Kainara Seroja Putri tidak pernah menyangka kematian akan membawanya kembali ke tahun 1972, terbangun dalam tubuh Seroja Ningsih, gadis desa lemah yang baru saja dibuang oleh ayah kandungnya sendiri.
Dengan bekal sistem game pertanian dan pengetahuan dari masa depan, Seroja harus menghidupkan tanah kapur tandus yang dianggap tidak berguna, mencari jalan untuk bertahan hidup, serta mengembalikan harga diri ibunya yang telah diinjak-injak.
Namun, ketika tanah buangan itu perlahan berubah menjadi sumber kekayaan, Seroja justru menarik perhatian orang-orang yang selama ini menyembunyikan rahasia kelam keluarganya. Sebuah rahasia yang dapat mengubah hidupnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Sampel Tanah
"Segel lahan ini sekarang! Jangan biarkan satu keranjang pun keluar menularkan penyakit ke pasar!"
Suara pria berseragam dinas itu memecah pagi di perbatasan Hutan Jati. Sepatu pantofel hitamnya menginjak gundukan tanah kapur, mematahkan tunas muda yang baru tumbuh. Belasan polisi pamong praja berbaris kaku di belakangnya.
Siti menjatuhkan sapu lidi. Wajahnya pucat. Tangannya bergetar mencengkeram kusen pintu gubuk. Ingatan tentang pengusiran paksa kembali mencekiknya. Napasnya tersengal menatap seragam-seragam cokelat itu.
Seroja melangkah keluar dari dapur, menepuk debu sisa kayu bakar di kain luriknya. Ia menatap rombongan itu dengan raut datar. Preman pasar gagal menundukkannya. Kini Ningrum memakai jalur birokrasi lewat ayahnya di kementerian pusat. Seroja sudah menduga serangan ini.
"Ada urusan apa Bapak-bapak datang ke halaman kami?" Seroja menyapa sopan. Nadanya jernih, memecah kepanikan keluarganya.
Pria berkumis tebal di barisan depan mendengus. Ia menarik kertas berstempel lambang negara dari map kulit.
"Saya Haris, Ketua Tim Pemeriksa Karantina Pangan Pusat," ucapnya lantang. "Kami menerima laporan dari instansi kesehatan. Koperasi Tani Mandiri memakai zat kimia berbahaya memaksakan panen di tanah tandus ini."
Haris melambaikan surat tugas di depan wajah Seroja. "Sayuran kalian mengancam nyawa masyarakat kota. Mulai detik ini, seluruh izin usaha, hak tanam, dan jalur distribusi koperasi dibekukan."
Bagas dan Danu yang baru tiba dari sumur menjatuhkan ember seng mereka. Air tumpah membasahi tanah kapur. Urat leher Danu menegang. Ia melempar pikulan kayu dan bersiap menerjang maju. Namun Seroja mengangkat tangan kanan. Langkah Danu tertahan. Melawan aparat secara fisik sama saja menyerahkan diri ke sel tahanan.
"Tuduhan itu butuh bukti dan saksi, Pak Haris," balas Seroja lugas. "Kebun kami terbuka. Silakan periksa gudang, dasar sumur, atau sisa pupuk di tong belakang. Bapak tidak akan menemukan setetes pun cairan kimia di tempat ini."
Haris tertawa sinis. "Petani pinggiran selalu punya cara menyembunyikan limbah. Kalian menanam di tanah kapur gersang. Tidak masuk akal tomat kalian bisa masuk dapur Hotel Nusantara tanpa suntikan pupuk ilegal."
Seroja tersenyum tipis. Ia menoleh ke gubuk.
"Doni, bawa buku catatan harianmu ke mari," panggil Seroja lembut.
Dari balik tirai bambu pudar, anak laki-laki tiga belas tahun melangkah ragu. Doni mendekap erat buku tulis bersampul cokelat di dada. Tangannya gemetar melihat belasan pria mengepung pekarangan. Namun saat menatap anggukan meyakinkan Seroja, rasa takutnya mereda.
Doni menelan ludah, lalu berdiri tegak di samping Seroja. Ia membuka buku tulis dan menyodorkannya ke hadapan Haris.
"Ini catatan harian suhu kebun kami, Pak," suara Doni bergetar, tapi perlahan menguat. "Setiap pagi dan sore, saya mengukur kelembapan bedengan. Kami menaruh cacahan pelepah pisang penahan penguapan air saat terik siang."
Haris mengerutkan kening, menunduk menatap buku tersebut. Halaman itu dipenuhi tabel buatan tangan, grafik garis sederhana, dan tulisan rapi berisi detail pertumbuhan daun dan curah air harian.
"Di halaman sepuluh ada resep kompos kami," lanjut Doni mantap. Jemari pucatnya membalik halaman. "Kami meracik kotoran sapi, daun jati busuk, dan air cucian beras, lalu menutupnya rapat di bawah terpal tiga hari. Suhu panas fermentasinya melunakkan tanah dan membunuh hama alami, bukan racun pabrik."
Seroja menatap buku lusuh itu. Catatan Doni runut dan masuk akal, mematahkan semua tuduhan Ningrum tanpa sisa.
Dada Seroja menghangat. Ia tak perlu memanggil layar Sistem Ladangku. Otak Doni adalah perisainya. Anak kecil pendiam itu kini berdiri tegak menjelaskan cara kerja alam.
Rahang Haris mengeras. Catatan akurat ini merusak skenarionya. Ia menolak pulang membawa kegagalan dari gubuk reyot ini.
"Catatan kertas bisa dikarang dalam semalam," bantah Haris tajam. Ia menutup paksa buku tulis dan mendorongnya kasar ke dada Doni. "Saya butuh sampel tanah dan akar tomat kalian. Pengujian di laboratorium kabupaten dilakukan hari ini juga."
Haris memberi anggukan singkat. Dua petugas berbadan besar merangsek masuk ke bedengan. Mereka mencabut paksa sebatang pohon tomat berbuah lebat. Batangnya berderak patah. Daunnya robek. Buah-buah hijau berserakan mencium tanah.
Siti menjerit tertahan. Air matanya menggenang melihat tanaman itu dirusak. Bagas memalingkan wajah dan mengertakkan gigi. Seroja merangkul ibunya erat, menahan tubuh Siti agar tidak limbung.
Petugas itu melempar pohon tomat beserta gumpalan tanah akarnya ke lincak bambu. Haris berjalan mendekat. Ia membuka koper logam dari ajudannya, lalu mengeluarkan tabung kaca dan jepitan panjang.
Mata Seroja mengikuti setiap gerak-gerik Haris. Pria itu sengaja memutar tubuh, membelakangi arah matahari timur. Bayangan bahunya menutupi meja bambu, menghalangi pandangan Seroja.
Tangan kiri Haris diam-diam merogoh saku bawah jas safarinya.
Tiba-tiba deru mesin memecah suara angin hutan. Jip Toyota Land Cruiser hijau tua melaju kencang menembus jalan berbatu, lalu mengerem mendadak di belakang deretan mobil dinas itu. Kepulan debu tipis membumbung.
Pak Subroto turun dari kursi kemudi. Kemeja batiknya tertiup angin. Wajahnya memerah menatap kebun pemasok sayurannya diacak-acak aparat.
Dari pintu penumpang, seorang pria muda ikut melompat turun. Kamera analog berlensa panjang mengalung di lehernya. Pria itu mengangkat kameranya, membidikkan lensa lurus ke arah tangan kiri Haris.
next ka...