"Huaaaaaa kenapa kepala suami ku hilang? "
Jeritan melengking di sebuah rumah karena ia telah kehilangan sosok suami tercinta, kapan itu terjadi diri nya sama sekali tidak tau
Kampung menjadi heboh karena mereka sama sekali tidak menyangka bahwa kepala manusia bisa hilang dari tubuh nya dan tidak tau kemana.
Siapa pelaku itu?
kenapa ia mencuri kepala di setiap malam bulan purnama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 08. Kuntilanak magang
"Bu!" Ulya menegur Bu Endang yang terdiam ketakutan.
"Diam, lihat itu sekarang!" Bu Endang meraih tangan Ulya.
"Apa sih? apa yang Ibu lihat itu!" Ulya juga penasaran bukan main.
"Sosok pencuri kepala itu memang ada, kita harus melaporkan pada Pak RT!" bisik Bu Endang.
"Dia." Ulya tertegun melihat pemandangan yang ada di depan mata ini.
Sungguh sangat mengerikan sekali dan ini bila orang biasa yang bertemu secara langsung maka sudah pasti tidak akan pernah sanggup untuk bergerak lagi, Ulya saja masih terdiam ketakutan karena dia berusaha untuk tetap tegar dan menerima kenyataan bahwa pencuri kepala ini yang telah membuat suami dia meninggal dunia.
Darah berhamburan dari bekas leher yang terpotong itu dan entah siapa sebenarnya yang sudah memotong leher sosok tersebut sehingga dia sekarang sama sekali tidak memiliki kepala, ada rasa ketakutan yang begitu besar namun Ulya masih tetap penasaran karena dia ingin tahu lebih lanjut tentang sosok yang hadir di depan mata saat ini.
Rasa penasaran dan juga rasa sakit yang masih membekas karena sampai saat ini dia masih tidak Terima akan kematian sang suami, jika sudah bisa menangkap pelaku itu maka pasti ada rasa tenang di dalam diri Ulya sehingga dia kemungkinan bisa ikhlas dan menerima kematian dari sang suami.
Tapi setelah melihat sendiri Bagaimana wujud iblis itu maka malah kembali rasa takut yang begitu besar dan membayangkan bahwa sosok tersebut pasti masuk ke dalam rumah ini untuk mengambil kepala, Bu Endang juga mulai kepikiran karena tadi di dalam rumah ada jejak yang tidak biasa dan mungkin itu adalah jejak iblis tidak berkepala itu.
Bila memang benar itu adalah ulah dari iblis tanpa kepala maka dapat dipastikan bahwa dirinya selama ini telah bergentayangan di dalam rumah milik mereka, jadi rasa takut di dalam diri dua wanita ini semakin menjadi sehingga tidak tahu harus bagaimana dan kebingungan semakin melanda.
''Ibu, kita harus minta tolong sama Mbak Purnama!'' tegas Ulya.
''Benar, hanya dia yang bisa membantu kalau sudah urusan setan begini.'' Bu Endang juga setuju.
''Aku akan mendatangi Mbak Purna sekarang juga!'' putus Ulya.
''Jangan sekarang lah, ini sudah malam dan Ibu takut kamu nanti ketemu sesuatu.'' cemas Bu Endang pula.
Memang sekarang sudah malam seperti ini Sehingga berbahaya bila Ulya keluar sendirian untuk menemui Purnama yang ada di desa sebelah, namun wanita ini tetap keras kepala karena menurut dia harus mengatakan secara langsung kepada Purnama agar Purnama sendiri segera turun tangan membantu mereka terbebas dari pencuri kepala itu sekarang juga.
''Ini sudah sangat malam dan ibu takut nanti kamu ketemu dengan dia di jalan sana.'' Bu Endang masih berusaha untuk menahan.
''Bu, aku takut bila terlambat malah nanti dia akan beraksi kembali.'' cemas Ulya.
''Memang benar apa yang dikatakan oleh dia bahkan tadi juga ada bekas kaki di dalam rumah ini.'' batin Bu Endang sembari menatap lantai.
''Tolong Ibu doakan saja aku dengan baik agar selamat dan berhasil bertemu dengan mbak Purnama.'' Ulya segera menyambar jaket karena dia akan keluar menemui Purnama.
