NovelToon NovelToon
AKAD TANPA CINTA

AKAD TANPA CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: 𝐈𝐩𝐞𝐫'𝐒

Di usianya yang masih belia, Amara dipaksa menghadapi kehilangan, penolakan, dan kenyataan pahit, bahwa terkadang dosa orang tua meninggalkan luka bagi anak-anaknya.
Menjadi anak dari seorang yang bersalah, bukan berarti ia harus menanggung hukuman yang sama. Mampukah Amara meyakinkan dunia tentang itu? ketika perempuan yang paling ia cintai, yang dipanggilnya mama telah lebih dulu menjauhinya. Dan di saat hatinya masih porak poranda, Amara dipaksa menikah dengan laki-laki yang berusia lebih dari dua kali usianya.

Yuk ikuti kisahnya, Akad Tanpa Cinta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐈𝐩𝐞𝐫'𝐒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 4

Malam kembali menyapa, menyelimuti bumi dengan langit yang bertabur bintang. Cahaya bulan yang redup mengintip dari balik awan, memantulkan sinarnya yang lembut ke jalanan yang mulai lengang. Angin berembus pelan masuk melalui jendela yang belum tertutup rapat, menyapu wajah sembab Amara yang sedari sore tadi menangis sendiri di dalam kamarnya.

Dalam hitungan jam dari malam ini, ia akan menikah dengan sosok yang sudah ia anggap seperti om nya sendiri yaitu Abimanyu. Bukan hanya atas desakan para laki-laki yang memfitnahnya saja, tapi juga sang mama yang tiba-tiba memintanya untuk menikah dengan Abimanyu sahabatnya. Padahal secara terang-terangan Abimanyu menolaknya dengan keras, namun entah ancaman apa yang di keluarkan Sonia sehingga membuat pria matang itu akhirnya menerima meski terlihat sangat terpaksa.

Enggak... Ini enggak boleh terjadi, aku tidak mau menikah dengan om Abi. Bagaimana aku harus menikah, bahkan kelulusan saja belum.

Amara menggelengkan kepala, ia bangkit kemudian berdiri di depan cermin. Aku harus menemui mama, harus bicara empat mata. Batinnya terus meracau tangannya bergerak menyisir rambut.

Sesaat Amara menarik napas dalam-dalam, kemudian perlahan ia melangkah keluar dari kamar tanpa menutup rapat pintunya. Baru beberapa langkah ia mengayunkan kaki, samar-samar terdengar suara orang yang tengah berbicara. Suara yang sangat di kenalnya, *Om P*radana

Amara membuang napas lega saat mendengar suara Pradana. Ia berharap om nya menginap dan bisa membantu menyelesaikan masalah tanpa harus ada pernikahan, namun belum dua langkah kakinya terayun pembicaraan sang om dan mamanya semakin jelas. Bukan obrolan biasa tapi perdebatan.

"Mbak, apa maksudnya mbak paksa Amara dan Abimanyu harus menikah? Apa mbak percaya dengan omongan orang-orang itu?" Cecar Pradana, pria yang sebaya dengan Abimanyu itu menatap kakak iparnya dengan raut jengah.

"Aku heran, kenapa mbak lebih percaya dengan orang yang baru mbak temui dan lihat dibanding Abimanyu dan Amara? Oke lah Abimanyu cuma sahabat, bisa saja dia mengelak dan berbohong. Tapi Amara? Amara itu anak yang mbak kenal sedari dia belum bisa jalan lho! Setidaknya mbak tau gimana sifat dia..." Lanjut Pradana tanpa mengalihkan tatapannya dari Sonia yang sedari tadi hanya bersikap datar. Padahal Sonia yang ia dan semua orang kenal bukanlah seperti itu, Sonia sosok ramah, lembut dan seorang ibu yang sangat menyayangi anak-anaknya termasuk Amara putri sambungnya. Namun, kejadian nahas kemarin yaitu kematian Reno yang sekaligus membuka tabir kelam pria itu, seketika mengubah sikap Sonia.

Pradana menarik napas panjang. "Kenapa mbak diam? apa semua omonganku benar, kalau mbak lebih percaya orang asing?"

"Enggak! Aku enggak percaya mereka, aku percaya Amara dan Abimanyu." Ucap Sonia tenang, namun nada suaranya penuh penekanan.

"Terus?"

"Kamu tidak akan ngerti perasaanku Pra."

"Aku tahu, dan aku ngerti perasaan mbak. Bahkan akupun kecewa," Jawab Pradana cepat. "Mbak pastinya terluka, kecewa, dan sakit hati. Tapi bukan berarti harus melimpahkan itu semua pada Amara, dia enggak bersalah dan enggak tahu apa-apa tentang kelakuan bapaknya."

"Keputusanku tetap sama, tidak akan berubah lagi. Amara harus tetap menikah dengan Abimanyu, lusa."

"Enggak bisa mbak, jangan egois. Mbak pikir cuma mbak yang sakit hati dan kecewa dengan mas Reno? Amara juga sama! Apa mbak pernah mikirin gimana perasaan Amara saat tahu bapaknya selingkuh mengkhianati mbak? Dia tidak hanya kecewa dengan mas Reno, tapi dia juga malu sama mbak."

