NovelToon NovelToon
Young Master Vincentes

Young Master Vincentes

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat / Romansa Fantasi
Popularitas:125
Nilai: 5
Nama Author: Apin Zen

Di wilayah Ragonves, sebuah wilayah besar di barat Kerajaan Dirvente, dua keluarga bangsawan paling berpengaruh telah terikat dalam permusuhan selama ratusan tahun. Keluarga Vincentes dan Keluarga Sienta saling menumpahkan darah demi harga diri, kekuasaan, dan dendam yang tak pernah padam.

Demi mengakhiri konflik yang berkepanjangan, kedua keluarga akhirnya menyepakati sebuah perjanjian damai. Sebagai simbol perdamaian, Grey Vincentes, pewaris Keluarga Vincentes, dipertunangkan dengan Keilla Sienta, putri kebanggaan Keluarga Sienta.

Bagi Grey, pertunangan itu adalah impian yang telah lama ia perjuangkan. Ia mencintai Keilla dan percaya bahwa hubungan mereka dapat menghapus kebencian kedua keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelayan Baru

Sinar matahari pagi menyelinap melalui celah tirai beludru merah, jatuh tepat mengenai kelopak mata Grey. Ia mengerutkan kening, lalu perlahan membuka matanya—silau sesaat membuatnya mengucek mata dengan gerakan malas.

"Hari sudah pagi?"

Grey duduk tegak di ranjangnya, rambutnya berantakan seperti sarang burung. Ia menguap lebar, meregangkan tubuh, lalu tiba-tiba matanya membulat.

"Astaga! Hari ini aku harus mengunjungi mansion keluarga Sienta!"

Ia melompat dari ranjang dengan gerakan tergesa, hampir tersandung selimut yang melilit di kakinya. Dengan panik, ia meraih seragam kebesarannya—jas biru tua dengan bordir emas lambang keluarga Vincentes—dan mengenakannya dengan kancing yang hampir salah.

"Sial, aku terlambat!" gumamnya sambil mengancingkan kemejanya dengan terburu-buru. "Aku harus menemui Keilla dan... dan menjilat keluarganya agar mendapatkan informasi yang mereka sembunyikan."

Ia berlari keluar kamar, melompati tiga anak tangga sekaligus di lorong yang sunyi. Hening pagi masih menyelimuti kediaman Vincentes, hanya suara langkah kakinya yang bergema di dinding marmer.

Namun, di ujung lorong dekat pintu masuk utama—

Bruk!

Grey menabrak sesuatu—atau seseorang—dengan keras. Tubuhnya terpental mundur, dan ia jatuh terduduk di lantai marmer yang dingin. Buku-buku dan peralatan kebersihan berserakan di sekelilingnya.

"Aduh! Sialan, jalan itu pakai mata—bukan mata kaki! Eh—"

Grey berdiri dengan cepat, hendak memarahi orang yang menabraknya. Tapi kata-katanya menggantung di udara saat ia melihat sosok di hadapannya.

Seorang gadis muda berdiri di depannya, tubuhnya sedikit gemetar. Rambut hitamnya terikat rapi, namun beberapa helai lepas dan menutupi pipinya yang kemerahan karena malu. Matanya—cokelat keemasan—menunduk takut, dan tangannya menggenggam erat sapu yang hampir jatuh.

Grey terdiam. Ia belum pernah melihat gadis ini sebelumnya.

"Maafkan saya, Tuan Muda!" suara gadis itu bergetar. "Saya tidak sengaja. Tolong maafkan saya—saya benar-benar tidak bermaksud—"

Gadis itu membungkuk dalam-dalam, hampir menyentuh lantai dengan keningnya. Ketakutannya begitu nyata, seolah ia mengharapkan hukuman berat.

Grey menghela napas, lalu tersenyum kecil. "Ah, tidak apa-apa. Lagipula ini salahku karena aku terlalu tergesa-gesa." Ia mengulurkan tangannya untuk membantu gadis itu berdiri. "Maafkan aku juga."

Gadis itu menatap tangan Grey dengan ragu, lalu perlahan menerimanya.

"T-tidak, Tuan Muda. Saya yang seharusnya minta maaf."

Grey mengamatinya dengan seksama. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.