''Cari teman atau minta tolong sama Ina saja lah.'' Bu Endang keluar dari rumah untuk mencari keberadaan putri bungsu dia.
''Ina tidak percaya dengan setan jadi percuma saja kalau meminta bantuan dengan Ina.'' Ulya menolak karena dia sudah berdebat dengan sang adik.
''Tapi kalau sendirian seperti itu tentu saja menjadi kecemasan dan ibu takut nanti kamu bertemu dengan dia.'' Bu Endang masih saja tidak rela kalau Ulya pergi sendirian.
Namun Ulya tetap kekeh, jam dinding menunjukkan pukul delapan malam. sudah agak malam juga karena nanti bisa sekitar satu jam lebih ketika dia mendatangi Desa milik Purnama itu, tapi karena Ulya yang tetap kekeh dan dia merasa bahwa bisa saja nanti setan itu akan gentayangan lagi menghantui semua orang maka dirinya memilih untuk tetap datang.
...****************...
Wuussssh.
Wuussssh.
"Eh kok mulai masuk kampung ini aku malah merasa angker ya? tadi di jalan sana malah aman saja.'' gumam Ulya sambil menatap sekitar.
''Apa karena ini desa nya Purnama, jadi aku merasa kesan horor nya sangat terasa!" keluh Ulya dengan hati resah.
Sebab ketika sudah masuk ke dalam Desa ini Ulya memang merasakan ada sesuatu yang berbeda, kesan Desa Pandan Arum sangat berbeda dari desa yang lain sehingga membuat mereka semua merasa ketika masuk ke dalam sini seperti ada sesuatu yang sedang mengawasi dan alunan lembut angin-angin terasa sangat mencekam di tubuh mereka semua.
''Ada orang baru itu!'' kuntilanak yang sedang duduk menatap Ulya.
''Kalau ada orang baru seperti itu pasti mau mencari Purnama.'' jawab kuntilanak dengan rambut gimbal.
''Melihat dari wajah dia sih seperti sedang mengalami sesuatu yang sangat mengerikan, kalau tidak terdesak aku rasa tidak mungkin datang malam seperti ini.'' jawab kuntilanak pertama.
''Ratu, Apa kau tidak akan menunjukkan jalan kepada dia?'' kuntilanak rambut gimbal bertanya kepada Nilam.
''Kepala kau itu! kalau sekarang aku muncul dan menunjukkan jalan maka yang ada bisa saja wanita itu akan pingsan.'' jawab Nilam sembari menghisap sebatang rokok.
''Itu aku rasa dia sudah menyadari keberadaan kita sehingga sejak tadi terus menoleh ke sana kemari.'' ujar kuntilanak pertama.
''Ya kan salah dia sendiri kenapa harus lewat di depan kuntilanak yang sedang party.'' kuntilanak gimbal menjawab sembari meminum segelas Vodka.
''Hahahaaaaa dia tidak tahu saja kalau Desa ini penuh dengan kuntilanak dan tidak bisa bersikap sembarangan.'' Nilam tertawa kencang karena dia memang sedang mengurus para kuntilanak magang.
Memang rasanya setiap sudut Desa Pandan Arum ini penuh dengan berbagai macam kehadiran para setan itu sehingga membuat mereka merasa merinding dan Terkadang ingin menjauh, ada rasa takut yang begitu tinggi ketika mereka menghampiri Desa ini namun bagaimana lagi karena tetap biasa saja bila mereka tidak melakukan kesalahan.
''Hihihiiiiiiii....
''Heh itu kenapa si edan malah tertawa!'' Nilam kaget karena setan itu justru tertawa sehingga membuat Ulya langsung berhenti mendadak.
''Nah itu Karena dia sudah mabuk karena dari tadi minum alkohol tidak berhenti.'' kuntilanak pertama menatap botol yang sudah kosong.
Nilam melirik botol tersebut dan dia segera bangkit berdiri untuk menolong Ulya karena pasti wanita itu akan sangat ketakutan sekali melihat kuntilanak yang terbang sembari tertawa, kuntilanak magang seperti ini kadang juga belum bisa menguasai diri dan sesuka hati saja untuk menakuti Para manusia yang kebetulan lewat di depan mata mereka.
Selamat pagi besti, jangan lupa like dan komentar nya ya.