Planet 3212—planet sampah paling melarat.
Tri, bocah tujuh tahun, bertahan dari rongsokan—tapi ia menyimpan ingatan insinyur mecha dewa dari kehidupan sebelumnya. Kesalahan pendaftaran melemparkannya ke jurusan tempur paling brutal. Semua meremehkan bocah sampah ini—sampai ia menghancurkan lawan, rancangan "jelek"nya mengguncang forum maestro, dan kekuatan 3S-Agung yang terpendam mulai terkuak.
Diburu Kabut Hitam, dilindungi rival terkuatnya, Tri harus pilih: tunduk—atau bangkit menelan takhta bintang. Dari tumpukan sampah menuju singgasana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 1 — Tikus dan Insinyur
Gigi kuning itu sudah menempel di pipinya ketika Tri membuka mata.
Bau bangkai menghantam lebih dulu. Lalu bulu kasar, napas panas, dan sepasang mata merah yang hanya berjarak satu telapak tangan dari wajahnya.
Seekor tikus sebesar kucing berjongkok di atas dadanya.
Tri tidak berteriak.
Bukan karena berani. Tubuh kecil yang ditempatinya bahkan tidak punya tenaga untuk itu. Tenggorokannya kering seperti diisi pasir. Demam masih membakar di balik kulit, sementara beban tikus di dadanya membuat setiap tarikan napas terasa seperti ditusuk kawat.
Tikus itu mengendus lagi. Ujung hidungnya menyentuh kulit Tri.
Mencari bagian yang paling lunak.
Tri menahan napas.
Jangan bergerak sembarangan.
Matanya menyapu ruangan tanpa mengubah posisi kepala.
Langit-langit retak. Dinding logam tipis penuh lubang. Selembar kain kumal menutupi separuh tubuhnya. Di sebelah tangan kanan ada kaleng kosong, dua potong kabel, serpihan besi, dan sebuah jam beker tua dengan satu kaki patah.
Tidak ada pisau. Tidak ada tongkat. Tidak ada tenaga untuk meninju.
Bagus sekali, pikirnya. Baru bangun, gue sudah masuk daftar makanan.
Pikiran itu bukan milik anak tujuh tahun.
Begitu pula gambar-gambar yang berdesakan di kepalanya: meja rancangan, lengan mekanis, rangka mesin setinggi gedung, ribuan bagian yang berputar dalam simulasi, lalu cahaya putih yang menelan segalanya.
Ingatan lain datang bersamaan, lebih kecil dan lebih kotor.
Planet 3212.
Planet tanpa nama yang hanya dikenal lewat nomor. Tempat kapal-kapal dari dunia makmur membuang apa pun yang tak lagi mereka inginkan.
Termasuk manusia.
Anak pemilik tubuh ini tidak punya nama keluarga. Orang tua kandungnya tidak diketahui. Seorang lelaki tua bisu menemukannya di antara peti logam dan memanggilnya Tri karena ia anak ketiga yang ditemukan hidup-hidup pada musim sampah tahun itu.
Dua anak sebelumnya tidak bertahan.
Lelaki tua itu meninggal sebulan lalu.
Demam menyusul tiga hari kemudian.
Anak itu berhenti bernapas beberapa jam sebelum fajar. Lalu kesadaran lain jatuh ke tubuhnya dan membuka mata tepat ketika seekor tikus hendak memakan wajahnya.
Semua informasi itu berkelebat dalam waktu kurang dari dua detik.
Tikus di dadanya mengangkat kaki depan.
Tri menggeser ujung jari kanannya satu sentimeter.
Sendinya langsung bergetar. Otot lengan kecil itu nyaris tak merespons. Ia mungkin masih mampu melakukan satu gerakan cepat. Dua kalau beruntung.
Kalau gagal, tikus itu akan menggigit lehernya.
Ia menatap jam beker di samping tangan.
Penutup belakangnya sudah hilang. Pegas utama berkarat, tetapi roda gigi alarm masih tertahan. Satu kaki patah membuat bodinya miring. Di bawahnya terselip serpihan besi tipis dengan sisi bergerigi.
