NovelToon NovelToon
Sumpah Yang Terlupakan Dari Sang Penjahat Wanita

Sumpah Yang Terlupakan Dari Sang Penjahat Wanita

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Fantasi Isekai
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: nadnote

Seorang wanita pekerja kantoran yang rasional bertransmigrasi ke dalam novel romansa tragis sebagai Geneviève de Montmirail, seorang putri Duke yang ditakdirkan dieksekusi karena cintanya yang gila dan obsesif kepada Duke muda, Lucien de Vaudémont.
​Bertekad untuk mematahkan bendera kematiannya (death flag), Geneviève memutuskan untuk menarik diri sepenuhnya dari kehidupan Lucien dan lingkungan istana yang beracun. Alih-alih mengejar cinta fana, ia menggunakan kecerdasannya dalam administrasi keuangan untuk memajukan wilayahnya dan membuka bisnis perhiasan yang mendobrak tren kekaisaran.
​Namun, sikap dingin Geneviève justru memicu retaknya "Sihir Putih" milik Putri Mahkota Camille, sang protagonis asli novel yang tampak suci namun bermuka dua. Saat Lucien mulai mengalami kilasan ingatan yang menyiksa tentang masa lalu yang tak pernah ia ketahui, Geneviève menemukan sebuah perhiasan rahasia peninggalan tubuh aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadnote, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertarungan di Tepi Jurang

"Berapa banyak koin emas yang dijanjikan wanita bergaun putih itu kepada kalian?"

​Suara Geneviève terdengar sangat tenang, membelah kesunyian di tepi jurang berbatu tersebut. Napasnya masih sedikit tersengal akibat pelarian ekstrem barusan, namun postur tubuhnya tetap tegak. Ia menatap kelima pria berpenutup wajah itu dengan pandangan seorang negosiator yang sedang menilai nilai aset lawannya.

​Pria yang berdiri di tengah, tampaknya adalah pemimpin kelompok algojo tersebut, tertawa serak. Ia memutar pedang panjangnya dengan santai.

​"Ini bukan urusan tawar menawar di pasar, Nona Montmirail. Nyawa Anda sudah dipesan, dan kami hanya datang untuk menagihnya," jawab pria itu sinis.

​Otak pekerja kantoran Geneviève langsung memproses situasi ini sebagai sebuah ancaman kebangkrutan atau hostile takeover. Insting pertamanya bukanlah mengangkat senjata, melainkan melakukan negosiasi harga. Setiap orang memiliki harga, apalagi pembunuh bayaran berpakaian kulit usang seperti mereka.

​"Sebutkan angkanya," tawar Geneviève dengan nada memerintah khas seorang putri Duke. "Toko Le C'eow mencetak puluhan ribu koin emas hanya dalam satu malam. Aku bisa menawarkan dua kali lipat dari harga yang istana berikan kepada kalian. Seratus ribu koin emas? Dua ratus ribu? Aku bisa membeli nyawa kalian, menghidupi keluarga kalian hingga tujuh turunan, dan mengganti pedang berkarat kalian itu dengan baja murni sekarang juga."

​Kelima pria itu terdiam sejenak. Angka yang disebutkan Geneviève jelas sangat menggiurkan bagi rakyat jelata. Namun, Geneviève melihat sebuah anomali.

​Saat pemimpin algojo itu menatapnya, ada kilatan cahaya putih yang sangat redup di kedalaman pupil matanya. Cahaya yang sama persis dengan aura sihir parasit milik Putri Mahkota Camille.

​"Uang Anda tidak berlaku untuk kami, Nona," desis pemimpin itu, suaranya tiba tiba berubah kaku dan mekanis. "Emas tidak bisa membebaskan kami dari kutukan dan sumpah darah. Darah Anda adalah satu satunya alat pembayaran yang bisa kami terima."

