NovelToon NovelToon
Ibu Tiri Penyelamat Dua Pewaris

Ibu Tiri Penyelamat Dua Pewaris

Status: tamat
Genre:Asmara / Perubahan Hidup / CEO / Anak Genius / Ibu Tiri / Transmigrasi / Healing / Antagonis Jahat / Tamat
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nilam

Karina terbangun sebagai ibu tiri kejam dalam novel yang baru ia baca. Nathan dan Lucas, dua anak kecil yang seharusnya ia lindungi, justru gemetar setiap kali melihatnya. Lebih gawat lagi, Sebastian Wijaya, suaminya yang dingin dan berkuasa, pulang dengan kecurigaan tajam.
Karina hanya punya satu pilihan: memperbaiki semuanya sebelum terlambat.
Namun ketika Nathan dan Lucas mulai memanggilnya Mama, rahasia keluarga Wijaya perlahan terbuka. Pernikahan tanpa cinta berubah menjadi perjuangan melawan masa lalu, fitnah, dan keluarga besar yang ingin memisahkan mereka.
Bisakah Karina menjadi Mama yang mereka butuhkan sebelum takdir menyeretnya pergi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 12

Rombongan yang Tak Diundang

Rombongan itu tidak berhenti di ujung jalan.

Mobil pertama melambat tepat di depan rumah Karina. Ban hitamnya menggilas kerikil dan mengangkat debu tipis. Dua mobil lain berhenti berurutan di belakangnya, memenuhi jalan desa yang biasanya hanya dilalui motor dan kendaraan bak terbuka.

Tak ada warga yang berbicara lagi.

Pintu mobil depan terbuka. Dua lelaki berjaket gelap turun hampir bersamaan. Tubuh mereka tegap, rambut dipotong rapi, dan pandangan mereka langsung menyapu atap, jendela, pagar yang rusak, serta orang-orang yang memegang kayu.

Mereka tidak berteriak atau memamerkan otot. Salah satu hanya mengangkat tangan, lalu dua orang lain turun dari mobil belakang dan bergerak membentuk ruang di sekitar pintu tengah.

Gerakan yang begitu teratur membuat Bang Jajang dan anak buahnya tampak seperti sekelompok pemabuk yang tersesat di tempat latihan tentara.

"Minggir dari kendaraan," kata salah satu lelaki berjaket.

Bang Jajang tidak langsung menurut. Namun anak buahnya sudah menarik diri ke tepi jalan.

Pintu mobil tengah dibuka dari luar.

Sepasang sepatu kulit menginjak tanah berdebu, disusul seorang lelaki tinggi dengan setelan gelap yang potongannya terlalu rapi untuk jalan desa. Tubuhnya cenderung ramping, tetapi tidak ada kesan lemah pada cara ia berdiri. Kemeja putihnya masih bersih setelah perjalanan jauh. Wajahnya tegas, sorot matanya tenang, dan keheningan di sekelilingnya terasa seperti sesuatu yang memang biasa ia terima.

Ia tidak perlu bertanya agar orang-orang memberi jalan.

Karina memegang sapu lebih erat.

Lelaki itu menyapu pemandangan di hadapannya tanpa terburu-buru. Tatapannya melewati daun pagar yang miring, tongkat-tongkat di tanah, dua anak buah Bang Jajang yang masih menahan sakit, lalu Tuti yang bersembunyi di belakang Nathan dengan pelipis lebam.

Terakhir, ia memandang Karina.

Tatapan itu berhenti.

Hanya sesaat, tetapi Karina melihat perubahan yang sangat tipis di matanya. Bukan kaget sepenuhnya. Lebih seperti seseorang yang menemukan benda berada di tempat yang mustahil, lalu segera menutupi reaksinya.

Udara seakan menjadi lebih dingin.

Karina mengenali suara lelaki itu sebelum wajahnya benar-benar cocok dengan ingatan tubuh ini. Suara yang pernah datang melalui HP, menanyakan keadaan anak-anak dengan nada datar, lalu diam terlalu lama ketika Karina menjawab.

Sebastian Wijaya.

Suaminya.

Potongan ingatan pemilik tubuh lama hanya memberinya bayangan buram: pernikahan tanpa kehangatan, jarak, uang, dan seorang lelaki yang jarang hadir. Bayangan itu tidak menjelaskan bahwa Sebastian memiliki kehadiran yang bisa membuat satu jalan desa mendadak senyap.

Jantung Karina melewatkan satu ketukan.

Ia langsung menyalahkan sisa adrenalin setelah perkelahian.

Sebastian mengalihkan pandangan lebih dulu. "Apa yang terjadi?"

Ia tidak bertanya kepada siapa pun secara khusus. Salah satu pengawalnya segera memeriksa pagar dan tongkat yang berserakan. Pengawal lain mengeluarkan HP, mengambil gambar kerusakan, lalu berdiri pada sudut yang menghalangi Bang Jajang mendekati rumah.

