Seorang Hakim Ketua yang menjunjung tinggi keadilan harus memilih antara hukum, ayahnya, dan cinta kelamnya pada seorang buronan nomor satu yang pernah menghancurkan masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yrp putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batas Antara Pelarian dan Rumah
Sisa-sisa hujan semalam masih meninggalkan embun di kaca jendela apartemen. Aluna menopang dagunya dengan satu tangan, menatap lekat-lekat wajah pria yang terlelap di sampingnya. Sinar pagi yang pucat memperjelas luka lebam di sudut bibir dan pelipis Arjuna, namun hal itu tidak sedikit pun menutupi ketampanan yang selalu berhasil membuat jantung Aluna berdebar tak karuan.
Tangan bebas Aluna terulur, jemarinya yang lentik bermaksud merapikan helaian rambut yang menutupi dahi Arjuna. Namun, tepat ketika ujung jarinya hampir menyentuh kulit pria itu, Aluna menyadari sesuatu.
Napas Arjuna terlalu teratur, tetapi ada ketegangan kecil di rahangnya. Belum lagi, bulu mata pria itu tampak bergetar samar menahan cahaya.
Sebuah senyum jahil terukir di bibir Aluna. Sang "Palu Es" yang biasanya kaku itu kini memancarkan kehangatan seorang wanita yang tengah dimabuk asmara.
"Bulu matamu bergetar terus, Juna," bisik Aluna pelan, suaranya sengaja dibuat menggoda tepat di dekat telinga pria itu. "Sejak kapan seorang bos sindikat bisa ditipu dengan trik tidur pura-pura semurahan ini?"
Mendengar itu, pertahanan Arjuna langsung runtuh. Pria itu menghela napas pasrah, lalu membuka sepasang mata kelamnya. Bukannya memasang wajah dingin nan mematikan seperti yang biasa ia tunjukkan pada musuh-musuhnya, Arjuna justru tersenyum sangat lebar—cengiran konyol yang persis sama seperti Arjuna remaja sepuluh tahun yang lalu.
Semburat merah tipis menjalar di leher hingga ke telinga pria berbadan tegap itu. Arjuna jelas-jelas tersipu malu karena ketahuan.
"Habisnya..." Arjuna bergumam dengan suara serak khas bangun tidur, menarik selimut sedikit untuk menutupi setengah wajahnya yang merona. "Ditatap sedekat itu sama kamu bikin aku salah tingkah, Na. Aku kan masih belum terbiasa bangun tidur dan menyadari kalau ini bukan sekadar mimpi."
Aluna tertawa pelan, suara tawa yang begitu renyah dan sudah sepuluh tahun tidak pernah didengar oleh Arjuna. Gadis itu mencubit pelan hidung Arjuna, ikut merasakan pipinya sendiri memanas. "Dasar konyol. Mulutmu itu ternyata sama berbahayanya dengan pistol Glock-mu, ya."
"Pistolku cuma buat menembak musuh," goda Arjuna balik, kini menyingkirkan selimutnya dan menarik pinggang Aluna hingga tubuh mereka menempel erat. "Kalau mulutku... khusus buat merayu mantan Hakim Ketua-ku yang galak ini."
Mereka berdua tertawa, membiarkan pagi itu diisi oleh candaan ringan dan debaran dada yang saling bersahutan. Rasa canggung yang manis menguar di udara, seolah menutupi realitas gelap di luar dinding apartemen itu.
Namun, tawa Arjuna perlahan mereda. Tatapannya berubah menjadi lembut namun sangat serius. Pria itu menyelipkan anak rambut Aluna ke belakang telinganya, menatap lurus ke dalam bola mata wanita itu.
"Soal ucapanmu semalam..." suara Arjuna memelan, memecah candaan mereka dengan sebuah kepastian. "Aku setuju, Na. Kita akan pergi dari negeri ini."
Aluna terdiam, menatap Arjuna dengan mata berbinar penuh harap.
"Aku punya beberapa aset dan rumah aman di Swiss dan Selandia Baru yang sama sekali tidak tersentuh oleh radar ayahku atau Interpol," lanjut Arjuna, mengusap punggung tangan Aluna dengan ibu jarinya. "Aku akan membawamu ke sana. Membiarkanmu hidup di tempat yang jauh lebih aman, tempat di mana kau bisa bernapas tanpa harus melihat darah atau senjata."
Arjuna menarik napas panjang, tampak berat untuk melanjutkan kalimatnya. "Tapi... aku tidak bisa langsung menetap sepenuhnya bersamamu, Na. Aku harus memotong bersih semua benang merah dengan sindikat Baskara. Aku perlu kembali ke negeri ini beberapa kali, membereskan urusan dengan ayahku agar ia tidak pernah bisa melacak atau menjadikanmu kelemahan utamaku lagi."
Melihat raut kecemasan mulai terbit di wajah Aluna, Arjuna buru-buru menangkup kedua pipi wanita itu.
"Aku janji, Aluna," ucap Arjuna sungguh-sungguh. "Ini tidak akan seperti sepuluh tahun yang lalu. Aku tidak akan menghilang. Aku akan sangat sering mengunjungimu, menemanimu, sampai urusanku di sini benar-benar selesai dan aku bisa memelukmu setiap malam tanpa rasa takut."
Arjuna menunggu tanggapan, menunggu senyum persetujuan dari Aluna, atau mungkin pelukan hangat.
Namun, Aluna justru terdiam membisu.
Senyum di wajah cantiknya perlahan luntur. Tangannya yang tadi bersandar nyaman di dada Arjuna perlahan turun. Tatapannya menjadi kosong, menembus bahu Arjuna ke arah rintik hujan di luar jendela kaca.
Janji pelarian itu terdengar begitu indah, sebuah utopia di mana ia dan Arjuna bisa memulai hidup baru. Namun, kata 'pergi dari negeri ini' tiba-tiba memicu sebuah kenyataan yang menghantam kesadaran Aluna seperti palu godam.
Pergi berarti menghilang. Menghilang berarti memutus semua ikatan masa lalunya.
Di satu sisi pikirannya, sebuah bayangan muncul dengan sangat jelas. Inspektur Arya Larasati. Ayahnya.
Aluna bisa membayangkan bagaimana hancurnya pria paruh baya itu saat ini. Inspektur Arya yang selalu mendidiknya dengan keras namun penuh kasih sayang. Inspektur Arya yang dengan tangan gemetar memeriksa setiap inci tubuh putrinya di tengah sisa asap ruang sidang kemarin siang, hanya untuk memastikan Aluna selamat. Ayahnya pasti sedang mengerahkan seluruh unit kepolisian dan berjaga tanpa tidur, berjanji atas nama jabatannya untuk memburu Arjuna demi membawa Aluna pulang.
Jika ia pergi ke luar negeri bersama Arjuna... Aluna tidak hanya akan membuang karir dan keadilannya. Ia akan membuang ayahnya. Ia akan membiarkan ayahnya mati perlahan dalam rasa bersalah dan keputusasaan karena mengira putri tunggalnya diculik oleh monster, padahal sang putri sendirilah yang memilih untuk menyerahkan hatinya kepada monster tersebut.
Rasa sesak yang luar biasa hebat kini mencekik leher Aluna, membuatnya menunduk dan membiarkan keheningan yang menyiksa mengambil alih sisa pagi mereka.