NovelToon NovelToon
Pergi Tanpa Kembali

Pergi Tanpa Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Teen / Anak Genius
Popularitas:879
Nilai: 5
Nama Author: halwa diyah

Saat kehidupan tidak lagi berpihak kepadaku. Saat orang yang kusayang semakin jauh meninggalkanku. Saat semua terungkap bahwa aku adalah alien di lingkunganku sendiri, yang tidak dinginkan kehadirannya, tidak dipedulikan keadaannya. Aku tahu, aku harus menyingkir. Menjauh dari semuanya. Kehidupan remaja bernama Adit yang sangat nyaman seperti surga tiba-tiba berubah menjadi seperti neraka. Apakah Adit akan memilih tetap bertahan atau menyerah?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Halusinasi

POV Ivan

Aku memperhatikan Adit dalam tidur nya. Sangat tenang. Sungguh miris, jika ku ingat kembali bahwa di tubuh tersebut telah bersemayam virus mematikan. Entah bagaimana caranya virus tersebut bisa masuk ke dalam tubuh remaja aktif di depan ku ini.

Sebuah lenguhan kecil terdengar darinya. Namun mata itu masih terpejam, menandakan si pemilik tubuh masih terbuai dalam keheningan malam ini. Pikiran ku menerawang jauh kembali pada masa saat Adit di rawat di rumah sakit tempat ku bekerja. Saat pertama kali kusadari bahwa dalam darahnya terkandung virus mematikan ini. Rumah sakit milik keluarganya sendiri. Aku yang saat itu sudah menyatakan selesai untuk pengobatan kecelakaan Adit tinggal menunggu pemulihan. Tiba-tiba om Dhika dan Tante Mey meminta untuk dilakukan tes kesehatan sekaligus tes antibodi juga untuk Adit, mengingat polusi sedang merajalela dimana-mana dan mereka ingin anaknya selalu baik-baik saja. Dan fakta yang kudapatkan dari hasil semua tes tersebut sangat membuatku tercengang kaget. Ada virus di dalam tubuhnya, bukan virus biasa. Tapi virus yang sangat mematikan, human immunodeficiency virus (HIV).

Bisa kubayangkan bagaimana reaksi orangtua remaja ini jika mengetahuinya. Anak satu-satunya yang sangat pintar, cerdas, penurut, bahkan tidak pernah aku mendapatinya melakukan kenakalan remaja seperti remaja pada umumnya. Dia remaja yang realistis, melakukan sesuatu dengan pertimbangan yang sangat cermat. Aku sampai terkagum padanya, tidak pernah aku menemukan remaja seusianya dengan pemikiran matang yang sangat terampil. Dan pastinya tidak bisa dipungkiri orangtuanya telah berperan banyak pada pembelajaran empati dan simpatinya yang sangat tinggi itu. Aku bukan membayangkan kesedihan orangtua nya saat mengetahui ini, tapi yang kutakutkan jika orangtua nya tidak menerima fakta ini. Mereka yang selalu berada diatas, mereka yang selalu super perfeksionis pada segala hal. Aku khawatir Adit tidak mendapatkan dukungan yang semestinya. Dan itu semua memang terbukti sekarang.

Sekelebat bayangan mulai muncul di otakku, adegan-demi adegan yang menjadi respon orangtua Adit saat itu.

"Om,,, Ivan mau melaporkan sesuatu. Tapi kita berdua aja ya." Aku berbisik mendekat ke om Dhika saat mengatakannya. Beliau yang masih setia menunggu sang anak bangun dari tidurnya, menatapku heran.

"Ada apa?" Tanyanya memastikan.

"Hasil tes lab Adit udah bisa dilihat, kita ke ruangan Ivan dulu om." Aku mengajaknya menuju ruangan ku, dan tanpa kami sadari Tante Mey mengikuti di belakang kami.

"Mama ikut dong pah,, mau ngobrolin Adit kan?" Suara mendayu milik Tante Mey di belakang kami membuatku ragu untuk meneruskan. Aku khawatir Tante Mey akan kurang bisa mengontrol emosinya nanti.

"Iya sayang, ayo kita ke ruangan Ivan." Ajak om Dhika kala itu sambil merangkul mesra istrinya.

