NovelToon NovelToon
TERJERAT OBSESI ELZIO

TERJERAT OBSESI ELZIO

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / One Night Stand / CEO / Percintaan Konglomerat / Office Romance
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

"Dendanya lima miliar rupiah, Clara. Atau... kamu tanda tangani kontrak tiga tahun jadi asisten pribadi saya!"
Berniat kabur dari masa lalu dan hidup mandiri, Clara justru terjebak dalam jaring laba-laba Elzio Mahendra—CEO tampan, kaya raya, dan obsesif yang tak mempan digertak. Hanya demi mengikat Clara di sisinya, Elzio tak ragu membeli perusahaan tempat Clara melamar dan menjeratnya dengan kontrak denda bernilai fantastis.
Segala cara Clara lakukan agar Elzio ilfil—mulai dari bersikap super galak, memboroskan uangnya, hingga kabur naik KRL. Namun, bukannya menyerah, sang CEO gila justru makin gila dan posesif padanya.
Di tengah intrik perjodohan elit dan trauma masa lalu yang menghantui, akankah Clara berhasil bebas dari jerat denda lima miliar, atau justru akhirnya bertekuk lutut dalam pelukan sang CEO?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 20

Pukul satu dini hari. Suasana kamar kontrakan sempit itu begitu hening, hanya terisi oleh suara deru kipas angin kecil yang berputar pelan.

​Elzio yang sejak tadi berbaring memeluk pinggang Clara dari belakang perlahan membuka matanya. Tatapan pria itu yang beberapa jam lalu penuh manja dan jenaka seketika meredup, berganti dengan binar tajam, dingin, dan penuh kendali mutlak.

​Ponsel di atas meja kayu kecil bergetar tanpa suara. Layar digitalnya menampilkan nama Arka.

​Dengan gerakan yang sangat halus agar tidak membangunkan Clara yang terlelap kelelahan, Elzio melonggarkan pelukannya. Dia mengecup kening Clara berulang kali dengan lembut, menyelimuti tubuh wanita itu, lalu melangkah keluar kamar tanpa menimbulkan suara sedikit pun.

​Di teras depan kontrakan yang remang, Elzio menempelkan ponsel ke telinganya. Suara baritonnya mengalun rendah, sangat berwibawa—sosok asli sang penguasa dunia bawah.

​"Bicara, Arka."

​"Laporan malam ini, Pak Elzio," suara Arka terdengar lugas di ujung telepon. "Perusahaan cangkang baru atas nama aset almarhumah Ibu Clara sudah resmi terdaftar dalam waktu empat jam. Nama perusahaannya 'Clara Corp'. Kami sudah memindahkan beberapa portofolio investasi minor AetherCorp ke dalamnya agar laporan keuangannya terlihat tumbuh pesat mulai besok pagi."

​Elzio menyunggingkan senyum tipis yang penuh perhitungan. "Bagus. Pastikan alurnya terlihat seperti 'keajaiban bisnis' dari modal sepuluh miliar yang Clara serahkan. Saya mau dia percaya bahwa usaha kecil yang kita rintis bersama ini mulai berhasil."

​"Baik, Pak. Nona Clara pasti akan bangga melihat 'perusahaan kecil' Anda berkembang dalam semalam," ujar Arka, lalu suaranya mendadak serius. "Oh ya, Pak... Tuan Hendra Mahendra, Papa Anda, baru saja menghubungi saya."

​Dahi Elzio berkerut tipis. "Papa? Ada apa dengan Beliau?"

​"Beliau menertawakan drama 'kepailitan' Anda di ruang rapat Kakek kemarin, Pak," Arka terkekeh pelan di ujung telepon. "Tuan Hendra tahu betul Anda tidak se-bodoh itu melepas Mahendra Group demi wanita tanpa punya jaring pengaman yang jauh lebih besar. Beliau dan Nyonya Dominica bilang akan pura-pura ikut alur skenario Anda. Mereka sejujurnya juga sudah sangat muak dengan kediktatoran Tuan Besar Wijaya."

​Elzio tertawa hambar, menyandarkan bahunya di tiang teras. "Papa memang tidak bisa dibohongi. Katakan pada Papa untuk menahan Kakek agar tidak terlalu banyak beralasan."

​"Siap, Pak. Tapi... ada satu hal krusial lagi yang harus saya sampaikan," nada suara Arka berubah drastis menjadi sangat dingin. "Keluarga Mayer mengamuk. Tuan Mayer menuntut agar Anda tetap menepati janji perjodohan dengan Marissa. Dan menurut intelijen kita di lapangan... Nona Marissa merencanakan sesuatu yang berbahaya malam ini."