"Cukup Pra! Jangan ikut campur terlalu jauh, kamu cukup jadi wali nikahnya saja. Selain itu, tidak perlu ikut campur." Sonia memalingkan wajah, tangannya dengan cepat mengusap kasar kedua sudut matanya yang berair.

"Kamu enggak tahu sesakit apa hatiku, kamu belum merasakan dikhianati orang yang paling kamu percaya. Aku hanya ingin melupakannya, maka dari itu aku menikahkan Amara supaya dalam waktu dekat ini dia keluar dari sini dibawa suaminya. Hanya dengan cara itu, aku enggak akan melihatnya, melihat wajah Amara sama dengan melihat wajah suamiku." Lirih Sonia akhirnya.

"Astaghfirullah..." Pradana menatap Sonia tak percaya, ia berulang kali menggelengkan kepala.

--

Di ujung tangga, Amara berdiri mematung. Remaja yang sedari tadi terus mengusap air matanya yang seakan tak mau berhenti setiap mendengar kata demi kata yang dilontarkan sang mama, kini menegakkan tubuhnya kemudian perlahan menuruni tangga.

Sesampainya di bawah, ia menarik napas sesaat sebelum benar-benar menampakkan diri di hadapan dua orang yang sedari tadi berdebat. "Mama enggak usah khawatir, aku mau kok menikah dengan om Abi." Ucapnya parau, kemudian ia beralih menatap sang om dengan bibir yang mengulas senyum. Berusaha meyakinkan pria yang sedari tadi berusaha mati-matian membelanya.

"Mara!" Desis Pradana.

"Iya, om. Beneran aku enggak apa-apa menikah dengan om Abi, lagian om Abi juga baik." Lirih Amara hampir tak terdengar, ia berusaha menahan tangis yang sudah mence-kik kerongkongannya.

.

.

Keesokan harinya, saat matahari belum muncul sepenuhnya Sonia sudah berdiri di depan pintu sebuah apartemen. Ia melirik nomor unit yang terpasang di samping pintu, memastikan alamat yang di datanginya tidak keliru. Sebab sudah hampir lima menit ia berdiri, orang yang ingin di temuinya belum juga muncul. Tak ingin membuang waktu lebih lama, Sonia kembali menekan bel bersamaan dengan munculnya orang yang ingin ia temui dari arah belakang.

"Kamu mencari ku? Ada apa?" Suara bariton Abimanyu mengalihkan perhatian Sonia. Perempuan itu segera membalikkan badannya menatap pria itu dengan kening yang mengkerut melihat penampilan Abimanyu yang sudah rapi.

"Iya Bi, ada yang harus kita bicarakan." Jawabnya tenang, namun kaku. Seolah ia dan Abimanyu baru saling mengenal, bukan sahabat lama yang sering ngopi dan ngobrol bareng.

Mendengar itu Abimanyu berdecak. "Kalau untuk membicarakan hal yang tidak penting, lain kali saja. Sekarang aku tidak ada waktu, kamu silahkan pulang." Katanya mengusir Sonia dengan halus.

"Ini penting Abi! Makanya aku datang. Aku ingin membicarakan pernikahanmu dengan Amara, karena semalam Amara sudah menyetujuinya, dia bersedia menikah sama kamu."

Abimanyu memaku, rahangnya mengeras, kedua tangannya terkepal kuat hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol. Tatapannya yang tajam tertuju pada Sonia yang berdiri di hadapannya dipenuhi amarah yang sedari kemarin siang berusaha ia tahan.

"Apa kamu sudah gila?" Suaranya rendah tapi syarat tekanan. "Kamu memaksaku menikahi gadis yang bahkan tak pernah kupandang sebagai calon istri, melainkan sebagai keponakanku sendiri. Pernikahan bukan permainan yang bisa diputuskan sesuka hati, Sonia!" Ucap Abimanyu sembari menggeleng pelan, senyum getir menghiasi wajahnya.

"Aku menghargai persahabatan kita, tapi jangan pernah mengatur hidupku seolah aku tak berhak memilih. Aku tidak akan mengorbankan masa depan seorang gadis remaja yang sudah ku anggap seperti keponakanku sendiri, hanya demi memenuhi keinginanmu. Menikah tanpa cinta, hanya akan melahirkan masalah bagi kami berdua." Tatapan Abimanyu tak bergeser sedikitpun. Di balik amarah yang menyala, tersimpan keteguhan seorang pria dewasa yang menolak menjadikan pernikahan sebagai jalan keluar dari tekanan orang lain, termasuk sahabatnya sendiri.

"Baiklah kalau begitu." Ucap Sonia datar. "Aku akan menghubungi orang tuamu, dan menceritakan semuanya seperti yang diceritakan warga kemarin kepadaku." Pungkasnya kemudian melangkah melewati Abimanyu yang untuk sepersekian detik mematung, namun tak lama kemudian pria itu segera berbalik.

"Sonia! Jangan macam-macam!" Sentak Abimanyu, namun Sonia seolah menulikan telinga. Perempuan itu masuk ke dalam lift tanpa menoleh lagi.

