Di bawah pendar lampu Los Angeles, hidup Lux Victoria hancur dalam semalam. Maksud hati hanya memeriksa kesehatan, hasil tes justru menyatakan dirinya hamil. Padahal, Lux bersumpah belum pernah tersentuh pria mana pun.
Demi membuktikan kebenarannya, Lux Nekat membeli tes Kehamilan di larut malam.
Takdir konyol justru mempertemukannya dengan Braxton Valerio Desmon, putra kedua dari pengusaha kaya keluarga Desmon.
Demi memenangkan taruhan konyol bersama teman-temannya, Braxton nekat mencium Lux di depan apotek.
Sial bagi mereka, keluarga Lux yang menguntitnya mendapati situasi tersebut dan salah paham.
Kejadian beruntun itu menyeret Lux dan Braxton ke dalam jerat kesalahpahaman, di mana pernikahan paksa menjadi satu-satunya jalan keluar yang disiapkan kedua orang tua Lux.
Happy reading 🌷🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#34
Malam itu, dingin tak lagi sekadar muasal dari terpaan angin pelataran Penthouse, melainkan jelmaan belati yang menusuk langsung ke pusat sukma.
Keheningan mencengkeram garasi dan lobi utama bagaikan sebuah makam tak bernama. Setelah deru mesin mobil sport milik Braxton memudar di kejauhan, keheningan mengendap pekat—meninggalkan kesunyian yang meraung-raung dalam dada.
Lux masih mematung kaku di ambang pintu lobi utama. Kakinya terpatri di atas marmer dingin, seolah akarnya telah ditancapkan oleh rasa ketakpercayaan yang mendalam. Ia berdiri tanpa arah, enggan melangkah ke atas menuju Penthouse mewah tempat impian dan kehangatan mereka biasa dibaringkan.
Di sanalah ia berada, meringkuk dalam keheningan, menatap lurus ke lorong keluar yang kini gulita dan hampa.
Dalam kebisuan malam, jiwanya meratap diam-diam. Lux memandangi kegelapan itu dengan secuil pendar harapan konyol yang tersisa dalam benaknya. Ia mendapati hatinya menjerit keputusasaan—memohon pada sang waktu agar suaminya berbalik arah.
Ia membayangkan mobil mewah itu kembali melaju membelah malam, menepi dengan panik, lalu pintu terbuka memperlihatkan sosok Braxton yang berlari memeluknya rapat-rapat. Ia merindukan bisikan maaf yang lembut, kecupan di pelipisnya, dan penyesalan mendalam dari bibir pria itu yang akan menghapus seluruh pahitnya pertengkaran juga permusuhan malam ini.
Namun, sepuluh menit berlalu dalam penderitaan yang melambat. Sepuluh menit yang terasa bagaikan sepuluh abad penyiksaan batin.
Garis jalanan tetap sunyi. Cahaya lampu yang dinantikannya tak kunjung membelah kegelapan. Mobil sport itu benar-benar berlalu, membawa pergi satu-satunya kehangatan yang ia miliki malam ini, meninggalkannya sendirian dihantam kenyataan yang teramat dingin.
Seraya mengepalkan jemarinya yang bergetar, Lux mengangkat lengannya yang gemetar. Dengan jemari lentiknya, ia mengusap kasar jejak air mata yang terdampar di pipinya yang pucat.
Sebuah senyum pahit yang penuh duka terukir tipis di bibirnya yang merona kusam.
Betapa ironisnya takdir. Jika ada jiwa lain yang melintas dan menyaksikan penderitaan ini, mereka pasti akan tertawa meremehkan.
Di balik lengan blus yang sedikit tersingkap, terukir tato mawar dan garis abstrak yang rumit—sebuah simbol keabadian tentang keliaran, keangkuhan, dan ketangguhan seorang wanita yang tak akan pernah bisa ditundukkan oleh kerasnya dunia.
Namun kini, wanita dengan belenggu ketegaran itu justru runtuh dan bersimbah air mata gumpalan duka. Bukan karena pedang atau intrik dunia, melainkan hanya karena kepergian satu sosok pria yang dicintainya; sebuah cemburu dan rasa terluka yang berhasil menembus benteng pertahanannya yang paling kokoh.
"Jahat... kau benar-benar jahat, Braxton..." bisik Lux pada angin malam yang bisu, suaranya serak ditelan duka.
Sembari merapatkan jemarinya pada pakaian yang dikenakannya, Lux akhirnya menyerah pada keputusasaan. Ia membalikkan tubuhnya yang terasa amat ringan dan kaku, berniat melangkah gontai menuju deretan lift yang akan membawanya ke dalam sangkar kesepian di atas sana.
Langkah kakinya berat, seolah menyeret separuh jiwanya yang telah hancur berkeping-keping.
Teng!