​Rasa frustrasi yang luar biasa pekat seketika menyelimuti dada Geneviève. Negosiasi telah gagal total. Para pembunuh ini tidak bergerak karena uang, melainkan karena dikendalikan oleh sihir pencuci otak dari Camille. Membeli mereka sama mustahilnya dengan menyuap sebuah patung batu.

​Satu satunya jalan keluar dari audit nyawa ini adalah penyelesaian fisik.

​"Baiklah. Negosiasi dibatalkan," gumam Geneviève dingin.

​Tangannya bergerak dengan kecepatan kilat ke sisi pelana kudanya yang terengah engah. Ia menarik sebuah senapan berburu laras panjang bergaya flintlock yang sebelumnya ia siapkan sebagai prosedur standar berburu. Senjata api abad ketujuh belas itu sangat berat dan hanya berisi satu peluru mesiu bundar. Sekali tembak, butuh waktu lama untuk mengisi ulangnya.

​Geneviève tahu kelemahan utamanya. Ia adalah ahli keuangan, bukan penembak jitu militer. Membidik kepala di bawah tekanan adrenalin adalah investasi berisiko tinggi dengan tingkat kegagalan sembilan puluh persen.

​Maka, ia memilih target yang rasional.

​Ia mengangkat senapan panjang itu, mengarahkan moncongnya bukan ke arah kepala sang pemimpin, melainkan ke arah dada pria yang berada paling dekat dengannya, sekaligus memosisikan arah tembakan menyamping ke arah dinding batu di tebing.

​Tanpa ragu, Geneviève menarik pelatuknya.

​BAM!

​Suara ledakan mesiu memekakkan telinga, menggema keras memantul di dinding tebing. Peluru timah itu menyerempet bahu si pembunuh dan menghantam keras bebatuan kapur di belakangnya. Serpihan batu tajam terlempar ke segala arah seperti pecahan peluru meriam. Bersamaan dengan itu, kepulan asap putih tebal berbau belerang menyembur dari laras senapan, menutupi pandangan di sekitar mereka.

​Para pembunuh bayaran itu terkejut dan mundur selangkah, menutupi wajah mereka dari serpihan batu dan asap tebal. Kuda hitam Geneviève yang kelelahan ikut meringkik panik, menambah kekacauan suara.

​"Interupsi pasar berhasil," batin Geneviève.

​Memanfaatkan kebingungan sesaat tersebut, Geneviève tidak diam menunggu asap menipis. Menghadapi lima pedang di tempat terbuka adalah jaminan kebangkrutan mutlak. Ia memutar tubuhnya dan berlari sekuat tenaga menuju tepi tebing.

​Di sana, terdapat sebuah celah sempit di antara dua batu besar berlumut, tepat sebelum bibir jurang yang menganga.

​Geneviève menyelinap masuk ke dalam celah batu tersebut, memunggungi tebing tebing curam. Dengan memposisikan dirinya di sana, ia berhasil menciptakan sebuah bottleneck atau titik leher botol secara geografis. Strategi ini sangat rasional. Celah batu itu terlalu sempit untuk dimasuki oleh lima pria dewasa secara bersamaan. Mereka terpaksa harus maju satu per satu dari arah depan.

​Keuntungan jumlah lawan berhasil dianulir dalam hitungan detik.

​Asap mesiu perlahan menipis. Pemimpin algojo itu menggeram marah melihat mangsanya telah berlindung di posisi taktis.

​"Maju dan seret dia keluar!" teriak sang pemimpin.

​Pembunuh pertama merangsek maju memasuki celah berbatu, mengayunkan pedangnya secara vertikal.

​Geneviève membalikkan senapan berburunya yang sudah kosong. Ia memegang ujung larasnya yang panas dengan kedua tangan, menggunakan gagang kayu mahoni yang sangat berat dan padat itu sebagai tongkat penangkis.