"Shitt!!"

Brakk.

Abimanyu mengumpat kemudian menendang pintu dengan keras, seolah benda yang berdiri kokoh di hadapannya itu adalah Sonia.

--

Pukul 12 siang Abimanyu baru saja selesai mengikuti rapat dengan seluruh jajaran direksi. Dengan penampilan yang tak seklimis kemarin-kemarin, ia melangkah masuk ke ruangannya. Belum sempat tubuhnya mendarat di kursi, ponselnya berdering seolah tahu kalau saat ini adalah jam istirahatnya.

Pria itu menghela napas, namun tak urung merogoh ponsel yang belum lama ia masukan ke saku celananya saat keluar dari ruangan rapat, untuk menyudahi mode silent nya. Ia menggeser layar tanpa melihat nama si pemanggil. "Ya halo.." Ucapnya malas, pikirannya yang kacau membuat tubuhnya cepat lelah.

[Bi, mama sama papa hari ini mau mau ke sana. Sekarang sudah di stasiun]

"Hah! Ke sana kemana? Stasiun mana?"

[Ke Jakarta, ini masih di Stasiun Bandung]

"Ke Jakarta... Mau ngapain?"

[Kamu itu ya, benar-benar anak durhaka! Orang tua mau datang bukannya disambut, malah kayak enggak senang] Suara helaan napas paruh baya terdengar jelas oleh Abimanyu.

"Bukan begitu ma, aneh saja kenapa tiba-tiba."

[Berarti ada hal penting!]

Tut.

Sambungan telepon diakhiri sepihak oleh Bu Halimah, membuat pikiran Abimanyu seketika tertuju pada Sonia.

"Sonia..." Desisnya dengan mengepalkan kedua tangan di atas pahanya. "Baiklah, aku ikuti permainanmu. Aku tahu kamu sangat menyayangi Amara, hanya karena sakit hati dan kecewa sama Reno kamu menjerumuskan Amara. Lihat saja, saat Amara bersamaku. Akan ku buat gadis itu muak dan trauma berada di dekatku, dia akan merasa sakit hati dan itu akan menjadi sakitmu juga."

1
Mimi Yoh
ayo...itu apa...😄😄😄
Mimi Yoh
kalau khawatir bilang aja...nggak usah banyak alasan ya 😁😁😁
Mimi Yoh
keluar diam-diam 😯😯 ..mara memangnya kalau mau keluar kamar sambil nyanyi atau teriak gitu..
Mimi Yoh
😯😯😆😆😆😆😆
Mimi Yoh
sama-sama ngegedein gengsi
Mimi Yoh
saking khusunya masak ya mara 😁😁
Mimi Yoh
hahahahah jadi mara bener-bener nggak nyadar kalau pak suami sudah pulang dan sudah jauh pindah ke alam mimpi 🤗🤗
Mimi Yoh
berasa ada yg hilang ya om 😁😁
Mimi Yoh
tahu masih punya suami...malah dibantu selingkuh...
Mimi Yoh
dasar matre
Mimi Yoh
oooh dijanjiin sesuatu kamu ya...
Mimi Yoh
sudah tahu kesalahan ada pada jenny, masih aja dibantu untuk deketin abi, tahu abi juga sudah menikah, terpaksa ataupun tidak, tetap abi sudah punya istri...kayak bukan sesama perempuan saja, dimana hatimu tya...
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
sama-sama gengsi... padahal saling mengkhawatirkan.
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Yaa ampun demi hadiah liburan ternyata....
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Tya dimana hatimu sebagai sesama perempuan. Abi kan sekarang sudah punya istri, tapi kamu kok bisa²nya malah berusaha mendekatkan Abi dengan Jenny. Kalau posisimu sebagai seorang istri apa nggak sakit hati yaaa....
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦༄⃞⃟⚡OLENG.comKᵝ⃟ᴸ : keknya Tya itu mkkb masa kecil kurang bahagia 😅
total 4 replies
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Wahhh keren... begitu donk Bi, jangan mau dimanfaatkan lagi apalagi sama mantan. Semoga sikap tegasnya bisa terus dipertahankan yaa, ingat... ingat... kamu sekarang sudah bukan single lagi.
Ir⍺ ¢ᖱ'D⃤ ̐☪️ՇɧeeՐՏ🍻𝐙⃝🦜
Iyaa iyaa ngerti om... tapi yaa jangan kasar² gitu donk. Seharusnya kamu lebih berpengalaman bagaimana meredakan amarah. Ini om mantan bujang lapuk beneran nggak tahu yaa caranya meluluhkan hati perempuan.
ms. yati74
🤣🤣🤣yg atu manta bujang lapuk yg atu bocah baru netes....angeeell tooo nyatu nyaa🤣🤣🤣🤣
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦༄⃞⃟⚡OLENG.comKᵝ⃟ᴸ
canggung dan sama" jaim yg bikin nagih, cukup buat ngilangin rasa kesel gegara Tya😥🤣
✰͜͡v᭄𝐀⃝🥀ⰼ⃞☪🍾
baguss kau Abi tegas begitu
Iper: Pasti
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!