Ema adalah detektif yang sedang diskorsing sehingga ia kembali ke kampung halamannya. Saat kembalinya dirinya di kampung, ada kasus yang penuh kejanggalan. Kasus itu pula yang mempertemukannya dengan cinta pertamanya, Levi.
"Kenapa kamu berbohong? apa alasanmu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ginevra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kurasa Ini yang Aku Inginkan
Tiga hari kemudian, Emma terbangun di ruang kecil dengan korden warna biru. Semua tampak bersih dan sepi. Ada sedikit aroma obat yang menguar di sudut ruang.
Emma memejamkan lagi matanya seraya mengingat hal yang terjadi padanya. Matanya berkeliling melihat sekeliling sekali lagi. Kemudian dia mendapati dirinya yang memakai baju ala pasien dan tampak jelas infus di sebelahnya.
"Akhhhh ...." Emma merintih dengan memegangi kepalanya yang mendadak pusing.
"Mom.... Mommy...." Panggilnya pada ibunya. Namun tak ada yang menjawab.
Dengan mengerahkan segala tenaganya, ia mencoba bangun dari tempat tidurnya. Perlahan ia menampakkan kakinya di lantai dingin rumah sakit. Masih dengan pegangan ke tiang infus, hati-hati ia melangkah keluar kamar.
"Mommy...ah ..." Kepalanya masih pusing, namun ia lagi-lagi berusaha mencari sang ibunda.
Sayup-sayup Emma mendengarkan berita yang di tonton oleh banyak orang di ruang tunggu sebelah kamarnya. Kemudian ia mencoba mendekat dan menyimaknya —masih dengan langkah pelan.
Seorang siswa SMA X telah bunuh diri dari lantai 4 gedung sekolahnya. Diduga stress karena persiapan ujian masuk perguruan tinggi.
Emma menyipitkan matanya, berusaha lebih fokus dengan nama SMA dan letaknya. "Bukankah itu...akh... "Kepalanya kembali pusing.
"Karena ujian masuk? Benarkah?"
Namun Emma tak begitu menghiraukan karena ia sangat kesakitan.
"Emma!!!" Sang ibunda akhirnya datang.
"Ayo kita kembali ke kamar! Kamu masih sakit," ajak ibunda sembari memapah Emma yang masih kesakitan.
Perlahan Bu Tiwi membaringkan kembali Emma dan menata tempat tidurnya rapi.
"Istirahatlah Emma..." Lirih ibu.
"Berapa hari aku tidur mom?" Tanya Emma.
"Tiga hari, sudah...istirahatlah. Ibu akan panggil dokter."
Namun Emma malah menahan tangan ibunda dan menatap beliau dengan mata berbinar.
"Mom..."
"Hem.." jawab Bu Tiwi lirih.
"Nggak usah panggil dokter. Sekarang jaman kita canggih. Kita bisa pencet ini," kata Emma menunjuk tombol panggil dengan ekspresi usilnya.
"Kau ini! Aku kira kenapa!" Pukul Bu Tiwi, merasa terjahili.
"Aw!!! Lagi sakit nih. Lembut dikit Napa?" Protes Emma.
Setelah Emma memencet tombol, seorang dokter dan perawat datang membawa hasil MRI atau hasil pemindaian seluruh tubuh untuk mengetahui penyakit yang di derita oleh pasien.
"Bu, ibu pasien boleh ikut ke ruangan saya?" Ucap Dokter yang tampak bersih dengan jas serba putihnya.
"Tidak, jelaskan saja di sini dok, saya ingin dengar semuanya tanpa ditutupi," Emma menyela pembicaraan. Dia curiga penyakitnya sangat parah sampai dokter harus bicara empat mata dengan ibunya.
Awalnya, Pak Dokter ragu dengan permintaan Emma, namun beliau mengiyakan dan melanjutkan penjelasannya.
"Kami menemukan bahwa Bu Emma menderita kanker leukimia," jelasnya.
"Apa?" Bu Tiwi menutup mulutnya terkejut.
"Apakah parah dok?" Tanya ibu penuh khawatir.
"Sayangnya, Bu Emma telah masuk ke stadium 3. Namun jangan khawatir, kanker leukimia biasa dikemo dan bisa sembuh." Lanjut Pak Dokter.
