Sìang itu pesawat Bomber Martin B-10 Belanda terbang rendah di langit RANCAGAOK
BOOOOM!!!
Cahaya putih menyilaukan membelah malam. Tanah terlempar ke udara. Atap rumah Pak Lurah terangkat lalu hancur berkeping-keping.
"Turun!" teriak Bayu.
Semua menjatuhkan diri ke tanah. Debu dan pecahan bambu menghujani punggung mereka. Bau mesiu dan kayu terbakar memenuhi udara.
*TAT... TAT... TAT...*
Suara tembakan dari udara menyisir tanah. Peluru menancap ke batang pisang dan pematang sawah. Bayu menarik Astri ke bawah parit.
Bayu, Karta, Ningsih, Astri bertekad untuk merebut kampung halaman mereka dari tangan belanda hanya bermodal tekad berjuang dan senjata seadanya.
Kisah perjuangan anak muda melawan penjajah, semoga jadi pengibar semangat anak muda Indonesia" MERDEKA"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 : SERANGAN DARAT
Keheningan di dalam gua begitu pekat, hanya sesekali diselingi isak tangis pelan anak-anak yang masih ketakutan, atau batuk-batuk orang tua yang sesak karena menghirup asap. Di luar, suara kobaran api masih terdengar sayup, menandakan kehancuran yang ditinggalkan pesawat-pesawat pengecut itu. Bayu dan Karta berdiri di mulut gua, mengintip dari celah kecil yang mereka buat. Pemandangan di luar adalah lautan abu dan sisa-sisa api yang masih menjilat, menghanguskan apa saja yang tersisa dari tempat persembunyian mereka.
"Mereka sudah merusak semua yang kita punya, Yu," bisik Karta, suaranya berat.
"Bahkan persediaan makanan yang sudah kita kumpulkan sebagian besar musnah."
Bayu mengangguk. Matanya menyapu sekitar, mencari jejak.
"Ini belum berakhir, Ta. Mbah Kartareja benar. Ini cuma pembuka. Mereka pasti akan datang dari darat, untuk memastikan tidak ada yang tersisa."
Tak lama kemudian, terdengar suara gemuruh aneh dari kejauhan. Bukan suara pesawat, tapi lebih berat, seolah bumi bergetar. Gemuruh itu makin lama makin jelas, diselingi deru mesin yang kasar dan berat.
"Apa itu?" tanya Jaka Kelitik, yang juga ikut mengintai.
"Itu... suara mesin berat," jawab Bayu, matanya menyipit. "Itu pasti tank mereka."
Karta mengumpat pelan. "Tank? Mereka membawa tank ke sini? Ini gila! Mereka datang bukan untuk menakuti, tapi untuk memusnahkan kita!"
"DUL KALONG! PERIKSA DI ATAS! KARTA, JAKA, SUKRIA! BAWA PASUKAN KE POSISI!" perintah Bayu, suaranya kembali tegang. Ia tahu, pertempuran sesungguhnya baru akan dimulai.
Dul Kalong segera merayap ke posisi pengintaian di atas bukit lain, mencari sudut pandang yang lebih baik. Tak lama, suara teriakannya membelah kesunyian.
"MEREKA DATANG! JUMLAHNYA BANYAK! ADA DELAPAN PULUH PRAJURIT! DAN... ADA TANK! TANK! BERGERAK LURUS MENUJU SINI LEWAT SUNGAI!"
Darah semua pejuang Rancagaok mendidih. Delapan puluh prajurit dan satu tank! Kekuatan yang tak sebanding dengan bambu runcing dan beberapa senapan rampasan mereka.
"SIAGA! SIAPKAN JEBAKAN! JANGAN ADA YANG MENEMBAK SEBELUM AKU PERINTAHKAN!" teriak Bayu. "EMBEK GOMBLOH! POSISI KAU DI TEBING SANA! TAHAN SAYAP MEREKA!"
Embek Gombloh mengangguk, rahangnya mengeras. Ia membawa tombak bambu yang di ujungnya diberi runcingan besi tajam. Tubuhnya yang besar bergerak cepat, menyelinap ke posisi yang sudah ditentukan.