"Bukan urusan kalian," kata Bang Jajang.

Suaranya masih keras, tetapi tangannya telah menurunkan tongkat hingga menyentuh paha.

Sebastian menoleh kepadanya.

Tidak ada kemarahan pada wajahnya. Justru ketenangan itu membuat Bang Jajang berhenti menggeser kaki.

"Kamu merusak pagar rumah istri saya," kata Sebastian. "Lalu berdiri di depan dua anak kecil sambil membawa senjata. Jelaskan bagian mana yang bukan urusan saya."

Kata istri membuat beberapa warga kembali berbisik.

Bang Jajang melirik mobil-mobil hitam. "Perempuan di dalam itu milik keluarga kami. Dia kabur setelah membuat masalah. Kami cuma mau bawa dia pulang."

Tuti tersentak. Nathan langsung bergerak setengah langkah untuk menutupinya.

Karina melihat gerakan itu. Sebastian juga.

"Dia bukan milik siapa pun," ujar Karina.

Bang Jajang menunjuknya. "Dia punya utang. Kerabatnya sudah terima uang. Bu Karina ikut campur dan menyerang orang-orang saya."

Salah satu pengawal menatap lelaki yang tergeletak sambil memegangi perut. Lelaki itu buru-buru berusaha bangun, seakan rasa sakitnya mendadak memalukan.

Sebastian tetap menatap Bang Jajang. "Pikirkan baik-baik sebelum bicara."

Kalimatnya tidak tinggi. Tidak pula mengandung ancaman terbuka.

Namun Bang Jajang menelan ludah.

"Kalau kamu menganggap ada utang yang sah, bawa bukti ke pihak berwenang," lanjut Sebastian. "Kalau kamu datang lagi dengan kayu dan ancaman, orang-orang saya akan menyerahkan rekaman, foto, dan nama para saksi kepada polisi."

Seolah menegaskan perkataannya, pengawal yang memegang HP mengarahkan kamera ke wajah Bang Jajang dan empat anak buahnya satu per satu.

Beberapa warga yang tadi bersembunyi mulai maju sedikit. Mereka masih tidak berani berdiri di samping Karina, tetapi kehadiran rombongan itu membuat bisikan mereka lebih jelas.

"Kami lihat mereka yang pukul pagar dulu."

"Iya. Bawa kayu semua."

"Tadi juga ancam mau mengubur satu keluarga."

Wajah Bang Jajang kehilangan warna. Ia mungkin bisa membuat satu tetangga diam, tetapi terlalu banyak mata telah melihat, dan sekarang ada orang luar yang sengaja mendokumentasikan semuanya.

"Ini belum selesai," gumamnya.

Sebastian memiringkan kepala sedikit.

Bang Jajang segera mengubah ucapannya. "Maksud saya, urusan utangnya akan kami selesaikan secara baik-baik."

"Lakukan itu jauh dari rumah ini."

Bang Jajang memberi isyarat tajam. Dua anak buah yang masih kuat membantu teman mereka berjalan. Mereka mundur melewati kerumunan tanpa berani menatap para pengawal, lalu menghilang di tikungan jalan bersama suara umpatan yang semakin pelan.

Tak seorang pun mengejar.

Begitu mereka benar-benar pergi, kekuatan pada bahu Tuti seolah runtuh. Ia terduduk di tanah. Napasnya pendek dan kedua tangannya menutupi kepala.

Karina segera menurunkan sapu. "Tuti, lihat saya. Mereka sudah pergi."

Salah satu pengawal mengambil kotak P3K dari mobil dan mendekat dua langkah. Tuti langsung mundur ketakutan.

Lelaki itu berhenti tanpa memaksa.

"Taruh kotaknya di sini," kata Karina. "Saya yang buka."

Pengawal itu menurut. Ia meletakkan kotak di tanah, lalu mundur agar Tuti bisa bernapas lebih leluasa.

Sebastian memperhatikan pertukaran tersebut. "Pastikan dia dibawa ke tempat aman dan diperiksa tenaga kesehatan. Jangan biarkan orang tadi mendekat lagi."

"Baik, Pak Sebastian," jawab salah satu pengawal.

Karina berlutut di samping Tuti. "Kamu dengar? Malam ini ada orang yang menjaga. Kita periksa lukamu lagi setelah kamu tenang."

"Mereka benar-benar pergi?"

"Untuk sekarang, iya."

Tuti memegang ujung baju Karina. Tangisnya kembali pecah, kali ini tanpa golok di tangan.

Di dekat jalan, para pengawal meminta warga mundur dari mobil dan memberi ruang. Mereka tidak mengusir dengan kasar. Seorang lelaki tua yang hampir tersandung bahkan ditopang sampai ke beranda rumahnya. Meski begitu, tak ada warga yang berani menyentuh kendaraan atau bertanya keras-keras siapa tamu tersebut.