​Mata Elzio mendadak menyempit. Aura membunuh yang amat pekat seketika memancar dari tubuhnya. "Rencana apa?"

​"Nona Marissa tahu Anda tinggal di kontrakan Nona Clara. Dia sudah menyewa beberapa orang dari kelompok preman lokal untuk mencelakai Nona Clara besok pagi, membuatnya seolah-olah mengalami kecelakaan tabrak lari."

​KREK.

​Pegangan tangan Elzio pada ponselnya mengencang hingga jemarinya memutih. Udara malam di gang sempit itu mendadak terasa membeku.

​"Marissa benar-benar bosan hidup rupanya," desis Elzio rendah, suaranya sangat menakutkan bagaikan iblis yang siap mencabik mangsanya. "Di mana orang-orang suruhan itu sekarang?"

​"Tim AetherCorp sudah melacak posisi mereka di sebuah bar kawasan Senen, Pak. Menunggu perintah Anda."

​"Patahkan kedua kaki mereka malam ini juga," perintah Elzio mutlak tanpa belas kasihan. "Kirim mereka ke kantor polisi dengan tuduhan perencanaan pembunuhan. Dan untuk Marissa..."

​Elzio menggantung kalimatnya, menyunggingkan senyum yang paling mengerikan.

​"...ratakan seluruh anak perusahaan keluarga Mayer yang ada di sektor properti sebelum matahari terbit. Bikin keluarga Mayer berlutut memohon ampun di depan pintu rumah saya besok."

​"Melaksanakan perintah, Pak Elzio."

​Sambungan telepon terputus. Elzio memasukkan ponselnya ke dalam saku, menarik napas dalam-dalam untuk menetralkan hawa membunuh di dadanya. Dia berbalik, kembali melangkah masuk ke dalam kontrakan sempit itu.

​Keesokan harinya, pukul tujuh pagi.

​Clara mengucek matanya, mendudukkan diri di atas kasur busa. Dia menoleh ke samping, mendapati Elzio yang masih tertidur lelap dengan posisi miring, lengannya terulur di bekas tempat tidur Clara.

​"Elzio... bangun," panggil Clara pelan, menepuk bahu pria itu. "Udah pagi. Lu gak mau cek perkembangan berkas aset Ibu gue?"

​Elzio perlahan membuka matanya, mengerjap pelan sebelum menyunggingkan senyum manja yang sangat kontras dengan sosoknya beberapa jam lalu di telepon. Pria itu menyambar pinggang Clara, menarik wanita itu hingga jatuh ke dadanya.

​"Aww! Elzio! Kebiasaan deh!" gerutu Clara, menepuk dada tegap Elzio.

​"Selamat pagi, sweetheart," bisik Elzio rendah, mengecup pipi Clara hangat. "Bagaimana tidurnya? Nyenyak?"

​"Nyenyak kalau lu gak nempel-nempel mulu!" semprot Clara, walau dia tidak berusaha bangun dari dada Elzio. "Gue serius nih. Lu udah mikirin mau bikin usaha apa dari modal rumah Ibu gue?"

​Saat itulah, ponsel Elzio di atas meja berbunyi nyaring. Elzio meraihnya dan sengaja mengaktifkan pengeras suara di depan Clara.

​"Ya, Arka?"

​"Selamat pagi, Pak Elzio," suara Arka terdengar sangat profesional. "Saya ingin melaporkan perkembangan modal sepuluh miliar dari Nona Clara yang kita putarkan kemarin sore."

​Clara mendadak menegakkan tubuhnya, matanya membelalak penasaran. "Hah? Kemarin sore udah diputar?!"

​"Betul, Nona Clara," sahut Arka dari telepon. "Berkat keahlian analisis pasar Pak Elzio, dana tersebut berhasil dieksekusi pada saham start-up teknologi yang baru saja dibeli lisensinya pagi ini. 'Clara Corp' resmi berdiri, dan kita mendapatkan keuntungan bersih pertama sebesar tiga puluh miliar rupiah hanya dalam waktu semalam."

​"BERAPA?! TIGA PULUH MILIAR?!" jerit Clara histeris, menutup mulutnya tak percaya. "Gila ya?! Lu pake pelet apa bisa dapet untung tiga kali lipat dalam semalam?!"

​Elzio tertawa renyah, mengelus rambut panjang Clara yang berantakan. "Saya kan sudah bilang, saya ini pintar, Clara. Modal dari kamu tidak akan sia-sia di tangan saya."

​"Ini... ini beneran kan, Arka?!" tanya Clara masih panik dan heboh.