Suara gemuruh tank itu semakin dekat, mengalahkan suara alam. Rombongan prajurit Belanda yang dipimpin Kapten De Vries dan Mayor Van Der Hock, berjalan rapi, seragam mereka tampak mencolok di antara abu dan dedaunan yang gosong. Mereka tampak percaya diri, mengira tidak akan ada perlawanan setelah serangan udara tadi.
"Lihat! Tidak ada yang tersisa dari kampung kecil ini," kata Kapten De Vries kepada Mayor Van Der Hock.
"Mungkin mereka sudah lari ketakutan ke hutan. Kita hanya perlu membersihkan sisa-sisa dan melaporkan pekerjaan selesai."
"Jangan lengah, Kapten. Tanah ini penuh kejutan. Aku tidak akan merasa tenang sebelum kepala si Bayu itu ada di tanganku," balas Mayor Van Der Hock, matanya menyapu sekeliling, mencari jejak.
Tank FT-17 Renault yang berukuran kecil namun kuat itu bergerak paling depan, meratakan apa saja yang menghalangi jalannya. Saat tank itu tepat melintasi jalan setapak yang ditutupi lumpur dan dedaunan, tiba-tiba...
KRETEK!
Salah satu tali jerat yang dipasang Jaka Kelitik berhasil menjerat roda tank. Tank itu tersentak, bergerak sedikit miring, namun tidak sampai terbalik. Prajurit-prajurit yang berjalan di belakangnya terkejut.
"APA ITU?!" teriak Kapten De Vries.
"SERANG! SEKARANG!" teriak Bayu.
GROAAAR!!!
Dari atas tebing, Embek Gombloh mendorong tumpukan batu besar yang sudah disiapkan. Batu-batu itu meluncur deras, menghantam beberapa prajurit yang berjalan di sisi tebing. Mereka berteriak panik, berlarian mencari perlindungan.
TAT... TAT... TAT...
Sukria dan beberapa pemuda lain yang memegang senapan rampasan mulai menembak. Mereka tidak menembak membabi buta. Setiap peluru diarahkan dengan presisi, menumbangkan prajurit yang berada di dekat Tank atau di barisan depan.
"JANGAN TEMBAK SEMBARANGAN! SASAR KOMANDAN MEREKA! DAN PEMEGANG SENAPAN MESIN!" teriak Bayu.
Karta dan puluhan pejuang lain, bersenjatakan bambu runcing dan parang, maju dari balik semak. Mereka menyergap dengan cepat, menusuk dan menebas dengan lincah. Pertempuran jarak dekat tak terhindarkan.
"MAJU! JANGAN KASIH AMPUN!" teriak Kapten De Vries. Ia menarik senapan, menembak ke arah kerumunan pejuang.
Jaka Kelitik melompat dari balik semak, menyerbu tiga prajurit sekaligus. Bambu runcingnya bergerak cepat, melumpuhkan satu prajurit di kaki, dan yang lain di bahu. Ia bergerak seperti bayangan, memanfaatkan celah-celah pepohonan untuk menyerang.
Di sisi lain, Bayu berhadapan langsung dengan beberapa prajurit yang mencoba menerobos masuk ke arah gua. Kampak di tangannya berputar lincah, menangkis senapan dan menebas dengan kuat.
"INI TANAH KAMI! TIDAK AKAN ADA YANG KALIAN DAPATKAN!" teriak Bayu.
Mayor Van Der Hock mengumpat kesal. Ia tidak menyangka akan ada perlawanan sekuat ini setelah serangan udara. "BAKAR MEREKA SEMUA! HABISI SEMUA YANG ADA DI SINI!"
Prajurit-prajurit Belanda mulai menembakkan senapan mesin ke arah hutan, mencoba membakar lebih banyak pepohonan untuk membuka jalan. Tank FT-17 Renault, meskipun agak tersentak, tetap berusaha maju, laras meriamnya berputar mencari sasaran.
"Sasar roda tank! Jangan biarkan mereka bergerak bebas!" teriak Bayu.
Sukria dan yang lain mencoba menembak roda tank, namun peluru mereka tak mampu menembus baja tebal. Mereka hanya bisa mengalihkan perhatian, membuat Tank menembakkan meriam ke arah mereka.