Karina berdiri. Baru sekarang ia menyadari ijuk sapu telah patah di beberapa bagian. Ada tanah pada ujung bajunya dan rambutnya terlepas dari ikatan. Dibandingkan Sebastian yang seolah baru keluar dari gedung berpendingin udara, dirinya pasti tampak seperti orang yang habis berguling di kebun.

Ia tidak merasa perlu menjelaskan penampilan itu.

Sebastian berjalan mendekat sampai hanya pagar rusak yang memisahkan mereka. Matanya turun pada sapu di tangan Karina, lalu pada batu pipih yang pecah di halaman.

"Kamu yang mengurus semua ini sendirian?"

Nada suaranya sulit dibaca. Tidak terdengar memuji, tetapi juga tidak lagi sedingin suara di telepon.

"Tuti datang minta pertolongan siang tadi," jawab Karina. "Dia dibawa ke sini dengan utang yang katanya dibayar kepada kerabatnya. Dokumennya ditahan, dia dipukul, lalu dipaksa menikah dengan Bang Jajang. Setelah dia kabur, lima orang datang untuk mengambilnya. Mereka merusak pagar dan mengancam anak-anak."

Ia berhenti pada fakta yang bisa disaksikan semua orang. Perkara terpal dan galian dangkal bukan sesuatu yang aman diumumkan di jalan terbuka.

Sebastian tampaknya menangkap jeda itu. "Ada hal lain?"

"Ada yang perlu dibicarakan tanpa banyak orang mendengar. Tapi Tuti harus merasa aman dulu."

Sebastian memandangnya beberapa detik.

Karina tidak menunduk dan tidak buru-buru menceritakan bagaimana ia menjatuhkan empat lelaki. Ia juga tidak menyambut Sebastian seperti penyelamat. Kedatangan rombongan itu memang mengakhiri kebuntuan, tetapi sebelum mobil pertama tiba, pagar rumah ini tetap berdiri karena tangannya sendiri.

"Baik," kata Sebastian akhirnya. "Kita bicara setelah keadaan tenang."

Karina mengangguk. "Terima kasih sudah membuat mereka pergi."

"Mereka pergi karena tahu ada saksi dan bukti. Pastikan itu tidak hilang."

Jawaban yang praktis. Dingin, tetapi masuk akal.

Sebastian memberi instruksi singkat kepada dua orangnya. Satu diminta menjaga jalan. Satu lagi mencari rumah yang cukup layak untuk tempat mereka beristirahat dan menghubungi pihak kecamatan ketika sinyal memungkinkan.

Karina hendak kembali kepada Tuti ketika sapu di tangannya terasa ditarik pelan.

Lucas berdiri di belakangnya. Pipi anak itu basah. Nathan berada satu langkah di samping adiknya, masih berhati-hati mengamati para lelaki asing.

"Mama sudah nggak berkelahi?" tanya Lucas.

Karina meletakkan sapu di tanah. "Sudah."

Lucas memeluk kakinya. Nathan tidak ikut mendekat, tetapi bahunya turun sedikit ketika melihat tangan Karina kosong.

Di seberang pagar, Sebastian berbalik setelah memberikan instruksi.

Pandangannya jatuh pada Lucas yang memeluk Karina, lalu berpindah kepada Nathan yang berdiri setengah melindungi adiknya. Kedua anak itu menatapnya dengan rasa ingin tahu yang bercampur takut, seperti menghadapi seseorang yang dikenal namanya tetapi terlalu asing untuk didekati.

Langkah Sebastian terhenti nyaris tak terlihat.

Sesaat kemudian ia mengalihkan pandangan dan berjalan lagi, seolah jeda kecil itu tidak pernah terjadi.

1
awesome moment
pelakor ternuata tu jess jess
awesome moment
vincent dan sebastian punya rahasia p n
awesome moment
udh makin cinta kn
awesome moment
cinta yg tumbuh perlahan
awesome moment
lucas pernah ke sana
awesome moment
vincent c kuman
awesome moment
sebastian lahir dri kekejian herman thd elina
awesome moment
sebastian dan karina sama2 hidup kembali
awesome moment
ratih n lbh jahat dri dajjal. tega dgn anak kecil. demi harta
awesome moment
sabrina n wujud dajjal
awesome moment
banyak tangan yg mau menjaga nabil dan rafi. smg mrk ttp terlindungi dri org2 dws yg hnya melihat uang
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
awesome moment
kasihan anak2. sejarah adopsi nabil dan rafi penuh cerita keknya
awesome moment
mmg membangun mental yg hampir runtuh butuh perjuangan dan kejujuran
awesome moment
kasihan 2 bocil.
awesome moment
smua butuh proses
awesome moment
sll d yg bemar di lautan kesalahan
awesome moment
s7 bgts dgn alya.
awesome moment
siapa yg bantu raka dan alya. d pemain lain n
awesome moment
alya brubah. demi nabil dan rafi. smg sm author, alya g dibalikin lg ke dunia nyata. tar nabil sm rafi oleng
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!