Rean Vale menghabiskan seluruh kehidupan pertamanya di rumah sakit.
Terlahir dengan penyakit langka yang perlahan menghancurkan tubuhnya, ia tidak pernah merasakan kehidupan yang dianggap biasa oleh orang lain—bersekolah, bermain dengan teman, atau menikmati masa remaja. Meski demikian, ia tetap tumbuh menjadi pribadi yang tulus, lembut, dan baik hati.
Setelah kematiannya, Rean membuka mata di dunia yang sangat dikenalnya.
Ia telah bereinkarnasi ke dalam novel modern yang pernah ia baca, menjadi seorang tokoh figuran bernama Rean Vale—karakter yang seharusnya meninggal karena penyakit bawaan sebelum cerita utama dimulai.
Namun kali ini, takdir berubah.
Penyakit yang seharusnya merenggut nyawanya menghilang sepenuhnya, membuat tokoh yang seharusnya tidak pernah muncul di awal cerita kini tetap hidup.
Dengan kesempatan kedua yang akhirnya ia peroleh, Rean hanya memiliki satu keinginan sederhana: menjalani kehidupan sekolah yang tidak pernah sempat ia rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nafas Terakhir, Nafas Baru
Bau obat antiseptik sudah menjadi bagian dari hidup Rean sejak ia bisa mengingat sesuatu. Ruangan serba putih itu bukan penjara, tapi bertahun-tahun tinggal di dalamnya membuatnya terasa seperti satu.
Ia berbaring menghadap jendela, memandangi langit sore yang jingga. Selang infus menempel di lengan kirinya, monitor jantung berbunyi pelan dan teratur di sampingnya.
"Rean," suara ibunya lembut dari pintu, "mau Ibu bacakan buku lagi?"
Rean menoleh, tersenyum tipis. "Yang kemarin saja, Bu. Yang tentang sekolah itu."
Ibunya duduk di kursi dekat ranjang, membuka novel bersampul biru yang sudah lecek karena terlalu sering dibaca. Selama bertahun-tahun, buku-buku semacam itu adalah jendela satu-satunya bagi Rean untuk melihat dunia yang tidak pernah bisa ia sentuh langsung — sekolah, teman, festival, cinta pertama yang canggung. Semua hanya ada di atas kertas.
Novel itu berjudul Starline, kisah tentang seorang pemuda bernama Kieran Ashford di sebuah sekolah elite bernama Starline High School. Rean menyukainya bukan karena ceritanya rumit, tapi karena di dalamnya ada hal-hal sederhana yang tidak pernah ia miliki — makan siang bersama teman, lomba antar kelas, festival sekolah yang riuh.
Malam itu, seperti biasa, monitor di sampingnya berbunyi teratur. Namun menjelang subuh, bunyi itu berubah. Napas Rean memberat. Ia merasa dadanya seperti ditekan sesuatu yang tidak terlihat.
"Rean? Rean, sayang, tahan sebentar—"
Suara ibunya semakin jauh, seperti didengar dari ujung terowongan panjang. Rean tidak takut. Aneh rasanya, tapi ia tidak takut sama sekali. Ia hanya menyesal tidak sempat merasakan hal-hal kecil yang selalu ia baca di buku itu — berjalan ke sekolah, duduk di kelas, tertawa bersama teman sebangku.
Kegelapan datang perlahan, lembut, seperti selimut yang menutupi matanya satu per satu.
Ketika Rean membuka mata lagi, hal pertama yang ia sadari adalah: tidak ada bau obat.
Ia berbaring di kamar yang jauh lebih besar dari kamar rumah sakitnya. Langit-langit tinggi berukir, lampu gantung kristal tergantung di tengahnya. Rean mengerjap beberapa kali, lalu perlahan bangkit duduk. Tubuhnya terasa ringan — terlalu ringan, dibanding tubuhnya yang dulu selalu lemas setiap bangun tidur.
Ia menoleh ke cermin besar di sudut kamar. Yang dipantulkan bukan wajahnya.
Atau lebih tepatnya — mirip wajahnya, tapi lebih muda, lebih segar. Mata jernih, kulit pucat, wajah baby face yang membuatnya tampak dua atau tiga tahun lebih muda dari usianya yang sebenarnya.
Rean mengangkat tangan, menyentuh pipinya sendiri di cermin. Bayangan itu ikut bergerak.
"Ini..." gumamnya pelan.
Di meja dekat ranjang, tergeletak sebuah buku bersampul biru yang sangat familiar. Rean meraihnya dengan tangan gemetar. Starline. Judul yang sama persis dengan novel yang selalu dibacakan ibunya.
Ia membuka halaman pertama, matanya membaca cepat nama-nama yang tertera di sana. Kieran Ashford. Elora Roswell. Starline High School.
Dan di salah satu halaman, tercantum nama seorang tokoh figuran yang hanya disebut sekilas — seorang anak dari Keluarga Vale yang meninggal karena penyakit bawaan sebelum cerita utama dimulai.
Namanya sama persis dengan namanya sendiri.
Rean Vale.
Ia menutup buku itu perlahan, dadanya berdegup kencang bukan karena takut, tapi karena sesuatu yang jauh lebih asing — harapan.
"Kalau ini benar novel yang sama," bisiknya pada diri sendiri, "berarti aku masih punya kesempatan untuk merasakannya sendiri."
Untuk pertama kalinya sejak ia bisa mengingat, Rean tersenyum bukan karena berusaha terlihat kuat di depan orang tuanya. Ia tersenyum karena benar-benar bahagia.
Pintu kamar terbuka pelan. Seorang wanita paruh baya berwajah lembut melangkah masuk, membawa nampan berisi sarapan.
"Rean? Kamu sudah bangun, sayang?" Ia berhenti sejenak, matanya berkaca-kaca. "Dokter bilang... dokter bilang kondisimu membaik drastis semalam. Bahkan semua gejalanya menghilang."
Rean menatap wanita itu — Liora Vale, ibunya di kehidupan yang baru ini — dan untuk sesaat, ia hanya bisa terdiam, mencoba mencerna semuanya.
"Ibu," katanya pelan, mencoba kata itu di lidahnya untuk pertama kali dalam kehidupan yang baru, "aku... baik-baik saja."