fujimi, Thomas telah mendirikan takhta mutlaknya.
Dengan Regenerasi Abadi yang membuatnya tak bisa dihancurkan, Exoskeleton Chitin yang meremukkan segalanya, serta Pelayan Beracun Tier 3 di sisinya, tidak ada lagi yang mampu mengusik domainnya.
"Pengawasan perimeter kota selesai, Tuan," bisik Saeko halus saat mematikan pemindai taktis di tangannya. "Tidak ada lagi penyintas yang tersisa di radius sepuluh kilometer. Kota ini sepenuhnya milik Tuan."
Thomas memegang cangkir minumannya, menatap bayangan wajahnya sendiri di kaca jendela yang memantulkan pemandangan kota mati.
"Ini baru permulaan, Busujima," ujar Thomas dingin, matanya menyala dengan pendaran keemasan yang dominan. "Dunia ini luas... dan kita baru saja mengambil mahkota pertamanya."