Setelah semua duduk di tempat masing-masing, aku mulai membuka map berisi hasil tes lab Adit.

"Untuk daya tahan tubuh saat ini, Alhamdulillah stabil. Adit bisa pulang setelah pengaruh obat bius hilang. Tapi dari hasil tes darah nya,,, di temukan virus asing yang akan sangat berpengaruh pada kekebalan tubuhnya. Untuk pencegahan virus itu berkembang atau bahkan bermutasi, perlu diberikan obat antiretroviral yang harus rutin diminum setiap hari." Aku sengaja mengatur kalimatku agar tidak membuat syok keduanya.

"Obat antiretroviral?! Ada virus apa?" Om Dhika menanggapi dengan serius ucapanku, berbeda dengan Tante mey yang masih terlihat santai.

"Hmm.. human immunodeficiency virus om. HIV."

"Apa?!" Keduanya tampak kaget dan menatapku tak percaya. Aku hanya terdiam menunggu respon selanjutnya dari mereka.

"Kamu harus segera temukan obat terampuh untuk menghilangkan nya Van, jangan sampai kabar ini tersebar ke siapapun!" Om Dhika yang terlihat kalut, segera berdiri berniat meninggalkan ruangan ku ini.

"Siap om, Ivan akan usahakan yang terbaik."

"Anak itu! Dari mana dia mengenal hubungan terlarang sebelum waktunya!" Dengan kekesalannya, om Dhika mulai melangkah keluar dari ruangan ini. Aku yang tahu arah tujuannya kemana, langsung berusaha menahan langkahnya. Jangan sampai Adit tiba-tiba di interogasi oleh om Dhika saat kondisi nya belum stabil seperti ini.

"Om! om tenang dulu. Kita bisa diskusikan penyelesaian ini didalam dulu om." Aku menarik tangannya untuk menghentikan langkah cepat om Dhika. Aku menuntun om Dhika kembali ke ruangan ku, tidak lupa segera kukunci pintu agar tidak terulang kejadian ini.

"Bagaimana mungkin Van, Adit anak baik-baik.. coba kamu jelaskan ke Tante. Apa yang mungkin menjadi penyebab virus itu masuk ke tubuh Adit?!" Di kursi itu, Tante Mey masih bertahan dalam duduknya dan tetesan-tetesan bening pada matanya terlihat mulai turun deras.

Setelah om dhika duduk kembali, aku pun langsung duduk di kursiku.

"Ivan belum tau pasti penyebabnya, kita akan tahu jika Adit memberi tahu kita. Namun secara umum, HIV bisa menyerang tubuh jika Sering berganti pasangan, Melakukan hubungan seksual yang beresiko baik homoseksual maupun heteroseksual atau Menggunakan jarum suntik narkoba secara bersamaan. Tapi Ivan yakin Adit bukan pengguna narkoba, tidak ada kandungan sedikitpun narkoba di darahnya." Aku berusaha memberikan jawaban sedetail mungkin.

"Papah... Kenapa Adit bisa begitu?" Tante Mey yang terlihat frustasi memegang lengan om Dhika yang masih bergeming.

"Ini semua gara-gara kamu! Adit nggak akan begini kalau kamu lebih perhatian padanya! Kamu yang hanya di rumah tidak disibukkan bekerja apa pun, kenapa sampai tidak tahu anaknya sudah menyeleweng?!" Om Dhika membalik badannya dan menatap nyalang ke arah Tante Mey.

"Pah! Papa tau sendiri setiap hari papa pulang kerja, Adit selalu sudah standby di rumah. Nggak pernah dia keluyuran lama. Mama sangat tahu jadwal anak kita pah. Dia akan pulang jam empat dan paling lambat jam 5 sebelum kamu pulang! Dimana letak kesalahan mama?! Apa perlu mama juga menunggunya di sekolah layaknya anak TK! Mama tau jadwal Adit full belajar sampai jam setengah tiga. Setelah itu dia menunggu waktu ashar sambil makan siang. Adit juga punya prestasi terbaik di sekolahnya, nggak mungkin kan kalau dia bolos di jam belajar untuk berbuat hal-hal tak senonoh semacam itu?!" Tante Mey yang merasa tidak terima di salahkan, mencoba membela diri dengan ucapan kerasnya.