​Ketika pedang baja itu turun, Geneviève menahan serangannya menggunakan gagang senapan. Bunyi kayu keras beradu dengan baja terdengar nyaring. Otot lengan Geneviève menjerit menahan beban benturan tersebut. Dengan sisa tenaga, ia memutar posisi senapannya dan menghantamkan laras besi itu tepat ke rahang sang pembunuh.

​Pria itu terhuyung mundur dengan hidung berdarah.

​"Satu kerugian berhasil ditekan," napas Geneviève menderu cepat. Keringat membasahi leher dan dahi aristokratnya.

​Namun, defisit tenaga mulai menjadi ancaman yang tidak bisa diabaikan. Geneviève tetaplah seorang wanita bangsawan yang tidak pernah dilatih untuk pertarungan fisik berdurasi panjang. Setiap kali ia menangkis sabetan pedang, lengannya terasa semakin mati rasa. Gaun berburunya yang berlapis lapis kini terasa seberat baju zirah besi, membatasi pergerakannya dan menguras oksigen dari paru parunya.

​Pembunuh kedua menggantikan yang pertama. Pria ini lebih gesit. Ia menebas ke arah kaki, memaksa Geneviève melompat mundur hingga punggungnya menabrak dinding batu di belakangnya. Ujung sepatu botnya sudah menyentuh kerikil di batas jurang.

​Geneviève mengayunkan senapannya lagi, memukul dada pria itu, namun serangannya sangat lemah. Pria itu menangkisnya dengan mudah dan bersiap memberikan tusukan fatal.

​Di saat yang sama, Geneviève melakukan kesalahan fatal dalam kalkulasi risikonya. Fokusnya terlalu terpaku pada titik masuk di depannya, membuatnya melupakan ancaman dari sumbu vertikal. Sebuah titik buta yang sangat mematikan.

​Salah satu dari kelima pembunuh itu rupanya telah memanjat tebing batu di sisi kanan saat teman temannya mengalihkan perhatian Geneviève. Pria berpakaian kulit kusam itu melompat turun dari atas batu besar, mendarat tepat di ruang sempit di belakang tubuh Geneviève.

​Suara kerikil bergeser di belakangnya membuat darah Geneviève berdesir es.

​Ia menoleh ke arah belakang. Mata cokelatnya membelalak lebar melihat pria itu sudah mengangkat pedangnya tinggi tinggi, bersiap membelah punggungnya.

​Di titik ini, perhitungan logis Geneviève selesai beroperasi. Jarak pedang itu terlalu dekat. Sudut tebasannya tidak bisa dihindari. Ruang geraknya sudah tertutup tebing. Tubuhnya tidak akan sempat menunduk ataupun menghindar. Waktu seolah melambat, dan Geneviève menutup matanya, bersiap menerima kebangkrutan yang paling absolut, yaitu kematian.

​Namun, sabetan pedang itu tidak pernah tiba.

​Terdengar suara ringkikan kuda yang luar biasa dahsyat dari arah hutan, disusul oleh suara gemuruh tapak kaki kuda yang bergetar menghantam tanah.

​BAM!

​Sesosok bayangan hitam raksasa melompat melewati kerumunan pembunuh di depan celah batu.

​Kuda perang hitam legam mendarat dengan kasar, membawa sosok ksatria berjubah gelap. Debu dan dedaunan kering meledak ke udara. Sebelum kuda itu benar benar berhenti, Lucien de Vaudémont melompat turun dari pelana dengan kecepatan yang menembus batas nalar manusia biasa.

​Geneviève membuka matanya. Pandangannya menangkap sosok Lucien.

​Mata ksatria itu tidak lagi memancarkan ketenangan seorang Duke yang sedang menjalankan tugas. Tidak ada kewibawaan politis di sana. Sepasang mata hijau tua Lucien berkilat liar, brutal, dan dipenuhi oleh amarah yang murni dan mematikan. Itu adalah tatapan seorang pria yang baru saja melihat wanitanya hampir dibunuh di depan matanya sendiri.