DUAR!!!
Suara meriam tank memekakkan telinga. Pohon-pohon di sekitar Sukria hancur berkeping-keping, tanah terlempar, dan ia harus melompat menghindar dengan cepat.
"SEMUA TERDESAK! MUNDUR PERLAHAN KE GUA!" perintah Bayu. Ia tahu, mereka tidak bisa menahan kekuatan sebesar ini di tempat terbuka.
Satu per satu pejuang mulai mundur, menahan serangan musuh. Beberapa terluka, ada yang tertembak di lengan, ada yang terkena serpihan ledakan. Wadana Raksapati, yang kebetulan sedang berada di sekitar itu untuk memantau situasi, ikut membantu menarik mundur pejuang yang terluka.
"Bertahan! Kita hanya perlu menahan sampai mereka kelelahan!" teriak Wadana.
Embek Gombloh, setelah berhasil menjatuhkan beberapa prajurit dengan batu, kini berduel tangan kosong dengan dua prajurit sekaligus. Tubuhnya yang besar dan kekar menjadi benteng pertahanan yang sulit ditembus.
"SUDAH CUKUP KARTAR! MEREKA SUDAH MELIHAT KEMARAHAN KITA!" teriak Bayu.
Karta terpaksa mundur, wajahnya penuh keringat dan amarah. Salah satu bambu runcingnya patah, ia hanya menyisakan parang di tangannya.
"MEREKA SUDAH MASUK JAUH KE DALAM! POSISI PERTAHANAN KITA MULAI RUNTUH!" teriak Jaka Kelitik. Ia baru saja melumpuhkan seorang prajurit yang mencoba menerobos.
Bayu melihat sekeliling. Asap dan api masih memenuhi udara. Pasukan Belanda bergerak makin maju, perlahan tapi pasti, meratakan semua yang mereka lewati. Tank itu, meskipun sudah tersangkut jerat, masih bisa menembakkan meriamnya, membuat semua orang ketakutan.
"Ke dalam gua! Kita akan tahan mereka di sana!" perintah Bayu.
Mereka mundur, membawa pejuang yang terluka. Di dalam gua, warga yang bersembunyi mendengar jelas suara tembakan, ledakan, dan teriakan perang. Mereka ketakutan, tapi juga merasa bangga mendengar perlawanan yang diberikan.
Saat Bayu dan yang lain masuk ke dalam gua, Jaka Kelitik dan Sukria menembakkan senapan terakhir mereka, mencoba menunda laju musuh sejenak.
"Bawa masuk semua yang terluka! Tutup pintu gua! Jangan biarkan mereka melihat kita!" teriak Bayu.
Mereka menarik masuk pejuang yang terluka. Karta dan Embek Gombloh segera menutup mulut gua dengan tumpukan batu besar dan ranting, menyamarkan pintu masuk sebaik mungkin.
Di luar, suara tembakan makin mendekat. Suara langkah kaki prajurit dan deru mesin tank terasa begitu dekat, seolah mereka sudah berdiri tepat di depan gua.
Mayor Van Der Hock menggebrak meja di tanknya. "BAKAR! BAKAR SEMUA HUTAN INI! SAMPAI AKAR-AKARNYA!"
Prajurit-prajurit Belanda mulai menyiramkan minyak ke pepohonan dan semak-semak yang masih berdiri, lalu melemparkan obor. Api mulai menjalar dengan cepat, membentuk lingkaran di sekitar gua.
Di dalam gua, udara terasa panas. Bau asap dan kayu terbakar mulai menusuk hidung. Cahaya oranye kemerahan dari api di luar menyelinap masuk dari celah-celah kecil. Ketegangan mencengkeram.
"Mereka mengepung kita, Yu," bisik Karta, wajahnya serius.
Bayu mengepalkan tangannya. Ia tahu, ini bukan hanya pertempuran. Ini adalah ujian terakhir. Ujian atas segala tekad dan keberanian yang mereka miliki.
"KITA AKAN BERTAHAN DI SINI!" teriak Bayu. "SELAMA KITA MASIH BISA BERNAFAS, KITA AKAN MELAWAN! RANCAGAOK TAKKAN LUNTUR!"