Barang rusak.
Namun kerusakan selalu punya arah.
Tri menggerakkan jari lagi. Kukunya menyentuh kabel.
Tikus itu berhenti mengendus.
Telinganya menegak.
Tri membeku.
Mata merah itu mengarah lurus kepadanya. Rahangnya terbuka, memperlihatkan dua gigi depan sepanjang ruas jari anak-anak. Ada darah kering di salah satunya.
Mungkin darah pemilik tubuh ini.
Tikus itu merendahkan kepala.
Tri menarik kabel.
Kaleng kosong di sudut ruangan terseret dan menggesek lantai.
Krrrkk.
Kepala tikus menoleh mengikuti bunyi.
Itu satu-satunya kesempatan.
Tri menyentakkan tangan kanan ke jam beker, menekan bodinya ke lantai, lalu mendorong sisi yang kehilangan kaki. Benda itu miring tepat seperti yang ia perkirakan. Pegas alarm yang tertahan lepas. Roda gigi berputar liar dan menghantam serpihan besi di bawahnya.
TRANG!
Serpihan itu terpental.
Pelat itu memantul dari kaki jam yang masih utuh, berubah arah, lalu menghunjam ke bawah rahang tikus.
Hewan itu menjerit.
Tubuh beratnya melonjak di atas dada Tri. Cakar depannya mengoyak kain dan meninggalkan tiga garis panas di bahunya.
Tri tidak punya tenaga untuk menahan.
Ia memiringkan tubuh.
Tikus jatuh ke samping, tetapi belum mati. Darah hitam menetes dari rahangnya. Ia berputar liar, menabrak dinding, lalu kembali menerjang dengan serpihan besi masih tertancap.
Terlalu dangkal.
Tri meraih jam beker.
Lengannya seperti disiram api. Pandangannya menggelap di tepi. Ia tetap menggenggam benda itu dengan kedua tangan, mengangkatnya hanya setinggi dada, lalu menunggu.
Tikus melompat.
Sekarang.
Tri tidak mengayun. Tubuh ini terlalu lemah untuk menghasilkan daya pukul.
Ia hanya memutar jam sembilan puluh derajat dan menempatkan lubang kaki yang patah tepat di jalur serpihan besi.
Berat tikus melakukan sisanya.
KRAK!
Serpihan itu terdorong lebih dalam.
Jeritan terputus. Tubuh tikus menimpa lengannya, berkedut dua kali, lalu diam.
Tri tetap tidak bergerak selama beberapa detik.
Ia mendengarkan.
Tidak ada napas. Tidak ada gesekan kuku.
Baru setelah itu ia mendorong bangkai tersebut sedikit demi sedikit. Pekerjaan sederhana itu menghabiskan hampir seluruh tenaganya. Ketika dadanya akhirnya bebas, ia terbatuk sampai air matanya keluar.
Tidak ada darah di telapak tangan, hanya keringat dingin.
Tri menatap jam beker yang kini penyok.
Satu kaki tersisa. Kaca pecah. Pegas alarm keluar seperti usus logam.
Masih bisa diperbaiki.
Pikiran itu muncul begitu alami hingga Tri tertawa kecil. Suaranya lebih mirip embusan serak.
“Badan gue hampir mati, tapi yang gue pikirkan malah servis jam.”
Tikus di lantai tidak menanggapi.
“Bagus. Berarti kepala gue masih normal.”
Ia mencabut serpihan besi dari bangkai, membersihkannya pada kain, lalu menyimpannya di bawah jam. Tangannya bergerak lambat, tetapi urutannya pasti. Alat tajam di kanan. Kabel di kiri. Kaleng sebagai penahan. Tidak boleh ada benda berguna yang dibiarkan tanpa tempat.
Kebiasaan lama menyelamatkan rasa paniknya.
Ingatan anak itu terus muncul dalam potongan pendek.
Lelaki tua bisu yang mengangkat tiga jari ketika memberi nama Tri.