Tiba-tiba, sebuah kilatan cahaya silau menyosor dengan brutal dari arah jalan masuk lobi utama, menembus kaca pelataran dan menelanjangi tubuh kaku Lux dalam pendar sorot lampu ganda yang membuas.
Lux menghentikan langkahnya secara refleks. Ia memicingkan mata abu-abunya yang basah, belum sempat mencerna apa yang sedang terjadi di tengah kegelapan lobi tersebut.
Sebelum rasionalitasnya sanggup memproses ancaman yang datang, dua unit mobil misterius dari arah sudut jalan melaju dengan kecepatan tinggi tanpa menunjukkan tanda-tanda meredam kecepatan sama sekali.
Mesin kendaraan itu meraung dahsyat bagaikan binatang buas yang haus akan darah. Tanpa ada desakan rem, tanpa ada niat mengelak, mobil terdepan mengarahkan moncong kerasnya lurus ke arah tempat Lux berdiri.
Dan—
Vrooom!!!!
BRAAAAAKKKKK!!!!
Dentuman dahsyat berdentum memecah malam. Logam tebal menghantam tubuh tipis Lux dengan kekuatan yang teramat kejam.
Tubuh anggun itu terlempar jauh melintasi udara, terlempar liar sebelum akhirnya jatuh menghantam kap dan kaca depan sebuah sedan mewah penghuni lain yang terparkir di pelataran lobi.
Suara kaca tebal yang pecah berkeping-keping beradu dengan retakan tulang yang memilukan.
Tubuh Lux terkulai tak berdaya di atas atap mobil tersebut, menyisakan jejak darah segar yang mengalir perlahan membasahi kaca dan porselen pelataran.
Ting! Ting! Ting!
Suara alarm mobil yang dijatuhi tubuh Lux seketika memekik hebat, melengking berulang-ulang memecah keheningan malam yang sunyi.
Decitan ban yang memekik telinga bergema keras di atas aspal saat kedua mobil pelaku berbelok tajam dalam rotasi penuh.
Tanpa jeda satu detik pun, dua mobil tak dikenal itu meluncur kencang melintasi pintu gerbang, menghilang dalam kegelapan malam sebelum para petugas keamanan yang panik sempat menyadari apa yang baru saja terjadi. Mereka hanya meninggalkan jejak hitam bekas ban yang terukir mengerikan di atas lantai lobi.
Di sana, di bawah pendar pucat lampu lobi yang remang, Lux terbaring sekarat. Napasnya terputus-putus dalam tenggorokan yang tersumbat darah.
Sepasang mata abu-abunya yang meredup menatap kosong ke arah langit-langit malam yang tak berbintang, sementara kesadarannya perlahan-lahan merayap turun ke dalam kegelapan yang teramat dingin dan abadi.
Di antara puing-puing kaca yang hancur berkeping-keping dan dinginnya logam mobil tempat tubuhnya terkulai kaku, detik-detik kehidupan Lux terasa berputar teramat lambat.
Setiap embusan napas yang dihelanya menimbulkan rasa sakit yang luar biasa melintasi dadanya yang remuk. Darah hangat mengalir dari sudut bibirnya, membasahi gaun sutra krem yang kini ternoda merah pekat.
Di batas antara batas alam sadar dan pekatnya kegelapan yang merayap mendekat, sepasang mata abu-abu Lux menatap sayu ke arah langit-langit lobi yang remang.
Satu tetes air mata yang bening dan hangat perlahan lolos dari sudut matanya, membelah noda merah di pipi mulusnya sebelum akhirnya jatuh tak berdaya di atas kaca mobil yang retak.
Di dalam benaknya yang meredup, tidak ada rasa benci atau dendam yang membara. Yang tersisa hanyalah satu patah kata yang mengalun lirih bagaikan simfoni penyesalan yang teramat memilukan: Seandainya.
Seandainya kau tidak meninggalkan ku malam ini...
Pikiran itu menggema dalam keheningan jiwanya, membawa kepedihan batin yang jauh lebih mengerikan daripada rasa sakit di tubuhnya yang hancur.
Lux rindu pada hangatnya dekapan Braxton. Ia rindu pada bisikan manis suaminya yang selalu menenangkannya. Namun kini, di ujung kesadarannya yang kian menipis, Lux harus menelan kenyataan pahit bahwa ia mungkin tak akan pernah lagi bisa melihat senyuman narsis pria yang dicintainya itu.
Perlahan-lahan, pendar di mata abu-abunya memudar. Kegelapan absolut akhirnya menyelimuti jiwa nya, memadamkan kesadarannya dalam keheningan malam yang bisu.
Ting! Ting! Ting!
Suara alarm mobil yang masih melengking nyaring akhirnya memancing dua orang petugas keamanan lobi berlari tergesa-gesa dari pos guard utama.