"Itu salah kamu! Sampai kecolongan! Papa nggak mau tau, mama harus usahakan semuanya berakhir. Buat Adit sembuh! Dan jangan sampai ada orang lain yang tau!"

Aku sedikit tersentak dari lamunanku ini, saat kurasakan gerakan tiba-tiba yang Adit lakukan.

"Kak,,, belum tidur?" Suara serak Adit membuatku tersadar, Kulihat Adit sudah dalam posisi duduknya dan meminum air dalam Tumbler nya yang ada di dekat bantal.

"Ada yang sakit Dit?" Gelengan kecil darinya membuatku lega.

"Tadi haus kak, aku mau lanjut tidur lagi kak." Hanya hitungan detik pun matanya telah terpejam sempurna. Kernyitan kecil beberapa kali terlihat di wajah tidurnya yang damai.

Semoga benar kamu baik-baik saja Dit.

Aku pun ikut merebahkan diri kembali, mungkin aku bisa tidur tenang mengikutinya malam ini. Semoga besok aku bisa lebih siap menemaninya melewati setiap efek samping yang akan dirasakannya.

Suara batuk cukup keras kembali membuatku terjaga sebelum aku terlelap sempurna.

"Dit?!"

"Pengen muntah kak." Tanpa menunggu jawabanku, Adit langsung melangkah keluar kamar. Aku bergerak pelan untuk bangkit, ada rasa perih di perutku. Kususul Adit yang sudah berada di toilet. Pintu yang terbuka membuatku leluasa untuk melihat kegiatan muntah Adit, aku pun segera mendekatinya dan memijat pelan tengkuknya.

"Udah kak." Wajah pucatnya yang dibanjiri keringat langsung ia basuh dengan air. Aku pun meninggalkannya dan memilih duduk di kursi bar yang ada di dapur apartemen ini. Dari dapur ini, aku bisa leluasa melihat kearah toilet yang memang langsung berseberangan dengan dapur.

"Masih ada mual nggak Dit?" Kusodorkan satu gelas air hangat untuknya sambil terus memperhatikan langkahnya mendekatiku.

"Iya kak, masih mual." Bisa kulihat rasa mual masih menguasai dirinya yang beberapa kali berusaha mengontrol dirinya sendiri saat gejolak muntah itu muncul. Namun hanya sekedar respon tubuh, tanpa benar-benar akan muntah.

"Kak, obat berikutnya pagi aja ya Adit minum nya. Kasihan kak Ivan harus terbangun terus tiap malam nantinya." Aku mendengus kesal dengan alasan nya itu. Disaat seperti ini ternyata dia begitu peduli terhadapku, terhadap orang lain yang pernah menjadi sangat kejam terhadapnya.

"Tenang aja, kakak biasa begadang di rumah sakit. Sekarang kakak jadi dokter 24 jam buat kamu. Jadi aman dit." Aku kembali memberikan satu gelas air hangat padanya, kurasa ini akan cukup efektif untuk membuat lebih nyaman perutnya.

"Tidur lagi yuk kak, masih malem." Aku memperhatikan raut wajahnya yang sekarang terlihat begitu pias.

"Dit,,, jujur sama kakak. Ada yang kamu rasakan selain mual tadi?"

"Hmmm... Mungkin halusinasi kak, aku lihat penampakan terus sejak duduk disini."

"Hah! Ngaco ah! Yang bener?! Penampakan apaan?" Kali ini aku dibuat merinding olehnya. Aku jadi menyesal bertanya seperti tadi.

"Udah, lupakan kak. Yang penting nggak ganggu." Adit menarik tanganku segera menuju kamar. Ada senyum jahil tersungging di bibirnya.

Anak ini!

Apakah dia hanya bercanda?!

Atau memang benar?!

1
salma
jadi nostalgia ke masa perpisahan SMA dlu. lagu nya sama
halwa diyah: 🤭 memang lagu itu yang paling cocok buat moment nya kak
total 1 replies
salma
Suka ceritanya ngalir. alurnya santai tapi bikin penasaran kelanjutan nya
halwa diyah
siaap...
semangatt juga kak 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!