​Lucien tidak membuang satu detik pun untuk berbicara. Emosinya yang meledak ledak mengambil alih seluruh tubuhnya.

​Dalam satu gerakan tunggal yang luar biasa cepat dan tanpa belas kasihan, Lucien menghunuskan pedang panjang peraknya. Ia melesat melewati sisi tubuh Geneviève, memutar badannya dengan teknik mematikan, dan menebas pria yang berada di belakang Geneviève.

​SRAK!

​Darah merah segar menyembur ke udara, beberapa tetes memercik mengenai pipi pucat Geneviève. Pedang baja pembunuh bayaran itu jatuh berdenting ke bebatuan jurang. Tubuh pria itu ambruk ke tanah tanpa suara, tewas seketika dengan luka sayatan yang sangat dalam di lehernya.

​Keheningan yang mengerikan turun menyelimuti tebing berbatu tersebut. Keempat pembunuh bayaran yang tersisa membeku di tempat, kaki mereka gemetar melihat kehadiran iblis medan perang yang melegenda di seluruh Kekaisaran Valerand.

​Lucien berdiri membelakangi bibir jurang, melindungi tubuh Geneviève sepenuhnya dari arah ancaman. Dada ksatria itu naik turun dengan sangat cepat. Ujung pedang peraknya meneteskan darah segar ke atas bebatuan kapur.

​Perlahan, Lucien menolehkan kepalanya, menatap Geneviève yang masih menyender lemah di dinding batu.

​Melihat wanita itu masih bernapas, melihat noda kotoran dan keringat di wajah Geneviève namun tidak ada luka fatal, tatapan liar di mata Lucien perlahan mereda. Tangan kirinya yang besar dan terbalut sarung tangan kulit terulur, menyentuh pelan pipi Geneviève, menghapus titik darah yang memercik di sana.

​"Maaf aku terlambat," bisik Lucien dengan suara parau yang bergetar hebat. Jari jemari sang Duke terasa luar biasa dingin, menandakan betapa paniknya ia selama mengejar jejak kuda liar tersebut.

​Geneviève menatap dada Lucien yang bergemuruh. Logikanya masih mencoba memproses bagaimana pria ini bisa menemukan lokasinya begitu cepat di tengah hutan seluas ini.

​"Kau mengacaukan perhitungan risikoku, Lucien," gumam Geneviève pelan, suaranya terdengar sangat rapuh, sebuah anomali langka dari wanita berhati besi itu. Senapan berburu yang sedari tadi ia genggam erat akhirnya jatuh ke tanah.

​Lucien menarik napas panjang. Ia melepaskan sentuhannya dari pipi Geneviève dan memutar tubuhnya perlahan, kembali menghadap keempat pembunuh bayaran yang masih terpaku di depan celah batu.

​Saat Lucien menatap mereka, seluruh kelembutan di wajahnya menguap tanpa sisa. Matanya kembali menajam, memancarkan aura membunuh yang membuat udara di sekitar mereka terasa membeku. Ia mengangkat pedang peraknya yang berlumuran darah, menunjuk lurus ke arah sang pemimpin algojo.

​"Kalian memiliki dua pilihan," suara bariton Lucien terdengar seperti gema dari dasar neraka. "Melompat ke dasar jurang ini dengan kaki kalian sendiri, atau aku yang akan memotong kaki kalian dan melempar sisa tubuh kalian ke bawah sana."

​Pemimpin pembunuh bayaran itu menelan ludah. Pengaruh sihir di matanya mulai berbenturan dengan teror kematian yang nyata. Ia menoleh ke arah teman temannya, namun sebelum ia sempat memberikan aba aba untuk melarikan diri, suara derap langkah kuda yang tak terhitung jumlahnya terdengar mengepung bukit berbatu tersebut.

​Gaspard dan puluhan ksatria elit Vaudémont muncul dari segala arah, pedang terhunus, memblokir semua jalan keluar.