Namun, saat sepasang mata mereka menyaksikan tubuh seorang wanita terkulai bersimbah darah di atas kendaraan mewah tersebut, wajah kedua satpam itu seketika berubah pucat pasi oleh guncangan syok yang luar biasa.
"Astaga! Nyonya Victoria!" jerit salah seorang satpam dengan suara gemetar hebat, tangannya yang gemetar nyaris menjatuhkan tongkat komando.
Kedua satpam itu benar-benar tertipu dan teledor.
Lima menit yang lalu, mereka melihat dua mobil sport mewah melaju masuk dengan santai melalui gerbang otomatis. Karena kedua mobil tersebut memiliki pelat nomor registrasi dan stiker akses privat yang biasa keluar masuk area Penthouse elit ini, satpam tidak menaruh curiga sedikit pun dan membiarkan mereka melintas begitu saja tanpa pemeriksaan ketat.
Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa akses tersebut telah digandakan oleh dalang di balik teror ini. Kedua mobil itu seperti bayangan maut yang menyelinap dalam kegelapan, mengeksekusi niat jahatnya, lalu menghilang tanpa jejak sebelum petugas sempat mengambil tindakan.
Dengan tangan yang gemetar hebat akibat panik, satpam senior menyambar ponsel pintarnya. Namun, alih-alih menghubungi Braxton Desmon—pria yang baru saja menikahi Lux—satpam itu secara refleks menekan nomor darurat keluarga besar Victoria.
Penthouse megah tempat kejadian ini merupakan hadiah pernikahan eksklusif pemberian dari keluarga besar Lux sendiri, sehingga seluruh data kontak darurat utama di pos keamanan terhubung langsung ke kediaman pribadi keluarga Victoria.
"Halo?! Rumah Sakit Utama! Hubungi Tuan Besar Victoria sekarang juga! Nyonya Lux... Nyonya Lux kritis ditabrak lari di lobi Penthouse!" jerit satpam itu histeris ke dalam sambungan telepon.
°°°°
Sementara itu, di sebuah dermaga tua yang sepi dan terbengkalai—tak jauh dari kompleks Penthouse elit tersebut—suasana malam terasa begitu dingin dan mencekam.
Suara dentuman kencang beruntun bergema di tengah kegelapan pelabuhan yang sepi.
Beberapa pria bertubuh tegap dan kekar dengan pakaian serba hitam baru saja mendorong dua unit mobil sport mewah—yang beberapa menit lalu digunakan untuk menghantam tubuh Lux—masuk ke dalam jurang air laut yang dalam.
Kendaraan-kendaraan itu tenggelam dengan cepat ke dalam pusaran air pekat, menghilangkan seluruh bukti fisik dari kejahatan berdarah tersebut.
Di tepi dermaga, berdiri seorang wanita bergaun hitam yang memegang sebotol minuman keras. Cahaya rembulan malam menerpa separuh wajahnya yang pucat dan tirus.
Melihat gelembung air terakhir melenyap di permukaan laut, wanita itu mendongakkan kepalanya ke arah langit malam.
"Ha... Hahaha... HAHAHAHAHA!"
Sebuah tawa histeris, melengking, dan amat mematikan mendadak pecah dari tenggorokannya.
Wanita itu tertawa begitu hebat hingga matanya berair, meluapkan seluruh kegilaan, cemburu, dan dendam mendalam yang telah membakar jiwanya selama bertahun-tahun.
Dia adalah Amelia Giger.
Amelia mengusap sudut matanya seraya menyunggingkan senyuman iblis yang teramat mengerikan. Pendar gila di matanya berkilat penuh kemenangan yang puas.
"Lihat siapa yang akhirnya berakhir menyedihkan di atas lantai bersimbah darah, Samantha?!" bisik Amelia dengan suara rendah yang bergetar penuh bisa beracun. "Kau pikir kau bisa mengambil Braxton-ku?! Kau pikir kau bisa menghancurkanku dan menatapku dengan mata sombongmu itu?!"
Amelia menenggak minuman kerasnya secara kasar, membiarkan cairannya membasahi dagunya.
"Jika aku tidak bisa memiliki Braxton Desmon..." desis Amelia dengan cengkeraman tangan yang makin kuat pada botol kaca di genggamannya. "...maka kau pun tidak akan pernah bisa memilikinya selamanya, Samantha. Mari kita lihat... seberapa indahnya cinta kalian saat kau sudah membusuk di dalam tanah!"
Amelia membalikkan tubuhnya, melangkah anggun memasuki sebuah mobil van hitam yang sudah menunggunya di kegelapan, meninggalkan dermaga tua itu dalam keheningan malam yang sarat akan aroma darah dan dosa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Lux Victoria
Braxton Valerio Desmon
Amelia giger
semangat ya bang, buat meluluhkan hati Lux