​"Seratus persen benar, Nona Clara," balas Arka menahan tawa. "Bahkan Pak Elzio sudah menyisihkan sepuluh miliar utuh untuk dikembalikan ke rekening pribadi Anda sebagai pelunasan modal awal."

​Clara membeku, menatap Elzio dengan mata bulatnya yang berbinar-binar penuh kekaguman. Perasaan bangga mendadak membuncah hebat di dadanya. Pria yang kemarin dia kasihaninya karena "bangkrut" ternyata benar-benar mampu bangkit kembali dengan begitu fantastis.

​"Elzio... lu beneran hebat banget!" bisik Clara haru, refleks memeluk leher Elzio erat-erat. "Gue tahu lu gak bakal pernah hancur cuma gara-gara lepas dari Mahendra Group!"

​Elzio menyunggingkan senyum puas, melingkarkan tangannya di pinggang Clara, menikmati pelukan hangat wanita impiannya. Trik berpura-pura sukses dari nol ini benar-benar membuat Clara makin bertekuk lutut.

​"Ini semua karena kamu yang percaya sama saya, Clara," bisik Elzio lembut, mengecup pelipis Clara. "Tanpa modal dan kepercayaan kamu, saya bukan siapa-siapa."

​Belum sempat Clara membalas ucapan manis Elzio, pintu depan rumah kontrakan mendadak diketuk dengan sangat keras dan tergesa-gesa.

​TOK! TOK! TOK!

​"Elzio! Clara! Buka pintunya, Sayang!" suara melengking Dominica Mahendra terdengar dari luar.

​Clara tersentak kaget, melepaskan pelukannya dari Elzio. "Hah?! Itu... itu suara Mama lu kan, El?!"

​Elzio menghela napas panjang, bangkit berdiri. "Ya. Buka saja."

​Ketika pintu kontrakan dibuka, Dominica masuk dengan gaya cantiknya yang selalu heboh, diikuti oleh seorang pria paruh baya bersetelan jas sangat rapi yang memancarkan aura wibawa tinggi—Hendra Mahendra, Papa kandung Elzio.

​"Tante... Eh, Ibu... Om..." gagap Clara bingung melihat kedatangan orang tua Elzio di kontrakan sempitnya.

​Dominica langsung memeluk Clara hangat. "Aduh, calon menantu Mama! Kamu hebat banget ya bisa bikin si Elzio ini bertobat dan mulai bisnis dari nol lagi!"

​Hendra Mahendra melangkah maju, menatap Elzio dengan pandangan menyindir yang sangat tipis, lalu menoleh pada Clara dengan senyum hangat.

​"Terima kasih ya, Clara," ujar Hendra dengan suara beratnya yang ramah. "Om dan Tante ke sini mau menyampaikan... kalian tidak perlu cemas soal Kakeknya Elzio lagi."

​Clara mengerutkan keningnya. "Maksud Om?"

​"Kakeknya Elzio itu memang kolot dan diktator," lanjut Hendra sambil melirik Elzio yang hanya bersandar santai di tembok. "Tapi Om dan Tante sama sekali tidak setuju kalau Elzio harus dijodohkan sama Marissa. Jadi, Om sudah urus semuanya. Kakek tidak punya hak untuk mengatur hidup kalian lagi."

​"Benar, Sayang!" timpal Dominica bersemangat. "Lagipula... keluarga Mayer itu sudah hancur kok pagi ini!"

​Clara membelalakkan mata kaget. "Hancur? Maksudnya gimana, Tante?"

​Dominica mengibaskan tangannya santai. "Tadi pagi perusahaannya dikabarkan gulung tikar gara-gara utang dan sahamnya anjlok. Terus si Marissa itu... katanya ditangkap polisi gara-gara ketahuan mau nyewa preman buat mencelakai orang! Kasihan ya, kualat itu namanya!"

​DEG.

​Clara tersentak hebat. Dia refleks menoleh menatap Elzio.

​Elzio hanya memberikan wajah polos tanpa dosanya, menyunggingkan senyum tipis seolah tidak tahu-menahu tentang hancurnya keluarga Mayer dalam sekejap mata.

​"Marissa... mau mencelakai saya?" bisik Clara parau.

​Hendra menepuk bahu Elzio pelan, menahan tawa. "Iya, tapi tenang saja, orang-orangnya sudah ditangkap. Jadi, Clara... karena semuanya sudah aman, kapan kalian mau resmikan pernikahan ini? Om sama Tante sudah tidak sabar mau punya cucu."

​Wajah Clara seketika memerah padam, sementara Elzio di belakang orang tuanya hanya menyunggingkan seringai tampannya yang sangat puas.

1
umie chaby_ba
mampir thor..🙏
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!