​Malam di Istana Hutan Fontainebleau yang seharusnya diisi dengan pesta anggur dan tawa palsu Putri Mahkota, kini benar benar berubah menjadi medan eksekusi berdarah. Di balik punggung lebar Lucien, Geneviève menyentuh cincin di jarinya, merasakan detak jantungnya sendiri yang perlahan kembali normal. Konspirasi ini telah melewati batas, dan ia bersumpah akan menagih setiap tetes darah yang tumpah hari ini langsung kepada sang Putri Mahkota.

1
tenny
makin seru ceritanya
Cty Badria
good
Pa Muhsid
lagi kenceng kenceng nya tarik gas eh bensin habis😩😩😩
tenny
lagi seru serunya eeh abis 🤣🤣nunggu update lagi..
🅿🅴🆂🅾🅽🅰 GₐDᵢₛ ĐĘŠĄ
Sindrom penyelamat dunia atau dikenal sebagai savior complex atau hero complex adalah kondisi psikologis di mana seseorang merasa terdorong secara berlebihan untuk membantu, memperbaiki, atau menyelamatkan hidup orang lain.
Selalu ingin menjadi pahlawan, mencari atau mendekati orang-orang yang punya masalah besar agar bisa dijadikan "proyek" perbaikan.
Memaksa memberi solusi:, suka memengaruhi dan memaksa mengubah kehidupan orang lain agar menjadi lebih baik sesuai anggapannya atau mendikte hidup orang lain bahkan saat tidak diminta atau tidak dibutuhkan.
Membantu dan menolong orang lain memang perbuatan yang terpuji.
Namun, ketika Anda memiliki perilaku savior complex, bantuan yang Anda lakukan justru membuat orang lain merasa terganggu dan tidak nyaman...🤔🫣🤨
🅿🅴🆂🅾🅽🅰 GₐDᵢₛ ĐĘŠĄ
Puisimu sangat indah dan penuh semangat, Genevieve...😅😂🤣
Baris-baris itu melukiskan rasa cinta yang kuat dan hangat di tengah cuaca yang sangat dingin.
Makna dari Puisimu adalah
Cinta yang hangat:
Rasa sayang digambarkan seperti tungku besi panas yang melawan dinginnya badai.
Perjuangan:
Kayu bakar yang dibakar menunjukkan usaha keras untuk menjaga api cinta tetap menyala.
Berikut adalah kelanjutan bait puisi untuk melengkapi ungkapan perasaanmu.
Oh Lucien, cintaku padamu sepanas tungku besi, membakar kayu bakar di tengah badai salju.
Biar angin menderu menghantam dinding sunyi, hangatnya dekapku takkan pernah jadi abu.
Ketukan rintik es kian mencerca jendela, namun bara di dada enggan untuk mereda.
Dunia boleh membeku dalam balutan lara, kita tetap menyala, berdua tanpa jeda.
lin sya
genevieve jgn krn marah , gaun semahal itu mnding jual buat nambah kekayaan dripd dibakar, buang2 energi krn amarah
tenny
ceritanya seru banget,kere keren 🥰🥰🥰👏👏
tenny
baru baca bab bab awal udah seru banget 👍👍👍👏👏
nadnote: makasih ka, semoga suka ama ceritanya🫶
total 1 replies
netizen nyinyir
double up dong thorrrr😍
nadnote: nanti aku bakal up 3 bab🤭
total 1 replies
Tio Buki
Hadiah untukmu dek🙏👍
Tio Buki
Semangat ya🙏🙏👍
Tio Buki
Mampir dek👍👍👍
Tio Buki
Oh, ternya Dewi cahaya toh
Tio Buki
Apa, jangan jangan
Tio Buki
Main suruh aja
Tio Buki
Cuma satu gentong kok
Tio Buki
Teringat akan
Tio Buki
Ada orang lain rupanya
Tio Buki
Apa yang terjadi??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!