"Benarkah dok?" Tanya Bu Tiwi lagi.
Pak Dokter hanya mengangguk untuk menghibur sang Ibu.
"Berapa lama dok? Berapa lama saya bisa hidup?" Tanya Emma akhirnya setelah lama melamun.
"Hush!!! Apa yang kamu katakan? Kamu bakalan hidup terus!" Bu Tiwi tidak bisa menahan air matanya kali ini.
"Maaf sebelumnya, usia pasien tidak bisa begitu saja diprediksi. Yang terpenting sekarang bukan berapa lama anda bertahan. Namun bagaimana caranya anda sembuh. Jadi jangan menyerah. Peralatan rumah sakit kami lengkap." Jelas Pak Dokter dengan senyum yang menyejukkan.
"Baik dok, terimakasih," kata Bu Tiwi masih terisak.
Setelah Pak Dokter undur diri, Emma memeluk ibunya dan mengelus punggungnya.
"It's okey mom.... Tenang aja... Emma bakalan baik-baik aja," hiburnya.
"Hiks hiks.... Pokoknya kamu nggak boleh pergi sebelum ibu. Hanya ibu yang boleh pergi!"
"Ibu kok bilang gitu, Emma juga nggak mau ibu pergi duluan tau!!" Protesnya.
"Hiks... Hiks...Emma ..." Masih saja Bu Tiwi menangis menyerukan nama anak satu-satunya.
"Hhssss... Nggak usah nangis, aku disini sama ibu."
Bukannya berhenti, malah semakin kencang erangan Bu Tiwi.
Setelah dua jam penuh Bu Tiwi menangisi anaknya, akhirnya beliau kelelahan dan tertidur di sofa sebelah kasur Emma.
Emma menatap ibunya lekat. Dia tak menyangka hanya dengan berita penyakitnya, ibu yang selalu tampak galak, tegar, dan tak terkalahkan itu tumbang. Bagaimana kalau dia benar-benar pergi? Emma benar-benar tidak bisa membayangkan betapa sedih ibunya nanti.
"Haaaah...." Emma menghela sembari menatap internit atap seperti kebiasaannya. Dia tak menyangka seringnya ia mimisan dan sakit kepala bukan karena kelelahan, namun karena tubuhnya terdapat sel kanker yang bersarang.
"Tau begini, gue bakalan melakukan semua yang aku tahan. Seperti menentang Pak Irwan abis-abisan, membully si Tejo, menyelesaikan semua kasus walau bakal dipecat, dan Levi."
Nama itu kembali terngiang di telinganya. Cinta monyet yang ia rasakan waktu muda dan ia jadikan sebatas penyemangat belajar. Emma tak menyangka cintanya itu sangat berarti hingga diujung hidupnya nama itu tetap teringat. Ia mulai sadar bahwa yang ia rasakan bukan hanya rasa untuk idolanya tapi memang rasa cinta yang belum terselesaikan. Seperti beberapa kasus yang belum ia pecahkan.
Kembali, Emma menyalakan televisi yang terpasang di tembok untuk merelaksasi kepalanya yang masih pusing.
Ia berulang kali mengganti channel untuk mencari acara yang menarik. Namun pilihannya terhenti ketika ada wajah seseorang yang ia kenal terpampang di layar televisi.
"Dion adalah siswa yang ceria dan pintar. Namun memang akhir-akhir ini nilainya sedikit anjlok."
"Bohong...." Emma berbisik setelah menonton wawancara Levi.
"Aku tahu kamu bohong. Aku tahu kebiasaan mu ketika berbohong. Kenapa? Kenapa kamu bohong? Untuk apa?" Bisiknya lagi.
Emma benar-benar seorang fans yang berdedikasi. Tidak ada sedikitpun detail yang tidak ia ketahui dari penyanyi band idolanya itu.
"Aku.... Aku akan mencari tahu kenapa kamu bohong."
Tatapan mata Emma berkilat, seolah ada api dimatanya yang membakar seluruh tubuhnya hingga membuatnya semangat.
"Jika memang ini hal terakhir yang bisa aku lakukan, maka aku telah memilihmu, Levi."
Senyumnya perlahan merekah terbalik dengan Levi mengerutkan dahinya di dalam layar televisi.