Tangan keriput yang membagi setengah botol cairan keruh.
Gerakan telunjuk yang selalu menunjuk ke pintu saat malam turun: jangan keluar, tikus berburu setelah gelap.
Tri menoleh ke sudut dekat pintu.
Di sana tergeletak tongkat milik lelaki tua itu. Tidak ada pemilik yang akan mengambilnya lagi.
Untuk pertama kalinya sejak membuka mata, dada Tri terasa sesak karena sesuatu yang bukan cakar atau demam.
Ia tidak mengenal lelaki itu.
Namun tubuh ini mengenalnya.
Tri mengangkat dua jari ke arah tongkat, meniru salam sederhana yang tersisa di ingatan anak tersebut.
“Terima kasih sudah menjaga tubuh ini sampai sejauh ini,” gumamnya. “Sisanya biar gue urus.”
Perutnya menjawab dengan bunyi panjang.
Janji yang bagus. Masalah pertama bahkan belum selesai.
Ia meraba perut yang cekung. Berdasarkan sisa ingatan, makanan terakhirnya hanya beberapa teguk cairan gizi hampir sebulan lalu. Setelah lelaki tua itu meninggal, tak ada orang yang mau berbagi dengan anak tanpa keluarga. Demam menghabiskan cadangan terakhir tubuh ini.
Tanpa makanan, ia mungkin mati sebelum matahari terbit.
Tri memaksa duduk.
Ruangan langsung berputar. Ia menahan tubuh pada dinding sampai mual mereda. Di balik lubang besar bekas jendela, lautan sampah membentang dalam kegelapan: bukit logam, kerangka kendaraan, pipa patah, dan lampu-lampu kecil para pemulung yang tinggal jauh di sisi timur.
Tak ada yang menyala sekarang.
Jam kerja mereka dimulai setelah sirene pagi. Keluar saat gelap hanya berarti menyerahkan diri kepada tikus dan Bestia kecil yang berkeliaran di bawah timbunan.
Tri menyeret diri ke jendela.
Setiap setengah meter ia harus berhenti. Lututnya tidak kuat menahan berat badan. Ia memakai tongkat lelaki tua itu sebagai tuas, bukan penopang: ujungnya dikunci ke celah lantai, kedua tangan menarik, lalu pinggul bergeser maju.
Cara yang buruk untuk bergerak.
Tetapi bergerak buruk masih lebih baik daripada mati rapi di kasur.
Ia akhirnya mencapai ambang jendela dan menyandarkan kepala pada logam dingin.
Langit Planet 3212 berwarna kelabu pekat. Tak ada bintang yang terlihat di balik debu industri. Jauh di atas bukit sampah, jalur kendaraan angkut membentuk garis hitam menuju zona pembuangan.
Sepi.
Seharusnya semua truk terbang sudah selesai membuang muatan pukul dua.
Tri menutup mata sejenak, mencoba menyusun pilihan. Bangkai tikus bisa dimakan kalau ia sanggup menyalakan pemanas. Kabel di ruangan cukup untuk membuat pemantik sederhana. Dagingnya mungkin membawa racun, tetapi racun yang datang besok masih lebih baik daripada kelaparan yang membunuh pagi ini.
Sebuah getaran tipis menjalar melalui dinding.
Tri membuka mata.
Bukan gempa. Irama getarannya teratur, disertai dengung mesin berat dari langit.
Satu sumber.
Lalu dua.
Tiga, empat, lima.
Jam beker rusak di belakangnya tiba-tiba melepaskan sisa tenaga pegas.
Kring!
Jarumnya berhenti tepat di angka empat.
Tri mendongak.
Lima truk terbang pengangkut sampah muncul dari balik awan debu, terbang terlalu rendah dan terlalu rapat. Lampu sorot putih mereka menyapu bukit sampah, lalu menabrak jendela tempat Tri berbaring.
Kendaraan yang seharusnya sudah pergi dua jam lalu itu kini turun bersamaan, tepat di atas kepalanya.