Bagi Azam, satu-satunya wanita yang berhak bersandar di bahunya hanyalah Aira Humaira, istri sekaligus sahabat sejatinya.Namun, sebuah kesalahan yang tak di sengaja.kini berubah menjadi hantu yang menuntut penebusan. Safira kini hidup sebatang kara dan hidup menderita akibat kelalaian Azam. Ketika uang tak lagi mampu membasuh rasa bersalah, Aira justru menyodorkan madu pernikahan sebagai jalan keluar."Aku ikhlas, Mas..." kata-kata Aira terdengar tegas, meski hatinya sendiri hancur.Terjebak di antara tuntutan istri yang dicintainya dan penolakan hatinya untuk mendua, keputusan apa yang akan diambil Azam? Siapkah Aira menyaksikan suaminya bersanding dengan wanita lain, ketika ego dan rasa bersalah bertabrakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adiba Aza hra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Ketika Rahasia Menjadi Kebencian
Setelah beberapa menit Andika menangani Aira, akhirnya dokter muda itu keluar.
"Gimana keadaan Aira, Dik?" tanya Azam tak sabar.
Andika menghela napas lega, lalu menepuk pundak Azam.
"Alhamdulillah, Aira sudah melewati masa kritisnya. Untuk sekarang lo belum boleh masuk," kata Andika santai.
Tak lama kemudian, Dokter Risma keluar.
"Terima kasih kerja samanya, Dokter Andika. Anda begitu luar biasa," puji Dokter Risma.
Andika mengangguk, lalu tersenyum ramah kepada Dokter Risma. Azam memeluk Andika sekilas, pertanda laki-laki itu mengucapkan beribu-ribu kata terima kasih.
"Ini kunci kamar hotel buat elo, Dik. Gue juga udah beliin tiket buat elo, terserah lo mau berangkat kapan. Dan tentunya udah gue transfer, ya. Thanks udah nyelamatin Aira," kata Azam lalu menjabat tangan Andika.
Setelah kepergian Andika, Hanum dan Bu Nilta datang.
"Gimana, Nak, keadaan Aira? Tadi Ibu ketemu sama Andika," kata Bu Nilta khawatir.
Azam tersenyum melihat kepedulian dan ketulusan sang ibu terhadap menantunya.
"Alhamdulillah, Bu, Aira sudah melewati masa kritisnya. Hanya saja belum boleh ditemui," kata Azam lega.
"Alhamdulillah," kata Bu Nilta dan Hanum kompak.
Tanpa mereka sadari, Kinan melihat mereka yang terlihat begitu sayang dan peduli dengan Aira, sampai-sampai melupakan keberadaannya yang juga terluka.
"Benar kata Ayah, gak seharusnya aku tahu siapa ayahku sebenarnya," kata Kinan penuh kebencian, lalu bergegas kembali ke dalam kamarnya.
"Kamu dari mana, Nak?" tanya Ayah Fikri saat melihat Kinan berjalan perlahan menuju tempat tidur.
Kinan tersenyum lalu menggeleng pelan.
Di sisi lain, Safira sedang dicaci maki oleh calon ibu mertuanya.
"Kasihan sekali Adam punya calon istri yang gak enak dilihat, memuakkan saja!" kata Bu Riya judes.
"Kok bisa gitu loh anak saya suka sama cewek kampung kayak kamu?!" kata Bu Riya yang selalu saja menyalahkan Safira.
"Bu, Ibu kenapa sih sama Safira? Safira salah apa sama Ibu? Safira gak ada pelet Bang Adam, Bu! Bang Adam sendiri yang melamar Safira," kata Safira bergetar.
PLAK!
Bu Riya melotot. "Kamu ini gak tahu diri! Cewek kampungan! Gak modis, gak gaul, malu saya, malu!" kata Bu Riya penuh emosi.
Adam yang baru datang langsung membantu Safira untuk berdiri.
"Ibu ini apa-apaan, Bu? Safira itu pilihan Adam, dan Adam gak akan pernah ninggalin Safira," kata Adam lalu mengajak Safira keluar rumah.
"Doain Mas ya, Dek. Insyaallah minggu depan kita akan menikah dan Mas gak akan menunda lagi pernikahan kita," kata Adam tulus, yang langsung diiyakan oleh Safira.
Lima jam sudah sejak Andika menangani Aira, akhirnya Aira sadarkan diri. Perempuan itu menatap dengan tatapan kosong, terlihat sekali dia sedang ketakutan.
"Ayah... Mas Azam..." lirih Aira yang meringkuk ketakutan.
Dokter Risma yang melihat hal itu langsung memeriksa kondisi Aira yang mengalami trauma berat.
"Syukurlah kamu sudah sadar, Aira," kata Dokter Risma lembut.
Aira mencengkeram kuat tangan Dokter Risma. "Mas Azam mana, Dok? Mas Azam mana? Hiks..."
Dokter Risma menyuruh asistennya untuk memanggil Azam dan Ayah Fikri.
Azam yang masih setia menunggu di ruang tunggu langsung bergegas masuk saat asisten Dokter Risma memperbolehkannya untuk masuk ke dalam. Azam memeluk erat namun lembut tubuh rapuh Aira. Perempuan itu menangis tersedu-sedu di dalam pelukan suaminya.
"Aku gak mau Kinan, Mas... Hiks... Aku gak mau ketemu sama Kinan," isak Aira. Tubuh mungilnya gemetaran.
Azam menatap Dokter Risma, meminta penjelasan.
pokok lanjut bro Apa lagi pas di suruh masak nasi ngakak. habis hahaa lanjutkan bos kuhh
gk kebayang aku punya suami kayak azam 🤣 😍