"Tunggu dulu," katanya, alisnya berkerut. "Siapa namamu? Aku baru pertama kali melihat ada gadis pelayan di rumah ini."

Ia benar-benar yakin. Selama bertahun-tahun, semua pelayan di kediaman Vincentes adalah orang-orang dewasa berpengalaman—kebanyakan berusia di atas empat puluh tahun, dengan wajah-wajah yang sudah ia kenal sejak kecil. Tidak pernah ada gadis semuda ini.

"Nama saya Ressa Narvieta, Tuan Muda," gadis itu menjawab dengan suara pelan, masih tidak berani menatap langsung ke arahnya. "Saya baru hari ini bekerja di sini. Paman Sebastian yang memanggil saya."

Grey mengangguk perlahan. Sebastian Holward. Kepala pelayan tua yang selalu mengatur semuanya dengan teliti. Jika Sebastian yang memanggil Ressa, maka pasti ada alasan.

"Jadi kau pelayan baru ya?" Grey menyunggingkan senyum cerahnya. "Ini bagus. Kamu masih muda... akhirnya ada wajah segar di rumah ini."

Ressa mengangkat kepalanya sedikit, matanya berbinar bingung.

Grey berpikir sejenak, lalu senyumnya melebar.

"Bagaimana kalau kau menjadi pelayan pribadiku?"

Ressa terkesiap. "P-pelayan pribadi?"

"Benar," Grey mengangguk antusias. "Di rumah ini semua pelayan banyak yang tua—mereka sudah bekerja sejak aku kecil. Aku tidak punya pelayan pribadi yang bisa menemani keseharianku. Dan sekarang..." ia menunjuk Ressa dengan jarinya, "...sepertinya hari ini adalah hari keberuntunganku."

Ressa menunduk, jari-jarinya menggenggam sapu lebih erat. "Tapi... Paman Sebastian tidak memberitahu saya jika saya akan menjadi pelayan pribadi Anda, Tuan Muda. Beliau hanya menyuruh saya membersihkan area lorong ini dan ruang tamu."

Grey mendengus kesal. "Si tua bangka itu ternyata menyuruhmu menjadi pelayan biasa? Tanpa memberitahuku kalau ada pelayan baru?"

Ia menggumamkan kata-kata sumpah pelan di dalam hati. "Sebastian... kau selalu melakukan semuanya tanpa sepengetahuanku. Apa kau sengaja menyembunyikan Ressa dariku?"

Grey menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran curiga itu. Untuk saat ini, ia punya keputusan.

"Baiklah, mulai sekarang kau adalah pelayan pribadiku. Dan itu bukan permintaan—itu perintah. Tak ada jawaban untuk menolak."

Ressa menghela napas panjang, bahunya sedikit turun. "Jika itu adalah keinginan Tuan Muda... maka saya menurut saja."

"Bagus!" Grey tersenyum puas. "Satu lagi—panggil aku dengan sebutan 'Tuan' saja. Aku tidak suka terlalu formal. Dan jangan membungkuk berlebihan seperti tadi. Itu membuatku tidak nyaman."

Ressa mengangguk pelan, matanya masih menatap lantai.

"Sekarang rapikan kamarku, aku terlambat sekarang." Grey berbalik, melangkah menuju pintu utama, lalu berhenti sejenak. "Oh, satu hal lagi—jika kau tidak tahu di mana letak kamarku, tanyakan saja pada pelayan lainnya. Mereka akan menunjukkannya."

Tanpa menunggu jawaban, Grey berlari keluar kediaman, melewati gerbang utama yang terbuka, dan melesat menuju kereta kuda yang sudah menunggu di depan halaman.

Di dalam kediaman, Ressa berdiri sendirian di lorong yang sunyi. Sapu di tangannya masih tergenggam erat. Matanya yang cokelat keemasan menatap pintu yang baru saja ditutup oleh Grey.

Lalu, perlahan, sudut bibirnya naik.

"Tuan muda Grey Vincentes..." gumamnya pelan, suaranya berubah menjadi lebih dalam, lebih halus dari sebelumnya. "Dia ternyata adalah orang yang baik."

Ressa mengangkat sapunya dan mulai menyapu lantai dengan gerakan biasa—kembali menjadi gadis pelayan pemalu yang tertabrak oleh tuannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!